MagzNetwork

Memaknai kata tuhan

Diposting oleh Mastindi | 15.29 | | 0 komentar »

Masih ingat saat Tarbiyah dulu, morabbiku menjelaskan ta’rif atau difinisi tuhan

1. Tuhan ialah sesuatu yang kita butuhkan , namun ia tidak butuh kepada kita

2. Tuhan ialah sesuatu yang kita rela di dominasi olehnya.
Dalam sebuah kitab tarbiyah dijelaskan tuhan ialah sesuatu yang

1. Membuat kita merasa tenang, atau bisa menenangkan
2. Kita merasa terlindungi olehnya, atau bisa melindungi kita
3. Kita selalu merasa rindu
4. Sangat kita cintai

Kalau kita rangkum apa yang di sampaikan oleh morabbiku dan sebuah buku tarbiyah sebenarnya merupakan inti dari sebuah ayat yang artinya :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45;23)

Apa yang didefinisikan di atas sebenarnya bersumber dari kehendak jiwa atau an-nafs, yang sifatnya sangat manusiawi atau wajar, namun apabila hal tersebut berlebihan hingga mengalahkan perasaan kita kepada sang Pencipta maka kita telah membuat andad atau tandingan, selain dari Allah, saya paparkan sebuah contoh, seorang yang sangat mencintai sesuatu seperti pekerjaan , berangkat subuh hari dan pulang larut malam lalu tidur, dan tidur pun itu sendiri adalah bahagian dari kerja , yakni persiapan untuk berangkat subuh hari,sementara shalat yang menjadikan kewajiban dia selaku muslim terabaikan, berarti dia telah merelakan dirinya di dominasi oleh pekerjaan, yang mana pekerjaan itu sangat ia butuhkan sementara pekerjaan itu tidak membutuhkan dia.

Tapi manakala semua hal tersebut di tujukan kepada Allah , yakni hanya Dia yang kita butuhkan, kita ridho seluruh hidup kita di dominasi oleh kehendak Nya, kita merasa tenang dan terlindungi saat mengingat Nya, sangat merindukan Nya dan sangat mencintai Nya, maka secara otomatis hal tersebut akan melahirkan pengorbanan dalam segala hal, dalam arti kata apa saja yang menjadi kehendaknya bukanlah suatu hal yang memberatkan untuk dilaksanakan, tapi merupakan hal yang menyenangkan saat mampu menunaikan kehendak Nya, itulah yang kita kenal sebagai ciri ke imanan.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS 33;36)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS 2;165)

Lalu selanjutnya sejauh mana pengorbanan kita sebagai wujud rasa cinta kepada Allah ?..
Silahkan baca artikel lainnya yang terkait dengan pos di atas

0 komentar

Posting Komentar

Sampaikan keritik dan saran anda