MagzNetwork

Tampilkan postingan dengan label Istilah dalam Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istilah dalam Islam. Tampilkan semua postingan

Makna Ibadah

Diposting oleh Mastindi | 16.14 | | 0 komentar »
Ibadah atau ‘ibadah secara bahasa berarti menghamba.

Adapun secara syareat ialah “segala perbuatan baik yang disenangi Allah dan diridhai-Nya baik dari lisan maupun perbuatan, dzahir maupun bathinnya.

Ibadah mempunyai garis batas yang jelas, sebagaimana yang Rasulullah saw. sampaikan  dan dinukil oleh syeh an-Nawawi al-Bantani dalam Hadits arba’in an-nabawi .

“yang halal itu jelas & yang haram juga jelas .(al-hadits).

Islam mempunyai ajaran yang sangat jelas , seterang melihat matahari di siang hari, atau melihat bulan saat purnama.


Konsekuensi dari ibadah ialah “li i’la kalimatillah (meninggikan kalimat Allah) karena ibadah ialah bentuk syiar dalam arti kata yang luas, yang menunjukkan ke universalan ajaran Islam, sebagai sebuah system nilai terpadu, yang mengatur sekali gus memberi kebebasan dalam menata setiap gerak kehidupan dari hal sepele dan yang terpenting, namun dalam garis koridor yang jelas.
Secara lughawi Da’wah adalah Masdhar atau akar kata dari DA’A, YAD’U DA’WATAN  ,makna asalnya ialah mengajak, adapun “ketika di bakukan menjadi bahasa Indonesia menjadi “DAKWAH , namun yang perlu kita ketahui  tidak semua ajakan bisa disebut dakwah, karena penggunaan setiap kata harus dikembalikan kepada, dari mana asal kata itu datang , contoh , kita tidak bisa mengatakan kepada non Muslim “ia betaqwa, karena ta’rif “taqwa khithabnya ialah kepada orang beriman dan tentunya Muslim.

memang tak semua kata “dakwah bermakna ajakan kepada jalan Allah, ada juga bermakna do’a , namun kata “Dakwah lebih familier untuk ajakan kepada jalan Allah.

berdakwah bukan hanya tugas ustad , karena cabang ilmu agama teramat banyak , ada yang bisa disampaikan berdasarkan pengalaman pribadi atau orang lain, ada juga tentunya yang harus menggunakan disiplin ilmu tertentu .

Dan untuk orang awam seperti kita , kita bisa berdakwah dengan “Arkan, yakni berdakwah secara langsung dengan contoh , atau juga dengan lisan , seperti berdakwah tentang masalah akhlaq atau prilaku.

Berdakwah antar muka, selain mengasah mental berbicara di depan khalayak ramai, juga akan menjadi benteng akhlaq bagi dirinya sendiri , karena logikanya secara psikologis seseorang akan merasa enggan dan malu manakala ia akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan ucapannya di depan khalayak ramai, karena tidak mungkin kan .. orang berdakwah mengajak kepada maksiat.

Mengajak satu orang berbuat baik itu bagus, namun mengajak banyak orang berbuat baik tentunya lebih bagus lagi.. kalau bukan satunya yang mau ikut ajakan kita, mungkin yang satunya lagi, harapan keberhasilan bidangnya lebih luas

Selamat kepada rekan-rekan Ikrisma untuk belajar berdakwah dengan lisan.




Islam, Iman & Taqwa

Diposting oleh Mastindi | 21.37 | | 0 komentar »
Taqwa ialah target atau tujuan dalam menjalankan ibadah puasa

Taqwa ialah status yang amat tinggi di sisi Allah “inna aqramakum, ‘endallahi atqakum “sesungguhnya yang paling mulia di sisiku di antara kalian, “ialah yang paling bertakwa.
Secara terminologi lughawi “taqwa berarti terpelihara, adapun secara istilah taqwa ialah ‘Imtistalul awamira , wajtinabun nawahiyah “ menjalankan perintah Allah & menjauhi larang-NYa.

Kesimpulan korelasi/hubungan dari dua hal tersebut ialah, orang bertakwa ialah orang yang mampu menjaga diri dari larangan Allah, dan menjanda diri agar senantiasa mampu menjalankan perintah Allah.

Para ulama membuat visual tentang jenjang Islam, Iman & taqwa dengan beberapa lingkaran, lingkaran pertama adalah Islam, di mana bila posisi kita dalam lingkaran pertama , kita belum menjadi seorang Mukmin , seperti yang Allah jelaskan dalam surat 49 ayat 14, ada pun ketika semakin baik ke Islaman kita masuklah kita ke dalam lingkaran Iman, selanjutnya semakin baik ke Imanan kita masuk;ah kita ke dalam lingkaran Taqwa. Intinya , saat kita berada dalam lingkaran taqwa , sekali gus kita berada dalam lingkaran Iman dan Islam, dan bila kita hanya ada pada lingkaran Iman maka kita hanya berada pada dua lingkaran yakni , Islam dan Iman itu sendiri (kitab Durratun nasihin)

Dalam surat al-Baqarah secara tersirat Allah menjelaskan siapa orang bertakwa itu ? ayat selanjutnya menjelaskan , yakni “orang-orang yang beriman.... (badal tafsir)

Begitu pun shaum yang kita lakukan , panggilan untuk kaum yang beriman dan targetnya mencapai derajat taqwa.


Tujuan kita diciptakan

Diposting oleh Mastindi | 00.51 | | 0 komentar »
Allah memerintahkan kita shaum tentu punya tujuan yang jelas , yakni menjadi orang yang bertakwa, bila dalam suatu perintah saja ada tujuan yang pasti, maka bagaimana dengan penciptaan makhluknya ?

Ada dua makhluk “Mukallaf ,  yang dikenakan kewajiban menjalankan menjalankan ibadah , yakni bangsa jin dan manusia, karena ke dua makhluk inilah yang Allah anugerahi 2 hal yaitu akal dan hawa nafsu.

Lalu apa ibadah itu, dan apa tujuannya , lalu bagaimana wujud dan cakupannya ?
Ibadah secara maknawi menghamba, karena memang kita adalah hamba

Ibadah ialah segala perbuatan & perkataan baik, yang diniatkan ikhlas semata-mata karena Allah itulah ibadah .

Tujuan ibadah ialah , ialah mendapat Ridha Allah , karena itulah kita diciptakan
Ibadah mempunyai dua bentuk.

Pertama Mahdah atau ibadah ritual yang tata caranya sudah contohkan oleh Rasulullah

Kedua : ibadah ghairu Mahdah atau sosial kemasyarakat, meliputi muamalah, munakahhat.. dll.


Adapun cakupannya, sangat luas, untuk mengetahui cakupan dan batasan-batasannya itulah Islam membuka pintu Ijtihad.

Setan Istilah dan hakikat

Diposting oleh Mastindi | 06.39 | | 0 komentar »

Secara hakikat Setan itu memang ada bagian dari bangsa Jin, namun secara Istilah Setan merupakan sesuatu ungkapan “yang jauh dari kebaikan atau istilah Arabnya,BA’ADA MINAL KHAIR.

Karena itulah Setan sebagai Istilah berasal dari dua golongan, yakni bangsa Jin dan bangsa manusia sebagaimana yang Allah jelaskan tentang musuh para nabinya

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS 6;112)

Lalu apa yang harus kita takuti dari setan ?

Bentuknya seperti yang di visualisasikan di film-film horor, atau  apanya ?

Allah sudah jelaskan pada banyak ayat termasuk ayat di atas , bahwa Setan adalah musuh kita yang nyata, bukan nyata bentuknya, namun nyata permusuhannya dengan manusia, sebagaimana sumpahnya yang Allah abadikan dalam al-Qur,an

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS 15;39)

Setan menyesatkan manusia melalui bisikan dan rasa was was dalam hati manusia, dengan menumpangi hawa nafsu manusia, dia menggoda dengan kelembutan bahkan sangat samar, hingga terkesan perbuatan maksiat itu begitu indah dan menyenangkan.

Cara di ataslah yang sangat pantas kita waspadai.

Lau bagaimana kita tahu itu bahwa kita telah jatuh dalam perangkap setan ?

Jawabnya.

Perbanyak pengetahuan kita tentang Islam.




.



Ilmu adalah amanah

Diposting oleh Mastindi | 00.56 | | 0 komentar »

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (QS 2; 159)

Membaca terjemah ayat di atas mengingatkan saya sewaktu mengikuti Training mengajar untuk kelas TPA dan tahassus, waktu itu rasanya tidak mungkin saya bisa mengajar dengan minimnya pengetahuan agama yang saya miliki, namun ternyata dengan mengajarlah beberapa hal yang dapat saya peroleh di antaranya bertambahnya ilmu yang saya miliki secara autodidak hal ini karena tantangan dalam mengajar menjadikan saya mau tidak mau harus belajar lebih dalam lagi, baik melalui guru atau ustad yang rutin 3 kali seminggu memberikan bimbingan masalah aqidah juga belajar mendalami bahasa Arab kurang lebih selama 5 tahun di sebuah pesantren dengan cara pulang pergi setiap hari kecuali hari Jum,at dan Minggu dari jam 1 siang s/d jam 5 sore.

Ilmu , bukan hanya sebuah kosakata, namun sebuah ungkapan dengan makna mengetahui, karena itulah seilmiyah dan sebagus apapun sebuah buku, tidak dapat disebut sebuah ilmu atau pengetahuan melainkan sekedar kumpulan huruf yang menjadi kata lalu di rangkai menjadi sebuah kalimat, yang setelah disusun sedemikian rupa oleh ahlinya maka menjadi sebuah buku yang punya nilai tinggi.

Bahkan al-Qur,an pun akan hanya tinggal tulisannya manakala tak ada kepedulian bagi ummat ini untuk mendalami isinya.

Nah .. baru dikatakan ilmu manakala sudah terhujam jauh ke dalam hati dalam bentuk pemahaman. Seperti doa kita

“RABBI ZIDNI ILMU WAR ZUQNI FAHMA (Ya Allah berikan kami ilmu dan pemahaman yang mudah)

Adapun Faham adalah modal untuk kita mengajar, dengan faham (setelah kita tahu) akan menjadikan lebih mudah dalam menyampaikan.

memahami hidayah

Diposting oleh Mastindi | 08.20 | | 0 komentar »

Secara bahasa HIDAYAH berarti petunjuk,. Hidayah merupakan akar kata dari, HADA, didalam al-Qur,an bila dilacak dgn menggunakan Aplikasi al-Qur,an player kalimat hidayah tidak didapatkan, begitu juga dgn menggunakan al-Mu’jamul mufhars dan fathur rachman, sebagai gantinya (juga merupakan akar kata dari HADA) adalah HUDAN cukup banyak.

Para Ulama membagi Hidayah kepada dua bagian.
Pertama,Hidayah Irsyad wal bayan, Irsyad maknanya kebenaran, jalan yang lurus, kemanfaatan. Adapun bayan ialah nyata, jelas mungkin yang dimaksud ialah suatu kebenaran atau jalan yg lurus yang memerlukan penjelasan itulah al-Qur,an.

(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS 2;2)
Kita sering meminta hidayah dalam shalat (tunjukilah kami jalan yang lurus) dalam sebuah ayat Nya Allah menjawab

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS 76;3)

Kedua ;Hidayah Taufiq merupakan inspirasi yang diturunkan Allah kedalah hati manusia yang dikehendakinya untuk melakukan suatu kebaikan.

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS 16;93)

Namun begitu korelasi keduanya sangatlah erat, Sayyid sabiq dalam kitab Aqidahya (al-Aqaid hal. 106 cet.darul Fikr) menjelaskan “hidayah Allah kepada manusia merupakan karunia terhadap mereka, lalu Allah memberikan Taufiq untuk melakukan amal yang shaleh, adapun amal yang shaleh merupakan buah dari kesungguhan setiap diri yang berpegang teguh kepada petunjuk dan wahyu Nya.

Ulama yang lain berpendapat “tidak akan datang hidayah kepada lima macam manusia.
1. Orang yang membiarkan dirinya dalam kejahilan
2. Fanatiq kepada golongan
3. Taqlid buta atau pengkultusan pada individu tanpa dasar
4. Terlalu berlebih lebihan
5. Lalai

Namun secara mudahnya, bila dilihat dari keumumam makna hidayah yaitu petunjuk, tentulah yang dimaksud adalah al-Qur,an, penyakit dan kekotoran hatilah yang menjadi biang keladi seseorang jauh dari hidayah tersebut, sepertri yang Allah sebutkan dalam sebuah ayat Nya.

tidak menyentuhnya (al-Qur,an)kecuali hamba-hamba yang disucikan (hatinya).(QS 56;79)
kata “menyentuh, yang merupakan makna konotatif atau simbolik /kiasan yang berarti membaca , memahami dan mengamalkan isinya , dan mustahil hal itu dilakukan bagi orang yang kotor hatinya,..

Ket; ayat di atas (56;79) oleh sebagian ulama dijadikan dalil larangan menyentuh al-Qur,an dalam ke adaan tidak bersuci.

wallau a’lam


Shalat

Diposting oleh Mastindi | 01.20 | | 0 komentar »

Secara Istilah Shalat bermakna doa, Shalat adalah Masdhar atau akar kata dari SHALA , YASHLI, SHALATAN

Kalaimat shalat dgn makna doa terdapat dalam surat Attaubah ayat 103,

adapun Shalat secara iStilah Fuqaha ialah “Ucapan dan gerakan yang dimulai dengan Takbir dan di akhiri dgn Salam dengan syarat syarat tertentu.

Shalat adalah kewajiban yang sifatnya Fardhu ‘aen (kewajiban personal) dan menjadi rukun Islam yang ke dua,

Hukum meninggalkannya

Menurut pendapat Acmad, Ishaq dan Ibnu Mubarak dibunuh.

Adapun menurut Imam Syafi’e, Maliki dan Abu Hanifa dihukum pukul atau ta’zir dan di kurung sampai ia shalat.

Iblis dan Setan

Diposting oleh Mastindi | 01.37 | | 0 komentar »

Kalimat IBLIS meskipun terdapat dalam al-Qur,an , mayoritas ahli bahasa Arab sepakat bukan bahasa Arab, melainkan “ajam oleh karena itulah ia tercegah dari proses Tashrif (suatu proses perubahan kalimat dalam bahasa Arab), namun begitu terdapat pula kosa kata dalam bahasa Arab yakni “ABLASA, (kalimat prediket)yang bermakna “kurang kebaikannya, dan akar kata dari kalimat ini (ABLASA) org Arab mengatakan “al-yaksu min rahmatillah, yakni jauh dari rachmat Allah, atau jauh dari kebaikan.

Adapun Iblis secara syareat Adalah dari bangsa Jin, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam al-Qur,an

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.(QS 18;50)

dan Iblis adalah nenek moyang dari Setan , adapun Iblis sendiri tetap hidup hingga kini, sebagaimana janji Allah kepada Iblis.

14. Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".

15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS 7;14 s/d 15)

Sebagaimana IBLIS kalimat “SETAN juga ‘ajam (bukan bahasa Arab) namun orang arab mengistilahkan dengan “Ba’ada minal khair, maknanya ‘jauh dari kebaikan.

Bila Secara hakikat Iblis atau Setan terhijab dari mata manusia, namun secara istilah banyak juga manusia bersifat keduanya, lihat surat An-Nas , disitu Allah menjelaskan “bahwa tipu daya itu bukan hanya dari bangsa Jin (Iblis dan Setan) dari juga dari manusia, naudzu billah min dzalik.

Referensi: Al-Aqaid dan assasul Balaghah.

Aqidah

Diposting oleh Mastindi | 01.33 | | 0 komentar »

Aqidah merupakan Isim sifat atau Fa’il yang secara lughawi berarti “yang mengikat, kata yang merupan keluarga dari “aqidah ini terdapat dalam beberapa ayat pada beberapa surat , di antaranya dalam surat al-falaq ayat 4 (al-‘uqad) yg maknanya tali ikatan , juga pada surat 2 ayat 235 (‘uqdah) artinya perjanjian,dan pada surat 5 ayat 89 dalam bentuk fi’il (kata kerja) yang berarti sumpah dan pada suarat 20 ayat 27 bermakna kekakuan.


Namun secara syareat atau dalam istilah syareat Aqidah menurut sayyid Sabiq ialah , Ke imanan, sebab apabila kita mengatakan “orang itu kuat ke Imanannya , itu berarti kuat Aqidahnya.


Apabila kita kembali kepada makna Aqidah itu sendiri secara bahasa, Aqidah bias bermakna Ikatan seseorang dgn khaliknya, yang kita kenal dalam bahsa Indonesia sebagai idiologi.
Aqidah juga merupakan pondasi dalam sebuah bangunan Islam dengan konsep Sumpah , yaitu dengan lafadz “ Laila ha Illallahu.

wallau a'lam

Kalimat Ini (UMMU) terdiri dari Alif Dan Mim, tahukan anda , I’raf atau perubahan dari kalimat ini mempunyai makna yang Indah dan pengaruh dalam kehidupan kita ?
UMMU, berarti Ibu yang melahirkan kita, bahkan guru yang pertama sebelum seorang anak mengenal lembaga pendidikan formal, dari Ibulah seorang anak kelak mau jadi apa, Bahkan Rasulullah bersabda “Surga di bawah telapak kaki ibu,.(al-Hadits) saya memaknai, mungkin yg dimaksud dgn telapak kaki adalah langkah langkah yg diambil seorang ibu dalam memberikan pendidikan pada anaknya, yang akan menentukan surga dan nerakanya seorang anak, atau jejak jejak ibu yg di ikuti seorang anak memberikan bekas dalam kehidupannya, bila di kaitkan dgn hadits yg mulia “ (Setiap bayi lahir dlm keadaan suci, kedua orang tuanyalah yg akan menjadikan dia Yahudi atau Nasrani), bukankah kewajiban org tua kpd anaknya ada tiga, memberikan nama, pendidikan dan menikahkan, yg ke tiganya berkait erat dgn idiologi orang tua terutama ibu yg lebih dekat kpd anaknya.

UMMAT, adalah kelanjutan dari kalimat UMMU, dan juga kelanjutan dari hasil bagaimana seorang ibu mengolah dan memberikan warna pada anaknya, namun kalimat UMMAT yg maknanya golongan , kalimat tsb tak pernah disandari atau bermajemuk dgn kalimat Kafir seperti Ummatkafir, tapi selalu bersandaran dengan kalimat Muslim atau Mukmin Ummat Islam, atau Ummatan wasathan. Ini adalah isyarat bagi seorng Ummu atau ibu bagaimana menjadikan anaknya kelak betul betul menjadi anak yang Qurrata ‘uyun (penyedap mata memandang) wahai Ummahat, didiklah putra putrimu menjadi bagian dari barisan Ummat.
IMAMUM berarti pemempin, seorang pemimpin haruslah merupakan bagian dari Ummat, kita di ajarkan dalam shalat “bahwa yang kita angkat harus bagian dari kamu bahkan memilih pemimpin harus dari kamu bukan dari mereka (QS 4;59), dalam hal ini juga sangatlah besar peran seorang Ummu atau Ibu, maka sebuah pameo mengatakan “Singa tidak akan lahir melainkan dari rahim seekor Singa, yakni orang besar tidak akan lahir melainkan dari seorang ibu yang hebat.

Masih menyangsikan peran seorang ibu ? bila anda menjadi berilmu semisal profesor berarti ibu anda adalah ibu professor betapapun lebih rendah tingkat pendidikannya,. Selanjutnya untuk adik adik pemuda yang ingin mencari pendamping hidup “ carikan Ibu untuk calon anakmu yg berjiwa besar, dan mau berkata, “nanti bagaimana, bukan “bagaimana nanti., dan ibu seperti itu tak pernah di dapati di tempat dugem dan diatas jam 9 malam di jalanan, pendek kata ibu seperti itu tak kan ada di tempat maksiat .

Rizeki dan Nikmat

Diposting oleh Mastindi | 07.43 | | 0 komentar »

Bila usaha kita sedang sepi kadang kita mengeluh, “ah !.. rezeki hari ini sedikit sekali,.. keluhan itu manusiawi seiring kekurang fahaman kita dalam mencerna sebuah ungkapan.
Rizeki adalah sebuah ungkapan dari pemberian Allah, yang menurut kita terbatas bentuknya seperti uang, makanan atau apa saja yang sifatnya kongkrit atau nyata, padahal sebenarnya Rizeki itu tidak terbatas pada hal hal yg kongkrit saja, karena dari maknanya (sekarang sudah baku menjadi bahasa Indonesia)Rizeki berarti pemberian, ini berarti mengandung makna yang sangat luas dari sekedar yg kita fahami.

Saat kita bernafas menarik oxigen, lalu menghembuskan yg zatnya menjadi kebutuhan bagi tanaman, merupakan keseimbangan bagi alam, sehat dan afiat yang kita rasakan, mata dapat melihat, kuping mampu mendengar, tangan dapat memegang dan merasakan sesuatu,yg dengan itu kita bisa berihktiar bahkan Nikmat yang paling besar yang berupa Iman dan Islam itu juga Rizeki, namun kita lebih mengenal hal itu sebagai apa yang kita sebut sebagai NIKMAT, namun pada hakikatnya itu adalah pemberian Allah yakni Rizeki juga, walaupun memang harus kita akui, antara rizeki dan Nikmat ada perbedaan, nikmat bukan sekedar pemberian biasa, tapi jauh dari itu, nikmat adalah sesuatu yg lebih besar dan yang mencakup dunia dan akherat.
Dengan memahami secara baik sebuah ungkapan , maka kita tidak akan terbatas dalam merasakan ungkapan itu, dalam sebuah ungkapan dalam ilmu logika atau mantig di jelaskan, “madu itu manis,. Bila kita memahami yang manis itu hanya madu, maka logika kita akan tebatas pada madu saja, padahal kenyataan menjelaskan, “meski madu itu manis, namun tak semua yang manis itu madu.

Intinya Rizeki Allah itu sangat banyak bahkan ada yg tidak perlu dicari seperti angin yg bertiup dll, namun perlu diketahui tak semua yang kita terima adalah Rizeki, seperti sakit yang terjadi karena kelalaian, atau kecelakaan yg terjadi karena kecerohaan . wallau a’lam bissawab.

Al-Qur,an

Diposting oleh Mastindi | 00.20 | | 0 komentar »

Al-Qur,an secara lughawi berarti bacaan (QS 75;18) namun secara istilah al-Qur,an adalah qalamullah yg diturunkan dari sidratul muntaha ke langit dunia , lalu diturunkan lagi secara berangsur angsur kpd rasulullah dalam bentuk wahyu, yg terkadang di dahului oleh peristiwa yg melatar belakanginya, baik yang dimasukkan kedalam hati maupun di bacakan secara langsung oleh malaikat Jibril.

Al-Qur,an,. bagi yg membacanya masih terbata bata Allah memberinya dua pahala. Pahala membaca dan belajarnya, begitulah rasul bersabda, bagi yg membaca namun belum mengetahui maknanya, juga berpahala, membaca dan mengetahui maknanya, lebih banyak lagi pahalanya,mengetahui maknanya lalu mengamalkannya, maka itu yg paling utama, rasul bersabda.

“ Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan al-qur,an dan juga merendahkan derajatnya dengan al-qur,an. Al-Hadits.

Dalam tanbihul ghafilin di jelaskan “ siapa yg menjadikan al-qur,an imamnya, maka al-qur,an akan menuntunnya ke surga, dan siapa yg menjadikan al-qur,an dibelakangnya maka ia akan mendorongnya ke neraka “ naudzu billa. Ikhwan ahkwat sekalian yuk !.. dalami al-qur,an,. jangan sampai kita oleh Allah di sebut sebagai orang yang buta hati..atau hati yg terkunci,. (maksudnya dari yg haq)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci? (QS 47;24)

Munkar

Diposting oleh Mastindi | 00.14 | | 0 komentar »

Munkar secara lughawi adalah sesuatu yang di inkari, namun secar tstilah Munkar adalah berbuatan buruk.
Munkar merupakan Isim Maf’ul atau objek dari kata kerja “Ankara, yunkiru dan masdarnya ialah inkaran, nah tahu kan !.. ingkar itu adalah bahagian dari Mutaq atau proses Munkar.Lalu mengapa berbuatan buruk disebut mungkar, ini mungkin karena semua manusia tanpa kecuali mengingkari kedekatannya dgn hal yang buruk itu, siapapun orangnya pasti tidak senang dgn yang buruk , ketidak senangan itulah dalam arti kata yang lain manusia mengingkarinya

Ma'ruf

Diposting oleh Mastindi | 00.11 | | 0 komentar »

Kita sering mendengar kata (dalam bhs Arab kalimat) Ma’ruf , lengkapnya amar ma’ruf nahi mungkar, kalimat tersebut adalah objek atau maf’ul dari fi’il atau kata kerja ‘arafa, ya’rifu dan ‘arfan sebagai akar katanya, demikian menurut pendapat ulam ahli nahwu di kufah.

Makna asal dari ‘arafa adalah mengenal dan ma’ruf sebagai objek berarti sesuatu yang dikenal, dan makna yg umum dipakai sendiri oleh kalimat Ma’ruf adalah “perbuatan baik, mengapa demikian?, manusia sebagai mahluk Allah siapapun dia tanpa kecuali, mempunyai fitrah atau pembawaan asal yaitu senang kepada yang baik secara umum, betapa banyak penjahat yg membunuh temaannya sesama penjahat, karena hasil kejahatan tidak di bagi secara adil, (adil itu adalah hal baik) dan manusia secara naluri mengenal adil secara alamiah, dan dari kalimat ‘arafa (yg objeknya ma’ruf) pada saat menjadi masdhar (‘urfan)atau akar kata bermakna harum atau wangi,manusia mana yg tak menyukai wewangian, intinya ma’ruf adalah hal hal yang baik yg di kenal dan disukai manusia secara alamiah.

Menyuruh seseorang berbuat makruf berarti mengajak kembali kepada fitrah manausia yg sesungguhnya , “yakni kembali kpd perjanjian di alam rahim sebelum di lahirkan.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(QS 7;172)