memang tak semua kata “dakwah bermakna ajakan kepada jalan Allah, ada juga bermakna do’a , namun kata “Dakwah lebih familier untuk ajakan kepada jalan Allah.
berdakwah bukan hanya tugas ustad , karena cabang ilmu agama teramat banyak , ada yang bisa disampaikan berdasarkan pengalaman pribadi atau orang lain, ada juga tentunya yang harus menggunakan disiplin ilmu tertentu .

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (QS 2; 159)
Membaca terjemah ayat di atas mengingatkan saya sewaktu mengikuti Training mengajar untuk kelas TPA dan tahassus, waktu itu rasanya tidak mungkin saya bisa mengajar dengan minimnya pengetahuan agama yang saya miliki, namun ternyata dengan mengajarlah beberapa hal yang dapat saya peroleh di antaranya bertambahnya ilmu yang saya miliki secara autodidak hal ini karena tantangan dalam mengajar menjadikan saya mau tidak mau harus belajar lebih dalam lagi, baik melalui guru atau ustad yang rutin 3 kali seminggu memberikan bimbingan masalah aqidah juga belajar mendalami bahasa Arab kurang lebih selama 5 tahun di sebuah pesantren dengan cara pulang pergi setiap hari kecuali hari Jum,at dan Minggu dari jam 1 siang s/d jam 5 sore.
Ilmu , bukan hanya sebuah kosakata, namun sebuah ungkapan dengan makna mengetahui, karena itulah seilmiyah dan sebagus apapun sebuah buku, tidak dapat disebut sebuah ilmu atau pengetahuan melainkan sekedar kumpulan huruf yang menjadi kata lalu di rangkai menjadi sebuah kalimat, yang setelah disusun sedemikian rupa oleh ahlinya maka menjadi sebuah buku yang punya nilai tinggi.
Bahkan al-Qur,an pun akan hanya tinggal tulisannya manakala tak ada kepedulian bagi ummat ini untuk mendalami isinya.
Nah .. baru dikatakan ilmu manakala sudah terhujam jauh ke dalam hati dalam bentuk pemahaman. Seperti doa kita
“RABBI ZIDNI ILMU WAR ZUQNI FAHMA (Ya Allah berikan kami ilmu dan pemahaman yang mudah)
Adapun Faham adalah modal untuk kita mengajar, dengan faham (setelah kita tahu) akan menjadikan lebih mudah dalam menyampaikan.

Para Ulama membagi Hidayah kepada dua bagian.
Pertama,Hidayah Irsyad wal bayan, Irsyad maknanya kebenaran, jalan yang lurus, kemanfaatan. Adapun bayan ialah nyata, jelas mungkin yang dimaksud ialah suatu kebenaran atau jalan yg lurus yang memerlukan penjelasan itulah al-Qur,an.
(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS 2;2)
Kita sering meminta hidayah dalam shalat (tunjukilah kami jalan yang lurus) dalam sebuah ayat Nya Allah menjawab
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS 76;3)
Kedua ;Hidayah Taufiq merupakan inspirasi yang diturunkan Allah kedalah hati manusia yang dikehendakinya untuk melakukan suatu kebaikan.
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS 16;93)
Namun begitu korelasi keduanya sangatlah erat, Sayyid sabiq dalam kitab Aqidahya (al-Aqaid hal. 106 cet.darul Fikr) menjelaskan “hidayah Allah kepada manusia merupakan karunia terhadap mereka, lalu Allah memberikan Taufiq untuk melakukan amal yang shaleh, adapun amal yang shaleh merupakan buah dari kesungguhan setiap diri yang berpegang teguh kepada petunjuk dan wahyu Nya.
Ulama yang lain berpendapat “tidak akan datang hidayah kepada lima macam manusia.
1. Orang yang membiarkan dirinya dalam kejahilan
2. Fanatiq kepada golongan
3. Taqlid buta atau pengkultusan pada individu tanpa dasar
4. Terlalu berlebih lebihan
5. Lalai
Namun secara mudahnya, bila dilihat dari keumumam makna hidayah yaitu petunjuk, tentulah yang dimaksud adalah al-Qur,an, penyakit dan kekotoran hatilah yang menjadi biang keladi seseorang jauh dari hidayah tersebut, sepertri yang Allah sebutkan dalam sebuah ayat Nya.
tidak menyentuhnya (al-Qur,an)kecuali hamba-hamba yang disucikan (hatinya).(QS 56;79)
kata “menyentuh, yang merupakan makna konotatif atau simbolik /kiasan yang berarti membaca , memahami dan mengamalkan isinya , dan mustahil hal itu dilakukan bagi orang yang kotor hatinya,..
Ket; ayat di atas (56;79) oleh sebagian ulama dijadikan dalil larangan menyentuh al-Qur,an dalam ke adaan tidak bersuci.
wallau a’lam

Secara Istilah Shalat bermakna doa, Shalat adalah Masdhar atau akar kata dari SHALA , YASHLI, SHALATAN
Kalaimat shalat dgn makna doa terdapat dalam surat Attaubah ayat 103,
adapun Shalat secara iStilah Fuqaha ialah “Ucapan dan gerakan yang dimulai dengan Takbir dan di akhiri dgn Salam dengan syarat syarat tertentu.
Shalat adalah kewajiban yang sifatnya Fardhu ‘aen (kewajiban personal) dan menjadi rukun Islam yang ke dua,
Hukum meninggalkannya
Menurut pendapat Acmad, Ishaq dan Ibnu Mubarak dibunuh.
Adapun menurut Imam Syafi’e, Maliki dan Abu Hanifa dihukum pukul atau ta’zir dan di kurung sampai ia shalat.

Kalimat IBLIS meskipun terdapat dalam al-Qur,an , mayoritas ahli bahasa Arab sepakat bukan bahasa Arab, melainkan “ajam oleh karena itulah ia tercegah dari proses Tashrif (suatu proses perubahan kalimat dalam bahasa Arab), namun begitu terdapat pula kosa kata dalam bahasa Arab yakni “ABLASA, (kalimat prediket)yang bermakna “kurang kebaikannya, dan akar kata dari kalimat ini (ABLASA) org Arab mengatakan “al-yaksu min rahmatillah, yakni jauh dari rachmat Allah, atau jauh dari kebaikan.
Adapun Iblis secara syareat Adalah dari bangsa Jin, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam al-Qur,an
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.(QS 18;50)
dan Iblis adalah nenek moyang dari Setan , adapun Iblis sendiri tetap hidup hingga kini, sebagaimana janji Allah kepada Iblis.
14. Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".
15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS 7;14 s/d 15)
Sebagaimana IBLIS kalimat “SETAN juga ‘ajam (bukan bahasa Arab) namun orang arab mengistilahkan dengan “Ba’ada minal khair, maknanya ‘jauh dari kebaikan.
Bila Secara hakikat Iblis atau Setan terhijab dari mata manusia, namun secara istilah banyak juga manusia bersifat keduanya, lihat surat An-Nas , disitu Allah menjelaskan “bahwa tipu daya itu bukan hanya dari bangsa Jin (Iblis dan Setan) dari juga dari manusia, naudzu billah min dzalik.
Referensi: Al-Aqaid dan assasul Balaghah.

Namun secara syareat atau dalam istilah syareat Aqidah menurut sayyid Sabiq ialah , Ke imanan, sebab apabila kita mengatakan “orang itu kuat ke Imanannya , itu berarti kuat Aqidahnya.
Apabila kita kembali kepada makna Aqidah itu sendiri secara bahasa, Aqidah bias bermakna Ikatan seseorang dgn khaliknya, yang kita kenal dalam bahsa Indonesia sebagai idiologi.
Aqidah juga merupakan pondasi dalam sebuah bangunan Islam dengan konsep Sumpah , yaitu dengan lafadz “ Laila ha Illallahu.
Hubungan Ibu dgn Ummat dan Imam
Diposting oleh Mastindi | 01.26 | Istilah dalam Islam | 0 komentar »
UMMAT, adalah kelanjutan dari kalimat UMMU, dan juga kelanjutan dari hasil bagaimana seorang ibu mengolah dan memberikan warna pada anaknya, namun kalimat UMMAT yg maknanya golongan , kalimat tsb tak pernah disandari atau bermajemuk dgn kalimat Kafir seperti Ummatkafir, tapi selalu bersandaran dengan kalimat Muslim atau Mukmin Ummat Islam, atau Ummatan wasathan. Ini adalah isyarat bagi seorng Ummu atau ibu bagaimana menjadikan anaknya kelak betul betul menjadi anak yang Qurrata ‘uyun (penyedap mata memandang) wahai Ummahat, didiklah putra putrimu menjadi bagian dari barisan Ummat.
Masih menyangsikan peran seorang ibu ? bila anda menjadi berilmu semisal profesor berarti ibu anda adalah ibu professor betapapun lebih rendah tingkat pendidikannya,. Selanjutnya untuk adik adik pemuda yang ingin mencari pendamping hidup “ carikan Ibu untuk calon anakmu yg berjiwa besar, dan mau berkata, “nanti bagaimana, bukan “bagaimana nanti., dan ibu seperti itu tak pernah di dapati di tempat dugem dan diatas jam 9 malam di jalanan, pendek kata ibu seperti itu tak kan ada di tempat maksiat .

Saat kita bernafas menarik oxigen, lalu menghembuskan yg zatnya menjadi kebutuhan bagi tanaman, merupakan keseimbangan bagi alam, sehat dan afiat yang kita rasakan, mata dapat melihat, kuping mampu mendengar, tangan dapat memegang dan merasakan sesuatu,yg dengan itu kita bisa berihktiar bahkan Nikmat yang paling besar yang berupa Iman dan Islam itu juga Rizeki, namun kita lebih mengenal hal itu sebagai apa yang kita sebut sebagai NIKMAT, namun pada hakikatnya itu adalah pemberian Allah yakni Rizeki juga, walaupun memang harus kita akui, antara rizeki dan Nikmat ada perbedaan, nikmat bukan sekedar pemberian biasa, tapi jauh dari itu, nikmat adalah sesuatu yg lebih besar dan yang mencakup dunia dan akherat.
Intinya Rizeki Allah itu sangat banyak bahkan ada yg tidak perlu dicari seperti angin yg bertiup dll, namun perlu diketahui tak semua yang kita terima adalah Rizeki, seperti sakit yang terjadi karena kelalaian, atau kecelakaan yg terjadi karena kecerohaan . wallau a’lam bissawab.

Al-Qur,an,. bagi yg membacanya masih terbata bata Allah memberinya dua pahala. Pahala membaca dan belajarnya, begitulah rasul bersabda, bagi yg membaca namun belum mengetahui maknanya, juga berpahala, membaca dan mengetahui maknanya, lebih banyak lagi pahalanya,mengetahui maknanya lalu mengamalkannya, maka itu yg paling utama, rasul bersabda.
“ Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan al-qur,an dan juga merendahkan derajatnya dengan al-qur,an. Al-Hadits.
Dalam tanbihul ghafilin di jelaskan “ siapa yg menjadikan al-qur,an imamnya, maka al-qur,an akan menuntunnya ke surga, dan siapa yg menjadikan al-qur,an dibelakangnya maka ia akan mendorongnya ke neraka “ naudzu billa. Ikhwan ahkwat sekalian yuk !.. dalami al-qur,an,. jangan sampai kita oleh Allah di sebut sebagai orang yang buta hati..atau hati yg terkunci,. (maksudnya dari yg haq)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci? (QS 47;24)


Makna asal dari ‘arafa adalah mengenal dan ma’ruf sebagai objek berarti sesuatu yang dikenal, dan makna yg umum dipakai sendiri oleh kalimat Ma’ruf adalah “perbuatan baik, mengapa demikian?, manusia sebagai mahluk Allah siapapun dia tanpa kecuali, mempunyai fitrah atau pembawaan asal yaitu senang kepada yang baik secara umum, betapa banyak penjahat yg membunuh temaannya sesama penjahat, karena hasil kejahatan tidak di bagi secara adil, (adil itu adalah hal baik) dan manusia secara naluri mengenal adil secara alamiah, dan dari kalimat ‘arafa (yg objeknya ma’ruf) pada saat menjadi masdhar (‘urfan)atau akar kata bermakna harum atau wangi,manusia mana yg tak menyukai wewangian, intinya ma’ruf adalah hal hal yang baik yg di kenal dan disukai manusia secara alamiah.
Menyuruh seseorang berbuat makruf berarti mengajak kembali kepada fitrah manausia yg sesungguhnya , “yakni kembali kpd perjanjian di alam rahim sebelum di lahirkan.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(QS 7;172)











