MagzNetwork

Teman yang baik saat Safar

Diposting oleh Mastindi | 02.12 | | 0 komentar »

🍂"Dari Uqbah bin Amir Radhiyallhu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
ما من راكب يخلو فى مسيرة بالله و ذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر و نحوه إلا كان ردفه شيطان
Tidak ada seorangpun Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dengan dzikir, maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat
Sedangkan pengendara yang dalam perjalanannya disertai dengan musik dan nyanyian, maka yang menjadi penumpangnya adalah setan
HR. Thabrani dalam Majmu Al-Kabir, no. 895. disahihkan oleh Albani dalam Shahih Aljami, no. 5706
Jazakumullahu khayran
Artikel

 

Aqidah Abdul Qadir Al JIilani

Diposting oleh Mastindi | 19.36 | | 0 komentar »


 

Untuk mengetahui pola pikir atau jalan pikiran seseorang tak bijak bila kita menilainya dari orang lain , apalagi yang membencinya , hal yang baik di lakukan ialah membaca peninggalannya.

AQIDAH SYEIKH ABDUL QODIR JILANI ULAMA KEBANGGAAN ASYAI'RAH SUFIYYAH.

Berkata syaikh abdul Qodir al jilani رحمه الله تعالى dalam kitabnya AL GUNYAH, hal 72 cet. Darul khoir Qairo mesir.
وهو بائن من خلقه ولا يخلو من علمه مكان ولا يجوز وصفه بانه فى كل مكان بل يقال : إنه فى السماء على العرش كما قال جل ثناءه (الرحمن على العرش استوى ) الخ
" dan Dia terpisah dari makhluk-Nya dan tidak ada suatu tempat pun yang terlepas dari ilmu-Nya dan tidak boleh mensifati Allah bahwa Dia di mana mana, bahkan WAJIB mengimani : bahwa sesungguhnya Allah di langit di atas Arasy seperti yang difirmankan Allah azza wa jalla :
" اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arasy.
SIFAT NUZUL ALLAH
وانه تعالى ينزل فى كل ليلة إلى سماء الدنيا كيف شاء .
لا بمعنى نزول رحمته وثوابه على ما ادعته المعتزلة والأشعرية .
"Dan sungguh Allah ta'ala Turun pada setiap malam ke Langit Dunia sebagaimana Dia kehendaki dan seperti apa Dia kehendaki.
BUKAN bermakna turun itu rahmat dan pahalanya seperti apa yang diimani oleh MU'TAZILAH dan ASYAI'RAH (mengaku pengikut imam asyary rh).
Adakah Syeikh Abdul Qodir Jilani juga WAHABI MUJASSIMAH? Wallahu a'lam




 



Zaini Dahlan

Diposting oleh Mastindi | 17.33 | | 0 komentar »

*** BAHAYA PEMIKIRAN AHMAD ZAINI DAHLAN ***
Sudah menjadi Sunnatullah bila dakwah Tauhid dan para da'inya akan dimusuhi oleh para pengekor hawa nafsu. Allah Ta'ala sudah tegaskan hal itu dalam firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan".
(QS. al-An'am: 112). Lihat juga surat al-Furqan ayat 31).
Di antara para da'i Tauhid, bahkan merupakan tokohnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab . Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang berkumpul dalam satu gerbong penentang dakwah Tauhid, dakwah para Nabi. Lantaran itu beliau mendapat rintangan dan permusuhan, bahkan tuduhan dusta seperti yang dialami para nabi, terutama nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Salah satu tokoh musuh dakwah Tauhid ini adalah "Syaikh Ahmad Zaini Dahlan".
👉 Berikut ini sekilas Tentang sosok Ahmad Dahlan.
Ia adalah seorang Ulama' besar dari kalangan Syafi'iyyah yang menjabat sebagai mufti Makkah. Tentangnya, maka telah berkata Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah dalam muqoddimahnya terhadap kitab Shiyanah Al Insan : "Orang yang paling masyhur dari pencela-pencela (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) adalah mufti Makkah Al Mukarromah, Ahmad Zaini Dahlan yang wafat tahun 1304 H. Ia telah mengarang sebuah risalah tentang itu yang seluruh permasalahannya berporos pada dua poros, yaitu :
1. Poros kebohongan dan kedusta'an atas Syaikh (Muhammad)
2. Kebodohan yang mana ia menyalahkan yang sebenarnya benar".
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al Fauzan hafizhahullah berkata : "Di antara orang-orang yang mencegah dari dakwah Tauhid adalah seorang laki-laki dari penduduk Makkah yang disebut Ahmad Zaini Dahlan. Ia telah menulis sebuah buku yang dimuati kesesatan dan kedusta'an-kedusta'an terhadap pendakwah-pendakwah Tauhid, terlebih imam mereka, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah".
(Sekapur sirih kitab Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 5)).
👉 Tentang Karangan-Karangan Ahmad Zaini Dahlan
Ia juga seorang Ulama' yang banyak menulis kitab-kitab yang dikatakan Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah di dalam kitabnya, Al Bayan wa Al Isyhar : "Berkata sebagian orang-orang mulia dari kalangan Ulama' Makkah : "Karangan-karangan Ahmad Zaini Dahlan laksana bangkai yang tidak akan memakannya kecuali orang yang terpaksa. Ulama'-Ulama' India, 'Iraq, Nejed, dan selainnya telah membantahnya dan "menelanjanginya" dan menjelaskan kesesatannya".
(Sebagaimana dalam catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
👉 Di antara karangan-karangan Ahmad bin Zaini Dahlan ini adalah:
--- Ad Duror As Saniyyah fi Rodd 'ala Al Wahhabiyyah
--- Fitnah Al Wahhabiyyah
--- Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib
Buku ini masuk ke dalam muatan dua bukunya yang lain, yaitu (1) Khulashoh Al Kalam fi Bayan Umaro' Al Balad Al Harom dan (2) Al Futuhat Al Islamiyyah ba'da Madho Al Futuhat An Nabawiyyah.
Tentang bukunya yang pertama, Ad Duror As Saniyyah (Mutiara Berharga), berkata Syaikh Shalih bin Muhammad bin Hamd Asy Syatsri berkata : "Telah sampai kepada kami di tahun pertama abad XIV sebuah risalah keji dan perkata'an-perkata'an lemah nun mengerikan karangan Ahmad bin Zaini Dahlan, seorang mufti tanah haram yang mulia (Makkah), yang diberinya judul Ad Duror As Saniyyah fi Ar Rodd 'ala Al Wahhabiyyah. Ia pantas diberi judul Adh Dhoror As Samiyyah fi Ihlak Al Ummah Al Muhammadiyyah (Racun Berbahaya Untuk Membinasakan Umat Muhammad).
Buku ini memuat kedusta'an, kepalsuan, pengkaburan dakwahnya, dan bersandar kepada penghuni-penghuni kuburan (mayat-mayat). Di dalam bukunya itu ia telah bertindak lalim kepada ahli Tauhid dengan fitnah dan kejelakan".
(Muqoddimah Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
Di antara kedusta'an dan kepalsuan yang menghiasi bukunya ini adalah pernyata'annya di halaman 46, "Zhahir dari Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ia menklaim bahwa ia seorang nabi akan tetapi ia tidak mampu menampakkannya secara tegas tetang itu". Maka kita katakana, "Mahasuci Engkau ya Allah. Sesungguhnya ini adalah kedustaan besar...!!".
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan : "Kami menduka bahwa Syaikh Ahmad Dahlan belum melihat kitab-kitab & risalah-risalah (karangan Syaikh Muhammad)... Setiap apa yang ia tulis dalam risalahnya (sesuai) apa yang ia dengar dari orang-orang yang dibenarkannya. Bukankah tatsabbut (mencari kebenaran berita) di dalamnya termasuk kewajibannya, dan mencari dan bertanya tentang kitab-kitab & risalah-risalahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjadikan bantahannya atasnya. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Shiyanah Al Insan (hal. 14)).
Tentang bukunya yang kedua, "Fitnah Al Wahhabiyyah", berkata Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah : "Di dalamnya ia berbicara dengan sesuatu yang tidak dikenal. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Kutub Hadzdzaro minha Al 'Ulama (I/251)).
Adapun tentang bukunya yang ketiga, "Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib", telah berkata Syaikh Rasyid Ahmad Al Kankuni Al Hindi rahimahullah --penulis Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud yang dinisbatkan kepada salah seorang muridnya, Ahmad Kholil, padahal yang benar kitab itu merupakan dekteannya yang ia dektekan kepada muridnya itu-- dalam kitabnya, Al Barohin Al Qothi'ah 'ala Zholam Al Anwar As Sathi'ah yang dicetak di India, "Sesungguhnya syaikhnya para Ulama' Makkah di zaman kami (dekat-dekat tahun 1303 H) telah menghukumi --berfatwa-- berimannya Abu Tholib dan telah menyelisihi hadits-hadits shahih karena ia mengambil sogokan riba yang sedikit dari seorang Rofidhoh Baghdad".
Betapa bagusnya pernyata'an Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam Al Bayan wa Al Isytihar : "Dan aku telah mendengar lebih dari satu dari kalangan ahli ilmu yang terpercaya berkata, "Sesungguhnya Dahlan ini adalah seorang Rafidhah akan tetapi ia menyembunyikan madzhabnya dan menamakannya (bersembunyi di balik naman) taklid kepada salah satu dari imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi'i, dan Ahmad) dengan tujuan agar tujuan-tujuan kejinya tertutupi dan agar memperoleh jabatan-jabatan yang darinya ia mencari makan. Yang paling membuktikan ke-Rofidhahannya yang jelek adalah karangannya sebuah buku yang berjudul Asna Al Matholib fi Najdah Abi Tholib. Di dalamnya ia membantah nash-nash Al Qur'an dan hadits-hadits shahih mutawatir dengan nafsunya".
(Dinukil dari catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 24)).
Celakanya, fatwanya yang keji ini diikuti oleh seorang Ulama' yang cukup berpengaruh di Indonesia, terutama di Jawa, Syaikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Al Bantani Al Jawi dalam kitab tafsirnya yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren tradisional, Muroh Labid li Kasyf Ma'na Quran Majid(II/201-202) ketika menafsirkan Surat Al Qoshosh ayat ke-56, "Sesungguhnya kamu tidak akan bias memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai. Akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dia lebih tahu orang-orang yang mendapat petunjuk".
👉 Kaidah-Kaidah Bathilnya Ahmad Zaini Dahlan
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan bahwa kaidah-kaidah kebodohan yang di atasnya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan membangun bantahannya terhadap Wahhabiyyah, membolehkan berdo'a kepada selain Allah Ta'ala dari kalangan para Nabi dan orang-orang Sholih yang telah wafat, beristighotsah (meminta tolong ketika dalam kesulitan) kepada mereka, dan mengadakan perjalan menuju kuburan-kuburan mereka untuk berdo'a kepada mereka di sisinya, serta meminta dari mereka (penghuni kubur) agar dipenuhi hajat mereka, ada tiga (3), yaitu:
1. Riwayat-riwayat bathil dan semaknanya berupa dengeng-dongeng, buah tidur, dan syair-syair yang tidak memiliki nilai di sisi Ulama' agama yang hanya laku di pasar orang-orang awwam.
2. Berdalil dengan nash-nash yang tidak menunjukkan dalil permasalahan yang ia bawakan secara syari'at, seperti firman Allah Ta'ala.
3. Membolak-balikkan realita dan permasalahan dorongan mengikuti jama'ah kaum muslimin dan peringatan dari berpecah dari jama'ah. Menurutnya dan konsekuensi kebodohannya, jama'ah adalah mereka yang paling banyak jumlahnya. Klaim semacam ini bersebrangan dengan nash-nash Al Qur'an, hadits-hadits shahih, dan atsar-atsar Salafu Sholih.
Semoga yang sedikit ini mudah dipahami dan bermanfa'at untuk kita semua
SIAPAKAH Syaikh Zaini Dahlan dan bagaiman pandangan para ULAMA terhadap Zaini Dahlan? 👉
Barakallahu fiikum