MagzNetwork

Tampilkan postingan dengan label pernak pernik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernak pernik. Tampilkan semua postingan

Utusan Wahhabi

Diposting oleh Mastindi | 07.18 | | 0 komentar »

Sejarah Indonesia
Durarus Saniyyah adalah kumpulan risalah, kitab, surat & makalah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya serta ulama-ulama Nejed lainnya, yang oleh sebagian kalangan dikenal sebagai Ulama-Ulama Wahabi.
Usaha pengumpulannya ini dikerjakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Qasim dan diterbitkan dalam belasan jilid. Risalah dan kutub yang ada di Durarus Saniyyah sudah banyak ulama yang mengkajinya dari masa lampau maupun masa sekarang.
Perkenalan Nusantara dengan risalah/kutub ulama-ulama Wahabi Nejed sendiri juga sudah berlangsung lama. Kurang lebih seabad yang lalu.
Teungku Haji Ahmad Hasballah dari Aceh pada era 1920-an sudah mengajarkan Kitabut Tauhid karya "muassis"nya Wahabi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada santri-santrinya di Dayah Indrapuri. Insight yang mereka ambil dari Kitabut Tauhid menjadi salah satu bahan bakar mereka untuk terus berjuang & berjihad melawan Penjajahan Kolonial Belanda.
Pada tahun 1925, terbit di Nusantara kitab berjudul "Utusan Wahabi", yang merupakan saduran atas kitab Hadiyyah Saniyyah karya ulama Wahabi Nejed Syaikh Sulaiman bin Sahman. Kitab ini terdiri atas 5 risalah. Secara umum berisi penjelasan dan pembelaan terhadap dakwah Ulama-Ulama Wahhabi. Beberapa risalah dalam kitab ini juga termaktub dalam Durarus Saniyyah.
"Utusan Wahabi" dikerjakan dan diterbitkan oleh Ahmad Syukri dan Ali Harharah, keduanya adalah murid-murid Syaikh Ahmad Syurkati, pendiri organisasi Al Irsyad yang masyhur itu.
Kitab "Utusan Wahabi" ini sangat terkenal saat itu, sampai-sampai seorang Bung Karno meminta tolong kepada Tuan A. Hassan untuk mengirimkan kitab tersebut kepadanya, dimana saat itu Bung Karno sedang menjalani pengasingan di Endeh.
Pada dekade 1950-1960-an, Madrasah Wathoniyyah Islamiyyah pimpinan KH. Asyifuddin Zawawi di Jawa Tengah dan Pesantren Maskumambang pimpinan KH. Nadjih Ahjad di Jawa Timur mulai mengajarkan kitab Fathul Majid syarah Kitabut Tauhid kepada santri-santrinya. Bahkan pada tahun 1980-an, KH. Nadjih Ahjad sempat diundang ke Saudi untuk memberikan makalah pada acara seminar yang membahas dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kemudian makalah tersebut diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia dengan judul "Pengaruh Wahabi di Indonesia".
Lanjut pada dekade 1970-an, dua Imam Tentara - Kolonel Bey Arifin dan Kapten Dja'far Soedjarwo - memulai inisiatifnya mengajarkan Kitabut Tauhid di kalangan tentara Angkatan Darat, tepatnya di Kodam Brawijaya, Malang.
Ya, anda tidak salah baca. Keduanya saat itu mengajarkan Kitabut Tauhid di barak-barak tentara. Atau dengan kata lain : barak tentara pernah menjadi salah satu basis pengajaran kitab-kitab Ulama Wahabi di Indonesia.
Inisiatif mereka ini berlanjut dengan penerjemahan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab secara massif pada sekitar era 1970 dan 1980-an. Boleh dikatakan hampir semua terjemahan pertama kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lahir dari tangan mereka berdua.
Bey Arifin dan Dja'far Soedjarwo tercatat merupakan ulama-ulama Muhammadiyah. Bey Arifin sendiri bahkan sempat menjadi Ketua MUI Jawa Timur.
Ulama Muhammadiyah lainnya - Moehammad Thahir Badrie - pada dekade 1980-an bahkan menulis syarah atas Kitabut Tauhid dalam 4 jilid (baru selesai 2 jilid), yang boleh jadi merupakan syarah pertama karya ulama Indonesia atas Kitabut Tauhid.
Dari perjalanan sejarah diatas : adakah diantara nama-nama dan pondok pesantren yang disebut di atas yang menjadi "gembong teroris" ?
Apakah Teungku Haji Ahmad Hasballah menjadi teroris karena mengajar Kitabut Tauhid ?
Apakah Syaikh Ahmad Syurkati dan murid-muridnya di Al Irsyad merupakan teroris karena membela dan menerjemahkan karya-karya Ulama Wahabi Nejed ?
Apakah Madrasah Wathoniyah Islamiyah dan Pesantren Maskumambang menjadi Pusat Pengkaderan Teroris karena di sana dipelajari kitab Fathul Majid ?
Apakah Bey Arifin, Djafar Soedjarwo, Moehammad Thahir Badrie, dan ulama-ulama Muhammadiyah lainnya menjadi teroris karena membela, menerjemahkan dan mengkaji kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ?
Saya yakin tak ada yang berani menuduh mereka teroris.
Perkenalan Nusantara dengan kitab-kitab Ulama Wahabi Nejed sudah berlangsung hampir seabad, dan anehnya baru akhir-akhir ini kitab-kitab mereka dianggap sumber terorisme.
Kalau betul argumen mereka, bahwa kitab-kitab Ulama Wahabi merupakan sumber inspirasi aksi teroris ISIS, maka adakah mereka berpikir ulang :
1. Kitab apa yang menginspirasi NII-nya Kartosuwiryo yang membuatnya nekad menjadi "teroris & pemberontak" (minimal menurut versi mereka yang tidak sepaham dengan Kartosuwiryo") ? Apakah Kartosuwiryo terinspirasi dari kitab-kitab Ulama Wahabi? Apakah Kartosuwiryo berguru kepada ulama-ulama yang terpapar paham Wahabi ?
2. Kitab-kitab apa yang dipelajari oleh syabab-syabab HTI dan tokoh-tokoh FPI yang membuat mereka akhirnya dinyatakan oleh Pemerintah sebagai organisasi terlarang versi Pemerintah ? Adakah HTI dan FPI terinspirasi oleh kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama Wahabi lainnya? Bagaimana pandangan HTI dan FPI (terutama HRS) terhadap dakwah Wahabi ?
Saya pikir pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah jelas jawabannya bagi orang-orang yang mau meneliti.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat, jangan sampai isu "terorisme" hanya dijadikan "alat untuk menggebuk" saudara sesama muslim yang kebetulan tidak satu pemahaman.
Wallahu a'lam.

 

Kejahatan Fakhri Basyah

Diposting oleh Mastindi | 02.19 | | 0 komentar »

[Di dalam dokumen tersebut diceritakan bahwa seorang insinyur melarikan diri dari Madinah agar dia tidak melakukan apa yang menjadi perintah Fakhri Basya.]
Yang mau bongkar Makam Nabi itu orang Turki. Bukan Wahabi Saudi. Kalian yang mengkoar koarkan Klan Saud mau membongkar makam Nabi, bertobatlah dari fitnah yang kalian dengungkan.
Ala_nu
Cc: Indonesian Hoaxes
✍ copas
.:: 3 Kejahatan Besar Fakhri Basya di Tanah Haram ::.
Belum pernah terjadi sepanjang sejarah di kota al-Madinah al-Munawarah, baik dalam kondisi aman atau dalam kondisi perang, seseorang bermaksud membongkar makam nabi Muhammad sholallahu ’alaihi wassallam.
Tetapi ini benar terjadi oleh seorang penjahat besar dari bangsa Turki Utsmani, Fakhri Basya.
Sebuah dokumen tertanggal 13 Juni 1917 M, yang dikirim seorang menteri Prancis di Kairo untuk Menteri Luar Negeri Prancis mengungkapnya.
Koran Al-Qiblah nomor 86 tanggal 21 Sya’ban 1335 H, juga mempublikasikan kejadian sejarah yang pernah terjadi di kota Madinah ini.
Syaikh ‘Ashim Nahidh Al-Syarif al-Hijari, Profesor Kuliyah Adab wa Ulum al-Insaniyah di Universitas Taibah, al-Madinah al-Munawwarah, menjelaskan:
“Sebuah dokumen menyebutkan tentang deretan kejahatan besar Fakhri Basya di kota Madinah, yang tidak bisa terbayangkan oleh akal dan sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang di hatinya masih tersisa keimanan walau hanya sebiji sawi, yang mengaku mencintai nabi Muhammad sholallahu ’alaih iwassallam.
Di dalam dokumen tersebut diceritakan bahwa seorang insinyur melarikan diri dari Madinah agar dia tidak melakukan apa yang menjadi perintah Fakhri Basya.
Yaitu merenovasi menara masjid Nabi agar nantinya mempersiapkan senapan mesin di atasnya.
Disebutkan juga rencana Fakhri Basya untuk membongkar makam Nabi Muhammad sholallahu ’alaihi wassallam, dengan alasan memastikan keberadaan jasad beliau yang mulia.
Padahal, diketahui bersama tentang pembongkaran makam pada umumnya, bagaimana dengan nabi Muhammad sholallahu ’alaihi wassallam, yang kehormatannya di atas semua makhluk, baik ketika beliau masih hidup maupun telah wafat!”
Kondisi Penduduk Madinah di Bawah Kekuasaan Fakhri Basya
Penduduk kota Madinah menjalani kehidupan yang kelam selama 4 tahun, antara tahun 1916 hingga 1919 M. Terjadi genosida, anak-anak, pria dan wanita.
Fakta sejarah “Seferberlik,” memaksa 40 ribu lebih warga Madinah harus terusir dari tanah kelahirannya. Mereka diungsikan paksa ke Syria, Irak, Palestina, Yordania dan Turki.
Sementara yang tersisa tak lebih hanya 140 penduduk Madinah, harus menjalani kehidupan dangan penuh penindasan, kelaparan merajalela, dan terpisah dari keluarga.
Di saat yang sama, Masjid Nabawi dijadikan markas militer dan dijarah kekayaannya dan dilarikan ke Turki.
3 Kejahatan Terbesar di Tanah Haram
Di bawah kekuasaan Fakhri Basya, seorang yang telah merampas kehormatan dan menumpahkan darah.
Jenderal penguasa yang paling kejam dan diktator dari kalangan Turki Utsmani. Digambarkan sebagai seorang yang tidak memiliki belas asih, mampu melakukan apa saja yang menjadi keinginannya, walau harus menciderai tempat-tempat suci agama.
Dia terkenang dengan 3 kejahatan yang luar biasa, yang diabadikan sepanjang sejarah;
🔹️Pertama, “Seferberlik,” genosida dan pengusiran warga Madinah secara masif.
🔹️Kedua, pencurian manuskrip-manuskrip dan harta kekayaan kota Madinah.
🔹️Dan ketiga, menjadikan masjid Nabawi sebagai basecamp militer dan gudang pesenjataan.
Bahkan kegilaan Fakhri Basya tidak ada batasnya, di antaranya memerintahkan pasukannya merubah menara-menara masjid Nabawi sebagai posisi tembak.
Yang hampir terjadi adalah rencana Fakhri Basya membongkar makam Nabi Muhammad sholallahu’alaihi wassallam. jll
Saksikan videonya:
Sumber:
1. Fushul min Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, Ali Hafidz, cet. 3, 1996.
2. Tarikh Daulah Utsmaniyah, Ibrahim Muhammad Husnain, cet. 1, 2014.
2. Salathin Daulah al-Utsmaniyah, Shaleh Kaulan, cet. 1, 2013.
3. Mashr Utsmaniy, Jarjiy Zaidan, Cairo, 2012.
Dan lain-lain.

 

Tasawwuf modern

Diposting oleh Mastindi | 03.09 | , | 0 komentar »

Penyimpangan berupa kesyirikan dan bid'ah yang tersebar di kalangan tarekat Sufi membuat gundah hati Buya Hamka. Oleh karenanya, Buya Hamka menulis buku Tasawuf Modern.
Mengapa dinamakan Tasawuf...??
Bukankah hal itu bid'ah...??
Nah, disinilah letak kecerdikan Buya Hamka. Buya Hamka menamakan bukunya sebagai "buku Tasawuf" agar orang-orang yang mengaku Sufi mau membaca buku karangan beliau.
Isi dari buku tersebut adalah pemurnian kembali ajaran tasawuf dari hal-hal yang berbau bid'ah dalam agama. Jadi, hakikat sebenarnya dari buku tersebut adalah Tasawuf ala Salafi/Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, yakni merujuk kepada istilah Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa.
Buya Hamka berkata:
Kita banyak mengenal Ibnu Taimiyah karena membaca buku-buku Ibnul Qayyim yang sangat banyak, mengenai berbagai soal. Kedua beliau pun menyukai Tasawuf, tetapi sangat menentang akan paham Ibnu 'Arabi. Karangan Ibnu Taimiyah "At-Tawassul wal Wasillah" menentang sekeras-kerasnya praktek membesar-besarkan kubur yang rupanya sudah sangat merusak kepercayaan sejak Abad ke-7 itu".
(Sumber: Perkembangan & Pemurnian Tasawuf, Hal. 265-266, Republika Penerbit, Cet.1, 2016).
"Kita namai "Tasawuf", ialah menuruti maksud Tasawuf yang asli, sebagaimana kata Junaid tadi. Yaitu: "Keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji". Dengan tambahan keterangan "Modern". Kita tegakkan kembali maksud semula dari Tasawuf, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi; menekankan segala kelobaan dan kerakusan memerangi syahwat yang lebih dari keperluan untuk kesejahteraan diri".
(Sumber: Tasawuf Modern: Bahagia itu Dekat dengan Kita; Ada di dalam Diri Kita, Hal. 7-8, Republika Penerbit, Cet.3, 2015).
Selain mengajarkan penyucian jiwa ala Salafi yang dibungkus dengan nama Tasawuf Modern. Buya Hamka membantah keras tarekat Sufi yang senang membuat bid'ah dalam agama. Beliau berkata:
"Maka, datanglah ahli-ahli Tasawuf membuat berbagai dzikir ciptaan sendiri, yang tidak berasal dari ajaran Allah dan Rasul. Ada dzikir yang hanya membaca Allah saja berkali-kali dengan suara keras-keras, bersorak-sorak sampai payah dan sampai pingsan. Ada dzikir yang huw saja. Karena kata mereka huwa yang berarti Dia, ialah Dia Allah itu sendiri. Kadang-kadang mereka adakan semacam demonstrasi sebagai menentang terhadap orang yang teguh berpegang kepada sunnah. Maka, dzikir-dzikir semacam itu adalah berasal dari luar Islam atau telah menyeleweng sangat jauh dari pangkalan Islam".
(SUMBER: Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 652, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).
Semoga bermanfa'at

 

Kiai Maimun dan Wahhabi

Diposting oleh Mastindi | 21.17 | | 0 komentar »

Pertemuan Mbah Mun dan Kyai Najih
KH. Maimun Zubair (Mbah Mun) rahimahullah pernah debat dengan KH. Najih Achjad Maskumambang rahimahullah (tokoh Masyumi), Dalam debat itu mbah Mun mengakui keilmuan kyai Najih, bahkan mbah Mun mengaku hampir kalah debat dg Kyai Najih. Saking terinspirasinya mbah Mun dg Kyai Najih, sampai mbah Mun berharap kalau punya anak laki-laki akan dikasih nama "Najih", kebetulan beberapa hari setelah itu istri mbah Mun melahirkan bayi, maka mbah Mun menamai bayi itu dengan NAJIH, yang sekarang populer dengan sebutan GUS NAJIH.
Kyai Najih Achjad sendiri termasuk yang mempopulerkan kitab Tauhid syaikh Muhamammad bin abdul wahhab di pondok Maskumambang +- tahun 70an. Kyai Najih merupakan mantunya Kyai Ammar Faqih Maskumambang yang terkenal dengan ke"wahhabiyahannya". Sedangkan ayahnya kyai Ammar adalah Kyai Faqih Tokoh besar NU di zamannya, teman mbah hasyim asy'ari dan penentang keras ajaran "wahabi". Di sinilah letak keunikannya, kyai Faqih yang keras terhadap wahhabi justru tak diikuti oleh anaknya yaitu kyai Ammar. Setelah kyai Ammar pulang dari belajar di Mekkah beliau berubah haluan menjadi " wahhabi. Dan setelah kyai faqih wafat, kyai Ammar mengubah corak pondok maskumambang Gresik yang dulunya berpaham tradisionalis Nu menjadi "wahhabi". Setelah kyai Ammar wafat pada tahun 1965, pondok maskumambang dipegang Kyai Najih, dan di masanya kitab tauhid karya Syaikh MBAW dijadikan materi Ajar.
Kembali ke MBAH MUN, .........
Mbah Mun pernah menceritakan dirinya ketika menuntut ilmu: "aku pernah dipethukno Najih, Najih iku Muhammadiyah cekrek, debat kale kulo, Najih iki nemen, ape ziarah kubur wae gak oleh, aku meh kalah debat........wis aku nek moleh, nek ndduweh anak, tak jenengi Najih (Gus Najih), pas tuk omah bojoku hamil tuwo, pirang ndino metu tak jenengi Najih, molane de'e kadang- kadang ora biso awur karo uwong. Najih solae podo karo Najih mantune kyai Ammar......(kata mbah mun: makanya, kadang2 Anakku Najih ini kurang bisa begaul dg orang lain, seperti gaya Kyai Najih menantunya Kyai Ammar).
Bisa dicek di YouTube, Mbah Mun mengungkap dan menceritakannya dalam bbrp kesempatan dg redaksi yang berbeda-beda. Tapi subtansinya sama.

 

Musik Menyebabkan Runtuhnya Islam di Andalusia 🎸
🔸Kisah Nyata , Ketika Musik Merebak Dan Merajalela, Negara Kuat Itupun Runtuh🔸
🗣️ Berbicara tentang penyebab musibah yang menimpa umat Islam, sering kita dapati para pakar dan para ahli hanya berbicara dalam tataran teknis atau lingkup yang ditangkap panca indera saja, padahal ada faktor non teknis yang bisa jadi tidak tertangkap oleh indera manusia tapi itulah penyebab utamanya, yaitu dosa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa: 30)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Dan musibah tersebut tidak hilang melainkan dengan taubat.” (al-Jawabul Kafi, Hal. 87).
Sama halnya dengan kehancuran sebuah negeri, para pengamat dan sejarawan hanya berbicara pada permasalah pemimpin yang lemah, ekonomi yang morat-marit, bencana alam, dll. padahal ada penyebab yang utama yang menimbulkan penyebab-penyebab di atas, yaitu dosa-dosa yang dilakukan oleh penduduk negeri tersebut.
Masyarakatnya adalah orang-orang yang berbuat kemaksiatan, bukan berdakwah dan melakukan perbaikan, mereka malah melupakan agama Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)
Hal itu pula yang terjadi di Andalusia, peradaban Islam yang berusia kurang lebih 800 tahun itu akhirnya hancur dengan runtuhnya Kerajaan Granada. Penduduk Andalusia kala itu melupakan Allah, jauh dari ketaatan kepada-Nya, dan sibuk dengan memperebutkan singgasana.
Lalu, apa yang menyebabkan mereka melupakan aturan Allah? Mungkin tidak ada yang menyangka penyebab lalainya penduduk Andalusia ini, karena penyebab ini begitu akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, penyebabnya ialah musik.
Ya, penduduk Andalusia disibukkan dengan mendengar musik. Musik telah mengalahkan bacaan Alquran mereka, mengalahkan bacaan hadis-hadis mereka, dan melupakan dari menadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala.
Orang yang membawa musik ke tanah Andalusia adalah Abu al-Hasan Ali bin Nafi’ (789-857) atau yang lebih dikenal dengan Ziryab.
⁉️ Siapakah Ziryab?
Ziryab adalah seorang Persia atau Kurdi yang pada awalnya tinggal dan bekerja di Irak lalu tinggal di Andalusia selama 30 tahun. Ia seorang musisi, penggubah lagu, ahli kosmetik, kuliner, fesyen, dan juga menguasai beberapa cabang ilmu pasti. Orang-orang Eropa mengenal Ziryab sebagai bapak kebudayaan.
Kalau hari ini kita gambarkan Ziryab, maka ia layaknya seorang selebriti.
Orang-orang memperhatikannya dalam hal mode pakaian, gaya rambut, dan tren kuliner. Ia membuat tren warna dan model pakaian harus mengikuti musim-musim tertentu.
Hari ini kita lihat orang-orang meniru tren Ziryab dengan istilah pakaian musim dingin, musim panas, atau musim semi. Ziryab juga mengubah kebiasaan bagaimana sebuah makanan itu dihidangkan atau disantap.
Tidak ada seorang pun di Eropa atau di Andalusia secara khusus yang peduli tentang penyajian makanan, dahulu orang-orang menyajikan semua makanan dalam waktu yang sama. Ziryab membaginya menjadi tiga bagian dengan menu-menu yang menyesuaikan.
Hari ini kita kenal dengan istilah hidangan pembuka (appetizer), hidangan utama (main course), dan makanan penutup (dessert). Demikian juga dengan gaya rambut, ia membuat tren laki-laki tatanan rambutnya pendek dan rapi, sementara perempuan berambut lebih panjang dan berponi.
Sebagian dari kita mungkin menyangka tatanan modern dalam berpakaian, kuliner, dan gaya rambut masyarakat Eropa saat ini adalah budaya yang terlahir dari kebiasaan mereka sendiri. Kalau Anda menyangka demikian, maka itu adalah kekeliruan.
Kebiasaan tersebut terlahir dari seorang muslim yang berasal dari Baghdad, yaitu Ziryab. Bahkan Ziryab mengajarkan masyarakat Eropa menggunakan deodoran, pasta gigi, dan shampo.
🎷 Mengajarkan Musik 🎹
Setelah menyebutkan nilai-nilai peradaban yang Ziryab ajarkan kepada masyarakat Eropa, ada hal lain yang ia sebarkan di tengah peradaban muslim Eropa dan masyarakat benua biru itu secara umum, yaitu musik.
Ketika datang ke Spanyol, Ziryab mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Daulah Bani Umayyah II di sana. Lalu ia pun mendirikan sekolah musik di wilayah kerajaan tersebut. Ia sangat pandai memainkan alat-alat musik, baik alat musik tradisional Arab maupun tradisional daerah setempat.
Melihat sosok Ziryab yang mampu menghibur dengan musiknya, memiliki penampilan yang trendi, mengajarkan cara menikmati makanan yang lebih menyenangkan dll. membuat masyarakat saat itu kagum dan memiliki kecenderungan hati kepadanya. Jangankan orang-orang yang hidup saat itu, tatkala mendengar apa yang diajarkan Ziryab kepada masyarakat Eropa sehingga peradaban Eropa seperti sekarang ini,
mungkin di antara kita mulai mengaguminya, padahal apa yang diajarkan Ziryab bukanlah sesuatu yang sifatnya darurat, artinya peradaban manusia tidak punah jika tidak mengetahui apa yang Ziryab ajarkan.
Tidak sehebat apa yang ilmuan-ilmuan Islam lainnya ajarkan. Kekaguman tersebut membuat masyarakat mulai meninggalkan membaca Alquran atau berkurang dari biasanya, demikian juga membaca hadis, dan kisah-kisah para ulama yang shaleh. Mereka mulai sibuk dengan music tersebut.
Kebiasaan ini kemudian turun-temurun terwarisi hingga lemahlah umat Islam dan semakin tidak mengetahui ajaran agama mereka. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam sejarah Islam di Andaluisa; berpecah-pecahnya Daulah Umayyah II yang dahulu menjadi satu-satunya kerajaan Islam di Spanyol menjadi Negara-negara kecil atau tha-ifah.
Beberapa di antaranya kemudian dikuasai oleh Kerajaan Kristen Eropa. Puncaknya, musibah itu disempurnakan dengan runtuhnya Kerajaan Granada.
🎶 Apakah Mendengarkan Musik Berdosa?
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)
Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,
الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.
“Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 20: 127)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik…” (HR. Bukhari)
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian.
Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah.
Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan.
Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي سَمَاعِهِ ضَرَرٌ دِينِيٌّ لَا يَنْدَفِعُ إلَّا بِالسَّدِّ
“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11:567)
Tentu ada dosa-dosa lainnya yang menyebabkan runtuhnya Islam di Spanyol, namun musik memiliki peranan penting yang menjauhkan umat dari agamanya. Umat Islam tidak tahu mana tauhid dan mana syirik karena mereka tidak mempelajari agamanya. Tidak tahu tata cara ibadah yang benar, dll.
Apakah benar musik melalaikan dari mengingat Allah, Alquran, hadis, dan mempelajari agama? Silahkan kita jawab dengan amalan kita sehari-hari, manakah yang lebih banyak kita dengar atau hafal? Nyanyian, Alquran ataukah hadis?
Banyak orang tertawa, merinding, terenyuh, bahkan menangis ketika mendengar musik, tapi sedikit yang merasakan hal yang sama ketika mendengarkan Alquran.
Sekali engkau mendengar atau menyanyikannya, maka sebuah noktah telah kau torehkan pada hatimu.
Dan karena telah sekali engkau terlena, engkau pun cenderung melakukannya lagi sehingga makin sulit engkau berlepas diri dari musik dan nyanyian.
Dan ketika musik telah menjadi kebiasaan, sungguh dikhawatirkan ia akan menjadi kebiasaan hingga akhir hidup.
Betapa sering telinga ini mendengar kisah tentang orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan lantunan musik dan lagu.
Mereka tidak bisa mengucapkan syahadat Laailaha illallaah, meski dengan terbata-bata. Justru lantunan musik yang terdengar dari lisan mereka – Na’udzubillahi min dzalik.
Meski mungkin mereka pun menginginkan untuk mengucapkan kalimat syahadat, tetapi tenyata lisan mereka terasa ‘berat’ dan telah terlanjur terbiasa dengan musik.
Bagaimana solusinya ? solusinya yakni dengan mengganti kebiasaaan.
Musik membawa hati keras dan menumbukan kemunafikan, solusi dengan mendengarkan murottal dan kajian islam yang berlandaskan Al quran dan Assunnah pemahaman salafush shaleh banyak sekali kajian yang membahas masalah Akidah, Akhlak , muamalah dan lainnya...