MagzNetwork

Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

RIBA PADA ARISAN

Diposting oleh Mastindi | 18.13 | | 0 komentar »
Definisi Arisan dalam KBBI pengumpulan uang atau barang dengan nilai yang sama dari beberapa orang peserta lalu di undi.

Secara syar’i hukum Arisan adalah Mubah atau boleh apalagi menjadi sarana untuk mengingat keanggotaan dan kehadiran serta sportifitas atau kekompakan sebuah organisasi . karena hakekat dari arisan akan menjadi piutang bagi yang telah dapat dan menjadi harapan bagi yang belum
Karena itulah jangan jadikan Arisan sebagai tujuan , tapi jadikan Arisan sebagai sarana selain di atas untuk saling membantu , yakni dengan memberikan arisan kepada teman yg lebih membutuhkan.
Selain itu Arisan juga bisa menjadi sarana investasi atau tabungan bila jumlah atau nilainya cukup besar .

Kapan Arisan menjadi Riba ?

1. Ketika pemenang Arisan menjual arisannya dgn sejumlah uang , dalam kasus tersebut hakikatnya menjual uang dgn uang , sama dengan menukar uang ketika lebaran dgn potongan beberapa persen . dalam hal ini MUI telah jelas menyatakan keharamannya

2. Mewajibkan pemenang arisan menyediakan makanan , termasuk Riba , karena mengambil manfaat dari uang di pinjamkan . (hakekat riba, ialah mengambil manfaat dari pinjaman) bukankah arisan hakikatnya meminjamkan uang

Sahabatku .
semoga artikel ini bermanfaat , dan menjadi sarana “tawassaw bil haq karena Riba itu begitu halus .. sampai sampai seorang ulama besar menolak tawaran berteduh ketika hujan dari sahabatnya ,. Lantaran sebelumnya dia meminjamkan uang . dia kuatir hal tersebut termasuk Riba, karena mengambil manfaat dari uang yg di pinjamkan

Wallahu musta’an

BILA KITA ABAI POLITIK

Diposting oleh Mastindi | 19.16 | | 0 komentar »
Masih ingat undang undang sisdiknas , dimana RUU nya mewajibkan siswa dalam mata pelajaran agama harus di ajari yang seagama . al hamdulillah meski pihak non muslim dan liberal menolak berkata politikus yang masih punya iman akhirnya bisa lolos , tak dapat dibayangkan bila anak kita sekolah disekolah non muslim lalu di ajari oleh yang tidak seagama.
Satu lagi undang undang  perkawinan beda agama , berkat perjuangan politikus muslim bisa digagalkan .

System pemilihan pemimpin di negeri kita memang bukan system Islam (syura) namun demokrasi , namun faktanya tidak memilih dengan alasan bukan ajaran Islam, tetap akan ada yang diangkat . sedangkan  pemimpin atau presiden atau gubernur dengan hak progratifnya akan memilih pembantu dan membuat keputusan strategis . terbayang tidak jika pembantu yang di pilih dan regulasi serta kebijakan tidak berpihak kepada Islam.

Demokrasi menghitung jumlah suara , ringkasnya siapa yang terbanyak dialah pemenangnya. Sementara jumlah pemilih sudah jelas ummat Islam.

Secara asumsi matematik jika ada 100 orang, dengan uraian pemisalan   15 orang non muslim 85 orang muslim , dan muslim juga terbagi ada yang munafiq ada yang shaleh , yang shaleh pun terbagi dalam hal berpolitik ada yang menolak ada yang perduli . lalu diajukan 2 calon 1 muslim 1 non muslim . non muslim biasanya dalam hal ini 1 suara . lalu muslim yang munafiq ikut memilih yang non muslim karena berbagai alasan . sedangkan muslim yang shaleh memilih pemimpin muslim , sedangkan sisanya muslim yang abai . diatas kertas tentu sudah dapat di tebak hasilnya (pemenangnya)

Terakhir . demokrasi memang bukan ajarn Islam , namun memilih pemimpin yang seagama hukumnya wajib untuk kemaslahatan ummat islam.


Kaedah syara mengatakan “ mala yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun . bila sesuatu yang wajib tidak tercapai tanpa suatu perantara , maka perantara itu hukumnya wajib.

Zakat, antara produktif dan konsumtif

Diposting oleh Mastindi | 07.17 | | 0 komentar »
Zakat konsumtif dan produktif
berbeda dengan Zakat Fitrah yang konsumtif, yakni harus di bagi habis agar esok hari rayanya semua dapat bergembira dengan terjaminnya makan dan minumnya.
maka Zakat maal dengan sasaran 8 golongan lebih bersifat produktif , dimana dengan zakat yang dikelola secara profesional oleh lembaga yang diakui , di usahakan mampu mengangkat derajat para Mustahiq tahun ini bisa menjadi Muzakki tahun depan.
karena itulah selain pengelolaan yang profesional juga tepat sasaran serta amanah, tak kalah pentingnya kesadaran dari wajib zakat (Muzakki) untuk mengeluarkan sebagian hartanya melalui amil zakat yang di percaya.
tidak buruk memberikan zakat secara mandiri , namun kesan riya dan rasa berhutang budi dari mustahiq sulit di hindari , padahal itu adalah hak mereka yang dititipkan Allah diantara harta para aghniya. dan pemberian zakat secara mandiri tak ada bedanya dengan fitrah juga bersifat konsumtif, sehingga tidak heran data mustahiq setiap tahunnya dari itu ke itu, artinya tak ada peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi nya melalui zakat maal.
begitu pentingnya zakat , sampai masuk dalam dukun Islam, dan sahabat/khalifah Abu Bakar RA sampai menyatakan perang terhadap pengingkar Zakat.
terakhir, di bulan yang Mulia ini, di mana banyak Muzakki yang berzakat karena janji pahala yang dilipat gandakan karena kemuliaan Ramadhan oleh Allah, jangan sampai zakat kita bukan hanya salah sasaran tapi salah pemanfaatan.


MUDIK KEMABLI

Diposting oleh Mastindi | 17.48 | | 0 komentar »
Mudik adalah tradisi yang bersifat fitrah, bukan hanya tahunan namun ketika ada peluang dan kesempatan, bukan lantaran keluarga yang terpisah di kampung , namun tempat di mana seseorang  atau leluhurnya dilahirkan.

bukan hanya manusia , begitu pun hewan mengenal istilah "kembali ke asal di lahirkan, ikan Salmon berenang ribuan kilo meter untuk kembali ke tempat ia ditetaskan.

tradisi mudik menjadi sangat  mulia ketika diniatkan untuk mengunjungi kembali keluarga dan kerabat demi mempererat kembali hubungan silatur rahim yang renggang karena terpisah jarak.

Mudik akan juga sangat menyenangkan di kala kepulangannya membawa tanda kesuksesan nya selama dalam perantauan, namun hindari hal hal yang mengakibatkan timbulnya kecemburuan sosial, karena strata kesuksesan dan sosial yang timpang , membuat penampilan  Properti setiap orang berbeda beda.

Bagi seorang Muslim, mudik adalah miniatur kehidupan sederhana untuk menjadi Ibrah, di mana mudik akan menyenangkan, di kala yang di tinggal di perantauan terjamin baik keluarga maupun pekerjaannya, adapun dari kesuksesannya ia dapat memberikan bingkisan yang sangat layak di kampung halamannya.


begitu pun Jiwa di mana tempat asalnya adalah di sisi Allah, akan menjadi senang/Ridha , manakala bekal kembali ke haribaan sang penciptanya membawa bekal amal yang banyak , sedangkan keluarga yang ditinggalkannya telah di tanamkan nilai nilai ilahiyah.

Menitip nasehat untuk diri sendiri

Diposting oleh Mastindi | 05.46 | | 0 komentar »
Untukmu sahabat..

Ketika aku memberi  motivasi  agar kamu bersabar, bukan berarti aku manusia super yang tahan diterpa multi musibah. 
Ketika aku memberi  tausiah  tentang  amar ma’ruf, bukan berarti aku merasa sangat alim.

Dan Ketika  aku melarangmu menjauhi maksiat , juga bukan berarti aku manusia  paling suci.

Pun aku ketika menyinggungmu agar tidak malas, bukan berarti aku manusia paling kreatif.

Ambillah pelajaran dari filosofi sebuah kompetisi , di mana penonton dapat melihat jelas bentuk lapangan, gerakan semua pemain,  arah media permainan , sedangkan engkau sebagai pemain hanya fokus kepada  lawan yang terdekat.


Begitulah kompetisi kehidupan , dan yang aku inginkan,  ketika posisi kita berganti,  berilah aku motivasi, nasihat, teguran , kunjungan, sebagaimana yang aku lakukan lebih dahulu.

Amar ma'ruf bahi Munkar

Diposting oleh Mastindi | 00.49 | | 0 komentar »
Sebagai Muslim kita sangat senang di sebut “Khairu ummah (ummat terbaik) namun tentunya kebanggaan itu tidak tersemat dengan sendirinya melainkan ada  sesuatu hal yang menjadi  syaratnya, yakni “amar makruf nahi mungkar.

Pada hakikatnya setiap kita adalah da’i , karena kewajiban “Tawassau bil haq & tawassau bissabr bersifat umum kepada setiap Mukmin, bahkan nabi bersabda
‘ Sampaikan dariku meski hanya satu ayat.

Lalu apakah yang disebut “MA’RUF itu ?..

Secara etimologhi “Ma’ruf maknanya “sesuatu yang di kenal, bentuk kalimatnya adalah fasif/maf’ul (objek), kalimat “Ma’ruf, bila dikembalikan kepada kata asalnya (predikat) bermakna “WANGI .

Apa korelasinya ?

Secara fitrah , manusia selalu menyenangi hal hal yang baik dalam hal perbuatan serta perkataan, dan juga menyenangi bau harum dalam hal aroma, itulah yang DIKENAL manusia secara fitrah bahkan dari hatinya yang terdalam, saya ambil contoh , pada sebuah berita harian Online  diberitakan “seorang penjahat membunuh rekannya sendiri karena pembagian hasil kejahatan yang TIDAK ADIL , apa yang tersirat dalam benak anda tentang pembagian yang TIDAK ADIL, meskipun itu hasil kejahatan , mereka menginginkan keadilan dalam pembagian , artinya ke ADIL an adalah sesuatu yang disenangi manusia siapa pun orangnya secara fitrah, karena hal itu lebih dikenal oleh nuraninya.

Lalu apakah MUNKAR itu. ?

Munkar maknanya “sesuatu yang di inkari (juga bahasa Arab) atau di hindari, perbuatan mungkar adalah perbuatan yang sangat tidak disenangi dan diinkari keberadaannya atau tidak disukai oleh manusia secara fitrah, baik karena merugikan maupun mencelakakan pihak lain.

Amar ma’ruf atau menyeru kepada yang baik dan Nahi Munkar, menghindari yang buruk adalah syarat untuk kita bisa disebut sebagai “Khairu Ummah atau ummat yang terbaik dan itu adalah tugas kita, tidak harus menunggu menjadi ustad, karena ustad itu adalah legitimasi atau pengakuan manusia saja.

Melalui ini saya mengajak kepada rekan-rekan ayoo..mulai dari diri kita , dari kesalehan personal menjadi kesalehan kolektif.


Medianya ada..yakni Ikrisma kita jadikan sebagai universitas terbuka untuk kita belajar dengan system “Tutor sebaya.

MEMBANGUN KESALEHAN KOLEKTIF

Diposting oleh Mastindi | 05.04 | | 0 komentar »


اذا مات ابن ادم ان قطع كل عمله الا من ثلاث اشياء
صدقة جارية, علم نافع , ولد صالح يدعو له

Apa bila anak Adam meninggal maka putuslah semua amalnya , kecuali tiga perkara

1.       Shadaqah jariah
2.       Ilmu yang berguna
3.       Anak yang saleh yang mendoakan.

Hadits yang mulia di atas tidak hanya bermakna secara personal atau individu, atau di mana ketika seseorang telah dipanggil menghadap Allah maka semua amal ibadahnya menjadi terputus disebabkan Kematian itu sendiri .

Seorang Muslim harus mempunyai jiwa visioner (berwawasan jauh ke depan) apa yang diperbuatnya hari ini merupakan cikal bakal sebuah perubahan bagi masa depan.

Saat anda mengantar anak ke sekolah , realistis memang bila yang terbayang dan anda rasakan adalah repotnya menjalani rutinitas yang menjemukan setiap hari , atau mendset  yang terbangun ialah sedang  membangun masa depan anak  agar tiba di sekolah tidak terlambat, dapat mengikuti pelajaran dengan baik, tidak harus lelah di perjalanan (karena di antar) hingga segala sarana pra sarana  anda siapkan, bila pola pikir anda hanya sekedar itu maka investasi yang anda tanam sebatas  anak anda hidup sangat pragmatis  karena bersifat kini dan dini . namun bagi seorang Muslim apa yang anda lakukan untuk anak anda mendset yang di bangun ialah sedang membangun peradaban melalui anak anda.

Tanggung jawab seorang Mukmin dalam membangun masa depan depan ummat  , tidak terbatas ketika ia masih hidup,  akan tetapi seperti apa yang dikisahkan dalam sirah nabawiyah  “andai kamu tahu kiamat besok hari dan di tanganmu ada biji kurma untuk kau tanam , maka jangan kamu urungkan .

Shadaqah jariah adalah investasi  yang harus dikeluarkan oleh seorang muslim yang akan menjadi sarana kepentingan umum , dan kepentingan ummat sebagai  media penunjang  membangun ummat yang yang cerdas.

Ilmu yang berguna  merupakan manajerial yang yang akan menata  tiap sisi kehidupan seorang  dari hamba, baik secara pribadi maupun  berjamaah.

Anak yang shaleh merupakan sumber daya manusia yang berguna sekaligus  menjadi aset  ummat  yang siap menjadi   mengganti  atau khalifah atau wakil Allah Dwimuka bumi, yang senantiasa berdoa dan berusaha dengan ikhlas, sehingga Allah mewariskan bumi ini kepada yang memang berhak mengelolalanya.

“Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami lah mereka dikembalikan. (QS 19;40)

KISAH SEBUAH GELAS

Diposting oleh Mastindi | 18.09 | | 0 komentar »


Suatu ketika sebuah Gelas jatuh terbanting dan pecah  dengan suara keras  ke atas lantai.
Suatu peristiwa sederhana dan logis , tapi ternyata tidak sesederhana itu setiap orang mengasumsikan kejadian tersebut.

Berbagai asumsi (pernyataan tanpa bukti) pun bermunculan

Pertama : gelas sengaja dijatuhkan

Kedua : gelas licin

Ketiga : ada yang berusaha menarik

Ke empat : karena adanya gravitasi

Kisah di atas hanya sebuah tamsil/gambaran dalam kehidupan ini , sebagai sebuah contoh adalah pada kehidupan sebuah rumah tangga, ketika terjadi suatu permasalahan yang menimpa bahtera rumah tangga tersebut, berbagai dugaan akan muncul , mulai dari orang yang terdekat sampai orang Yang hanya mendengar  kejadiannya saja , bahkan orang yang ahli di bidangnya turut memberikan dugaan, sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka atau informasi yang didengar.

Sebagai Muslim kita diwajibkan saat mendengar suatu berita dengan dua sikap,

pertama : kita abaikan jika memang itu bukan urusan yang layak kita campuri seperti urusan pribadi atau rumah tangga orang lain, atau kita bukanlah orang yang ahli dalam hal tersebut, seperti apa yang di sabdakan oleh baginda yang mulia,

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya .( al-Hadits)

Kedua : melakukan tabayyun atau klarifikasi, hal ini penting agar kita mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, bukan hanya berdasarkan asumsi atau dugaan semata, tidak cukup itu melainkan kepada kedua belah pihak dan memposisikan kita pada posisi netral atau tidak berpihak.

Hukum kausalitas atau sebab akibat selalu ada dalam setiap permasalahan, atau yang sering kita dengar adalah ungkapan pepatah “ tidak ada asap tanpa adanya api, bila di lanjutkan siapa yang menyulut api tersebut ?

Ketika sebuah bahtera rumah tangga mulai tidak harmonis, tindakan adil yang dilakukan tidak  cukup hanya mengetahui sumber masalah tersebut melainkan berusaha mencari solusi agar masalah tersebut dapat di selesaikan.

Waalahu a’lam bissawab.


Ilmu dan harta

Diposting oleh Mastindi | 18.03 | | 0 komentar »


Ada yang mengatakan ungkapan di atas bukan hadits tapi atsar (ucapan sahabat) bahkan mauedzah nasihat ulama, namun yang jelas secara logika ungkapan tersebut sangat masuk akal bila kita kaitkan dengan fenomena kehidupan kita sehari hari.

Pertama :masalah ekonomi, betapa besar pengaruhnya ekonomi bahkan sebuah negara sehebat apapun bila dilanda masalah ekonomi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sang pemimpin akan anjlok , bahkan keamanan akan tidak stabil, karena kemiskinan terjadi di mana mana.

Adapun dalam skala mikro , betapa banyak terjadinya kejahatan di latar belakangi masalah ekonomi, hancurnya rumah tangga, anak anak yang terlantar bahkan pendidikan yang terbengkalai berpangkal dari masalah ekonomi.

Dalam masalah Aqidahpun nabi sampai berwasiat :

“Kadal faqru ayyakuna Kufra (hampir-hampir kefakiran menjerumuskan kepada kekafiran)
Kedua : pengetahuan. Tidak kalah pentingnya yaitu pengetahuan atau ilmu, karena kebodohan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemiskinan dan  keterbelakangan, karena itulah wahyu yang pertama kali turun ialah, tentang pengetahuan, bahkan yang pertama kali diberikan kepada Adam sebelum diturunkan ke bumi alah pengetahuan, agar Adam dapat mengelola bumi.

Intinya bila seseorang atau sebuah negara kuat dalam dua hal pengetahuan dan ekonomi maka dunia mudah di kuasai.

Lebih penting dari keduanya tentunya ialah akhlaq yang harus menjadi kemasannya.

Pilihan ada setiap saat

Diposting oleh Mastindi | 07.59 | | 0 komentar »

Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan pilihan, baik sukarela maupun terpaksa, kita harus memilih, bila mundur kita akan tergilas, bila berhenti kita akan tertabrak .itulah roda kehidupan yang tak pernah mengenal kata berhenti.

Setiap pilihan dengan resikonya sendiri, namun bila pilihan-pilihan tersebut dapat kita prediksi resikonya, pilihlah yang paling sedikit, paling kecil atau ringan resikonya, jangan karena alasan ingin mencoba sebuah tantangan kita jatuhkan pilihan kita kepada sesuatu yang sangat besar resikonya.

Masih banyak hal lain yang harus, atau menanti untuk kita kerjakan, jangan habiskan energi kita hanya untuk mendapat sesuatu yang disebut dengan “kebanggaan, namun tak jelas tujuannya.

Bila kita bimbang dengan beberapa pilihan, Allah telah memberikan solusi, lakukan shalat Istikharah, posisikan diri kita secara netral, jangan dulu condong kepada salah satunya, hingga Allah memantapkan hati kita untuk memilih salah satunya.


Senang menerima kebaikan orang lain..

Diposting oleh Mastindi | 00.57 | | 0 komentar »

Rukhsah, maknanya adalah dispensasi atau keringanan dalam menjalankan ibadah saat seorang mendapat udzur syar’e yang menghalangi kesempurnaan beribadah saat ditunaikannya

Dalam bulughul maram bab “shalatnya musafir dan orang sakit, pada salah satu haditsnya ada yang berbunyi “Allah senang seorang hamba menerima rukhsahNya sebagaimana ia senang hambanya membenci maksiat.

Rukhsah adalah adalah wujud lain dari kasih sayang Allah, dalam makna yang lain bisa di artikan Rukhsah adalah kebaikan Allah yang diberikan kepada hambaNya. Tapi posting ini bukan rukhsah dalam terminologi fiqih, tapi saya alihkan kepada..

Saat seseorang dengan keikhlasan hati menawarkan budi baiknya kepada kawan atau kerabatnya, yang semata-mata ikhlas demi mengharap ridha Allah, lalu kita mengabaikan kebaikannya, yang andai kata kita pedulikan, berapa banyak manfaat yang kita peroleh , bukan hanya terjalinnya harmonisasi hubungan sosial, dengan terjadinya silaturrachim, namun juga pahala yang kita peroleh karena menyambut kebaikan yang ditawarkan oleh orang lain merupakan ibadah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits “apabila kamu di undang dalam sebuah walimah maka datangilah..

Walimah, maknanya secara umum adalah pesta, tentunya yang dimaksud bukan pesta ma’siat.. saya ambil contoh saat kita diundang dalam iftar jama’e (buka bersama) syukuran atas sesuatu nikmat yang diperoleh.. atau yang semacamnya.

Betapa banyak alternatif saat kita mendapat jalan yang buntu untuk menjalin silaturrachim... namun sangat disayangkan,kita tak pernah jeli, kurang peka,mengapa sahabat kita atau saudara kita mesti menempuh jalan yang tidak biasa untuk menjaga tali silaturrachim agar tetap terjaga, rasa sensitivitas kita seakan berubah menjadi baal /kebal, saat silaturrachim ingin di jalin dalam suasana yang lain.

Ubah cara pandang dalam beramal.

Diposting oleh Mastindi | 00.22 | | 0 komentar »
Baru baru ini selaku sekretaris dari yayasan yang saya terlibat di dalamnya ada sebuah wacana yang saya lemparkan, yakni pencarian dana dari para anggota dan simpatisan yang sebenarnya tidak memberatkan mereka , pencarian dana itu yakni berupa penitipan kotak amal di toko-toko atau warung-warung yang kebetulan mayoritas para anggota dan simpatisan yayasan adalah pedagang.

Saya membuat kalkulasi hitungan jika ada seratus kotak amal yang kita titipkan dengan asumsi per kotak minimal mendapat Rp. 25.000 saja maka yayasan akan mendapat pemasukan Rp. 2.500.000 perbulan.

Rencana tersebut ternyata harus di pending karena sebagian anggota merasa kwatir akan timbulnya fitnah baik terhadap yayasan maupun anggota lantaran belum lama yayasan menarik dana dari mereka sehubungan dengan keperluan atau hajat besar mulai dari pembelian kendaraan ambulan maupun untuk acara Maulid.

Sebenarnya bila yang di masalahkan adalah donasinya mungkin kurang tepat, karena kotak amal tersebut yang mengisi adalah para pembeli atau dermawan, para anggota atau simpatisan hanya sebagai perantara yang menjadi tempat kotak tersebut dititipkan, tapi yang menjadi kekwatiran anggota adalah lantaran biasanya kotak-kotak amal yang tersebar di mana-mana hanya diperuntukkan untuk pembangunan masjid atau setidaknya sebagian untuk pembangunan masjid sebahagiannya lagi baru untuk kegiatan sosial. Adapun kotak yang sedianya akan disebarkan oleh kami adalah murni untuk kegiatan sosial, yang meliputi santunan para du’afa, fakir miskin anak yatim dan bea siswa bagi bagi anak yang tidak mampu tapi berprestasi.

Alasan bukan untuk masjid itulah yang membuat wacana terpaksa di pending , maka bila demikian perlu adanya revolusi mindset atau cara pandang masyarakat kita dalam hal beramal walaupun saya yakin sekarang ini masyarakat kita khususnya kaum Muslimin sudah mulai cerdas dalam beramal . yakni sudah merambah kepada amal yang bersifat investasi amal sosial karena kemanfaatannya untuk Islam ke depan sangat diperlukan.

Saya rasa sudah bukan saatnya lagi kita memfokuskan amal jariah kepada pembangunan Masjid, di samping karena sudah cukup banyaknya jumlah Masjid sehingga yang ada tidak berfungsi secara maksimal, sebagaimana yang diinginkan Rasulullah yakni sebagai central kegiatan umat Islam, tapi sudah saatnya amal jariyah itu kita arahkan kepada investasi masa depan umat islam yang lebih luas seperti penuntasan kemiskinan seperti pemberdayaan ekonomi umat agar umat yang asalnya menjadi mustahiq (penerima zakat)beralih menjadi muzakki (pemberi zakat) dan ini tidak akan terjadi apabila kita tidak punya perhatian extra terhadap mereka, juga santunan yang bersifat konsumtif karena keadaan yang memang darurat, dan tidak boleh di abaikan juga adalah investasi pendidikan bagi siswa yang tidak mampu namun berprestasi, sangat di sayangkan bila ada seorang anak yang cukup berprestasi namun harus putus pendidikannya di tengah jalan lantaran ke tidak adaan biaya, padahal banyak cara untuk bisa mereka tetap melanjutkan sekolahnya.

Kerangka berfikir seperti inilah yang sekarang harus di tanamkan pada hati para dermawan. Dan hal ini juga bagian (sebenarnya) dari golongan mustahiq seperti yang terdapat dalam surat at-taubah ayat 60.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Adapun pemberdayaan ekonomi umat menurut saya adalah bagian dari ayat tersebut yakni membebaskan umat Islam dari perbudakan baik perbudakan riba (bunga bank) maupun rentenir yang mencekik leher.

Yang terakhir bantuan atau santunan yang bersifat konsumtif juga perlu dikeluarkan, karena melihat banyaknya para du’afa baik di Jakarta maupun di kampung sendiri yang memerlukan uluran tangan dari para dermawan, dan akan lebih bijak kalau yang menyalurkan adalah amil bukan yang para dermawan di samping untuk menghindarkan amal yang bersifat ria juga agar sang penerima tidak perlu merasa berhutang budi pada para dermawan karena sebenarnya apa yang mereka terima adalah merupakan hak mereka yang Allah titipkan di harta para dermawan.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS 51;19)


positif negatif dari bola

Diposting oleh Mastindi | 00.08 | | 0 komentar »


Menarik sekali khotbat jum, at kali ini, khotib membawa materi “Ta’awwun (tolong menolong atau kerja sama) dengan mengambil contoh yang aktual,yakni bola, antara positif dan negatifnya.


Beliau membeberkan sisi negatif lebih dahulu pada bola, yang beliau maksud adalah para penggemarnya baik yang sekedar simpatisan maupun sudah maniak, adalah pada pertandingan kemarin (piala AFF)bahkan pertandingan piala dunia sekalipun yaitu pada pertandingan kemarin yakni,


1. Bagaimana shalat Maghrib dan Isya para penonton yang sudah ada di stadion sejak sebelum Mahgrib, bahkan ada yang sebelum Asyar.


2. Terjadinya “ihktilat (campur baur laki dan perempuan) yang bukan muhrim.


3. Pada lagu “garuda di dadaku, ada lirik lagu yang berbunyi “hari ini pasti menang , adalah sesuatu yang melampaui kemampuan manusia yakni memastikan sesuatu yang belum terjadi , yang pada akhirnya “kita kalah,. Padahal kepastian terjadinya sesuatu hanyalah rahasia Allah.


4. Dan pada saat demam piala dunia berapa banyak orang yang sengaja bangun malam antara jam 2 s/d jam 4 menjelang subuh untuk menyaksikan pertandingan tim kesayangannya, padahal pernahkah ia lakukan itu untuk shalat malam. Dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bola yang membuat kita lalai dengan kewajiban kita baik selaku makhluk yang bersosial maupun sebagai seorang muslim.


Adapun sisi positifnya sebagai sebuah permainan kolektif , bola memerlukan kerja sama yang serasi dari kiper, bek, penyerang baik kanan kiri maupun tengah untuk meraih sebuah keberhasilan, kita pernah mengenal pemain-pemain termahal karena kepandaiannya di lapangan hijau, tapi bisakah mereka bermain sendiri ? masing-masing pemain mempunyai peran yang penting dan keahlian sesuai posisinya di lapangan, namun terkadang kita hanya mengenal mencetak gol karena hitungan angka, tanpa pernah berpikir bagaimana sulitnya kiper menangkap bola cepat yang menuju gawang.


Begitulah seharusnya seorang Muslim, masing-masing bekerja sama untuk kemajuan dakwah Islam, baik kemajuan fisik maupun non fisik, seorang dermawan janganlah tinggi hati karena besarnya sumbangan untuk membangun Masjid, perhatikan! ada sang du’afa yang tidak mau di bayar, yakni menyumbang dengan tenaga, baik sebagai tukang maupun kenek dan yang lainnya menyumbang dengan do’a bagi sang dermawan agar diberikan rizeki melimpah.


Bagaimana dengan saudara kita yang meringkuk di tahanan yang kita salahkan karena pola dakwahnya yang keras dan ofensif, lalu di tangkap penguasa karena meresahkan pihak non Muslim padahal niat mereka tulus, dan adakalanya kekerasan itu terjadi karena memang diperlukan , yakni saat lawan bertindak provokatif , meremehkan bahkan menodai kesucian agama kita, merekalah yang menggetarkan musuh-musuh Islam , yang membuat non Muslim garis keras harus berpikir dua kali untuk mengganggu Umat Islam, bukankah Islam punya Umar, Hamzah yang kekerasan sikaf mereka, mereka tujukan pada kaum kafir harbi, ghirah mereka dalam dakwah patut kita contoh, dari pada seorang Muslim yang lemah gemulai, dengan alasan “toleransi dan nasionalisme, tapi mengorbankan harga diri agamanya. Naudzu billah min dzalik.

musibah bangsa ini

Diposting oleh Mastindi | 01.56 | | 0 komentar »

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa".
Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (QS 2:63/64)

Ayat di atas merupakan kisah dari umat nabi Musa AS yaitu bani Israel,. (syarah tafsir Ibnu Katsir jus 1 hal. 107 cet. Qairo Mesir) yang mendurhakai dakwah yg disampaikan nabi Musa.
Al-Qur,an dalam beberapa ayatnya mengususng kisah nabi terdahulu dan umatnya agar menjadi pelajaran bagi kita, karena yang namanya sejarah adalah cerita yg selalu berulang pada kehidupan setelahnya dgn pelaku yg berbeda namun dgn idiologi yang nyaris sama, dalam kisah tersebut Allah mengangkat gunung (menurut Ibnu Abbas) atau menurut pendapat yg lain Bukit Sinai di atas pemukiman bani Israel hingga besarnya mampu menaungi tempat tersebut (al-a’raf 171) sebagai peringatan bagi bani Israel , dalam tex ayatnya selanjutnya kita fahami “bahwa adzab yg ditimpakan kepada mereka adalah karena meninggalkan ajaran nabi Musa dalam hal ini adalah Taurat.

Lalu bagaimana dgn musibah yg menndera bangsa kita yg datang silih berganti, susul menyusul dan menimpa bukan hanya kpd mereka yg durhaka, tapi juga menimpa orang orang yg shaleh, inilah saatnya kita intropeksi boleh jadi pola dakwah para da’I sudah tidak sesuai dgn kondisi yg ada, karena sabda rasulullah “Khutubuhun bi qudari ‘uqulihim , artinya dakwai mereka sesuai dgn kemampuan mereka (al-hadits) atau bahkan para da’I sudah meninggalkan mereka para penduduk kaki gunung yg kurang peduli terhadap kwajiban agamanya, atau mungkin ini adalah teguran juga bagi para peminpin,. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana seorang Istri pejabat terkemuka di Jogja menentang RUU APP (Rancangan undang undang anti pornografi dan porno aksi) yang sekarang menjadi undang undang, pada saat itu ia bersama masyarakat Bali,. lebih dari itu, para pemimpin kita secara struktur birokrasi dari RT hingga presiden mayoritas Islam, tapi anehnya mengapa hukum Allah begitu sulit ditegakkan, yang ada para ulama yang brusaha istiqamah di jalan Allah malah di dzalimi.

Akhirnya, hanya kepada Allah kita memohon, bertaubat untuk slanjutnya kembali kepada jalanNya, karena hanya dengan rachmat dan pertolonganNya kita masih diberikan kesempatan untuk beramal yang shaleh sebagai bekal di kemudian hari, bukan sesuatu yang sulit bagiNya untuk menimpakan adzab yg lebih dasyat lagi bila Ia berkhendak karena kepadanya segala sesuatu itu tunmduk baik secara suka rela ataupun terpaksa.

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS 13;15)

Hukum yg rusak

Diposting oleh Mastindi | 23.52 | | 0 komentar »

Dalam sebuah kitab dihikayahkan tentang rusaknya tatanan hukum dalam sebuah Negara,. Dimulai dari kisah seorang pencuri yang terjatuh ketika akan memasuki rumah korbannya, ia terjatuh karena posisi jendela yg tdk simetris atau miring karena pemasangan yg tidak benar oleh pekerja bangunan dr rumah tersebut, sang pencuri patah kakinya,.dan karena itu ia mengadukan hal tersebut kpd hakim Negara utk memohon keadilan,.maka sang hakim memanggil yg punya rmh utk diminta pertanggung jawaban atas jendela rumahnya yg mencelakakan, namun yg punya rumah berdalih hal itu trjadi krn kelalaian tukang pada saat memasang kusen jendela,. Selanjutnya tukangpun ditangkap dan di introgasi,. Saat disiksa untuk mengaku ia ingat " bahwa saat ia memasang kusen jendela lewat seorang wanita dgn hak sepatunya yg tinggi hingga membuatnya tampak seksi, akibatnya penempatan posisi kusen menjadi miring. Singkat cerita setelah dicari wanita tersebut ditangkap juga di introgasi , wanita itupun membela diri bahwa yang bersalah adalh pembuat sepatunya, yg membuatnya tampak seksi,. Selanjutnya pengrajin sepatu ber hak tinggipun ditangkap,.. maka tak ada argumentasi yg kuat bagi sang pengrajin untuk membela diri saat di sidang di pengadilan di depan hakim,. Akhirnya palu hakimpun diketok dgn vonis hukuman gantung bagi si pengrajin,. Pada saat tali gantungan dikalungkan dilehernya sang pengrajin hanya pasrah, menunggu detik detik kematiannya, hingga waktupun berlalu, detik demi detik, menit demi menit, sampai hampir satu jam namun tali takjuga menjerat kuat lehernya, akhirnya diketahui tiang gantungan terlalu pendek utk dirinya alias ia terlalu jangkung,. Maka hukuman dibatalkan dan dicarilah tukang sepatu yg bertubuh pendek, setelah ditemukan maka iapun lantas dihukum gantung sebagai ganti dari pengrajin yg pertama,.


Entah bener entah tdk ini dikisahkan di salah satu kitab koleksi perpustakaan pengajianku,. Yg intinya berkisah tentang bobroknya tatanan hukum yg akan terjadi manakala sebuah perkara diselesaikan tidak pada intinya tapi lebih banyak mencari kambing hitam,. Untuk menutupi hal yg sebenarnya,.

Membaca

Diposting oleh Mastindi | 16.34 | | 0 komentar »

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS 16;98)

Membaca merupakan langkah awal untuk memahami & mengamalkan isi al-Qur,an, bila saat membaca saja kita diperintah untuk berlindung dari godaan Setan yg terkutuk terlebih lagi saat kita mengamalkannya.

Setan tak kan pernah diam saat seorang hamba akan beramal shaleh, kegigihannya dalam menggoda manusia terbukti dalam kisah terjerumusnya nabi Adam ke dalam maksiat pohon Khuldi, bila usaha gigihnya dapat dikalahkan, dia membisikkan perasaan ‘Ujub bagi korbannya, yakni perasaan bangga dapat berbuat baik saat banyak orang meninggalkannya.
Setan selalu membisikkan rasa was was bagi korbannya agar pelaku menjadi ragu atau malah terlalu berani, ragu berbuat baik karena maksiat jauh lebih menjanjikan dalam pandangan matanya, padahal sifatnya hanya duniawi namun berani berbuat dosa karena merasa ada ampunan setelah taubat, ingatlah salah satu dosa besar, ialah dosa yg sengaja dilakukan dgn niat setelahnya akan bertaubat karena itu berarti melecehkan Allah.

Mencontoh Setan ?

Diposting oleh Mastindi | 21.44 | | 0 komentar »

Sebuah artikel dalam bentuk catatan di akun facebook, seorang rekan menerangkan :bawa dari satu sisi setan itu bisa ditiru, hal ini mengingatkan saya pada saat mengikuti Daurah di suatu daerah, entah bercanda tau serius Morabbi pernah mengatakan hal sama, beliau menjelaskan yang harus kita tiru adalah kesungguhannya dalam menggoda nak Adam, sampai Iblis atau Setan berkata “bila ada seratus pintu kebaikan, maka aku sanggup memasuki 99 nya, kecuali hanya satu pintu yang aku tidak bisa, yaitu Ikhlas, hal ini sesuai dengan Firman Allah
39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
40. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis[799] di antara mereka". (QS 15; 39/40)
Adapun kesungguhan setan dan Iblis dalam menggoda manusia agar kelak menjadi temannya dalam neraka sudah merupakan proklamasi Iblis ketika Allah usir dari Surga.
16. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(QS 7:16/17)
Ulama ahli Tafsir menerangkan “tidak digodanya manusia dari atas dan bawah merupakan pengakuan akan kelemahan Iblis, sebab di atas tempat manusia bermunajah dan berdo’a, adapun dari bawah tempat manusia bersujud, merendahkan diri serendah rendahnya di hadapan Allah. Secara tersirat apabila manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan dua hal tersebut, maka ia selalu dalam lindungan dan penjagaan Allah, sebagaimana janji Nya.
99. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaanNya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
100. Sesungguhnya kekuasaanNya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.(QS 16; 99/100)
Sepertinya jika ini serius (mengambil contoh dari setan) mengapa harus Setan atau Iblis, bukankan Contoh yang paripurna adalah manusia pilihan, junjungan yang Mulia nabi Muhammad, jangankan hanya mencontoh kesungguhannya, mencontoh banyak hal terdapat pada figur beliau, yang pernah dikatakan oleh Sayyidah Aisyah ra, “Rasulullah adalah al-Qur,an berjalan,.. bahkan Allah memujinya .
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS 68;4)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(QS 33;21)
Iblis dan keturunannya Allah ciptakan sebagai ujian bagi manusia, dan keberadaantya tentulah menjadi suatu Hikmah yang tak ternilai,.. bukankah Nyamuk yang menganggu (menurut kita) ternyata memberi kehidupan bagi yang lain termasuk manusia,.. subhanallah
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS 38 ;27)

Cobaan Allah

Diposting oleh Mastindi | 21.08 | | 0 komentar »

Seorang akhwat mengeluh, sudah dua kali ini cintanya kandas tidak sampai di mahligai pelaminan, entah ,.! Mungkin ada yg salah dalam perjalanan kisah cintanya,. Begitulah (mungkin)manakala ta’arruf sudah tidak lagi jelas batas batasnya, baik batas waktu maupun inter aksi antara keduanya, jenuh , bosan hingga pintu perpisahan terbuka lebar.

Cinta memang semu , masing masing pihak akan selalu berusaha menonjolkan kelebihan dirinya, baik yg sebenarnya maupun yang kadang dibuat buat dengan dipaksakan, dgn maksud untukmenimbulkan rasa kagum dari pasangannya, dan bersamaan dengan itu sekaligus menutupi banyak kekurangannya, memang, bukankah diantara makna cinta itu adalah saling melengkapi ? namun apa yang mau dilengkapi kalau semu , dan tidak berusaha secara jujur untuk di nampakkan, agar tidak menjadi sesalan di kemudian hari .

Di antara rahasia Allah adalah jodoh,. Oleh karena itulah, kegagalan dalam memilih jodoh sebelum menikah patut disyukuri, bahkan setelah menikahpun sebelum punya keturunan.. orang beriman adalah orang yang selalu berbaik sangka kpd Allah, sebab Allahlah yang Maha tahu apa yg terbaik untuk kita, kegagalan kali ini atau bahkan yang akan datang merupakan kehendak Allah yang akan memberikan yang terbaik bagi kita, tentunya dengan catatan “kegagalan tersebut muaranya bukan dari keburukan kita yang terungkap, melainkan terjadi di luar kemampuan dan kalkulasi logika kita, itulah yang di sebut takdir.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2;216)

Sabar ,. Mungkin itulah kata yang tepat pada saat awal tibanya musibah,. Namun yang harus kita tahu musibah apapun yang menimpa seorang hamba, selain sudah tercatat di Laihul Mahfudz juga disesuaikan dengan kadar kemampuan dan keImanan hamba itu, hanya kadang kita terasa amat berat menerimanya, hal itu bersumber dari kesempitan hati kita, atau ketidak besaran jiwa kita, diantara inti kesabaran ialah menerima dengan lapang dada suatu hal yg bertentangan dgn kehendak hati. Di iringi suatu keyakinan bahwa itulah yang terbaik untuk kita.

Untuk Ahkwat atau Ikhwan yang mengalami hal serupa, selalu berbaik sangkalah kepada Allah,sebab pemberian Allah tergantung kepada prasangka kita kepada Nya, dalam hadits Qudsi Allah berfirman.

Sesungguhnya Aku bagaimana prasangka hamba Ku  kepada Ku.

Tak lupa juga tawakkal kepada Nya, tentunya setelah usaha maximal kita laksanakan, sebagaikewajiban yang bersifat manusiawi. Walalu a’lam bis sawab.

Tanggung jawab siapa anak ?

Diposting oleh Mastindi | 01.29 | | 0 komentar »

Seorang ibu(anggota Majlis) pernah mengeluh tentang anak gadisnya yg susah di atur dari cara berpakaian sampai cara bergaul, padahal menurut keterangannya dia pandai mengaji dan rutin ikut pengajian mingguan tiap malam jum,at yakni yasinan,.. keluhan ibu tadi sebenarnya mewakili banyak ibu yg lain. fenomina apa ini ? adakah yang salah dalam pola dakwah dari majlis si anak tersebut.
Apa yang terjadi sebenarnya tidak lepas dari beberapa factor baik externalmaupun internal
1. kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan agama anak, hingga merasa cukup melihat si anak bisa mengaji dan ikut taklim 1 kali seminggu tanpa ada komunikasi dgn sang guru alias menyerahkan 100 persen.
2. Lengahnya perhatian org tua terhadap teman bergaul dari sang anak, padahal teman sangat dominan dalam memberikan pengaruh.
3. Kurang pekanya terhadap gejala kerusakan sosial dan akhlaq yg terjadi dilingkungannya.
4. Longgarnya pengawasan sebagai akibat org tua yg jarang di rumah, hingga seorang anak merasa bebas , atau secara psikologis merasa kurang diperhatikan hingga mencari pelarian dalam bentuk yang ia sukai,
5. Majlis taklim yang ada tidak punya orientasi yang jelas dalam pola dakwahnya,sehingga jamaah merasa bosan, dgn kegiatan yang monoton.
6. Taklim yang banyak di adakan bersifat sekedar wacana, bukan pembinaan apalagi pengkaderan, hingga jamaah merasa tidak ada ikatan dengan majlisnya.
7. Kurangnya tanggung jawab pemuka dan tokoh masyarakat, dgn membiarkan kerusakan akhlaq yang berada dalam koridor tanggung jawabnya.
Sudah merupakan tanggung jawab org tua dalam membina dan mengarahkan buah hatinya sebagai amanah Allah, sampai anak itu dewasa yakni berkeluarga,. Ada empat hal sebenarnya yang menjadi tanggung jawab org tua terhadap anak.
1. Memberikan nama yang baik (karena nama menjadi doa dan kesenangan saat di panggil)
2. Mengakikahkan bila mampu (2w ekor kambing bila lelaki & 1 ekor bila perempuan, atau 1 ekor saja bagi lelakimanakala tidak mampu)
3. Memberikan pendidikan yg baik (ingat tugas guru Ustadz hanya membantu bukan menangani seutuhnya)
4. Menikahkan bila telah dewasa, sebagai bentuk peralihan tanggung jawab kpd org lain.
Hati hatilah menjaga anak kita, anak bisa menjadi penyedap mata memandang, sebagai ujian dan bahkan musuh, oleh sebab itulah jaga anak kita,


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS 4;9)

PERTOLONGAN ALLAH

Diposting oleh Mastindi | 08.20 | | 0 komentar »


Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS 47;7)


Suatu ketika saat Idul Fitri hari kedua , datang bersilaturrachim salah seorang santri yang pernah aktif turut mengajar, namun entah mungkin karena kesibukan bekerja dia meninggalkan panggilan mulia, yaitu berdakwah di jalan Allah, setelah melepas sedikit kangen dan berbasa basi, dia mencurahkan kekecewaan hatinya terhadap masalah yang sedang dihadapinya, melihat masalah yang disampaikannya sebenarnya hanya masalah klasik, bahkan boleh dibilang tidak tergolong berat, namun aneh ,. Mengapa sulit sekali mengatasinya dan terasa berat, padahal dulu (sewaktu masih aktif berdakwah) banyak masalah pelik bahkan jauh lebih sulit dari sekarang mudah sekali mengatasinya, ada saja jalan keluar yang mudah menjadi solusinya, begitu tuturnya “.
Teringat pada Ayat Allah di atas “subhanallah,.. ternyata Allah kembali menunjukkan kebenaran pernyataannya, apa yang dialami santri tadi sebenarnya merupakan bukti nyata ,bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan seorang hambanya yang sudah berjibaku secara estafet mengenalkan huruf demi huruf agar orang lain mengenal Dinullah menderita, betapa dekatnya pertolongan Allah pada saat kita berada dan berjuang di jalanNya, atau berusaha mencapai derajat taqwa dengan jalan mengajarkan suatu ilmu yang Allah ridhoi.


Dalam shalat yang menjadi kewajiban, kita sering membaca IYA KANA’BUDU WAIYAKA NASTA’EN “yang artinya “ hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan, dalam ayat ini sebetulnya sudah menjadi dalil atau tehnik yang sangat jelas bagi kita “bahwa permintaan kita kepada Allah harus juga diimbangi dengan kedekatan kepada Nya dalam bentuk menyembah, sembah dulu Allah baru kita mohon pertolongan Nya, dan tentunya semakin besar bentuk penyembahan kita kepada Allah, maka semakin besar pula pertolongan Allah kepada kita.


Sebetulnya dalam kehidupan kita sehari-hari banyak hal yang secara tidak sadar tanpa perlu kita minta namun Allah sudah memberikannya, itulah yang sering kita kenal dengan nikmat sehat dan afiat, lalu kenapa kita masih bertanya “kapan Allah mau menolong kita ? apalagi kita merasa berat tangan dan langkah untuk meluangkan waktu berdakwah dijalan Allah, ingatlah bahwa pertolongan Allah dalam ayat di atas akan berbarengan dengan akan diteguhkannya hati kita berada pada jalan Nya, jadi masihkah kita berat berjuang di jalan Allah ?