MagzNetwork

Tampilkan postingan dengan label kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontroversi. Tampilkan semua postingan

Zaini Dahlan

Diposting oleh Mastindi | 17.33 | | 0 komentar »

*** BAHAYA PEMIKIRAN AHMAD ZAINI DAHLAN ***
Sudah menjadi Sunnatullah bila dakwah Tauhid dan para da'inya akan dimusuhi oleh para pengekor hawa nafsu. Allah Ta'ala sudah tegaskan hal itu dalam firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan".
(QS. al-An'am: 112). Lihat juga surat al-Furqan ayat 31).
Di antara para da'i Tauhid, bahkan merupakan tokohnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab . Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang berkumpul dalam satu gerbong penentang dakwah Tauhid, dakwah para Nabi. Lantaran itu beliau mendapat rintangan dan permusuhan, bahkan tuduhan dusta seperti yang dialami para nabi, terutama nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Salah satu tokoh musuh dakwah Tauhid ini adalah "Syaikh Ahmad Zaini Dahlan".
👉 Berikut ini sekilas Tentang sosok Ahmad Dahlan.
Ia adalah seorang Ulama' besar dari kalangan Syafi'iyyah yang menjabat sebagai mufti Makkah. Tentangnya, maka telah berkata Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah dalam muqoddimahnya terhadap kitab Shiyanah Al Insan : "Orang yang paling masyhur dari pencela-pencela (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) adalah mufti Makkah Al Mukarromah, Ahmad Zaini Dahlan yang wafat tahun 1304 H. Ia telah mengarang sebuah risalah tentang itu yang seluruh permasalahannya berporos pada dua poros, yaitu :
1. Poros kebohongan dan kedusta'an atas Syaikh (Muhammad)
2. Kebodohan yang mana ia menyalahkan yang sebenarnya benar".
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al Fauzan hafizhahullah berkata : "Di antara orang-orang yang mencegah dari dakwah Tauhid adalah seorang laki-laki dari penduduk Makkah yang disebut Ahmad Zaini Dahlan. Ia telah menulis sebuah buku yang dimuati kesesatan dan kedusta'an-kedusta'an terhadap pendakwah-pendakwah Tauhid, terlebih imam mereka, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah".
(Sekapur sirih kitab Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 5)).
👉 Tentang Karangan-Karangan Ahmad Zaini Dahlan
Ia juga seorang Ulama' yang banyak menulis kitab-kitab yang dikatakan Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah di dalam kitabnya, Al Bayan wa Al Isyhar : "Berkata sebagian orang-orang mulia dari kalangan Ulama' Makkah : "Karangan-karangan Ahmad Zaini Dahlan laksana bangkai yang tidak akan memakannya kecuali orang yang terpaksa. Ulama'-Ulama' India, 'Iraq, Nejed, dan selainnya telah membantahnya dan "menelanjanginya" dan menjelaskan kesesatannya".
(Sebagaimana dalam catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
👉 Di antara karangan-karangan Ahmad bin Zaini Dahlan ini adalah:
--- Ad Duror As Saniyyah fi Rodd 'ala Al Wahhabiyyah
--- Fitnah Al Wahhabiyyah
--- Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib
Buku ini masuk ke dalam muatan dua bukunya yang lain, yaitu (1) Khulashoh Al Kalam fi Bayan Umaro' Al Balad Al Harom dan (2) Al Futuhat Al Islamiyyah ba'da Madho Al Futuhat An Nabawiyyah.
Tentang bukunya yang pertama, Ad Duror As Saniyyah (Mutiara Berharga), berkata Syaikh Shalih bin Muhammad bin Hamd Asy Syatsri berkata : "Telah sampai kepada kami di tahun pertama abad XIV sebuah risalah keji dan perkata'an-perkata'an lemah nun mengerikan karangan Ahmad bin Zaini Dahlan, seorang mufti tanah haram yang mulia (Makkah), yang diberinya judul Ad Duror As Saniyyah fi Ar Rodd 'ala Al Wahhabiyyah. Ia pantas diberi judul Adh Dhoror As Samiyyah fi Ihlak Al Ummah Al Muhammadiyyah (Racun Berbahaya Untuk Membinasakan Umat Muhammad).
Buku ini memuat kedusta'an, kepalsuan, pengkaburan dakwahnya, dan bersandar kepada penghuni-penghuni kuburan (mayat-mayat). Di dalam bukunya itu ia telah bertindak lalim kepada ahli Tauhid dengan fitnah dan kejelakan".
(Muqoddimah Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
Di antara kedusta'an dan kepalsuan yang menghiasi bukunya ini adalah pernyata'annya di halaman 46, "Zhahir dari Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ia menklaim bahwa ia seorang nabi akan tetapi ia tidak mampu menampakkannya secara tegas tetang itu". Maka kita katakana, "Mahasuci Engkau ya Allah. Sesungguhnya ini adalah kedustaan besar...!!".
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan : "Kami menduka bahwa Syaikh Ahmad Dahlan belum melihat kitab-kitab & risalah-risalah (karangan Syaikh Muhammad)... Setiap apa yang ia tulis dalam risalahnya (sesuai) apa yang ia dengar dari orang-orang yang dibenarkannya. Bukankah tatsabbut (mencari kebenaran berita) di dalamnya termasuk kewajibannya, dan mencari dan bertanya tentang kitab-kitab & risalah-risalahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjadikan bantahannya atasnya. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Shiyanah Al Insan (hal. 14)).
Tentang bukunya yang kedua, "Fitnah Al Wahhabiyyah", berkata Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah : "Di dalamnya ia berbicara dengan sesuatu yang tidak dikenal. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Kutub Hadzdzaro minha Al 'Ulama (I/251)).
Adapun tentang bukunya yang ketiga, "Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib", telah berkata Syaikh Rasyid Ahmad Al Kankuni Al Hindi rahimahullah --penulis Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud yang dinisbatkan kepada salah seorang muridnya, Ahmad Kholil, padahal yang benar kitab itu merupakan dekteannya yang ia dektekan kepada muridnya itu-- dalam kitabnya, Al Barohin Al Qothi'ah 'ala Zholam Al Anwar As Sathi'ah yang dicetak di India, "Sesungguhnya syaikhnya para Ulama' Makkah di zaman kami (dekat-dekat tahun 1303 H) telah menghukumi --berfatwa-- berimannya Abu Tholib dan telah menyelisihi hadits-hadits shahih karena ia mengambil sogokan riba yang sedikit dari seorang Rofidhoh Baghdad".
Betapa bagusnya pernyata'an Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam Al Bayan wa Al Isytihar : "Dan aku telah mendengar lebih dari satu dari kalangan ahli ilmu yang terpercaya berkata, "Sesungguhnya Dahlan ini adalah seorang Rafidhah akan tetapi ia menyembunyikan madzhabnya dan menamakannya (bersembunyi di balik naman) taklid kepada salah satu dari imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi'i, dan Ahmad) dengan tujuan agar tujuan-tujuan kejinya tertutupi dan agar memperoleh jabatan-jabatan yang darinya ia mencari makan. Yang paling membuktikan ke-Rofidhahannya yang jelek adalah karangannya sebuah buku yang berjudul Asna Al Matholib fi Najdah Abi Tholib. Di dalamnya ia membantah nash-nash Al Qur'an dan hadits-hadits shahih mutawatir dengan nafsunya".
(Dinukil dari catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 24)).
Celakanya, fatwanya yang keji ini diikuti oleh seorang Ulama' yang cukup berpengaruh di Indonesia, terutama di Jawa, Syaikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Al Bantani Al Jawi dalam kitab tafsirnya yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren tradisional, Muroh Labid li Kasyf Ma'na Quran Majid(II/201-202) ketika menafsirkan Surat Al Qoshosh ayat ke-56, "Sesungguhnya kamu tidak akan bias memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai. Akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dia lebih tahu orang-orang yang mendapat petunjuk".
👉 Kaidah-Kaidah Bathilnya Ahmad Zaini Dahlan
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan bahwa kaidah-kaidah kebodohan yang di atasnya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan membangun bantahannya terhadap Wahhabiyyah, membolehkan berdo'a kepada selain Allah Ta'ala dari kalangan para Nabi dan orang-orang Sholih yang telah wafat, beristighotsah (meminta tolong ketika dalam kesulitan) kepada mereka, dan mengadakan perjalan menuju kuburan-kuburan mereka untuk berdo'a kepada mereka di sisinya, serta meminta dari mereka (penghuni kubur) agar dipenuhi hajat mereka, ada tiga (3), yaitu:
1. Riwayat-riwayat bathil dan semaknanya berupa dengeng-dongeng, buah tidur, dan syair-syair yang tidak memiliki nilai di sisi Ulama' agama yang hanya laku di pasar orang-orang awwam.
2. Berdalil dengan nash-nash yang tidak menunjukkan dalil permasalahan yang ia bawakan secara syari'at, seperti firman Allah Ta'ala.
3. Membolak-balikkan realita dan permasalahan dorongan mengikuti jama'ah kaum muslimin dan peringatan dari berpecah dari jama'ah. Menurutnya dan konsekuensi kebodohannya, jama'ah adalah mereka yang paling banyak jumlahnya. Klaim semacam ini bersebrangan dengan nash-nash Al Qur'an, hadits-hadits shahih, dan atsar-atsar Salafu Sholih.
Semoga yang sedikit ini mudah dipahami dan bermanfa'at untuk kita semua
SIAPAKAH Syaikh Zaini Dahlan dan bagaiman pandangan para ULAMA terhadap Zaini Dahlan? 👉
Barakallahu fiikum

 

FITNAH TERHADAP BUYA HAMKA

Diposting oleh Mastindi | 21.16 | | 0 komentar »

Meluruskan Fitnah Terhadap Buya Hamka
Di media sosial disebarkan lagi berita yg membingungkan yaitu berita yg sama di tahun 2015 oleh kelompok yg men-share ttg Buya Hamka, dikatakannya sebagai berikut:
👇🏿👇🏿👇🏿
Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah, Prof. DR. Hamka, seorang pembesar Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram & bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi, orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah & itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi
Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi saat ada yg mengundangnya. Orang2 sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji & bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya
Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara2 seperti itu namun setelah tua kok berubah?
Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas”
Di riwayat yg lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dgn tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya
Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran: “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?
Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab”
Gus Anam (KH. Zuhrul Anam) mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al- Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani yang mengatakan: “Idzaa zaada nadzrurrajuli waktasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alannaasi” (Jikalau seseorang bertambah ilmunya & luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain)
👆👆👆
ITULAH INFORMASI YANG TERSEBAR !!!
Benarkah berita itu? Ternyata banyak yg membantah, intinya kurang lebih berikut:
▪Hasil penelusuran tidak ada literatur & data yg diberikan untuk menguatkan klaim mereka selama ini yg dishare hanya foto yg disebutkan ketika Buya Hamka memberi salam kepada abah anom, lalu apa dgn foto itu saja bisa diterjemahkan buya hamka telah dibaiat? tentu ini sebuah klaim asal-asalan saja dan tak berdasar
▪Kemudian soal klaim bahwa di usia tuanya Buya Hamka akhirnya membolehkan upacara tahlilan? Lagi2 tidak ada data yg valid diberikan dan 100 persen hanya klaim saja. Justru kesaksian dari santri2 Al Azhar salah satunya Ustadz Harun Abdi bahwa selama belajar dgn Buya Hamka sampai wafatnya Buya Hamka tidak pernah menganjurkan untuk melakukan upacara tahlilan
1). Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir (QS. an-Nisa: 59). Jadi masalah membaca maulid al Barzanji, Qunut, dsb kembalikanlah kepada Al Qur'an dan Sunnah serta Ijma
2). Perkataan ulama itu bukan dalil, tapi perkataan ulama itu BUTUH KEPADA DALIL
3). Bila ada yg meminta keterangan ttg permasalahan agama, apakah cukup dgn jawaban Ikutilah saya! karena saya telah membaca seribu/sejuta kitab!? Apakah itu merupakan Dalil? Subhanallaah… Mana Dalilnya baik Al Qur’an, Sunnah maupun Ijma?
4). Statemen telah membaca seribu kitab Itu tidak bisa menjawab permasalahan, malah maaf.. itu taktik berkelit dan menyombongkan diri
KESIMPULAN : Ini tidak mungkin merupakan statemen Buya Hamka
Mohon maaf tinggalkan pendapat saya ini bila menyelisihi syariat
Imam Malik berkata:
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة؛ فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة؛ فاتركوه
Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yg sesuai dengan Qur’an & Sunnah, ambillah. Dan tiap yg tidak sesuai dengan Qur’an & Sunnah, tinggalkanlah (Diriwayatkan Ibnu Abdil Barr dalam Al Jami 2/32, Ibnu Hazm dalam Ushul Al Ahkam 6/149. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 27)

 

Apakah Benar bahwa Sholahudin Al Ayubi Pencetus MAULID NABI ?
Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib.
Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya.
Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.
Maka beliau membuat peringatan maulid nabi.Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.
Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi.
Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi?
Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?
Kedustaan Kisah Ini
Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata.
Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.
Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.
Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali:
“Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.”
Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.
Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata:
“Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya.
Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah.
(Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]
Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?
Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi.
Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal hHawaditshal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya.
Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310.
Umar al Mula ini adalah salah seorang PEMBESAR SUFI , maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.
Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya.
Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata:
“Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]
Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir.
Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H.
Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan PENUH kemewahan.
Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata:
“Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah.
As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan LIMA RIBU daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”
Imam Ibnu Katsir juga berkata:
“Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para TOKOH SUFI .
Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu BERNYANYI dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut BERJOGET bersama mereka.”
Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan:
“Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah.
Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak.
Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para PENYANYI.
Dan bila MAULID kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara TEROMPET dan NYANYIAN sampai tiba dilapangan.”
Dan pada malam maulid, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”
Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]
Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]
Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini.
Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.
Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.
Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.
Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya.
Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia.
Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.
Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis.
Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.

 

Apakah Benar bahwa Sholahudin Al Ayubi Pencetus MAULID NABI ?
Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib.
Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya.
Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.
Maka beliau membuat peringatan maulid nabi.Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.
Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi.
Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi?
Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?
Kedustaan Kisah Ini
Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata.
Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.
Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.
Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali:
“Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.”
Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.
Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata:
“Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya.
Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah.
(Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]
Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?
Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi.
Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal hHawaditshal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya.
Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310.
Umar al Mula ini adalah salah seorang PEMBESAR SUFI , maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.
Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya.
Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata:
“Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]
Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir.
Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H.
Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan PENUH kemewahan.
Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata:
“Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah.
As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan LIMA RIBU daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”
Imam Ibnu Katsir juga berkata:
“Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para TOKOH SUFI .
Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu BERNYANYI dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut BERJOGET bersama mereka.”
Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan:
“Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah.
Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak.
Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para PENYANYI.
Dan bila MAULID kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara TEROMPET dan NYANYIAN sampai tiba dilapangan.”
Dan pada malam maulid, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”
Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]
Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]
Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini.
Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.
Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.
Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.
Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya.
Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia.
Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.
Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis.
Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.
Anda dan 23 lainnya