MagzNetwork

Fitnah keji Aswaja

Diposting oleh Mastindi | 17.41 | | 0 komentar »

FITNAH KEJI ASUWAJA BAHWA PEMBAGIAN TAUHID MENJADI 3 ADALAH BID'AH YANG SESAT, (SESATNYA DIMANA?)
Silahkan bagi antum yang gak setuju dengan pembagian tauhid, atau yang mengatakan pembagian tauhid itu adalah pembagian dholalah, silahkan tunjukkan letak dholalahnya dimana!???
Tapi yang ingin kita kritik adalah pernyataan bahwa tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa shifat tidak ada dizaman para salaf, dan jika ada dizaman sahabat maka diketawain???
Benarkah Demikian? mari kita perhatikan Maqolah Ulama salaf kita.
1. AL-IMAM ABU HANIFAH AN-NU’MAN BIN TSABIT AL-KUFI RAHIMAHULLAH (W. 150 H) BERKATA,
والله تعالى يدعى من أعلى لا من أسفل لأن الأسفل ليس من وصف الربوبية والألوهية في شيء
“Allah ta’ala diseru sedang Dia berada di atas bukan di bawah, karena posisi bawah bukanlah bagian dari sifat rububiyah dan uluhiyah sedikitpun.”
Beliau Juga berkata :
وصفاته كلها خلاف المخلوقين
"Dan Sifat-sifatnya seluruhnya berbeda dari Makhluknya "
Ucapan beliau sangat jelas tentang rububiyah dan uluhiyah Allah, sekaligus menegaskan keimanan beliau terhadap sifat-sifatnya diantara penegasan terhadap sifat ketinggian (al-‘uluw) bagi Allah ta’ala, yaitu ketinggian zat Allah di atas ‘arsy-Nya, di atas langit-Nya. Jadi mengandung tiga macam tauhid sekaligus.
2. MURIDNYA IMAM ABU HANIFAH YAITU AL-IMAM ABU YUSUF YA’QUB BIN IBRAHIM AL-ANSHARI RAHIMAHULLAH (W. 182 H) BELIAU BERKATA :
لا یعرف الا باسماٸه ولا یوصف الا بصفاته.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala dalam kitabNya.
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّكُمُ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ وَالَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ ۙ
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa"
Kemudian belian menjelaskan
انما دل الله عز وجل خلقه بخلقه لیعرفوا ان لهم ربا یعبدوه ویطیعوه ویوحدوه.
"Dan sesungguhnya Allahﷻ menunjukkan ciptaannya, yang dengan ciptaan itu dapat dikenali bahwa mereka memiki Rabb, yang mereka sembah, taati dan esakan.
3. AL-IMAM ABU JA’FAR ATH-THAHAWI RAHIMAHULLAH (W. 321 H):
نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله: إن الله واحد لا شريك له، ولا شيء مثله، ولا شيء يعجزه، ولا إله غيره
“Dengan taufiq dari Allah ta’ala kami berpendapat bahwa dalam mentauhidkan Allah ta’ala kami meyakini, sesungguhnya Allah ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang bisa melemahkan-Nya, dan tidak ada yang berhak disembah selain-Nya.”
فقوله: “إن الله واحد لا شريك له” شامل لأقسام التوحيد الثلاثة، فهو سبحانه واحد لا شريك له في ربوبيته، وواحد لا شريك له في ألوهيته، وواحد لا شريك له في أسمائه وصفاته.
وقوله: “ولا شي مثله” هذا من توحيد الأسماء والصفات.
وقوله: “ولا شيء يعجزه” هذا من توحيد الربوبية.
وقوله: “ولا إله غيره” هذا من توحيد الألوهية.
فهذه أقسام التوحيد الثلاثة صريحة واضحة في نصي هذين الإمامين رحمهما الله.
“Maka makna ucapan beliau, ‘Sesungguhnya Allah ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya,’ ini mencakup dalam tiga macam tauhid; Allah subhanahu wa ta’ala esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah dan asma’ was shifat.
Dan ucapan beliau, ‘Tidak ada yang serupa dengan-Nya,’ ini bagian dari tauhid asma’ was shifat.
Dan ucapan beliau, ‘Tidak ada yang bisa melemahkan-Nya,’ ini bagian dari tauhid rububiyah.
Dan makna ucapan beliau, ‘Tidak ada yang berhak disembah selain-Nya,’ ini bagian dari tauhid uluhiyah.
Maka tiga macam tauhid ini tegas dan jelas dalam teks ucapan kedua imam (Abu Hanifah dan Ath-Thahawi) rahimahumallah.”
4. AL-IMAM AL-BUKHARI RAHIMAHULLAH (W. 256 H) BERKATA,
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : وَإِنِ ادَّعَيْتَ أَنَّكَ تُسْمِعُ النَّاسَ كَلاَمَ اللَّهِ كَمَا أَسْمَعَ اللَّهُ كَلاَمَهُ لِمُوسَى ، قَالَ لَهُ : {إِنِّي أَنَا رَبُّكَ} فهذَا دَعْوى الرُّبوبِيَةِ إِذَا لَمْ تُمَيِّزْ بَيْنَ قِرَاءَتِكَ وَبَيْنَ كَلاَمِ اللَّهِ
“Berkata Abu Abdillah, ‘Apabila engkau mengklaim bahwa engkau mampu memperdengarkan kalam Allah kepada manusia seperti Allah memperdengarkan kalam-Nya kepada Musa, ketika Allah ta’ala berfirman kepada Musa, “Aku adalah Rabbmu” maka klaimmu itu adalah pengakuan rububiyyah (yang semestinya hanya milik Allah ta’ala) apabila engkau tidak membedakan antara bacaanmu dan kalam Allah.”
5. AL-IMAM UTSMAN BIN SA’ID AD-DARIMI RAHIMAHULLAH (W. 280 H) BERKATA,
الشك في ربوبية الله عز وجل زائل عن المؤمن والكافر يوم القيامة فكل مؤمن وكافر يومئذ يعلم أنه ربه لا يعتريهم في ذلك شك فيقبل الله ذلك من المؤمنين ولا يقبله من الكافرين ولا يعذرهم يومئذ بمعرفتهم ويقينهم به
“Keraguan terhadap rububiyah Allah ta’ala hilang dari seorang mukmin dan kafir sekaligus pada hari kiamat, maka setiap mukmin dan kafir sama-sama tahu bahwa Allah ta’ala adalah Rabb mereka, mereka sama-sama tidak ragu, namun Allah ta’ala hanya menerima keimanan kaum mukminin dan tidak menerima dari orang-orang kafir, Allah ta’ala tidak lagi memberikan pengampunan terhadap orang-orang kafir walaupun dengan pengenalan dan keyakinan mereka terhadap-Nya pada hari itu.”
6. AL-IMAM AL-MUFASSIR IBNU JARIR ATH-THABARI RAHIMAHULLAH (W. 310 H) BERKATA,
نخلص له العبادة، ونوحد له الربوبية، فلا نشرك به شيئا، ولا نتخذ دونه ربا
“Kami memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, dan kami mengesakan bagi-Nya rububiyyah, maka kami tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga (dalam ibadah), dan kami tidak menjadikan selain-Nya sebagai Rabb.”
Selanjutnya Imam Ath-Thabari ketika mengutip penafsiran Shahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Qotadah ketika menafsirkan Surat Al Baqarah ayat 22 beliau berkata :
ن یكون تاویله ما قاله ابن عباس وقتاده , من انه معنی ذلك كل مكلف عالم بوحدنیۃ الله و انه لا شریكله فی خلقه , یشرك معه فی عبادته
Sesungguhnya yang menjadi perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Qotadah, Dari sini dapat dipahami maknya bahwa setiap mukallaf mengetahui akan ke-esaan Allah dan bahwa sanya tidak ada sekutu baginya dalam hal penciptaan, dan bersama dengan itu kaum musyrikin menyekutukanNya dalam ibadah.
فهذا یبین ان مراد ابن عباس و قتادۃ انهم ای المشركون معترفون با لربوبیته و یشركون فی توحید العبادۃ وهو توحید الوهیه, فهذا كما انه تفسیر الموضح لكلام ابن عباس وقتادۃ فهو یدل علی ان ابن جریر رحمه الله تعالی یفرق ایضا بین التوحیدین و لا یجعلهما بمعنی واحد.
“Hal ini menjelaskan bahwa yang dimaksud Ibnu Abbas dan Qotadah bahwa sanya kaum musyrikin mengakui Tauhid Rububiyah dan menyekutukan dalam Tauhid Ibadah yaitu tauhid Uluhiyah, dan Hal ini sebagaimana tafsir yang jelas dari perkataan Ibnu Abbas dan Qatadah Radhiallahu anhuma yang menunjukkan Bahwa Ibnu Jarir Rahimahullah juga membedakan antara kedua Tauhid tersebut dan tidak menjadikan keduanya makna yang satu.”
7. AL-IMAM IBNU BATTHOH AL-‘AKBARI RAHIMAHULLAH (W. 387 H) BERKATA:
أنَّ أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء:
أحدها: أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مبايناً لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعاً.
والثاني: أن يعتقد وحدانيته ليكون مبايناً بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره.
والثالث: أن يعتقده موصوفاً بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفاً بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه.
“Bahwasannya pokok keimanan kepada Allah ta’ala yang diwajibkan atas hamba untuk diyakini dalam penetapan iman kepada-Nya ada tiga macam:
Pertama: Hendaklah seorang hamba meyakini rabbaniyah Allah ta’ala, agar dengan itu keyakinan seorang mukmin berbeda dengan para pengingkar yang tidak meyakini adanya pencipta.
Kedua: Hendaklah seorang hamba meyakini wahdaniyah Allah ta’ala, agar dengan itu keyakinannya berbeda dengan ajaran-ajaran para pelaku syirik yang mengimani adanya pencipta namun menyekutukan-Nya dalam ibadah dengan selain-Nya.




 

Teman yang baik saat Safar

Diposting oleh Mastindi | 02.12 | | 0 komentar »

🍂"Dari Uqbah bin Amir Radhiyallhu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
ما من راكب يخلو فى مسيرة بالله و ذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر و نحوه إلا كان ردفه شيطان
Tidak ada seorangpun Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dengan dzikir, maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat
Sedangkan pengendara yang dalam perjalanannya disertai dengan musik dan nyanyian, maka yang menjadi penumpangnya adalah setan
HR. Thabrani dalam Majmu Al-Kabir, no. 895. disahihkan oleh Albani dalam Shahih Aljami, no. 5706
Jazakumullahu khayran
Artikel

 

Aqidah Abdul Qadir Al JIilani

Diposting oleh Mastindi | 19.36 | | 0 komentar »


 

Untuk mengetahui pola pikir atau jalan pikiran seseorang tak bijak bila kita menilainya dari orang lain , apalagi yang membencinya , hal yang baik di lakukan ialah membaca peninggalannya.

AQIDAH SYEIKH ABDUL QODIR JILANI ULAMA KEBANGGAAN ASYAI'RAH SUFIYYAH.

Berkata syaikh abdul Qodir al jilani رحمه الله تعالى dalam kitabnya AL GUNYAH, hal 72 cet. Darul khoir Qairo mesir.
وهو بائن من خلقه ولا يخلو من علمه مكان ولا يجوز وصفه بانه فى كل مكان بل يقال : إنه فى السماء على العرش كما قال جل ثناءه (الرحمن على العرش استوى ) الخ
" dan Dia terpisah dari makhluk-Nya dan tidak ada suatu tempat pun yang terlepas dari ilmu-Nya dan tidak boleh mensifati Allah bahwa Dia di mana mana, bahkan WAJIB mengimani : bahwa sesungguhnya Allah di langit di atas Arasy seperti yang difirmankan Allah azza wa jalla :
" اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arasy.
SIFAT NUZUL ALLAH
وانه تعالى ينزل فى كل ليلة إلى سماء الدنيا كيف شاء .
لا بمعنى نزول رحمته وثوابه على ما ادعته المعتزلة والأشعرية .
"Dan sungguh Allah ta'ala Turun pada setiap malam ke Langit Dunia sebagaimana Dia kehendaki dan seperti apa Dia kehendaki.
BUKAN bermakna turun itu rahmat dan pahalanya seperti apa yang diimani oleh MU'TAZILAH dan ASYAI'RAH (mengaku pengikut imam asyary rh).
Adakah Syeikh Abdul Qodir Jilani juga WAHABI MUJASSIMAH? Wallahu a'lam




 



Zaini Dahlan

Diposting oleh Mastindi | 17.33 | | 0 komentar »

*** BAHAYA PEMIKIRAN AHMAD ZAINI DAHLAN ***
Sudah menjadi Sunnatullah bila dakwah Tauhid dan para da'inya akan dimusuhi oleh para pengekor hawa nafsu. Allah Ta'ala sudah tegaskan hal itu dalam firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan".
(QS. al-An'am: 112). Lihat juga surat al-Furqan ayat 31).
Di antara para da'i Tauhid, bahkan merupakan tokohnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab . Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang berkumpul dalam satu gerbong penentang dakwah Tauhid, dakwah para Nabi. Lantaran itu beliau mendapat rintangan dan permusuhan, bahkan tuduhan dusta seperti yang dialami para nabi, terutama nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Salah satu tokoh musuh dakwah Tauhid ini adalah "Syaikh Ahmad Zaini Dahlan".
👉 Berikut ini sekilas Tentang sosok Ahmad Dahlan.
Ia adalah seorang Ulama' besar dari kalangan Syafi'iyyah yang menjabat sebagai mufti Makkah. Tentangnya, maka telah berkata Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah dalam muqoddimahnya terhadap kitab Shiyanah Al Insan : "Orang yang paling masyhur dari pencela-pencela (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) adalah mufti Makkah Al Mukarromah, Ahmad Zaini Dahlan yang wafat tahun 1304 H. Ia telah mengarang sebuah risalah tentang itu yang seluruh permasalahannya berporos pada dua poros, yaitu :
1. Poros kebohongan dan kedusta'an atas Syaikh (Muhammad)
2. Kebodohan yang mana ia menyalahkan yang sebenarnya benar".
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al Fauzan hafizhahullah berkata : "Di antara orang-orang yang mencegah dari dakwah Tauhid adalah seorang laki-laki dari penduduk Makkah yang disebut Ahmad Zaini Dahlan. Ia telah menulis sebuah buku yang dimuati kesesatan dan kedusta'an-kedusta'an terhadap pendakwah-pendakwah Tauhid, terlebih imam mereka, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah".
(Sekapur sirih kitab Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 5)).
👉 Tentang Karangan-Karangan Ahmad Zaini Dahlan
Ia juga seorang Ulama' yang banyak menulis kitab-kitab yang dikatakan Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullah di dalam kitabnya, Al Bayan wa Al Isyhar : "Berkata sebagian orang-orang mulia dari kalangan Ulama' Makkah : "Karangan-karangan Ahmad Zaini Dahlan laksana bangkai yang tidak akan memakannya kecuali orang yang terpaksa. Ulama'-Ulama' India, 'Iraq, Nejed, dan selainnya telah membantahnya dan "menelanjanginya" dan menjelaskan kesesatannya".
(Sebagaimana dalam catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
👉 Di antara karangan-karangan Ahmad bin Zaini Dahlan ini adalah:
--- Ad Duror As Saniyyah fi Rodd 'ala Al Wahhabiyyah
--- Fitnah Al Wahhabiyyah
--- Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib
Buku ini masuk ke dalam muatan dua bukunya yang lain, yaitu (1) Khulashoh Al Kalam fi Bayan Umaro' Al Balad Al Harom dan (2) Al Futuhat Al Islamiyyah ba'da Madho Al Futuhat An Nabawiyyah.
Tentang bukunya yang pertama, Ad Duror As Saniyyah (Mutiara Berharga), berkata Syaikh Shalih bin Muhammad bin Hamd Asy Syatsri berkata : "Telah sampai kepada kami di tahun pertama abad XIV sebuah risalah keji dan perkata'an-perkata'an lemah nun mengerikan karangan Ahmad bin Zaini Dahlan, seorang mufti tanah haram yang mulia (Makkah), yang diberinya judul Ad Duror As Saniyyah fi Ar Rodd 'ala Al Wahhabiyyah. Ia pantas diberi judul Adh Dhoror As Samiyyah fi Ihlak Al Ummah Al Muhammadiyyah (Racun Berbahaya Untuk Membinasakan Umat Muhammad).
Buku ini memuat kedusta'an, kepalsuan, pengkaburan dakwahnya, dan bersandar kepada penghuni-penghuni kuburan (mayat-mayat). Di dalam bukunya itu ia telah bertindak lalim kepada ahli Tauhid dengan fitnah dan kejelakan".
(Muqoddimah Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 23-24)).
Di antara kedusta'an dan kepalsuan yang menghiasi bukunya ini adalah pernyata'annya di halaman 46, "Zhahir dari Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ia menklaim bahwa ia seorang nabi akan tetapi ia tidak mampu menampakkannya secara tegas tetang itu". Maka kita katakana, "Mahasuci Engkau ya Allah. Sesungguhnya ini adalah kedustaan besar...!!".
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan : "Kami menduka bahwa Syaikh Ahmad Dahlan belum melihat kitab-kitab & risalah-risalah (karangan Syaikh Muhammad)... Setiap apa yang ia tulis dalam risalahnya (sesuai) apa yang ia dengar dari orang-orang yang dibenarkannya. Bukankah tatsabbut (mencari kebenaran berita) di dalamnya termasuk kewajibannya, dan mencari dan bertanya tentang kitab-kitab & risalah-risalahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjadikan bantahannya atasnya. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Shiyanah Al Insan (hal. 14)).
Tentang bukunya yang kedua, "Fitnah Al Wahhabiyyah", berkata Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah : "Di dalamnya ia berbicara dengan sesuatu yang tidak dikenal. Di dalamnya ia mengatakan (baca: membawakan) kabar-kabar bibir (kabar burung). Ia berkata, "Si Fulan telah berkata kepada kami". Atau, "Konon dia (Syaikh Muhammad) itu begini. Jika benar, maka hukumnya begini".
(Kutub Hadzdzaro minha Al 'Ulama (I/251)).
Adapun tentang bukunya yang ketiga, "Asna Al Matholib fi Najah Abi Tholib", telah berkata Syaikh Rasyid Ahmad Al Kankuni Al Hindi rahimahullah --penulis Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud yang dinisbatkan kepada salah seorang muridnya, Ahmad Kholil, padahal yang benar kitab itu merupakan dekteannya yang ia dektekan kepada muridnya itu-- dalam kitabnya, Al Barohin Al Qothi'ah 'ala Zholam Al Anwar As Sathi'ah yang dicetak di India, "Sesungguhnya syaikhnya para Ulama' Makkah di zaman kami (dekat-dekat tahun 1303 H) telah menghukumi --berfatwa-- berimannya Abu Tholib dan telah menyelisihi hadits-hadits shahih karena ia mengambil sogokan riba yang sedikit dari seorang Rofidhoh Baghdad".
Betapa bagusnya pernyata'an Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam Al Bayan wa Al Isytihar : "Dan aku telah mendengar lebih dari satu dari kalangan ahli ilmu yang terpercaya berkata, "Sesungguhnya Dahlan ini adalah seorang Rafidhah akan tetapi ia menyembunyikan madzhabnya dan menamakannya (bersembunyi di balik naman) taklid kepada salah satu dari imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi'i, dan Ahmad) dengan tujuan agar tujuan-tujuan kejinya tertutupi dan agar memperoleh jabatan-jabatan yang darinya ia mencari makan. Yang paling membuktikan ke-Rofidhahannya yang jelek adalah karangannya sebuah buku yang berjudul Asna Al Matholib fi Najdah Abi Tholib. Di dalamnya ia membantah nash-nash Al Qur'an dan hadits-hadits shahih mutawatir dengan nafsunya".
(Dinukil dari catatan kaki Ta'yid Al Malik Al Mannan (hal. 24)).
Celakanya, fatwanya yang keji ini diikuti oleh seorang Ulama' yang cukup berpengaruh di Indonesia, terutama di Jawa, Syaikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Al Bantani Al Jawi dalam kitab tafsirnya yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren tradisional, Muroh Labid li Kasyf Ma'na Quran Majid(II/201-202) ketika menafsirkan Surat Al Qoshosh ayat ke-56, "Sesungguhnya kamu tidak akan bias memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai. Akan tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dia lebih tahu orang-orang yang mendapat petunjuk".
👉 Kaidah-Kaidah Bathilnya Ahmad Zaini Dahlan
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah mengatakan bahwa kaidah-kaidah kebodohan yang di atasnya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan membangun bantahannya terhadap Wahhabiyyah, membolehkan berdo'a kepada selain Allah Ta'ala dari kalangan para Nabi dan orang-orang Sholih yang telah wafat, beristighotsah (meminta tolong ketika dalam kesulitan) kepada mereka, dan mengadakan perjalan menuju kuburan-kuburan mereka untuk berdo'a kepada mereka di sisinya, serta meminta dari mereka (penghuni kubur) agar dipenuhi hajat mereka, ada tiga (3), yaitu:
1. Riwayat-riwayat bathil dan semaknanya berupa dengeng-dongeng, buah tidur, dan syair-syair yang tidak memiliki nilai di sisi Ulama' agama yang hanya laku di pasar orang-orang awwam.
2. Berdalil dengan nash-nash yang tidak menunjukkan dalil permasalahan yang ia bawakan secara syari'at, seperti firman Allah Ta'ala.
3. Membolak-balikkan realita dan permasalahan dorongan mengikuti jama'ah kaum muslimin dan peringatan dari berpecah dari jama'ah. Menurutnya dan konsekuensi kebodohannya, jama'ah adalah mereka yang paling banyak jumlahnya. Klaim semacam ini bersebrangan dengan nash-nash Al Qur'an, hadits-hadits shahih, dan atsar-atsar Salafu Sholih.
Semoga yang sedikit ini mudah dipahami dan bermanfa'at untuk kita semua
SIAPAKAH Syaikh Zaini Dahlan dan bagaiman pandangan para ULAMA terhadap Zaini Dahlan? 👉
Barakallahu fiikum

 

Sanad Keilmuwan Nashiruddin Al Albani

Diposting oleh Mastindi | 23.36 | | 0 komentar »

*GURU-GURU DAN SANAD SYEIKH AL-ALBANI*
Membantah, "Syaikh al-Albani tidak memiliki guru dan sanad sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ"
.
Ana ambil satu sanad yg cukup bagus yaitu kepada Syaikh Muhammad Ath-Thabakh.
Syaikh al-Albani meriwayatkan dari Syaikh Muhammad Raghib Ath-Thabakh (Ahli Tarikh, Musnid Halab pda zamannya, dosen hadits & Ushul hadits) dngn Ijazah 'ammah utk semua riwayat.
Berikut Sanad Hadits dan keilmuan Syaikh al-Albani yang muttasil (bersambung) sampai kepada Rasulullah ﷺ.
1. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
2. Syaikh Muhammad Raghib Ath-Thabakh
3. Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Arif Khuwaqir Al-Hanbali (w. 1349 H)
4. Muhadits as-Salafi Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Isa An-Najdi (w. 1329 H)
5. al-Allamah al-Mujadid ats-Tsani Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1285 H) – penulis kitab Fathul Majid.
6. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab
7. Abdullah bin Ibrahim al-Madini
8. Mufti Hanabilah Abdulqadir Ath-Taghlabi
9. Abdul Baqi bin Abdul Baqi Al-Hanbali
10. Ahmad bin Muflih Al-Wafai
11. Musa bin Ahmad Al-Hajawi –penulis al-Iqna’
12. Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi
13. Ahmad bin Abdullah Al-Askari
14. Ala’uddin al-Mardawi –penulis al-Inshaf.
15. Ibrahim bin Qundus al-Ba’ali
16. Ibnul al-Lahm
17. Ibnu Rajab al-Hanbali
18. Ibnul Qayyim al-Jauziyah
19. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
20. Syaikhul Islam Abdurrahman Ibn Qudamah
21. Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Qudamah –penulis al-Mughni.
22. Al-Imam Abi al-Fatah bin al-Minni
23. Al-Imam Abu Bakr Ahmad ad-Dainuri
24. Al-Imam Abi al-Khathab Mahfudz bin Ahmad al-Kalwadzani
25. Al-Qadhi Abi Ya’la Ibn al-Fara’
26. Al-Imam Abi Abdullah al-Husein bin Haamad
27. Al-Imam Abu Bakar Abdul Aziz al-Khallal
28. Al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal
29. Imam Ahmad bin Hanbal
30. Imam Asy-Syafi’i
31. Malik bin Anas
32. Nafi’
33. Ibnu Umar
34. Nabi Muḥammad Rasūlillah ﷺ
.
Untuk keterangan lebih lengkap silahkan lihat, _*"Sanad al-Imam Nashiruddin al-Albani Rahimahullah"*_ Karya ustadz Abu Abdillah Rikrik Aulia Rahman as-Surianji (Ahli Sanad). Beliau telah mengumpulkan guru dan sanad² Syaikh Al-Albani Rahimahullah Ta'ala. Juga dalam karyanya yg lain, beliau mengumpulkan sanad² hadits dan keilmuan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahullah, serta sanad² ulama lainnya. Hal ini sekaligus membantah sebagian kalangan yg menganggap bahwa Salafy tdk berguru/bersanad.
.
والله أعلم بالصواب
Semoga bertambah wawasan ilmu pemahaman , Barakallahufiikum

 

Utusan Wahhabi

Diposting oleh Mastindi | 07.18 | | 0 komentar »

Sejarah Indonesia
Durarus Saniyyah adalah kumpulan risalah, kitab, surat & makalah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya serta ulama-ulama Nejed lainnya, yang oleh sebagian kalangan dikenal sebagai Ulama-Ulama Wahabi.
Usaha pengumpulannya ini dikerjakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Qasim dan diterbitkan dalam belasan jilid. Risalah dan kutub yang ada di Durarus Saniyyah sudah banyak ulama yang mengkajinya dari masa lampau maupun masa sekarang.
Perkenalan Nusantara dengan risalah/kutub ulama-ulama Wahabi Nejed sendiri juga sudah berlangsung lama. Kurang lebih seabad yang lalu.
Teungku Haji Ahmad Hasballah dari Aceh pada era 1920-an sudah mengajarkan Kitabut Tauhid karya "muassis"nya Wahabi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada santri-santrinya di Dayah Indrapuri. Insight yang mereka ambil dari Kitabut Tauhid menjadi salah satu bahan bakar mereka untuk terus berjuang & berjihad melawan Penjajahan Kolonial Belanda.
Pada tahun 1925, terbit di Nusantara kitab berjudul "Utusan Wahabi", yang merupakan saduran atas kitab Hadiyyah Saniyyah karya ulama Wahabi Nejed Syaikh Sulaiman bin Sahman. Kitab ini terdiri atas 5 risalah. Secara umum berisi penjelasan dan pembelaan terhadap dakwah Ulama-Ulama Wahhabi. Beberapa risalah dalam kitab ini juga termaktub dalam Durarus Saniyyah.
"Utusan Wahabi" dikerjakan dan diterbitkan oleh Ahmad Syukri dan Ali Harharah, keduanya adalah murid-murid Syaikh Ahmad Syurkati, pendiri organisasi Al Irsyad yang masyhur itu.
Kitab "Utusan Wahabi" ini sangat terkenal saat itu, sampai-sampai seorang Bung Karno meminta tolong kepada Tuan A. Hassan untuk mengirimkan kitab tersebut kepadanya, dimana saat itu Bung Karno sedang menjalani pengasingan di Endeh.
Pada dekade 1950-1960-an, Madrasah Wathoniyyah Islamiyyah pimpinan KH. Asyifuddin Zawawi di Jawa Tengah dan Pesantren Maskumambang pimpinan KH. Nadjih Ahjad di Jawa Timur mulai mengajarkan kitab Fathul Majid syarah Kitabut Tauhid kepada santri-santrinya. Bahkan pada tahun 1980-an, KH. Nadjih Ahjad sempat diundang ke Saudi untuk memberikan makalah pada acara seminar yang membahas dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kemudian makalah tersebut diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia dengan judul "Pengaruh Wahabi di Indonesia".
Lanjut pada dekade 1970-an, dua Imam Tentara - Kolonel Bey Arifin dan Kapten Dja'far Soedjarwo - memulai inisiatifnya mengajarkan Kitabut Tauhid di kalangan tentara Angkatan Darat, tepatnya di Kodam Brawijaya, Malang.
Ya, anda tidak salah baca. Keduanya saat itu mengajarkan Kitabut Tauhid di barak-barak tentara. Atau dengan kata lain : barak tentara pernah menjadi salah satu basis pengajaran kitab-kitab Ulama Wahabi di Indonesia.
Inisiatif mereka ini berlanjut dengan penerjemahan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab secara massif pada sekitar era 1970 dan 1980-an. Boleh dikatakan hampir semua terjemahan pertama kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lahir dari tangan mereka berdua.
Bey Arifin dan Dja'far Soedjarwo tercatat merupakan ulama-ulama Muhammadiyah. Bey Arifin sendiri bahkan sempat menjadi Ketua MUI Jawa Timur.
Ulama Muhammadiyah lainnya - Moehammad Thahir Badrie - pada dekade 1980-an bahkan menulis syarah atas Kitabut Tauhid dalam 4 jilid (baru selesai 2 jilid), yang boleh jadi merupakan syarah pertama karya ulama Indonesia atas Kitabut Tauhid.
Dari perjalanan sejarah diatas : adakah diantara nama-nama dan pondok pesantren yang disebut di atas yang menjadi "gembong teroris" ?
Apakah Teungku Haji Ahmad Hasballah menjadi teroris karena mengajar Kitabut Tauhid ?
Apakah Syaikh Ahmad Syurkati dan murid-muridnya di Al Irsyad merupakan teroris karena membela dan menerjemahkan karya-karya Ulama Wahabi Nejed ?
Apakah Madrasah Wathoniyah Islamiyah dan Pesantren Maskumambang menjadi Pusat Pengkaderan Teroris karena di sana dipelajari kitab Fathul Majid ?
Apakah Bey Arifin, Djafar Soedjarwo, Moehammad Thahir Badrie, dan ulama-ulama Muhammadiyah lainnya menjadi teroris karena membela, menerjemahkan dan mengkaji kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ?
Saya yakin tak ada yang berani menuduh mereka teroris.
Perkenalan Nusantara dengan kitab-kitab Ulama Wahabi Nejed sudah berlangsung hampir seabad, dan anehnya baru akhir-akhir ini kitab-kitab mereka dianggap sumber terorisme.
Kalau betul argumen mereka, bahwa kitab-kitab Ulama Wahabi merupakan sumber inspirasi aksi teroris ISIS, maka adakah mereka berpikir ulang :
1. Kitab apa yang menginspirasi NII-nya Kartosuwiryo yang membuatnya nekad menjadi "teroris & pemberontak" (minimal menurut versi mereka yang tidak sepaham dengan Kartosuwiryo") ? Apakah Kartosuwiryo terinspirasi dari kitab-kitab Ulama Wahabi? Apakah Kartosuwiryo berguru kepada ulama-ulama yang terpapar paham Wahabi ?
2. Kitab-kitab apa yang dipelajari oleh syabab-syabab HTI dan tokoh-tokoh FPI yang membuat mereka akhirnya dinyatakan oleh Pemerintah sebagai organisasi terlarang versi Pemerintah ? Adakah HTI dan FPI terinspirasi oleh kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama-ulama Wahabi lainnya? Bagaimana pandangan HTI dan FPI (terutama HRS) terhadap dakwah Wahabi ?
Saya pikir pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah jelas jawabannya bagi orang-orang yang mau meneliti.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat, jangan sampai isu "terorisme" hanya dijadikan "alat untuk menggebuk" saudara sesama muslim yang kebetulan tidak satu pemahaman.
Wallahu a'lam.