MagzNetwork

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
MUSIK MENYEBABKAN RUNTUHNYA ISLAM DI ANDALUSIA..
Berbicara tentang penyebab musibah yang menimpa umat Islam, sering kita dapati para pakar dan para ahli hanya berbicara dalam tataran teknis atau lingkup yang ditangkap panca indera saja, padahal ada faktor non teknis yang bisa jadi tidak tertangkap oleh indera manusia tapi itulah penyebab utamanya, yaitu dosa. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa: 30)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Dan musibah tersebut tidak hilang melainkan dengan taubat.” (al-Jawabul Kafi, Hal. 87).
Sama halnya dengan kehancuran sebuah negeri, para pengamat dan sejarawan hanya berbicara pada permasalah pemimpin yang lemah, ekonomi yang morat-marit, bencana alam, dll. padahal ada penyebab yang utama yang menimbulkan penyebab-penyebab di atas, yaitu dosa-dosa yang dilakukan oleh penduduk negeri tersebut. Masyarakatnya adalah orang-orang yang berbuat kemaksiatan, bukan berdakwah dan melakukan perbaikan, mereka malah melupakan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)
Hal itu pula yang terjadi di Andalusia, peradaban Islam yang berusia kurang lebih 800 tahun itu akhirnya hancur dengan runtuhnya Kerajaan Granada. Penduduk Andalusia kala itu melupakan Allah, jauh dari ketaatan kepada-Nya, dan sibuk dengan memperebutkan singgasana.
Lalu, apa yang menyebabkan mereka melupakan aturan Allah? Mungkin tidak ada yang menyangka penyebab lalainya penduduk Andalusia ini, karena penyebab ini begitu akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, penyebabnya ialah musik. Ya, penduduk Andalusia disibukkan dengan mendengar musik. Musik telah mengalahkan bacaan Alquran mereka, mengalahkan bacaan hadis-hadis mereka, dan melupakan dari menadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala.
Orang yang membawa musik ke tanah Andalusia adalah Abu al-Hasan Ali bin Nafi’ (789-857) atau yang lebih dikenal dengan Ziryab.
Siapakah Ziryab?
Ziryab adalah seorang Persia atau Kurdi yang pada awalnya tinggal dan bekerja di Irak lalu tinggal di Andalusia selama 30 tahun. Ia seorang musisi, penggubah lagu, ahli kosmetik, kuliner, fesyen, dan juga menguasai beberapa cabang ilmu pasti. Orang-orang Eropa mengenal Ziryab sebagai bapak kebudayaan.
Kalau hari ini kita gambarkan Ziryab, maka ia layaknya seorang selebriti. Orang-orang memperhatikannya dalam hal mode pakaian, gaya rambut, dan tren kuliner. Ia membuat tren warna dan model pakaian harus mengikuti musim-musim tertentu. Hari ini kita lihat orang-orang meniru tren Ziryab dengan istilah pakaian musim dingin, musim panas, atau musim semi. Ziryab juga mengubah kebiasaan bagaimana sebuah makanan itu dihidangkan atau disantap. Tidak ada seorang pun di Eropa atau di Andalusia secara khusus yang peduli tentang penyajian makanan, dahulu orang-orang menyajikan semua makanan dalam waktu yang sama. Ziryab membaginya menjadi tiga bagian dengan menu-menu yang menyesuaikan. Hari ini kita kenal dengan istilah hidangan pembuka (appetizer), hidangan utama (main course), dan makanan penutup (dessert). Demikian juga dengan gaya rambut, ia membuat tren laki-laki tatanan rambutnya pendek dan rapi, sementara perempuan berambut lebih panjang dan berponi.
Sebagian dari kita mungkin menyangka tatanan modern dalam berpakaian, kuliner, dan gaya rambut masyarakat Eropa saat ini adalah budaya yang terlahir dari kebiasaan mereka sendiri. Kalau Anda menyangka demikian, maka itu adalah kekeliruan. Kebiasaan tersebut terlahir dari seorang muslim yang berasal dari Baghdad, yaitu Ziryab. Bahkan Ziryab mengajarkan masyarakat Eropa menggunakan deodoran, pasta gigi, dan shampo.
Mengajarkan Musik
Setelah menyebutkan nilai-nilai peradaban yang Ziryab ajarkan kepada masyarakat Eropa, ada hal lain yang ia sebarkan di tengah peradaban muslim Eropa dan masyarakat benua biru itu secara umum, yaitu musik. Ketika datang ke Spanyol, Ziryab mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Daulah Bani Umayyah II di sana. Lalu ia pun mendirikan sekolah musik di wilayah kerajaan tersebut. Ia sangat pandai memainkan alat-alat musik, baik alat musik tradisional Arab maupun tradisional daerah setempat.
Melihat sosok Ziryab yang mampu menghibur dengan musiknya, memiliki penampilan yang trendi, mengajarkan cara menikmati makanan yang lebih menyenangkan dll. membuat masyarakat saat itu kagum dan memiliki kecenderungan hati kepadanya. Jangankan orang-orang yang hidup saat itu, tatkala mendengar apa yang diajarkan Ziryab kepada masyarakat Eropa sehingga peradaban Eropa seperti sekarang ini, mungkin di antara kita mulai mengaguminya, padahal apa yang diajarkan Ziryab bukanlah sesuatu yang sifatnya darurat, artinya peradaban manusia tidak punah jika tidak mengetahui apa yang Ziryab ajarkan. Tidak sehebat apa yang ilmuan-ilmuan Islam lainnya ajarkan. Kekaguman tersebut membuat masyarakat mulai meninggalkan membaca Alquran atau berkurang dari biasanya, demikian juga membaca hadis, dan kisah-kisah para ulama yang shaleh. Mereka mulai sibuk dengan music tersebut.
Kebiasaan ini kemudian turun-temurun terwarisi hingga lemahlah umat Islam dan semakin tidak mengetahui ajaran agama mereka. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam sejarah Islam di Andaluisa; berpecah-pecahnya Daulah Umayyah II yang dahulu menjadi satu-satunya kerajaan Islam di Spanyol menjadi Negara-negara kecil atau tha-ifah. Beberapa di antaranya kemudian dikuasai oleh Kerajaan Kristen Eropa. Puncaknya, musibah itu disempurnakan dengan runtuhnya Kerajaan Granada.
Apakah Mendengarkan Musik Berdosa?
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)
Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,
الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.
“Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 20: 127)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik…” (HR. Bukhari)
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian. Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah. Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي سَمَاعِهِ ضَرَرٌ دِينِيٌّ لَا يَنْدَفِعُ إلَّا بِالسَّدِّ
“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11:567)
Penutup
Tentu ada dosa-dosa lainnya yang menyebabkan runtuhnya Islam di Spanyol, namun musik memiliki peranan penting yang menjauhkan umat dari agamanya. Umat Islam tidak tahu mana tauhid dan mana syirik karena mereka tidak mempelajari agamanya. Tidak tahu tata cara ibadah yang benar, dll.
Apakah benar musik melalaikan dari mengingat Allah, Alquran, hadis, dan mempelajari agama? Silahkan kita jawab dengan amalan kita sehari-hari, manakah yang lebih banyak kita dengar atau hafal? Nyanyian, Alquran ataukah hadis?
Banyak orang tertawa, merinding, terenyuh, bahkan menangis ketika mendengar musik, tapi sedikit yang merasakan hal yang sama ketika mendengarkan Alquran.
Sumber:
– Muqaddimah Ibnu Khaldun
–
Artikrl kisahmuslim.or.id
Sebagai Muslim kita adalah Ummat terbaik
dipilih oleh Allah sebagai Ummatan wasathan , ummat penengah .
Allah mengajarkan kepada Rasulullah dengan wahyu, pengalaman nabi terdahulunya bagaimana menghadapi umat manusia dengan dua hal yang tidak boleh terpisah
"Amar Ma'ruf dan nahi munkar, keduanya adalah satu paket dalammisinya agar dakwah dapat berjalan , agar aturan Allah dapat tegak.
Amar ma'ruf atau menyeru kepada kebaikan mungkin dapat berjalan karena naluri dan fitrah manusia yang menyukai hal hal baik.
namun mencegah dari yang munkar, dari sesuatu yang merusak jelas butuh power , butuh payung hukum yang legal agar darah kaum Muslimin dapat terjaga.
ketika kekuasaan berada di tangan non Muslim , dapatkah keduanya tegak ? amar ma'ruf nahi munkar harus sesuai aturan Allah , harus sesuai kehendak Allah , setidaknya merujuk atau bernafaskan aturan Allah.
Kemusyrikan adalah kedzaliman yang besar " Innasy syirka la dzulmon adzim.
bila kepada Allah saja Dzalim bagaimana kepada manusia.
Dzalim adalah "Wad'u syaiin bi ghairi makanihi (meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya)

Lelah dalam berdoa

Diposting oleh Mastindi | 16.55 | | 0 komentar »
Jangan pernah iri kepada yang
Tidak shalat , namun lancar usahanya
jauh dari syareat Allah namun sukses bisnisnya
jauh dari majlis Allah, namun selalu sehat keluarganya
cerdas anak anaknya
jauh dari orang orang shaleh namun selalu terwujud hajatnya.
boleh jadi..
itu"ISTIDRAJ
yakni,kesenangan sementara dari Allah , atau dijadikan dunia sudah menjadi surganya, bukan nanti.
atauuu..
jangan jangan..
kita belum menunaikan hak Allah, lalu meminta hak kita
padahal , kita selalu berdialog (dalam shalat)
"hanya kepada Engkau kami menyembah
dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan..
sudahkah kita merealisasikan nya dalam wujud nyata..
lalu
Mintalah kepada Allah,
jangan pernah bosan,
jangan pernah putus asa.
teruslah berdo'a
teruslah ikhtiar
teruslah tawakkal..

doamu yang kau anggap tak terkabul
boleh jadi, 
adalah cara Allah mengabulkan

Rotasi dalam kehidupan

Diposting oleh Mastindi | 00.17 | | 0 komentar »
Persoalan hidup adalah menjalani skenario Allah, bukan yang paling banyak inovasinya, namun yang paling ikhlas dan benar dalam menjalaninya.

hidup adalah ujian,susah senang, sedih bahagia selalu berpasang-pasangan agar saling melengkapi nya 


semua muaranya sama, yakni kebaikan




sabar atau tidak dalam menjalaninya, 

tak mengurangi lamanya ujian,
tak juga mengurangi pedihnya duka
bila sabar berpahala, bila tidak, maka berdosa


tinggal memilih


Allah tidak pernah dzolim kepada hamba-Nya, semua sunnah dan takdirnya mempunyai hikmah masing-masing , kadang dapat kita ketahui di dunia kadang kelak di akherat.

bersihkan hatimu dari prasangka buruk kepada Allah, apa pun yang diperbuatnya semua untuk kebahagiaan kita, dan dengan kebersihan hati hikmahnya dapat mudah kamu rasakan.

wallahu a'lam

niat dan proses

Diposting oleh Mastindi | 07.20 | | 0 komentar »
Niat dan perbuatan adalah satu paket yang tidak terpisahkan karena niat “I’TIQADUL QALBI  LIBTIDAIL AWAMILI (kehendak hati untuk memulai suat perbuatan)
Oleh karena itulah itulah proses menuju tercapainya tujuan jangan sekali kali mengabaikan niat awal agar maksud yang dituju dapat di raih.

Sebagai wujud kasih sayang Allah niat yang baik bila karena suatu udzur tidak terlaksana tetap mendapat ganjaran, adapun niat buruk ketika di batalkan tidak mendapat dosa.

Niat yang baik tidak menjamin berakhir baik, bila dalam prosesnya kita tidak melibatkan Allah, dan mengabaikan tujuan semula ,atau di lakukan dengan sesuatu yang dilarang.

Begitu pun tidak sedikit niat buruk dalam proses pelaksanaannya berbelok menjadi baik.

Karena itulah, perbaharui selalu (tajdidun niat) , rujukkan kembali proses menuju suatu  maksud, yang telah diniatkan untuk sesuatu yang baik, agar tidak melenceng dari tujuan semula.


Terakhir ketika kita berniat , tanyakan pada hati nurani tentang nilai kebaikan yang ada pada niat kita.. karena niat dan proses biasanya akan selalu linear.

Mengharap Allah menolong

Diposting oleh Mastindi | 19.40 | | 0 komentar »
Sahabat..

Ketika berbagai kesulitan hidup datang tiada henti
Silih berganti, dan qadarullah semua pintu keluar seakan tertutup
sehingga tibalah pada titik kesabaran kita yang terlemah, dan
dalam kepayahan manusiawi mengeluh “kapan datang pertolongan Allah ?

sahabat...

Mungkin saat itulah waktu yang tepat  untuk introspeksi
Mungkinkah kita menuai hasil tanpa menanam benih
Bisakah kita meminta tanpa lebih dahulu memberi
Padahal kita diajarkan dalam shalat-shalat kita

“hanya kepada-Mu kami menyembah , dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan
Sejauh mana bakti sembah kita kepada Allah ?

Maksimalkah ikhtiar kita ?
Ikhlaskah tawakkal kita ?

Sahabat…

Kita mengharap pertolongan Allah..

Namun..
Pernahkah kita berpartisipasi memberikan kontribusi untuk agamaNya
Membantu mensyiarkannya
Menegakkan aturan Nya  dalam keluarga
Menjadikan syareatNya sebagai  azas hidup
Karena Allah memang mensyaratkan pertolongannya.

“jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu.

mencari kesamaan dalam bersahabat

Diposting oleh Mastindi | 21.11 | | 0 komentar »
Simbol realita.

Merupakan fitrah atau manusia seseorang ketika memilih teman  atau pasangan hidupnya akan mencari titik temu atau kesamaan, bahkan kesetaraan  dalam status sosial, namun Allah mempertemukan hamba-Nya dalam titik temu yang di ridhai-Nya.

Begitu pula dalam bersahabat, setiap kita akan menjadi akrab (dekat) manakala ada titik temu yang banyak dan sama, sama-sama ada waktu ,  di hobby yang sama , tempat kerja yang sama dan kesamaan yang lain, maka semakin banyak titik temu yang sama tentu semakin dekat dan lekat persahabatan.

Sahabat..

Maka di kala titik temu di atas tak kita dapatkan , tak ada kesamaan hobby, kesamaan waktu hingga kita bisa bertemu kapan dan di mana saja, bahkan status sosial kita berbeda, masih ada titik temu yang lain , titik temu yang insha Allah berada dalam ridha serta naungan-Nya,yakni kita sama-sama satu Aqidah .

Sahabat.

konsekuensinya juga sama, bila temanmu yang sehobyy, yang  satu pekerjaan menegurmu karena kamu lalai dan tidak lagi welcome dalam kesamaannya , begitu pun aku akan  menegurmu bila kamu lalai dari jalan-Nya, Tentu bukan menurutku , karena suatu kebenaran bila menurut manusia sangat relatif..

karena itulah ..

bila aku dekat karena Allah, maka jauh pun karena Allah.



Saat ingin mendukung idolamu

Diposting oleh Mastindi | 18.11 | | 0 komentar »
Saat ingin membantu temanmu dari kesulitan
Ketika  ingin Mendukung idolamu agar populer
Apabila  ingin memajukan komunitasmu agar dikenal
Maka...
Buanglah egoismu
Bukalah kitab sucimu sebagai penuntun-mu
Jalankan nalarmu sebagai makhluk istimewa
Ajak nuranimu karena dialah yang selalu jujur
Adakah kemaslahatan untuk sesama
Adakah membawa kebaikan bagi dirimu
Apakah menambah Iman dan taqwamu
Atau malah
Menambah dosamu karena peranmu di sana
Menambah musuhmu karena melawan nuranimu
Namun..
Bila kamu belum mampu,
karena hubungan emosionalmu
hubungan ashabiyahmu
kesamaan hobbimu
Rasa emoh pakewuhmu
Maka..Gunakan logikamu
Adakah manfaat bagimu, anak istrimu
Kesejahteraan keluargamu..
Sahabat..
Ketika kita ingin berburu dengan membunuh
Cobalah renungkan dahulu..
Apakah untuk di makan
Apakah karena menjadi hama
Atau penyebar penyakit
Atau apakah karena membahayakan
Atau hanya untuk kepuasan
Bahwa “ saya sudah pandai menembak
Sssttttt... ada si manis di samping bertanya
Sampai segitunya biii..
Yah.. karena Agama kita sangat sempurna
Dan semua pasti.. dimintai pertanggung jawaban (QS 102:8)
Betapa seriusnya Allah.. gak percaya ?
Tanya guru nahwu dan sharrafmu..

Rehat sejenak di ujung Ramadhan

Diposting oleh Mastindi | 16.58 | | 0 komentar »
Kitab Ramadhan hampir usai kita baca, dalam wujud amaliyah..

Rehatlah sejenak , refresh keimanan kita, apakah target membacanya sudah sampai di bab Taqwa

Ramadhan tamtsil sebuah kitab, untuk melatih diri menjadi mukmin yang muttaqin.

Melatih menjaga lisan, Hati, melatih berlaku jujur, Sabar ,Tadarrus, shalat Sunnah,menumbuhkan rasa empati, bahkan segala bentuk amal , hingga Allah janjikan dengan pahala berlipat ganda.

Tercapai atau tidak target shaum, terbukti bukan di bulan ini.

Namun setelahnya.

Di bulan Syawwal , yang artinya “peningkatan , apakah semakin meningkat amal kita

Di bulan Dzul Qa’idah , yang artinya, yang terikat , apakah masih terikat dan menjadi amaliyah rutin apa yang secara kontinu kita lakukan di bulan Ramadhan .

Semoga kita terpilih menjadi seperti apa yang di inginkan Rasulullah “KA WALADATHU UMMU , seperti bayi yang baru lahir , bersih tanpa dosa , karena di bakar oleh kobaran api Ramadhan.

Bukan hanya sekedar “IDUL FITRI atau kembali berbuka, di mana kita kembali bebas makan minum di siang hari, namun

“IDUL FITRAH, kembali suci

Karena Shaum kita juga di tutup dengan ZAKAT FITRAH, agar kata Rasulullah SAW, “jangan sampai ada di hari raya itu yang masih kelaparan.

Dan Zakat Fitrah merupakan simbol rasa empati atau keperdulian sosial, terhadap sesama.


Lengkap sudah Ramadhan sebagai sarana Training dalam membina, ‘Hablum minallah dan Hablum minan nasi

Shalat miniatur kehidupan

Diposting oleh Mastindi | 00.36 | | 0 komentar »


Shalat ibarat miniatur kehidupan kita,  ada kalanya kita berdiri tegak, ada kalanya kita merunduk ruku, bahkan tersungkur bersujud.

Begitulah hidup ini , suat ketika kita dapat berdiri tegak dengan suatu kebanggaan, karena apa pun yang kita inginkan dapat kita raih, namun pada saat yang lain  kita harus puas dengan apa adanya, harus merunduk agar mata tak melihat yang lebih tinggi, bahkan tak jarang kepala yang kita hormati harus sejajar dengan kaki, artinya kita harus sejajar dengan bawahan kita.

Namun bagaimanapun posisi kita tetap fokoskan arah wajah kita ke tempat sujud, sebagai simbol dari tanah dan ke tanahlah kelak kita kembali.

Hidup ini akan teratur bila di latar belakangi dengan keyakinan , yakni “kita pasti mati, karena itulah rangkaian hidup ini harus teratur sesuai dengan kehendak sang Maha pencipta.

Suatu ketika Rasulullah pernah di datangi Jibril AS, dan Jibril berkata.

Ya Rasulullah isna’ masyi’na fa innakum mayyitun (berbuatlah sekehendakmu, tapi ingat kamu pasti mati)

Saat Nafsu menjadi tuhan

Diposting oleh Mastindi | 00.04 | | 0 komentar »



|M÷ƒuäu‘r& Ç`tB x‹sƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr'sùr& ãbqä3s? Ïmø‹n=tã ¸x‹Å2ur ÇÍÌÈ

“ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, (QS 25;43)

Ayat di atas mengingatkan saya kepada Allahu yarham Imanuddin yang akrab dipanggil bang Imad, beliau memang bukan seorang ulama , namun seorang ahli fisika di dewan pakar ICMI.

Beliau mendefinisikan tuhan , “bahwa tuhan ialah “ sesuatu yang kita rela di dominasi olehnya.

Artinya, bila sesuatu hal telah mendominasi kehidupan kita dan dalam hal tersebut tak ada nilai ibadahnya sebagai bentuk ketundukan kita kepada Allah, maka hal tersebut telah menjelma menjadi tuhan dalam kehidupan kita.

Karena “Al-hawa maknanya adalah kecenderungan kepada sesuatu yang begitu kuatnya kecenderungan tersebut hingga mengalahkan hati dan pikiran sehat kita, ibarat hewan yang diperturutkan hingga lepas kendali dan kita tidak bisa lagi menjinakkannya.

Begitu pun hawa nafsu yang kita perturutkan tanpa pengendalian , maka lambat laun pelan namun pasti maka hawa nafsu itu akan mendominasi kehidupan kita, tengoklah para maniak, betapa mereka merelakan banyak hal demi hobbynya, yang terkadang tidak dapat dicerna dengan logika sehat.

Pada akhir ayat ada kalimat “Istifham, yakni pertanyaan dari Allah

 “Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya.

Pertanyaan retoris, yakni tidak perlu di jawab, karena pertanyaannya sebenarnya adalah jawaban, yakni “tidak mungkin nafsu di kendalikan lagi bila hati kita pun telah buta.


Dunia ladang akherat

Diposting oleh Mastindi | 00.09 | | 0 komentar »

Meski ditulis tanpa harkat, siapa pun pasti tahu doa di atas, bahkan hafal, “doa sapu jagat, begitulah dulu ustad saya mengenalkan doa tersebut, sebuah doa yang meliputi segala hal, yakni kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Dunia merupakan ladang bagi akhirat , dunia adalah tempat kita bercocok tanam, semakin kreatif kita bercocok tanam semakin besar harapan mendapat panen yang melimpah, namun jangan lupa, jangan abai ada hama yang siap menggrogoti tanaman di ladang amal kita, hama itu adalah riya, sum,ah , ‘ujub, takabbur dan berbagai maksiat yang mampu merusak bahkan musnah sama sekali, dalam bahasa al-Qur,annya

“habitat a’maluhum (hapus amal-amal mereka)

Kreativitas dalam berladang yang sebenarnya menunjukkan kecerdasan kita, namun hati-hati kreativitas dalam beramal tidak boleh melewati koridor syareah yang telah Allah tetapkan, itulah yang sering kita kenal dengan bid,ah, yakni menambah-nambah , merubah dan mengurangi sesuatu amalan, dengan anggapan bahwa itu hal yang baik, atau Istihsan (menganggap baik) padahal para sahabat bahkan rasul sendiri tdak pernah memberikan contoh.

Amaliah yang tanpa contoh itulah yang kelak akan menjadi parasit atau benalu, di pohon yang kita tanam, lambat laun benalu tersebut akan mematikan pohon tanpa kita sadari, bahkan begitu samar dan serupanya benalu dengan batang pohon sehingga kita tidak sadar, telah menganggap benalu itu bagian dari pohon tersebut, itulah Bid,ah yang akan mematikan sunnah.

Akherat yang hasanah . tak lepas dari usaha kita sewaktu mananam amal di ladang dunia yang panennya di akhirat, baik dalam berladang, ialah yang baik dan benar menurut si pemberi contoh, yakni rasulullah, bukan baik menurut asumsi atau pendapat kita sendiri, sebab bila kebaikan itu menurut asumsi manusia, maka lama kelamaan Islam akan kehilangan identitas aslinya, karena masing masing akan menganggap amaliahnya lah yang paling baik, karena merasa pintar atau gurunya orang pintar.

tidak ada dua kebenaran , bila ada , maka ada dua kemungkinan, hanya satu yang benar atau kedua-duanya salah.

wallahu a'lam..


Kematian adalah nasehat

Diposting oleh Mastindi | 15.47 | | 0 komentar »

Jum,at jam 19.00 -+ Allah kembali menunjukkan keabsolutannya, salah seorang kerabat kami telah ia panggil kembal ke haribaanNya.

Jum,at pagi antara jam 9 s/d jam 11 saat menjenguk di RS UD Koja kami ngobrol seperti biasa , tidak ada hal yang mengkhawatirkan  yang nampak  pada raut wajah beliau , kecuali permintaannya agar aku menghubungi kerabat yang lain tentang posisinya di rumah Sakit.

Sempat terbetik keinginan agar beliau dirawat jalan saja, karena kondisinya yang cukup stabil , namun putrinya tentunya lebih berhak dan tahu karena profesinya memang juga seorang dokter di Semarang, dia cukup percaya dengan penanganan tenaga  medis yang ada.

Jam 16. Beliau mendapat kamar, adapun kondisinya mendadak berubah buruk , tak ada yang menyangka hari itu Jum,at 1 Pefruari 2013 antara jam 9 s/d 11 adalah hari terakhir berbincang dengan beliau.

Jam 19 (kurang lebih) dengan begitu mudah dalam pandangan kami semua anak-anak keponakan dan kerabatnya menyaksikan beliau naza..

Sebenarnya tidak ada sakit dan Kematian yang mendadak, karena ada juga penyakit yang memakan raga kita sedikit demi sedikit tanpa terasa, bahkan tetap segar bugar hingga pada stadium tertentu baru terasa akibatnya. Begitu pun Kematian , hanya dalam pandangan kita seakan mendadak padahal Kematian itu sudah  tertulis beriringan dengan kelahiran kita, sudah tertulis di laihul Mahfudz.

Selamat jalan untuk kakek Jum’edin.. semoga Arwahmu mendapat tempat yang layak disisi-Nya , sesuai dengan amalmu, dan semoga Allah mengampuni segala dosamu, dan kematianmu menjadikan bagi kami sebagai mau’edzh.



Dosamu sebenarnya adalah aib.

Diposting oleh Mastindi | 00.57 | | 0 komentar »

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS 20;121)

Ayat  di atas mengisahkan keadaan nabi Adam ketika melanggar larangan Allah, untuk tidak mendekati apalagi memakan buah Khuldi, tapi karena tipu daya setan yang terus dilancarkan melalui siti Hawa maka keduanya terjerumus terhadap larangan Allah.

“lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, kata aurat boleh jadi adalah pengertian hakiki, yakni aurat yang sebenarnya dengan diperjelas oleh redaksi ayat setelahnya dengan kata “menutupinya dengan daun-daun , karena lenyapnya pakaian ahli surga yang mereka kenakan .

Namun saya memahaminya dari sisi majazinya, AURAT , berasal dari kata “ara, ya’uru, auratan maknanya telanjang, Adam menutupi tubuh telanjangnya tentunya karena rasa malu, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Adam adalah sesuatu Aib, cela yang menimbulkan rasa malu, yang mana sebagai manusia yang telah Allah ciptakan lebih mulia dari makhluk lainnya termasuk Setan masih dapat jatuh kepada tipu daya setan, yang derajatnya berada di bawah manusia .

Intinya dosa atau maksiat sebenarnya adalah sesuatu aib, cela yang seharusnya membuat malu pelakunya, sebagaimana yang dialami Adam AS, namun bagaimana bila maksiat yang dilakukan seseorang tak lagi membuat malu pelakunya ?,. dalam hal ini nabi SAW menjelaskan tentang maksiat atau dosa, ketika seorang sahabat bertanya .

“wahai Rasulullah apa dosa itu ? nabi menjawab

الاسم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع الناس

Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan kamu malu , tidak suka bila dilihat orang..

Begitulah yang terjadi pada nabi Adam, perbuatan maksiat yang dilakukan telah membuat keduanya seperti telanjang bulat..

Namun dalam keterangan selanjutnya berbahagialah bila rasa malu itu masih ada, karena itu bertanda kita masih punya iman, akan menjadi musibah manakala maksiat yang kita lakukan tak lagi membuat kita gelisah, hilanglah rasa salah dan berdosa ,hingga akhirnya kita berbuat dosa merasa tidak bersalah..
Hingga akhirnya nanti enggan bertaubat.//. Naudzu billah.