MagzNetwork

Meninggalkan adat menuju syare’at

Diposting oleh Mastindi | 15.54 | | 0 komentar »

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS 2;42)

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru, tahun di mana perhitungan awalnya merupakan titik balik terpancarnya kembali agama tauhid yang sudah memudar karena kejahiliahan manusia itu sendiri, yaitu hijrahnya yang mulia baginda Rasulullah SAW, ke Madinah yang di dahului beberapa sahabat utama dan telah mengembangkan Agama Tauhid itu (Islam) di tempat tujuan Hijrah yaitu Madinah.

Dalam sirah yang di jelaskan “bahwa khalifah umarlah yang memulai pengadaan penanggalan Hijriah pada awal tahun k 17 Hijriyah dengan mendasarkan perhitungannya awalnya pada hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah adapun hitungan harinya mendasarkan pada peredaran bulan , oleh sebab itulah di sebut Qomariah , yakni perputaran bulan, dan tahunnya di sebut Hijriyah.

Bila kita menelaah sejarah penanggalan hijriah tadi , semestinya kita dapat menyambut pergantiannya dengan sebuah renungan “ sejauh mana kita berIslam ?, dalam kondisi jatah usia kita yang semakin berkurang, sebesar apakah amal kita, sedekat apakah kita dengan Allah, dan banyak pertanyaan lagi yang semestinya mampu memotivasi diri kita untuk taqarrub Kepada Allah, namun sayang kebanyakan kita tak pernah hirau dengan pergantian tahun kita sendiri, yang perhitungan awalnya merupakan waktu di mana derajat manusia tidak di hitung berdasarkan strata sosial, maupun ekonomi melainkan ketakwaannya kepada Allah, bahkan kita sibuk mempersiapkan acara tahun baru Masehi yang perhitungan awalnya di dasarkan pada kelahiran nabi Isa ‘alaihis salam, yang di tuhankan oleh pengikutnya, yang dalam sejarah merupakan hasil dari “konsili nezea pada abad ke tiga Masehi.

Sebenarnya bukan hal urgen antara Masehi dengan perhitungan peredaran matahari dan Hijriah dengan peredaran bulan, namun yang lebih penting sejauh mana kita memaknai ke dua hal tersebut, Bulan dan matahari adalah makhluk Allah, tapi pada saat kita memula pada awal tahun pergantiannya, jika pada tahun baru Masehi kita sudah mahfum banyak terjadi ma’siat, akibat westernisasi (pembaratan) lalu mengapa pada awal tahun baru Hijriah juga tak kalah hebat maksiatnya , yakni perilaku syirik, tahayyul , bid’ah dan kurafat menjadi-jadi seolah semakin menunjukkan akan kejahiliahan masyarakat terutama yang mengaku Muslim, sementara orang alimnya diam seolah membiarkan terjadinya pembodohan massal, naudzu billah.

Tanggal satu Muharram yang berbarengan dengan tanggal satu suro dalam perhitungan penanggalan jawa, selalu di warnai dengan ritual syirik, memandikan keris, mengarak kerbau, mandi massal untuk menolak bala, dll yang sama sekali tidak ada tuntunannya dari Rasulullah dan tak pernah di lakukan oleh para sahabat tabiit dan tabi’en, tidak ada dalam insklopedi ajaran Islam.

Jika sudah begitu buat apa kita lakukan, karena hal itu akan jadi benalu , parasit dalam ajaran Islam bahkan menghambat untuk kita memahami kemurnian ajarannya,. Ayat di atas merupakan warning (peringatan dari Allah) agar kita tidak mencampur baurkan yang hak(yang datang dari Allah) dengan yang batil (yang datang dari prilaku manusia), artinya membaurkan ajaran Islam dengan ajaran selain Islam ..

Catatan ini mengajak kepada kaum muslimin untuk kembali kepada Aqidah yang murni yang di ajarkan oleh nabi-nabi Allah, dengan cara meninggalkan yang syirik, dosa yang tidak ada ampunannya kepada tauhid, seperti apa yang telah menjadi prinsip utama dalam dakwah para nabi, yaitu menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah , atau meng Esakan Allah.

Silahkan baca artikel lainnya yang terkait dengan pos di atas

0 komentar

Posting Komentar

Sampaikan keritik dan saran anda