MagzNetwork

Isra’ mi’raj

Diposting oleh Mastindi | 16.44 | | 0 komentar »

z`»ysö6ß üÏ%©!$# 3uŽó r& ¾ÍnÏö7yèÎ/ Wxøs9 šÆÏiB ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# n<Î) ÏÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtƒÎŽã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»tƒ#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÈ  

1.     Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya  agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Isra’ (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi’raj (naiknya Rasulullah SAW dari bumi Palestina ke Sidratil Muntaha) adalah peristiwa agung, yang kita kenal dengan “MU’JIZAT            , yakni peristiwa luar biasa sebagai tanda kenabian yang berada di luar logika manusia.

Allah telah memulia ayat-Nya yang mulia dengan kalimat Tasbih (Subhanallah) yang jarang diberlakukan pada ayat yang lain, yang mana peristiwa luar biasa tersebut pada akhir kemudiannya menjadi fitnah di kalangan ummat Islam, yang dangkal imannya, yakni tentang apakah rasul Isra’ mi’rajnya dengan jasad, atau ruhnya saja ? atau hanya mimpi saja ?

Ada yang mengatakan “secara logika dengan perjalanan yang begitu singkat pada jarak yang begitu jauh, tidak mungkin rasul Isra’ mi’rajnya dengan jasad, karena secara teori fisika, bila benda padat dilontarkan dengan kecepatan tinggi bahkan melebihi kecepatan cahaya maka akan hancur.

Yang lain mengatakan peristiwa Isra’ mi’rajnya adalah mu’jizat jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam mu’jizat karena pelakunya adalah Allah.

Yang lain mengatakan Rasulullah Isra’ mi’rajnya hanya melalui mimpi.

Bagi saya yang awam mencoba memahami peristiwa tersebut dengan logika keimanan karena logika keimanan wilayahnya bukan otak dengan akalnya namun wilayahnya adalah hati.

Saya memahami juga melalui tata bahasa dari ayat tersebut.

Pertama : Allah memulai ayat-Nya dengan kalimat Tasbih (Subhanallah) yang menunjukkan ayat tersebut merupakan visualisasi dari sebuah mu’jizat.

Kedua :ayat tersebut pada kata kerjanya (Asra)menggunakan kata kerja aktif (Muta’addi) di mana dalam ayat tersebut subjek/fail atau pelaku bukanlah Rasulullah melainkan Allah, posisi rasul ketika itu adalah pasif, yang bekerja adalah Allah.

Ketiga: ayat tersebut pada Maf’ulbihnya/objeknya menggunakan kata bantu “BI (bi’abdihi) yang menunjukkan kekhususan/littahsis, ini artinya hanya Rasulullah yang diberikan kekhususan dalam perjalanan tersebut, dan tidak diberikan kepada nabi dan rasulnya yang lain.

Ke empat: kata/kalimat “LAILAN, adalah isim Nakirah yang menunjukkan makna umum, namun dalam redaksi ayat tersebut kalimat “LAILAN mempunyai makna sedikit, yakni sedikit malam, sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, bahwa perjalanan Isra’ mi’rajnya baginda mulia hanya memakan waktu tak lebih dari semalam, itulah yang menjadi tanda akan mu’jizatnya, yakni perjalanan jauh ditempuh dengan waktu yang singkat.

Ke lima : mengambil star dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsa yang kelak keduanya menjadi kiblat ummat Islam.

Ke enam : rute perjalanan Isra’ mi’rajnya, ialah di daerah yang sebelumnya telah dilahirkan beberapa nabi dan rasul dan setelahnya menjadi bukti keteguhan keimanan ummat Islam yakni Palestina sebagai yang menjadi tujuan jalan pintas menuju surga , yaitu dengan berjihad membela kehormatan ummat Islam yang dilambangkan dengan Masjidil Aqsa.

Selanjutnya : Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan berbagai peristiwa di luar logika kita dalam perjuangan ummat Islam di Palstina.

Ini pandangan saya , lalu bagaimana menurut anda ?


Silahkan baca artikel lainnya yang terkait dengan pos di atas

0 komentar

Posting Komentar

Sampaikan keritik dan saran anda