MagzNetwork

Jaga Aqidah Kita

Diposting oleh Mastindi | 17.50 | | 0 komentar »

Ajaran Wihdatul Wujud
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Wihdatul wujud adalah keyakinan bahwa Allah ta’ala menyatu dengan alam semesta. Tidak terpisah antara makhluk dan Khaliq (Sang Pencipta). Karena itu, wujud alam semesta ini hakekatnya merupakan wujud Allah sendiri. Sehingga dzat makhluk adalah Dzat Allah itu sendiri. (Firaq Mu’ashirah, 3/994).
Mukadimah keyakinan ini adalah aqidah hulul, yaitu keyakinan ittihad jismain [arab:اتحاد جسمين], bersatunya dua benda. Dari kata halla-yahullu [arab: حَلَّ – يَحُل], yang artinya masuk atau menempati. Dalam aqidah hulul, diyakini bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya. Terutama makhluk-Nya yang khusus, yaitu para wali. (Firaq Mu’ashirah, 3/987)
Pencetus aqidah ini adalah seorang tokoh sufi, Husain bin Manshur, yang terkenal dengan sebutan al-Hallaj. Dia memiliki prinsip bahwa Allah ibarat ruh yang bertempat di setiap benda, dan tidak ada pemisah antara al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan Makhluk.
Dalam bait syairnya, al-Hallaj mengatakan,
أنا من أهوى ومن أهوى أنا … نحن روحان حللنا بدنا
فإذا أبصرتني أبصرته … وإذا أبصرته أبصرتني
Saya orang yang menggerakkan dan orang yang menggerakkan adalah saya
Kami dua ruh yang menetap di satu jasad
Jika Engkau melihatku, akupun melihat-Nya
Dan jika aku melihat-Nya, Engkau melihatku.
(Firaq Mu’ashirah, 3/988).
Pioneer Aqidah Wihdatul Wujud
Manusia yang paling berjasa dalam menyebarkan Wihdatul Wujud adalah Ibnu Arabi (mati 638 H). Nama lengkapnya Muhammad bin Ali al-Arabi, at-Tha’i, dari Andalusia. Salah satu tokoh besar sufi. Dulunya, Ibnu Arabi adalah tukang tulis para pejabat. Di usia 30 tahun, dia berpindah ke Tunisia, kemudian melakukan perjalanan lagi ke Kairo dan Mekah. Di tahun 598 H, dia mulai menulis buku tebalnya, al-Futuhat al-Makiyah.
Kemudian dia berpindah ke Damaskus Suriah. Di kota ini, dia mendapatkan fasilitas dari keluarga Ibnu az-Zakki dan beberapa anggota keluarga Daulah Ayubiyah – Daulah Salahudin Al-Ayubi –. Di sinilah, Ibnu Arabi mulai menulis kitabnya Fushus al-Hikam serta menyempurnakan kitabnya, al-Futuhat al-makiyah.
Dua buku ini, selanjutnya menjadi pijakan dasar bagi aqidah wihdatul wujud.
Menurut adz Dzahabi, Ibnu ‘Arabi merupakan kiblat bagi para penganut paham aqidah wihdatul wujud.
Dampak Keyakinan Wihdatul Wujud
Keyakinan ini melahirkan doktrin yang sangat aneh dan jelas bertentangan dengan akal dan naluri. Membaca komentar mereka akan membuat kita terheran-heran, sampai seperti itukah setan menyesatkan mereka. Berikut beberapa komentar mereka tentang Tuhan,
1. al-Hallaj mengatakan dirinya bersatu dengan Tuhan,
مُزجت روحي في روحك كما — تُمزجُ الخمرة بالماء الزلال
فـإذا مسّــك شـــيءٌ مسّـني — فإذا أنت أنا في كلّ حال
Ruhku bercampur dengan ruh-Mu … sebagaimana khamr bercampur dengan air bening
Jika ada sesuatu yang menyentuh-Mu, diapun menyentuhku … ternyata aku dan Kamu selalu bersama (Diwan al-Hallaj, hlm. 82).
Imam Ad-Dzahabi menjelaskan tentang keadaan al-Hallaj:
الحلاج المقتول على الزندقة ، ما روى ولله الحمد شيئا من العلم ، وكانت له بداية جيدة وتأله وتصوف، ثم انسلخ من الدين ، وتعلم السحر ، وأراهم المخاريق . أباح العلماء دمه ، فقتل
Al-Hallaj yang dihukum mati karena kemunafikannya, tidak menyampaikan ilmu sedikitpun – alhamdulillah –. Dulunya dia orang baik-baik, beribadah kemudian menjadi sufi, kemudian dia menyimpang dari agama, mempelajari sihir dan beberapa kesaktian. Para ulama menilai halal darahnya, hingga dia dibunuh. (Mizan al-I’tidal, 2/71).
2. Beberapa Pernyataan Ibnu Arabi
Pernyataan 1:
إن الرجل حينما يضاجع زوجته إنما يضاجع الحق
“Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah – Jamil Zainu).
Pernyataan 2:
الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ …. يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ
إِنْ قُلْتَ عَبْدٌ فَذَاكَ رَبٌّ … أَو قُلْتَ رَبٌّ فَأَنّى يُكَلَّفُ
“Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba.
Duhai, siapakah yang diberi kewajiban beramal?
Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb.
Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?”
(Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, 3/892).
Pernyataan 3:
فَيحمدُني وأحمدُه ويعبدُني وأعبدُه
“Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)
Pernyataan 4:
وما الكلب والخنزير إلا إلهنا ..وما الله إلا راهب بكنيسة
Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami….
Dan bukanlah Allah, kecuali seorang pendeta di gereja!
Wihdatul Adyan
Diantara pengaruh besar aqidah Wihdatul Wujud adalah keyakinan wihdatul adyan, kesatuan agama, dan semua agama itu sama. Karena semua yang beragama berarti menyembah Tuhan dan semua Tuhan itu sama.
Ibnu Arabi pernah mengatakan,
وقد كنت قبل اليوم أنكر صاحبي *** إذا لم يكن ديني إلى دينه داني
فأصبح قلبي قابلاً كل حالة *** فمرعىً لغزلان، ودير لرُهبان
وبيتٌ لأوثانٍ وكعبةِ طائف *** وألواح توراةٍ ومُصحف قرآن
“Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku.
Kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta…
Tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.”
(Al-Futuhat Al-Makkiyyah).
Ibnu Arabi juga mengetakan,
عقد الخلائق في الإله عقائدا وأنا اعتقدت جميع ما اعتقدوه
Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan. Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu. (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, 2/98)
Pernyataan semisal juga pernah disampaikan Jalaluddin Rumi – tokoh besar sufi dan penyair dari Iran –,
مسلم أنا ولكني نصراني، وبرهامي، وزادشتي، ليس لي سوى معبد واحد …
مسجد، أو كنيسة، أو بيت أصنام…
Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala. (Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah – Jamil Zainu).
Wihdatul Wujud di Indonesia
Wihdatul wujud bukan organisasi atau kelompok aliran. Karena itu, tidak kita jumpai ada organisasi wihdatul wujud. Wihdatul wujud lebih tepatnya merupakan sebuah pemikiran dan keyakinan. Di Indonesia, ideologi wihdatul wujud banyak dikembangkan oleh para penghasung sufi dan liberal. Yang menunjukkan betapa dekatnya tasawuf dengan liberal.
Termasuk juga aqidah pluralisme, yang menanamkan prinsip bahwa semua agama adalah sama. Hingga terlahir pondok pesantren multi-theisme dan fikih lintas agama (FLA). Itu bagian dari doktrin wihdatul wujud.
Termasuk juga keyakinan, dari pada mengaku muslim tapi tidak baik, lebih baik ngaku kafir yang juga sama-sama tidak baik. Karena bagi mereka muslim maupun kafir adalah sama.
Realita ini menunjukkan agar kita semakin rajin belajar, mengkaji islam sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama penganut mereka. Dengan itu, kita bisa memahami islam yang benar, dan dalam waktu yang sama, kita juga memahami aliran yang menyimpang.
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman. serta jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang mendapatkan bimbingan. (HR. Ahmad 18325 dan Nasai 1305).
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

 

Silahkan baca artikel lainnya yang terkait dengan pos di atas

0 komentar

Posting Komentar

Sampaikan keritik dan saran anda