MagzNetwork

Gangguan virus pada komputer

Diposting oleh Mastindi | 19.54 | | 0 komentar »

Pernah main PB (poin Blank) ? rasanya jengkel banget kalau lagi ngelek, sebenarnya ngelek atau putus-putus pada PB atau permainan lain yang membutuhkan resolusi grafis yang tinggi karena beberapa hal di antanya

· .VGA baik internal maupun external yang tidak support

· Ram yang terlalu kecil

· .Kemampuan prosesor (pemeroses data) yang sangat rendah

· .Hdd yang memiliki ruang simpan terllau sempit, atau ruang kosong yang minim

· .Gangguan koneksi , baik pada kabel LAN (bila di warnet) modem yg terlalu panas atau gangguan dari pusat (profider)

· .Virus

Yang terakhir ini yang akan admin bahas sesuai pengalaman,. Virus yang menginfeksi sebuah kompi, terutama pada computer warnet , baik pada clean maupun server akan mondar mandir padajaringan koneksi yang mengakibatkan leletnya looding, bahkan hang yang lebih parah adalah sering restar, terutama pada jenis Trojan.

Kecepatan pada koneksi warnet yang menggunakan paket game (sekarang familia) adalah 100.0 mpbs maka dengan asumsi tersebut bisa kita kalkulasi berapa tiap kompi mendapatkan kecepatan ? bila menggunakan 5 atau 6 komputer berikut server.

Sekarang bagaimana kalau kita tidak menggunakan pembagi banwid baik bawaan windows yang tidak diaktifkan atau tidak menggunakan aplikasi pembagi banwid baik gratisan maupun bayar, maka yang terjadi dengan mondar mandirnya virus pada jaringan koneksi masing masing kompi akan saling tarik menarik mengambil banwid , akibatnya kecepatan akan menurun pada tiap kompi dengan , tentunya semakin jelek system pada sebuah kompi (baik karena fail yang rusak atau hilang) maka semakin sedikit mendapat bagian kecepatan koneksi maka akibatnya dengan koneksi yang lambat apapun yang kita buka menjadi lelet,. Bukan hanya PB tapi juga yang lain, hal inu terjadi karena virus menghalangi kecepatan koneksi.

Virus biasanya menular ke kompi bila sudah berbentuk jaringan yakni dari kompi yang lain, melalui flash dish atau pada saat mendownload data, maka sebaiknya tiapa kompi menggunakan Difreeze (pembeku partisi) .

Solusinya pakai anti virus yang handal, pakai difreze , gunakan program Norton ghos untuk install non format pada saat kompi sudah parah kerusakan system windowsnya.

Memaknai kata tuhan

Diposting oleh Mastindi | 15.29 | | 0 komentar »

Masih ingat saat Tarbiyah dulu, morabbiku menjelaskan ta’rif atau difinisi tuhan

1. Tuhan ialah sesuatu yang kita butuhkan , namun ia tidak butuh kepada kita

2. Tuhan ialah sesuatu yang kita rela di dominasi olehnya.
Dalam sebuah kitab tarbiyah dijelaskan tuhan ialah sesuatu yang

1. Membuat kita merasa tenang, atau bisa menenangkan
2. Kita merasa terlindungi olehnya, atau bisa melindungi kita
3. Kita selalu merasa rindu
4. Sangat kita cintai

Kalau kita rangkum apa yang di sampaikan oleh morabbiku dan sebuah buku tarbiyah sebenarnya merupakan inti dari sebuah ayat yang artinya :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS 45;23)

Apa yang didefinisikan di atas sebenarnya bersumber dari kehendak jiwa atau an-nafs, yang sifatnya sangat manusiawi atau wajar, namun apabila hal tersebut berlebihan hingga mengalahkan perasaan kita kepada sang Pencipta maka kita telah membuat andad atau tandingan, selain dari Allah, saya paparkan sebuah contoh, seorang yang sangat mencintai sesuatu seperti pekerjaan , berangkat subuh hari dan pulang larut malam lalu tidur, dan tidur pun itu sendiri adalah bahagian dari kerja , yakni persiapan untuk berangkat subuh hari,sementara shalat yang menjadikan kewajiban dia selaku muslim terabaikan, berarti dia telah merelakan dirinya di dominasi oleh pekerjaan, yang mana pekerjaan itu sangat ia butuhkan sementara pekerjaan itu tidak membutuhkan dia.

Tapi manakala semua hal tersebut di tujukan kepada Allah , yakni hanya Dia yang kita butuhkan, kita ridho seluruh hidup kita di dominasi oleh kehendak Nya, kita merasa tenang dan terlindungi saat mengingat Nya, sangat merindukan Nya dan sangat mencintai Nya, maka secara otomatis hal tersebut akan melahirkan pengorbanan dalam segala hal, dalam arti kata apa saja yang menjadi kehendaknya bukanlah suatu hal yang memberatkan untuk dilaksanakan, tapi merupakan hal yang menyenangkan saat mampu menunaikan kehendak Nya, itulah yang kita kenal sebagai ciri ke imanan.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS 33;36)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS 2;165)

Lalu selanjutnya sejauh mana pengorbanan kita sebagai wujud rasa cinta kepada Allah ?..

kewajiban bukan paksaan

Diposting oleh Mastindi | 07.15 | | 0 komentar »




tidak ada paksaan dalam agama (QS 2;256)



ayat di atas terkadang di jadikan sebagai argumen bagi sebagian kaum muslimin untuk menghindari kewajibannya sebagai seorang muslim, padahal bukan pada tempatnya ayat tersebut di jadikan suatu alasan , padahal sebenarnya mereka malas dalam menjalankan perintah Allah.


Asbabun nuzul ayat tersebut sebenarnya berkaitan dengan teguran Allah kepada para sahabat, melalui lisan rasulullah yang menyampaikan isi kitabnya agar tidak memaksa keluarganya untuk masuk ke dalam Islam.


dalam hal ini saya akan memberikan sebuah analog atau kiasan " yakni sebuah lembaga ' katakanlah sekolah pasti !,. pasti mempunyai aturan atau etika sebagai tata tertib yang berlaku dalam lembaga tersebut, dan peraturan itu berlaku secara mutlak bagi siapa saja yang masuk dalam institusi tersebut, tapi bagi siswa/siswi yang tidak menimba ilmu di sana tentulah mereka bebas,. tidak terikat dalam aturan yang ada pada lembaga sekolah tersebut, namun sebaliknya bila mereka mendaftar dan masuk menjadi murid di sana maka aturan itu dengan sendirinya berlaku secara otomatis, dan aturan tersebut di buat tentunya dengan tujuan untuk kebaikan bersama. intinya tak ada paksaan untuk masuk dalam lembaga tersebut, namun bila sudah bergabung secara mutlak aturan yang ada harus di patuhi.


bagaimana dengan aturan Islam ? Allah maha pencipta , Dia mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya, aturan Islam (Allah) sangat Fitrah , sangat sesuai dengan sifat dasar dan karakter manusia,namun terkadang kita merasa aturan tersebut sebagai belenggu.


sebenarnya selama perintah itu menyangkut ibadah yang bersifat ritual individual, yakni hanya melibatkan dia dengan Allah, adalah haknya, antara di abaikan dan di tunaikan karena semua bertanggung jawabannya akan di tanggung sendiri oleh yang bersangkutan di hadapan Allah, namun manakala ibadah tersebut berkaitan dengan kewajibannya terhadap sesama manusia, yakni adanya hak orang lain yang harus di tunaikan , karena merupakan amanah Allah , maka mau tak mau harus di paksa, seperti zakat dan apa yang telah dipraktekkan oleh sayyidina Abu Bakar.


apa yang saya paparkan merupakan pendekatan melalui sebuah contoh, tidak sama persis memang namun paling tidak untuk mendekatkan pemahaman kita pada subuah ungkapan dengan bahasa yang dekat dengan kita, agar mudah dan sederhana dalam pengertiannya. insya Allah.. dan semoga berfanfaat


Ulama pilih tanding

Diposting oleh Mastindi | 06.12 | | 0 komentar »
Pujian Para Ulama Terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad HaritsSyariah, Kajian Utama, 04 - Februari - 2009,

Keharuman nama beliau tidak hanya diakui oleh sahabat dan murid-murid beliau. Bahkan sebagian seteru beliau juga memberikan sanjungan tidak hanya berkaitan dengan keilmuan beliau tapi juga pribadinya. Di antara mereka adalah Al-Qadhi Ibnu Makhluf yang juga lawan beliau, sebagaimana telah dinukil sebelumnya.Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu, seorang ulama yang ahli dalam dua mazhab; Maliki dan Syafi’i, menceritakan pengalamannya ketika berkumpul dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu: “Saya lihat dirinya, dalil itu seolah-olah ada di depan matanya. Dia ambil mana yang dia mau dan dia tinggalkan mana yang dikehendakinya.” Ibnu Az-Zamlakani rahimahullahu, juga mengatakan: “Terkumpul pada dirinya (Ibnu Taimiyah) syarat-syarat seorang mujtahid secara sempurna. Dia mempunyai andil besar dalam karya-karya bermutu, ungkapannya yang bernas dan sistematis.”Secara khusus, beliau memberi pujian terhadap karya Syaikhul Islam yang berjudul Raf’ul Malam ‘an A’immatil A’lam. Kata beliau: “(Ini) adalah karya tulis Asy-Syaikh Al-Imam, Al-‘Alim Al-‘Allamah, tidak ada tandingannya, hafizh mujtahid, tokoh zahid ahli ibadah, teladan, imam para imam, panutan umat, keagungan ulama, pewaris para Nabi, barakah Islam, hujjatul Islam, pemberantas bid’ah, menghidupkan sunnah. Bagian dari anugerah besar yang Allah k berikan kepada kita, yang dengannya tegaklah hujjah terhadap musuh-musuh-Nya.”Lalu beliau menulis beberapa bait memuji Syaikhul Islam
:مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لَهُ * وَصِفَاتُهُ جَلَّتْ عَنِ الْحَصْرِهُوَ حُجَّةٌ للهِ قَاهِرَةٌ * هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَةُ الدَّهْرِهُوَ آيَةٌ ِللْخَلْقِ ظَاهِرَةٌ * أَنْوَارُهَا أَرْبَتْ عَلَى الْفَجْرِ
Apa yang kan diuraikan mereka yang mensifatkannyaSedangkan sifat-sifatnya melampaui batasanDia adalah hujjah Allah yang menaklukkanDia adalah keajaiban masa di tengah-tengah kitaDia adalah satu ayat Allah yang nyata bagi makhluk-NyaCahayanya mengalahkan kemilau fajarIbnu Az-Zamlakani juga menyatakan:
“Apabila dia ditanya tentang satu cabang ilmu, niscaya orang yang mendengar dan melihatnya pasti menyangka Ibnu Taimiyah tidak punya ilmu lain kecuali itu, dan memastikan bahwa tidak ada satupun yang memahami seperti dia. Ahli fikih dari berbagai mazhab, jika berdiskusi dengannya, niscaya mereka memetik faedah dari beliau hal-hal yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Tidak pula pernah terdengar bahwa beliau berdebat dengan seseorang lalu kalah.
Jika dia membahas satu cabang ilmu –baik ilmu syariat atau lainnya–, niscaya beliau mengungguli orang-orang yang ahli di bidang tersebut. Beliau memiliki kelebihan dalam karya tulis, ungkapan yang berisi, runut, juga dalam pembagian dan pejelasan.”As-Subki, setelah mendapat teguran dari syaikhnya, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu, dia mengatakan: “Adapun ucapan sayyidi (tuanku) tentang syaikh (Ibnu Taimiyah), maka hamba menyaksikan besarnya kedudukan beliau, luasnya ilmu beliau dalam hal syariat maupun logika, juga kejeniusannya, ijtihadnya, yang semua itu beliau capai melampaui keadaan yang disifatkan orang.
Hamba senantiasa mengatakan bahwa kedudukan beliau dalam diri hamba amatlah agung dan lebih mulia dari itu. Seiring dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada beliau, berupa sifat zuhud, wara’, diyanah (pengamalan terhadap agama), membela al-haq, berdiri di atas kebenaran tanpa tujuan lain, serta perjalanannya di atas cara hidup kaum salaf, serta capaiannya yang luar biasa, yang sangat jarang ditemukan seperti itu di zaman ini, bahkan di zaman kapanpun.” Tajuddin As-Subki sendiri merasa bangga ketika Al-Mizzi menulis biografi ayahnya Taqiyuddin As-Subki dengan gelar Syaikhul Islam, dan tidak menuliskan gelar ini kecuali hanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ayahnya As-Subki. Seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang mubtadi’, zindiq apalagi kafir, tentulah dia tidak rela ayahnya disejajarkan dengan Ibnu Taimiyah. Al-‘Allamah Al-Imam Qadhi Qudhah Mesir dan Syam, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ash-Shafi ‘Utsman Ibnul Hariri Al-Anshari Al-Hanafi menegaskan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukan Syaikhul Islam, siapa lagi?”Al-Imam Al-Mizzi (penyusun Tahdzibul Kamal) menyatakan pujiannya: “Saya tidak pernah melihat tokoh seperti dia. Diapun tidak melihat ada yang seperti dirinya. Saya tidak pernah melihat tokoh yang paling tahu tentang Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah serta paling teguh mengikuti keduanya daripada beliau.”Seorang syaikh yang shalih, ahli ibadah, Abu Thahir Muhammad Al-Ba’li Al-Hanbali rahimahullahu membawakan beberapa bait syair, memuji Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Di antara pujian beliau:
يَا ابْنَ تَيْمِيَّةَ ياَ أَنْصَحَ الْعُلَمَا * يَا مَنْ لِأَسْرَارِ دِيْنِ اللهِ قَدْ فَهِمَايَا آيَةً ظَهَرَتْ فِي اْلكَوْنِ بَاهَرَةً
*
لاَ ِزلْتَ فِي سِلْكِ دِيْنِ اللهِ مُنْتَظِمًاوَكُنْتَ وَاسِطَةً فِي عَقْدِهِ أَبَدَا * تُزِيْلُ مِنْهُ اْلأذَىَ وَاْلفَحْشَ وَالسَّقَمَاجَمَعْتَ مِنْهُ الَّذِي قَد كَانَ فَرَّقَهُ * قَوْمٌ رَأَوْهُ هُدًى مِنْهُ وَكَانَ عَمَىHai Ibnu Taimiyah, hai ulama yang banyak memberi nasihatHai orang yang paham rahasia dien AllahHai ayat yang nampak cemerlang di alam semestaEngkau senantiasa tersusun di dalam dien Allah iniEngkau menjadi perantara dalam menguatkannya selamanyaEngkau lenyapkan kotoran darinya, juga kekejian dan kerusakanEngkau kumpulkan dari dien ini apa yang dahulu diserakkanOleh kelompok yang menyangkanya hidayah padahal dia butaIbnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu juga mengatakan (Fathul Bari 6/289): “...tambahan ini tidak ada sedikitpun dalam buku-buku hadits. Hal ini telah diperingatkan oleh Al-‘Allamah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah.” Di dalam kitab lainnya (At-Talkhishul Habir 3/179), Ibnu Hajar memuji beliau sebagai Al-Hafizh. Jalaluddin As-Suyuthi (pengarang Al-Itqan dan Tafsir Jalalain) mengatakan: “Demi Allah, belum pernah kedua mata saya melihat orang yang paling luas ilmunya dan paling kuat kecerdasannya daripada seseorang yang bernama Ibnu Taimiyah, disertai sikap zuhudnya dalam berpakaian, makanan, wanita dan senantiasa tegak bersama al-haq (kebenaran) dan berjihad dengan segenap kemampuannya.”Kata beliau juga: “Ibnu Taimiyah adalah seorang syaikh, imam, Al-‘Allamah, hafizh, kritikus, ahli fiqih, mujtahid, pakar tafsir yang ulung, Syaikhul Islam. Simbol kezuhudan, salah seorang tokoh yang langka di zamannya. Beliau adalah lautan ilmu, jenius dan ahli zuhud yang sulit dicari tandingannya.” Terakhir, perhatikanlah ucapan As-Subki (ayah Tajuddin As-Subki) tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, ketika menegur orang yang mencerca Ibnu Taimiyah: “Demi Allah, hai Fulan. Tidaklah ada yang membenci Ibnu Taimiyah melainkan orang yang jahil atau pengikut hawa nafsu. Adapun orang jahil, dia tidak tahu apa yang dikatakannya. Sedangkan pengikut hawa nafsu, dia dihalangi oleh hawa nafsunya dari al-haq setelah dia mengetahuinya.” Jadi, hanya ada dua kemungkinan pada diri orang-orang yang memusuhi Ibnu Taimiyah rahimahullahu; orang jahil yang tidak mengerti apa yang dia katakan, atau orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sehingga ilmu dan kebenaran yang diketahuinya, tentang pribadi Syaikhul Islam atau pemikirannya, terkubur oleh dendam kesumat, kedengkian, dan kesesatan bid’ah yang diyakininya. Wallahul musta’an.Wafat dalam PenjaraSyaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menghabiskan hidupnya dengan penuh kesabaran, rasa syukur dan perjuangan, baik dalam keadaan susah maupun senang.
Tidak sekalipun beliau ber-mujamalah (menjilat) dalam amar ma’ruf nahi munkar, bahkan tidak pernah beliau mundur dari perkataan yang haq, selamanya. Sikap terus terang dan keberanian beliau dalam menyuarakan yang haq, berkali-kali menyeret beliau ke penjara. Mungkin itu pula salah satu sebab beliau tidak menikah.Pada tahun 726 H, adalah akhir dari hukuman penjara yang beliau terima. Ini disebabkan pemalsuan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya terhadap fatwa beliau tentang ziarah kubur. Sehingga seolah-olah Syaikhul Islam mengharamkan ziarah kubur terlebih lagi makam Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ditambah lagi, sikap beliau kepada Sultan Nashir Al-Qalawun yang beliau perlakukan sebagai murid. Beliau tidak segan-segan menegur dan membimbingnya, sehingga sering Baginda merasa berat. Apalagi setelah Syaikhul Islam menulis As-Siyasah Asy-Syar’iyah. Akhirnya, musuh-musuh beliau berusaha mencari kesempatan melepaskan kekuasaan pemerintah (Sultan) dari pengaruh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang tidak pernah bersikap munafik, riya, atau menjilat demi mencari keselamatan pribadi.Ibnu Taimiyah kembali dipenjarakan. Tapi yang terakhir ini lebih berat beliau rasakan. Perlakuan yang beliau terima lebih buruk dari sebelumnya. Beliau dijauhkan dari semua alat tulis dan dilarang melakukan penelitian (membaca). Hanya saja, penderitaan itu tidak berlangsung lama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah akhirnya sakit keras beberapa hari.
Hal itu mulai dirasakan sejak dikeluarkannya semua perlengkapan tulis menulis dan membaca dari sisi beliau selama di penjara. Begitu mengetahui beliau sakit, Syamsuddin Al-Wazir meminta izin menjenguk beliau. Melihat keadaan beliau, dia meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Oleh Syaikhul Islam, dia dimaafkan bahkan semua yang memusuhinya, termasuk Sultan Nashir Al-Qalawun yang memenjarakannya. Kemudian, pada malam 22 Dzul Qa’dah 728 H, wafatlah Syaikhul Imam, Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Hafizh Az-Zahid, Al-Mujahid Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Al-Imam Syihabuddin Abul Mahasin ‘Abdul Halim bin Syaikhul Islam Abul Barakat ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Abul Qasim Muhammad bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Al-Khidhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani Ad-Dimasyqi, di dalam tembok penjara Damaskus. Berita ini mulanya hanya diketahui orang-orang yang di dalam penjara. Kemudian, berita ini meluas hingga didengar oleh kaum muslimin. Mereka terenyak. Berita itu betul-betul menggemparkan. Akhirnya, berduyun-duyun mereka menuju ke benteng tersebut untuk melihat jenazah beliau.
Setelah itu mereka keluar, kemudian masuklah kaum wanita seperti itu juga. Setelah selesai dimandikan oleh sebagian tokoh seperti Al-Mizzi, jenazah beliau dibawa ke luar penjara. Masyarakatpun berkumpul ikut menyaksikan prosesi jenazah beliau. Mereka rela menutup pintu toko dan menghentikan aktivitas mereka demi mengiringi jenazah beliau. Kaum wanita yang tidak ikut serta, berdiri di atas rumah-rumah mereka melepas jenazah sang imam. Sebagian mereka membagi-bagi daun bidara yang dipakai untuk memandikan beliau.
Ibnu Katsir rahimahullahu memperkirakan dalam Al-Bidayah, ada sekitar 15.000 orang wanita ikut mengantar jenazah beliau.
Belum lagi yang ada di atas rumah-rumah mereka.
Semua mendoakan rahmat dan menangisi beliau. Para tentarapun ikut sibuk mengamankan prosesi jenazah tersebut.Air mata tumpah, langitpun menangis. Ratapan duka dan doa mengantar jenazah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu.
Seluruh rakyat di sekitar penjara benteng tersebut tumpah ke jalanan mengantarkan jenazah beliau. Pintu-pintu masjid Jami’ tak cukup menampung desakan rakyat banyak yang ingin mendekati jenazah beliau.
Kejadian ini tak jauh beda dengan prosesi pemakaman jenazah Imam Ahli Sunnah wal Jamaah Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullahu. Di mana ketika beliau wafat di Baghdad, ratusan ribu manusia mengantar jenazah beliau ke pemakaman. Al-Imam Ahmad pernah mengatakan kepada ahli bid’ah: “Katakan kepada ahli bid’ah: ‘Keputusan antara kami dan kamu (ahli bid’ah) adalah yaumul janaiz (hari kematian)’.”Beliau dikebumikan setelah selesai shalat ‘ashar di pemakaman Shufiyah, di sebelah kuburan saudaranya Syarafuddin ‘Abdullah. Di situ pula dikebumikan salah seorang murid beliau yang terkemuka yaitu Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumullah beberapa tahun kemudian.Setelah dikebumikan, Asy-Syaikh Al-Imam Burhanuddin Al-Fazari dan sejumlah ulama besar Asy-Syafi’iyah selama tiga hari berulang-ulang mengunjungi kuburan Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Tidak ada yang tertinggal mengantar jenazah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ke pemakaman kecuali mereka yang lemah dan tidak dapat hadir, serta tiga orang yang sangat keras permusuhannya terhadap beliau, yaitu Ibnu Jumlah, Ash-Shadr, dan Al-Qafjari. Mereka yakin, seandainya mereka ikut keluar niscaya umat akan menyakiti bahkan membunuh mereka.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati ulama salaf yang telah wafat dan memelihara mereka yang masih hidup.1 Ibnu Katsir rahimahullahu menceritakan tentang kenyataan yang terjadi saat itu. Dan sebenarnya wanita dimakruhkan mengiringi jenazah. –ed
Untuk artikel ini admin menccopy dari sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

Buku garansi dari Allah

Diposting oleh Mastindi | 06.46 | | 0 komentar »

Seorang anak muda datang ke sebuah toko elektronik untuk membeli satu unit DVD player, setelah mendapatkan barang yang menjadi impiannya maka ia pun bertanya tentang harga barang yang di carinya tersebut, sang pemilik toko mulai melepas harga dan anak mudapun mulai mengadakan negosiasi alias tawar menawar harga barang tersebut, singkat cerita akhirnya tercapailah harga yang disepakati.

Sang anak muda rupanya cukup berpengalaman tentang status dan jaminan sesuatu barang, maka ia pun bertanya kepada sang pemilik toko dan terjadilah dialog berikutnya.

Pembeli : ada garansinya gak nih ?

Pemilik toko : yah ! tentu ada

Pembeli : berapa lama ?

Pemilik toko : 6 bulan ! tapi ingat, garansi berlaku manakala anda memakai barang ini sesuai petunjuk penggunaan yang ada dalam buku “petunjuk pemakaian , ini bukunya !.. (pemilik toko menyodorkan buku petunjuk tersebut) maka anak muda itupun menerima dan setelah itu ia meneliti sumber buku tersebut, dan ternyata benar !. buku tersebut di terbitkan dari produsen barang tersebut.

Pembeli : terima kasih !., buku ini sangat pembantu saya dalam merawat barang ini (jujur sang pemuda)

Sebenarnya cerita di atas hanyalah tamtsil antara kita dengan Allah, Allah yang menciptakan kita, mengetahui kita, dari yang terkecil s/d yang terbesar baik kongkrit maupun abstraknya , dari ketiadaan s/d adanya bahkan s/d akhir hidup kita kelak dari zaman azali sampai dengan kebangkitan. Bukan hanya diri kita, tapi yang akan terjadi yang berkaitan dengan kita , persoalan hidup , bagaimana menjaga kelangsungan hidup kita yang ditopang oleh lingkungan, menata pranata sosial, ekonomi, politik dan sebagainya,. Allah yang tahu bagaimana mencari solusinya, karena semua yang ada adalah makhluknya (ciptaannya)

Bila sebuah perusahaan mengeluarkan buku petunjuk sebagai pelayanan purna jual dalam bentuk petunjuk pemakaian, lalu tak cukup dengan itu sebagai jaminan, produsen juga memberikan garansi atas barang produksinya, tapi dengan syarat “ pemakaian barang harus sesuai dengan buku panduan pemilik yang di keluarkan oleh perusahaan , bila tidak atau pemilik memakai buku petunjuk lain , maka jaminan tidak berlaku atau hangus.

Bagaimana dengan Allah sebagai pencipta manusia ? Dia Allah adalah maha segalanya, buku petunjuk yang diberikan Allah fungsinya bukan hanya untuk merawat manusia secara lahiriyah, tapi juga merawatnya secara batiniyah bahkan merawat semua hal, baik yang berkaitan secara langsung dengan manusia maupun tidak, dan garansinya tanpa batas, bukan hanya seumur hidup tapi sampai kembali kepada sang pencipta.

Manusia tak perlu ragu akan janji Allah, bila kita berada di jalannya, meski tubuh ini renta atau hancur baik karena perjalanan usia maupun syahid di jalan Allah , Allah akan menggantinya dengan kehidupan yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya.

Apa buku petunjuk itu ? dialah al-Qur,an yang dijelaskan secara rinci oleh Rasulullah dalam bentuk hadits, dan di jelaskan lagi oleh para ulama yang ahli di bidangnya , agar pelaksanaan buku petunjuk itu menjadi lebih dapat di fahami.

Namun manusia merasa lebih pintar, bukan ia merasa tak cukup dengan buku itu, namun malah menganggap sebagai benalu untuk kebebasan kehidupan mereka , sampai akhirnya kehancuran melanda manusia itu sendiri, benar sabda yang mulia

“Idza wusidal amru bi ghairi ahlihi, pantadziris sa’ah (bila sesuatu perkara di serahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya)

Allah pun menyindir para pembuat hukum hukum yang berusaha menandingi hukum Nya.

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS 5:50)

Namun di antara manusia pembangkang hukum Allah, masih banyak yang berjuang untuk menegakkannya, merekalah para ulama yang istiqamah yang tak gentar dengan todongan laras senjata penyiksaan dari penguasa yang dzalim apalagi hanya sekedar vonis teroris...