MagzNetwork

KISAH PALSU ~TENTANG IMAM SYAFI'I BERTABARRUK /NGALAP BERKAH DI MAKAM IMAM ABU HANIFAH ???
Tulisan ini akan membahas secara ilmiah sisi kelemahan riwayat kisah tersebut disertai bukti pertentangannya dengan keyakinan Imam Asy-Syafi’i, maupun Abu Hanifah dan pengikut madzhabnya sendiri terkait hal-hal yang dibenci dilakukan terhadap kuburan, disertai dengan dalil hadits Nabi yang melarang perbuatan pengagungan terhadap kuburan. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan hidayahNya kepada kita semua….
SYUBHAT :
Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)
BANTAHAN :
Mengenai sanad riwayat tersebut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany menyatakan:
“ Ini adalah RIWAYAT YANG LEMAH BAHKAN BATIL.. Karena sesungguhnya perawi yang bernama Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidaklah dikenal. Tidak ada penyebutan tentangnya sedikitpun dalam kitab-kitab tentang perawi.
Bisa jadi yang dimaksud adalah ‘Amr (dengan fathah pada ‘ain) bin Ishaq bin Ibrohim bin Humaid bin as-Sakn Abu Muhammad at-Tuunisi.
Al-Khotib (al-Baghdady) menyebutkan biografinya dan menyatakan bahwa ia adalah Bukhary (berasal dari Bukhara) datang ke Baghdad dalam rangka menunaikan haji pada tahun 341 H.
Tetapi (al-Khotib) tidaklah menyebutkan jarh(celaan), tidak pula ta’diil (pujian) sehingga dalam kondisi ini ia adalah majhuulul haal (keadaanya tidak dikenal).
(Tetapi) kemungkinan (bahwa ia adalah ‘Amr) jauh, karena tahun kematian syaikhnya : Ali bin Maymun pada tahun 247 H menurut kebanyakan pendapat. Sehingga jarak kematian antara keduanya adalah sekitar 100 tahun, sehingga jauhlah kemungkinan bahwa keduanya pernah bertemu” ( Lihat Silsilah al-Ahaadits Adh-Dhaifah juz 1 halaman 99).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam Iqtidho’ Shirothol Mustaqiim halaman 165:
ﻭﻫﺬﺍ ﻛﺬﻟﻚ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻛﺬﺑﻪ ﺑﺎﻻﺿﻄﺮﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﻣﻦ ﻟﻪ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺑﺎﻟﻨﻘﻞ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻡ ﺑﻐﺪﺍﺩ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ ﻗﺒﺮ ﻳﻨﺘﺎﺏ ﻟﻠﺪﻋﺎﺀ ﻋﻨﺪﻩ ﺍﻟﺒﺘﺔ ، ﺑﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻣﻌﺮﻭﻓﺎ ، ﻭﻗﺪ ﺭﺃﻯ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺑﺎﻟﺤﺠﺎﺯ ﻭﺍﻟﻴﻤﻦ ﻭﺍﻟﺸﺎﻡ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻭﻣﺼﺮ ﻣﻦ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ، ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺑﻬﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﻣﺜﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ . ﻓﻤﺎ ﺑﺎﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﺘﻮﺥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺇﻻ ﻋﻨﺪﻩ . ﺛﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺩﺭﻛﻮﻩ ﻣﺜﻞ ﺃﺑﻲ ﻳﻮﺳﻒ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﻭﺯﻓﺮ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻭﻃﺒﻘﺘﻬﻢ ، ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻳﺘﺤﺮﻭﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻻ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻩ .
ﺛﻢ ﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺛﺎﺑﺖ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻗﺒﻮﺭ ﺍﻟﻤﺨﻠﻮﻗﻴﻦ ﺧﺸﻴﺔ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺑﻬﺎ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻀﻊ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﻜﺎﻳﺎﺕ ﻣﻦ ﻳﻘﻞ
ﻋﻠﻤﻪ ﻭﺩﻳﻨﻪ .
"yang demikian ini telah dimaklumi kedustaannya secara idlthirar bagi orang yang memiliki pengetahuan tentang penukilan.
Karena sesungguhnya As-Syafi’i ketika datang ke Baghdad tidak ada di Baghdad kuburan yang sering dikunjungi (khusus) untuk berdoa di sisinya sama sekali.
Bahkan tidak pernah dikenal yang demikian di masa Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, dan Mesir kuburan-kuburan para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang terdekatnya yang sebenarnya menurut beliau dan menurut kaum muslimin lebih mulia dari Abu Hanifah dan semisalnya dari kalangan para Ulama’.
Maka mengapa beliau tidak menyengaja datang kecuali ke sana (kubur Abu Hanifah). Kemudian, para Sahabat Abu Hanifah sendiri yang sempat mendapati kehidupan Abu Hanifah semisal Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, al-Hasan bin Ziyaad dan yang sepantaran dengan mereka.
Mereka tidak ada yang menyengaja berdoa di sisi kuburan, baik kuburan Abu Hanifah ataupun yang lainnya.
Kemudian, telah berlalu penjelasan dari Asy-Syafi’i hal yang telah disebutkan dalam kitab beliau tentang dibencinya pengagungan terhadap kubur para makhluq karena dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah. Sesungguhnya hikayat yang semacam ini diletakkan oleh orang yang sedikit ilmu dan (pemahaman) Diennya”.
Memang benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- bahwa salah satu bukti jelas kedustaan kisah tersebut adalah Imam Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitabnya tentang dibencinya pengagungan terhadap kuburan.
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sendiri :
ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻥ ﻳﻌﻈﻢ ﻣﺨﻠﻮﻕ ﺣﺘﻲ ﻳﺠﻌﻞ ﻗﺒﺮﻩ ﻣﺴﺠﺪﺍ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ
"dan aku benci makhluq diagungkan sampai kuburannya dijadikan sebagai masjid, (karena) dikhawatirkan adanya fitnah untuk dirinya dan untuk orang-orang setelahnya” (lihat al-Majmu’ karya Imam AnNawawi juz 5 halaman 314, al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i sendiri juz 1 halaman 317).
Benar pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa di masa hidup Imam Asy-Syafi’i tidak ada kuburan yang dibangun dan disediakan tempat yang memungkinkan untuk berdoa khusus di sisinya.
Hal ini karena memang para pemerintah muslim pada waktu itu memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan pada kuburan, dan sikap pemerintah muslim tersebut tidak dicela oleh para fuqaha’ (ahli fiqh) pada waktu itu, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Asy-Syafi’i:
ﻭﻗﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻻﺓ ﻣﻦ ﻳﻬﺪﻡ ﺑﻤﻜﺔ ﻣﺎ ﻳﺒﻨﻰ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻳﻌﻴﺒﻮﻥ ﺫﻟﻚ
" dan aku telah melihat para waliyyul amri (pemimpin muslim) di Mekkah yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan. Aku tidak melihat para Fuqoha’ (Ulama’ ahli fiqh) mencela hal itu” (Lihat kitab al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i juz 1 halaman 316, al-Majmu’ karya Imam AnNawawy juz 5 halaman 298).
Sikap para pemimpin muslim yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan tersebut memang sesuai dengan hadits Nabi:
ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻳُﺠَﺼَّﺺَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮُ ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﻘْﻌَﺪَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺒْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
"dari Jabir beliau berkata : Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan di’lepa’ (semen/kapur), diduduki di atasnya, dan dibuat bangunan di atasnya”(H.R Muslim)
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟْﻬَﻴَّﺎﺝِ ﺍﻟْﺄَﺳَﺪِﻱِّ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﻋَﻠِﻲُّ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﻃَﺎﻟِﺐٍ ﺃَﻟَﺎ ﺃَﺑْﻌَﺜُﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺑَﻌَﺜَﻨِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺗَﺪَﻉَ ﺗِﻤْﺜَﺎﻟًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻃَﻤَﺴْﺘَﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﻗَﺒْﺮًﺍ ﻣُﺸْﺮِﻓًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺳَﻮَّﻳْﺘَﻪُ
"dari Abul Hayyaj al-Asady beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata kepadaku: Maukah kau aku utus sebagaimana Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam mengutusku? Janganlah engkau tinggalkan patung/gambar bernyawa kecuali engkau hapus dan jangan tinggalkan kuburan yang diagungkan kecuali diratakan” (H.R Muslim. Sedikit faidah yang bisa diambil, ketika mensyarah hadits ini Imam AnNawawy menyatakan: ‘di dalamnya terdapat perintah mengganti/merubah gambar-gambar makhluk bernyawa’).
Perhatikan pula kalimat dalam kisah tersebut bahwa Asy-Syafi’i mendatangi kuburan Abu Hanifah setiap hari. Ya, disebutkan dalam kisah itu ‘setiap hari’.
Bagi orang yang berakal, dan paham tentang perjalanan hidup Asy-Syafi’i jelas akan melihat sisi lain dari kedustaan kisah tersebut. Al-Imam Asy-Syafi’i banyak melakukan perjalanan menuntut ilmu dari satu negeri ke negeri yang lain.
Beliau dilahirkan di daerah Gaza (Syam) dan tumbuh besar di tanah suci Mekkah (sebagaimana dijelaskan Adz-Dzahaby dan al-Imam AnNawawi dalam Tahdzib Asma’ Wal Lughot (1/49)).
Beliau mempelajari fiqh awalnya di Mekkah dari Muslim bin Kholid Az-Zanji dan Imam-imam Mekkah yang lain seperti Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin ‘Iyaadl. Kemudian beliau pindah ke Madinah menuntut ilmu pada Imam Maalik.
Selanjutnya beliau pindah ke Yaman untuk berguru pada Muthorrif bin Maazin, Hisyam bin Yusuf al-Qodhy, dan beberapa ulama’ lain. Dari Yaman beliau menuju Iraq (Baghdad) untuk bermulaazamah (fokus menuntut ilmu) pada ahli fiqh Iraq yaitu Muhammad bin al-Hasan.
Beliau mengambil ilmu juga pada Isma’il bin ‘Ulyah, Abdul Wahhab ats-Tsaqofy, dan beberapa Ulama’ yang lain. Setelah beberapa lama di Iraq, beliau kemudian pindah ke Mesir, dan di Mesir inilah pendapat-pendapat baru (qoul qodiim) Imam Asy-Syafi’i sering dijadikan rujukan (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ pada bagian yang mengisahkan biografi Imam Asy-Syafi’i).
Perhatikanlah, demikian sibuk Imam Asy-Syafi’i dengan menuntut ilmu dari satu Syaikh (guru) ke syaikh yang lain. Beliau juga menempuh perjalanan lintas negeri.
Bagaimana mungkin setiap hari beliau berdoa di makam Abu Hanifah?
Bagaimana mungkin –jika memang berdoa di sisi makam dengan tawassul pada penghuni kuburan tersebut diperbolehkan menurut beliau- dikhususkan pada makam Abu Hanifah, padahal salah satu tempat menuntut ilmu beliau adalah Madinah, tempat dimakamkannya manusia terbaik, Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.
Negeri-negeri lain yang beliau singgahi banyak kuburan para Nabi, para Sahabat Nabi, tabi’in dan orang-orang yang jauh lebih utama dari Abu Hanifah, maka mengapa beliau mengkhususkan pada kuburan Abu Hanifah?
Padahal beliau tidaklah pernah mengambil ilmu langsung dari Abu Hanifah. Bagaimana bisa mengambil ilmu, jika tahun kematian Abu Hanifah bertepatan dengan tahun kelahiran beliau?
Selanjutnya, akan disebutkan penjelasan dari Ulama’ lain bahwa kisah tersebut memang dusta. Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan : “ hikayat yang dinukilkan dari Asy-Syafi’i bahwa beliau memaksudkan doa di sisi kuburan Abu Hanifah adalah kedustaan yang jelas” (Lihat Ighatsatul Lahafaan (1/246)).
Sebenarnya bagi orang yang mengerti kadar keilmuan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, cukuplah hal itu sebagai penjelas.
Kami akan nukilkan ucapan ahlut tafsir Ibnu Katsir tentang guru sekaligus sahabatnya tersebut, Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah agar orang-orang yang meremehkannya menjadi sadar (InsyaAllah suatu saat akan dikaji penjelasan tentang beliau khusus sebagai bantahan bagi orang-orang yang membencinya).
Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan tentang beliau :
ﻭﻟﺪ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﺗﺴﻌﻴﻦ ﻭﺳﺘﻤﺎﺋﺔ ﻭﺳﻤﻊ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻭﺑﺮﻉ ﻓﻲ ﻋﻠﻮﻡ ﻣﺘﻌﺪﺩﺓ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻷﺻﻠﻴﻦ ﻭﻟﻤﺎ ﻋﺎﺩ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﺎﺭ ﺍﻟﻤﺼﺮﻳﺔ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﺛﻨﺘﻲ ﻋﺸﺮﺓ ﻭﺳﺒﻌﻤﺎﺋﺔ ﻻﺯﻣﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻓﺄﺧﺬ ﻋﻨﻪ ﻋﻠﻤﺎً ﺟﻤﺎ ﻣﻊ ﻣﺎ ﺳﻠﻒ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﻓﺼﺎﺭ ﻓﺮﻳﺪﺍً ﻓﻲ ﺑﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﻓﻨﻮﻥ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻄﻠﺐ ﻟﻴﻼً ﻭﻧﻬﺎﺭﺍً ﻭﻛﺜﺮﺓ ﺍﻻﺑﺘﻬﺎﻝ ﻭﻛﺎﻥ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺨﻠﻖ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﺘﻮﺩﺩ ﻻ ﻳﺤﺴﺪ ﺃﺣﺪﺍً ﻭﻻ ﻳﺆﺫﻳﻪ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻌﻴﺒﻪ ﻭﻻ ﻳﺤﻘﺪ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﻭﻛﻨﺖ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻪ ﻭﺃﺣﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﺃﻛﺜﺮ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻣﻨﻪ ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻳﻄﻴﻠﻬﺎ ﺟﺪﺍً ﻭﻳﻤﺪ ﺭﻛﻮﻋﻬﺎ ﻭﺳﺠﻮﺩﻫﺎ
"beliau dilahirkan pada tahun 691 H. Banyak mendengar hadits, sibuk dengan ilmu, mahir dalam ilmu yang bermacam-macam khususnya ilmu tafsir, hadits, dan ilmu-ilmu Ushul.
Dan ketika Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah kembali dari Mesir pada tahun 712 H, beliau bermulazamah (memfokuskan diri untuk belajar pada Ibnu Taimiyyah), sampai meninggalnya Syaikh (Ibnu Taimiyyah), maka beliau mengambil darinya ilmu yang banyak, bersamaan dengan kesibukan beliau sebelumnya, sehingga jadilah beliau orang yang istimewa dalam beberapa bidang yang banyak.
Bersamaan dengan banyaknya kesibukan beliau menuntut ilmu siang malam, banyak beribadah, dan beliau baik bacaan (Quran)nya, baik akhlaqnya, memiliki sifat penyayang, tidak pernah dengki pada siapapun, tidak pernah menyakiti siapapun, tidak pernah mencari aib orang lain, tidak pernah dendam pada seorangpun, dan saya termasuk sahabat terdekatnya, dan manusia yang paling dicintainya, dan saya tidak mengetahui di zaman kami ada orang yang lebih banyak ibadahnya dibandingkan beliau. Beliau jika sholat (sunnah) sangat lama, memanjangkan waktu ruku’ dan sujudnya” (Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah juz 14 halaman 270).
Simaklah persaksian Ibnu Katsir tentang keilmuan dan akhlaq Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah.
Jika Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa hikayat itu dusta, tidaklah penilaian beliau itu bersifat tendensius karena membenci kelompok tertentu sehingga kemudian tidak obyektif.
Beliau bukanlah orang yang berakhlak buruk, suka dendam dan mencari aib orang lain. Beliau menilai kedustaan tersebut atas dasar keilmuan beliau.
Hal lain yang menunjukkan sisi kelemahan kisah itu –sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- adalah tidak adanya Sahabat/ murid dekat Abu Hanifah yang melakukan hal itu.
Tidak ada di antara mereka yang sering datang ke kuburan Abu Hanifah untuk berdoa dan bertawassul agar doanya lebih mudah dikabulkan.
Bagaimana tidak, jika perbuatan semacam itu dibenci oleh Abu Hanifah. Beliau tidak suka jika makhluk dijadikan perantara dalam doa seorang hamba kepada Allah.
Al-Imam Abu Hanifah berkata:
ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻻﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﺑﻪ ، ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺍﻟﻤﺄﺫﻭﻥ ﻓﻴﻪ ، ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﺑﻪ ، ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻔﻴﺪ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ } : ﻭﻟﻠﻪ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺴﻨﻰ ﻓﺎﺩﻋﻮﻩ ﺑﻬﺎ ﻭﺫﺭﻭﺍ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻠﺤﺪﻭﻥ ﻓﻲ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﺳﻴﺠﺰﻭﻥ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ {
“
"tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdoa kepada Allah kecuali denganNya, dan doa yang diijinkan dan diperintahkan adalah apa yang bisa diambil faidah dari firman Allah: ‘Hanya milik Allah asmaa-ul husna,, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan’ (Lihat Ad-Durrul Mukhtaar min Haasyiyatil Mukhtaar(6/396-397)).
ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺪﺍﻋﻲ : ﺃﺳﺄﻟﻚ ﺑﺤﻖ ﻓﻼﻥ ﺃﻭ ﺑﺤﻖ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻚ ﻭﺭﺳﻠﻚ ﻭﺑﺤﻖ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﺍﻟﻤﺸﻌﺮ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ
"adalah suatu hal yang dibenci jika seorang berdoa:’ aku memohon kepadaMu dengan hak Fulaan, atau dengan hak para Nabi dan RasulMu dan hak Baitul Haram, dan Masy-‘aril Haraam “ (Lihat Syarh Fiqhil Akbar lil Qoori halaman 189).
Kalau kita melihat sikap para Ulama’ Salaf, justru mereka mengingkari perbuatan orang yang berdoa di sisi makam untuk bertawassul. Kita ambil satu contoh yang dilakukan oleh ‘Ali bin Husain yang merupakan cucu Sahabat Nabi ‘Ali bin Abi Tholib.
Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam Mushannafnya dan juga Ibnu Abi Syaibah :
ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ ﺭﺟﻼ ﻳﺠﺊ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﺟﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻴﺪﺧﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻴﺪﻋﻮ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻻ ﺃﺣﺪﺛﻚ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﺳﻤﻌﺘﻪ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﻦ ﺟﺪﻱ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ) ﻻ ﺗﺘﺨﺬﻭﺍ ﻗﺒﺮﻱ ﻋﻴﺪﺍ ﻭﻻ ﺑﻴﻮﺗﻜﻢ ﻗﺒﻮﺭﺍ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﻋﻠﻲ ﻓﺈﻥ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺗﺒﻠﻐﻨﻲ ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻛﻨﺘﻢ(
"dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa.
Maka Ali bin Husain berkata: ‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bersholawatlah kepadaku karena sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).
Hadits tersebut dihasankan oleh al-Hafidz As-Sakhowy (murid Ibnu Hajar al-‘Asqolaany). Silakan dilihat pada kitab al-Qoulul Badi’ fis Sholaati ‘ala habiibisy Syafii’ halaman 228.
Demikianlah saudaraku kaum muslimin, sedikit penjelasan tentang kedustaan kisah tabarruk Imam Asy-Syafi’i di makam Imam Abu Hanifah.
Perlu dipahami, bahwa jika kita menyatakan secara ilmiah bahwa kisah itu dusta bukan berarti kita menuduh al-Khotib al-Baghdady sebagai pendusta. Beliau sekedar menyebutkan riwayat.
Dalam penyebutan riwayat, beliau mendapat khabar tersebut dari orang yang menyampaikan kepadanya, orang yang menyampaikan kepada beliau mengaku mendapat khabar dari orang yang di ‘atas’nya dan seterusnya.
Telah dijelaskan di atas bahwa pada rantaian perawi kisah tersebut terdapat orang yang majhul (tidak dikenal di kalangan para Ulama’ Ahlul Hadits yang ahli dalam meneliti periwayatan).
Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak kalimat-kalimat indah yang disampaikan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sebagai pelajaran penting bagi kita semua.
Beliau menyatakan kalimat-kalimat berikut ini:
ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺗﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻲ ﺧﻼﻑ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻮﻟﻮﺍ ﺑﻬﺎ، ﻭﺩﻋﻮﺍ ﻣﺎ ﻗﻠﺘﻪ
"jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam maka berbicaralah dengan Sunnah itu dan tinggalkanlah ucapanku” (Lihat Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (9/106) dan Siyaar a’laamin Nubalaa’ karya Adz-Dzahaby juz 10 halaman 34).
ﻣﺘﻰ ﺭﻭﻳﺖ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻭﻟﻢ ﺁﺧﺬ ﺑﻪ، ﻓﺄﺷﻬﺪﻛﻢ ﺃﻥ ﻋﻘﻠﻲ ﻗﺪ ﺫﻫﺐ
"Kapan saja aku meriwayatkan dari Rasulullah hadits shahih kemudian aku tidak berpegang (berpendapat) dengannya, maka persaksikanlah bahwa akalku telah pergi” (Lihat Siyar a’laamin Nubalaa’ juz 10 halaman 34).
ﻛﻞ ﻣﺎ ﻗﻠﺘﻪ ﻓﻜﺎﻥ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻼﻑ ﻗﻮﻟﻲ ﻣﻤﺎ ﺻﺢ، ﻓﻬﻮ ﺃﻭﻟﻰ، ﻭﻻ ﺗﻘﻠﺪﻭﻧﻲ
"semua yang aku ucapkan, jika ada (khabar) yang shohih dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyelisihi ucapanku, maka itu lebih utama (untuk diikuti), dan janganlah taklid kepadaku” (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 10 halaman 34, al-Manaaqib karya Adz-Dzahaby (1/473))
Ditulis oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman

 

Aliran Asy Ariyah

Diposting oleh Mastindi | 20.17 | | 0 komentar »

Mengenal Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy dan Asy’ariyyah
بِسْمِ اللّٰـهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Mari kita berpikir jernih. Mungkin luput dari pengamatan kita, betapa banyak orang yang menggolongkan kepada seseorang atau kelompok namun ternyata tidak selaras dengan pemikiran atau faham orang atau kelompok yang di ikuti, masih segar dalam ingatan kita, Imam Syafi’i berpendapat bahwa mengirim pahala kepada orang yang telah meninggal tidak akan sampai sama sekali.
Namun anehnya (tapi nyata) orang yang mengaku pengikuti Imam Syafi’i justru menjadi pelopor terdepan dalam mengamalkan amalan ini bahkan memasyarakatkanya.
Demikian pula dengan pengikuti Abu Hasan Al–Asy’ari. Mereka mengaku mengikuti beliau dalam masalah akidah, terutama penetapan Nama-nama dan Sifat Allah yang berjumlah tujuh.
Mereka disebut Asya’iroh alias Asy’ariyah. Padahal beliau (Imam Abul Hasan Al-Asy’ari -ed) telah ruju’ (kembali) ke manhaj salaf, ahlussunah waljama’ah dengan menetapkan semua sifat bagi Allah, tidak hanya tujuh.
Namun pengikutnya tidak menyadari. Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin. Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH. Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)
Dalam uraian berikut akan dikemukakan secara ilmiah -Insya Allah- perbedaan antara imam Abul Hasan Al-Asy’ari dengan Asya’iroh dan sekaligus sebagai bukti kongkrit kesalahan faham tersebut dan penganutnya.
Pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian:
Biografi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
Perkataan beliau dalam kitab-kitabnya setelah ruju’ ke manhaj salaf
Pijakan penetapan dan pembatasan sifat 20 menurut Asya’iroh dan bantahannya.
Kita masih sering, mendengar lantunan: Wujud, Qidam, Baqa’ Mukholafathu Ta’al Lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaaniyah, Qudrat, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama’ Bashara, Kalam, Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu Aaliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakaliman. Inilah yang dinamakan sifat wajib dua puluh bagi Allah yang harus diyakini menurut Asya’iroh.
Sebenarnya sifat–sifat tersebut bukan murni rumusan Abu Hasan Al-Asy’ari, namun sudah ditambahi oleh Maturidiyyah, beliau hanya merumuskan tujuh sifat yang terkumpul dalam syair’ Sifat hayat (hidup). Ilmu (mengetahui), Qudroh (berkuasa) dan Kalam (berbicara); Irodah (berkehendak), Sam’u (mendengar) dan Bashor (melihat).
Dikemudian hari populer dengan nama sifat dua puluh. Maturidiyah adalah orang yang mengaku mengikuti Imam Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh KH. Sirodjudin Abbas:
“I’tiqod Nabi dan sahabat–sahabat itu telah termaktub dalam Al Qur’an dan dalam sunah Rasul secara terpencar–pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, tetapi kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin besar, yaitu Syeikh Abu Hasan Al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H. wafat di Bashrah juga tahun 324 H dalam usia 64 tahun, yang benar beliau meninggal di Baghdad –Pen) karena itu ada orang yang memberi nama kepada kaum Alhussunah Wal Jama’ah dengan kaum Asya’irah jama’ dari Asy’ari, dikaitkan kepada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari tersebut. (I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, hal. 16)
Sedangkan Abu Mansur Al-Maturidi adalah seorang ulama ushuluddin juga. Yang faham dan I’tiqadnya sama atau hampir sama dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, beliau wafat di sebuah desa bernama Maturudin Samarqand. Di Asia tengah pada tahun 333 H. Terkemudian 9 tahun dari Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (hal 17).
Inilah yang dinamakan oleh kaum Ahlusunah wal jama’ah dengan “Sifat tuhan dua puluh yang wajib diketahui dan diyakini seyakin–yakinnya oleh setiap orang muslim yang baligh – beraqal (lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, hal 36 – 45).
Itulah sekilas faham mereka seputar sifat–sifat Allah.
A. BIOGRAFI IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI
Nama beliau adalah Ali bin Ismail bin Abi Sisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdilah bin Musa bin Amir Bashroh Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdulloh bin Qois bin Hadhor Al-Asy’ari Al-Yamani, Sahabat Rasulullah. Populer dengan nama Abu Hasan Al-Asy’ari. Dilahirkan di Basroh lalu menetap di Baghdad setelah melepas faham Mu’tazilah. Tahun kelahirannya diperselisihkan, namun mayoritas sejarawan menetapkan tahun 260 H, sebagaimana di tetapkan oleh Adz-Dzahabi, dan wafat tahun 324 H. di Baghdad, perlu diperhatikan bahwa beliau menjalani tiga fase kehidupan.
A.1. Fase Awal
Beliau mengikuti faham Mu’tazilah. Karena sejak kecil sampai umur empat tahun dalam naungan didikan bapak tirinya, Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab Al Juba’i (wafat 303 H. seorang tokoh Mu’tazilah), seperti dikisahkan oleh Ibnu Nadim (wafat 385 H).
”Awalnya beliau adalah berfaham Mu’tazilah lalu bertobat dari faham tersebut dengan berpidato di masjid jam’i di Bashroh pada hari Jum’at. Beliau naik kursi dan bersuara lantang: “siapa yang telah mengenalku berarti dia telah betul – betul mengenalku, dan siapa yang belum pernah mengenalku maka saya mengetahui diri saya sendiri. Saya adalah Fulan bin Fulan. Saya dulu berpendapat bahwa al Qur’an itu makhluk, Allah tidak bisa dilihat dengan mata (pada hari Kiamat). Dan perbuatan jelek itu saya sendiri yang berbuat (Allah tidak berperan) sekarang saya taubat dan melepas keyakinan tersebut untuk membantah faham Mu’tazilah” lalu beliau turun dan keluar, meninggalkan kejelekan dari aib mereka” (al Fahrosat, hal 257)
Ibnu ‘Asakir menambahkan: ”wahai seluruh manusia, saya menghilang dari hadapan kalian beberapa waktu karena saya mendapati beberapa dalil dan belum bisa membedakan mana yang hak dan yang batil. Lalu saya meminta petunjuk kepada Allah dan Allah memberikan petunjuk-Nya, untuk meninggalkan semua yang kutulis di buku–buku saya. Maka saya ditinggalkan semua yang dulu saya yakini seperti saya melepaskan baju saya ini” lalu beliau melepaskan bajunya dan melemparknya. (Tabyiini Kadzibil Muftari, hal 39)
Adapun sebabnya ada dua, seperti disebutkan Ibnu Asakir, Pertama: bermimpi melihat Rasulullah kata Abul Hasan Al-Asy’ari: penyebab saya keluar dari faham Mu’tazilah adalah saya bermimpi melihat Rasulullah pada awal bulan Ramadhan, Kedua: pertanyaan yang disodorkan kepada para gurunya, tetapi mereka tidak mampu menjawab “(Tabyiin hal. 38 – 42)
A.2. Fase kedua
Setelah keluar dari faham Mu’tazilah beliau menganut faham Kullabiyah, yang dimotori oleh Abdulloh bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mulailah beliau membantah golongan Mu’tazilah dengan berpijak kepada faham Kullabiyah ini.
Ibnu Taimiyah berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari dahulunya adalah seorang Mu’tazilah, ketika keluar darinya dia mengikuti faham Muhammad bin Kullab” (Majmu‘Fatawa 5 /556) hal ini diakui pula oleh Ad Dzahabi dan selainnya (lihat Siyar A’laminubala 2/228)
Mengenai Ibnu Kullab, Ibnu Taimiyah berkata: “Dialah yang mengarang kitab–kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Mu’tazilah dan firqoh lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat–sifat Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ahlul hadits dan sunah, namun masih termuat cara–cara bid’ah.
Karena dia menetapkan sifat Dzatiyah dan menolak sifat Ikhtiariyah bagi Allah, Tetapi ketika membantah Jahmiyah dikarenakan mereka menolak sifat dan sifat Uluw (Allah berada di tempat yang tinggi). Sarat dengan hujjah dan dalil dan menerangkan keutamaan hujah dan dalil tersebut. Maka apa yang dikemukakan itu menyapu bersih syubhat Mu’tazilah. Dan ini membantu bagi kalangan cendekia. Jadilah dia seorang imam dan panutan bagi orang yang muncul setelahnya dalam masalah penetapan sifat dan membantah orang yang menafikannya.
Walaupun antara mereka (Ibnu Kullab dan pengikutnya dengan golongan yang dibantahnya masih ada persamaan dalam kaidah–kaidah pokok. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kaidah yang mereka munculkan. Menjadi batil dilihat dari kaca mata akal dan karena menyelisihi sunah Rasulullah “. (Majmu’fatwa 12/ 366).
Lanjut beliau : ”…namun tatkala Muhammad bin Kullab berbicara dan berdialog dengan Mu’tazilah menggunakan cara berfikir Qiyas (analogi), dia menerima kaidah yang dicipta oleh Mu’tazilah yaitu menolak bahwa Allah berbicara dengan huruf, melekatnya sifat–sifat ikhtiariyah yang berkaitan dengan kehendak/ kekuasaan Allah berupa perbuatan, kalam dan selainnya.
Dengan beranggapan bahwa penetapan sifat ikhtiariyah itu berkonsekuensi: Allah mempunyai sifat yang hadits (baru), padahal sesuatu yang tidak terbebas dari sifat hadits berarti dia hadits (baru). Implikasinya dia berpendapat bahwa kalam Allah itu hanya berupa makna, dan huruf (ketika Allah berbicara) tidak termasuk kalam Allah. Pendapat ini diikuti oleh Abul Hasan Al-Asy’ari” (Majmu’Fatawa 12/366)
Disinilah Abul Hasan Al-Asy’ari tidak menyadari. Ketika Ibnu Kullab membantah Mu’tazilah dan menetapkan sifat Lazimah Allah sifat yang selalu melekat pada dzat Allah (dia juga menafikan sifat–sifat ikhtiariyah Allah seperti sifat ridho, marah, benci senang dan lain–lainnya).
Memang dalam penetapan sifat lazimah ini Ibnu Kullab mencocoki madzhab Ahlususunnah seperti sifat Hidup, Ilmu, Qudroh dan lainnya namun juga menyelisihinya dengan menolak sifat Ikhtiyariyah tadi. Sehingga bisa dikatakan dia membentuk madzhab baru yang sebagiannnya sesuai dengan madzhab ahlussunnah dan sebagiannya menyelisihinya.
Berikut ini metode penetapan sifat Ibnu Kullab yang diikuti oleh Abul Hasan Al-Asy’ari:
Menetapkan sifat lazimah, semisal : Ilmu, Qudrah
Menafikan sifat ikhtiariyah yang berkatian dengan Masyi’ah (kehendak) dan Qudrah Allah.
Kalam Allah adalah makna yang melekat tersimpan pada dzat (dalam ungkapan kita: ungkapan yang masih terpendam di hati), jika diungkapkan dengan bahasa Arab disebut Al Qur’an, bila dalam bahasa Ibrani disebut Taurat, dalam bahasa Suryaniyah disebut Injil
Al Qur’an bukanlah kalam Allah tetapi kalam Jibril atau yang lain, Jibril mengungkapkan makna yang tersimpan dalam dzat Allah dengan ungkapan dia sendiri.
Menafikan Allah bersifat senang, ridho kepada kaum mukminin setelah merek beriman, dan memurkai kaum kafirin setelah mereka kafir.
Adapun ahlussunnah wal jama’ah atau salafiyah menetapkan seluruh sifat ikhtiariyah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa ditakyif, tamtsil, tahrif dan ta’thil.
Sebagai contoh, Allah beristiwa di atas arsy, Allah turun, datang dan lainnya. Allah juga bersifat marah, senang, murka, ridho dan sifat lainnya yang ditetapkan oleh Rasulullah.
Allah juga berbicara, namun kalam Allah adalah qodimun nau’ dan haditsul aahad, maksudnya adalah selalu bersifat bicara (sifat kalam ini selalu melekat pada Allah), dan kalam perkalamnya adalah baru, kalam Allah kepada Adam bukanlah kalam-Nya kepada Nuh, kalam-Nya kepada Nuh bukanlah kalam-Nya kepada Ibrohim, juga bukan pula kalam-Nya kepada Muhammad dan seterusnya.
A.3. Fase ketiga
Setelah sekaian lama bergelut dengan faham Kullabiyah, meyakini dan menyebarkannya, beliau sadar dan kembali kepada manhaj yang benar, manhaj salaf ahlussunnah wal jama’ah dengan menisbatkan diri kepada Imam Ahmad bin Hanbal karena hidayah Allah, kesadaran dan kembalinya beliau ke manhaj Ahlussunnah wal jama’ah dibuktikan dengan tiga hal :
Perkataan Para Ulama
Banyak sekali ulama yang mempersaksikan kembalinya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari kepada madzhab salaf Ahlusunnah wal jama’ah, persaksian mereka itu diikrarkan setelah meneliti kehidupan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
Diantara mereka adalah:
a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
b. Imam Ibnul Qoyyim
c. Imam Ad Dzahabi
d. Imam Ibnu Katsir, beliau berkata: “Mereka (para ulama) menyebutkan tiga fase kehidupan Abul Hasan Al-Asy’ari, Fase pertama, berfaham Mu’tazilah. Fase kedua: penetapan sifat tujuh yaitu hayat, ilmu, qudroh, irodah, sam’u, bashar, dan kalam dengan berdasarkan kaidah akal. Adapun sifat Khobariyah, seperti wajah, dua tangan, kaki, betis dan lainnya dita’qil (ditahrif). Fase ketiga, menetapkan semua sifat khobariyah tadi dengan tanpa ditakyif dan tasybih menurut faham salaf. Inilah metode yang beliau tempuh seperti dijabarkan dalam kitab al Ibanah, karya terakhir beliau” (Ithaf Sadatil Muttaqin, Murtadho Az- Zabidi, 2/5 cet. Darul Fikr).
e. Syaik Nu’man Al-Alusi
f. Syaikh Abul Ma’ali Mahmud Al Alusi
g. Al Allammah Muhibudiin Al Khotibb, beliau berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari Ali bin Ismail termasuk pembesar imam ahlu kalam dalam Islam. Pada awal kehidupannya dia menganut faham Mu’tazilah, dengan berguru kepada Abu Ali Al Jubba’i kemudian Allah menyadarkannya ketika beliau menginjak usia paruh baya dan awal kematangannya.
Beliau mengumumkan kesadaran?
Keinsyafannya dan membeberkan kesesatan faham Mu’tazilah. Pada fase ini beliau banyak menulis, berdebat dan mengajar dengan membantah faham Mu’tazilah berlandaskan metode jidal (debat) ta’wil (tahrif) dan metode salaf. Akhirnya beliau benar–benar kembali ke manhaj salaf dengan mengistbatkan semua perkara–perkara ghoib (termasuk sifat–sifat Allah) yang wajib diimani oleh para hamba-Nya dengan berdasarkan pada Nash (al Qur’an dan Hadits) buktinya beliau menulis kitabnya yang paling akhir yang sudah banyak dibaca orang yaitu Al Ibanah.
Para penulis biografi beliau memastikan bahwa al Ibanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Abul Hasan. Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Adapun yang menyelisihi hal di atas dan dinisbatkan kepada beliau atau apa yang diada-adakan oleh Asy’iroh, sesungguhnya Abul Hasan Al-Asy’ari telah menyadari bahwa itu salah dan beliau telah meninggalkannya serta kembali ke manhaj salaf ahlussunah wal jama’ah seperti yang ditulis dalam kitab al Ibanah dan kitab lainnya”. (Lihat komentar no. 2 pada Muntaqo Minhajul I’tidal milik Adz Dzahabi).
Perjumpaan Beliau Dengan Al Hafidz Zakaria As-Saaji
Setelah Abul Hasan Al-Asy’ari melepas faham Mu’tazilah dan Kullabiyah, mulailah beliau menemui para imam ahlul hadits yang selamat aqidahnya guna mengambil dan mengikuti metode yang ditempuh oleh mereka. Yang paling mashyur adalah pertemuannya dengan ahli hadits negri Bahsrah Al Hafidz Zakaria As-Saaji.
Para ulama begitu memperhatikan pertemuan ini karena merupakan point penting seputar keterusterangan Abul Hasan Al-Asy’ari untuk kembali ke manharj salaf dan dan penisbatannya kepada Ahmad bin Hanbal.
Ibnu Taimiyah berkata: “Abu Hasan Al-Asy’ari mengambil dasar–dasar ilmu hadits dari Zakaria as-Saaji di Bashrah lalu setelah datang ke Baghdad menimba ilmu lainya dari pada ulama Hanbaliyah. Ini adalah fase terakhir dikehidupannya seperti disebutkan oleh para sahabatnya (muridnya) di kitab mereka” (Majmu Fatwa 3/ 288).
Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya : “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ushul (pokok–pokok) ahlussunah dan hadits dari Zakaria As-Saaji. Hal ini banyak dijumpai di kitabnya Maqolatul Islamiyyin. Dia menyebutkan pendapat imam ahlussunnah sebagaimana juga pendapat Hammad bin Zaid bahwa Allah berada di atas arsy dan dia mendekat kepada hamba-Nya sekehendak-Nya” (Majmu’ Fatawa 5/ 386)
Imam Adz–Dzahabi sangat menaruh perhatian terhadap pertemuan dua orang ini. Ketika Adz-Dzahabi menulis biografi As-Saaji beliau berkata : “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil dari Al Hafidz As-Saaji perkataan ahlul hadits dan salaf“. (Tadzkirotul Hufadz 2/709).
Pada Syiar A’lamun Nubala’ 14/198, Ad Dzahabi berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil dari Al Hafidz as-Saaji perkataan salaf dalam masalah sifat–sifat Allah. Lalu dijadikan pijakan dalam kitab–kitabnya”. Termasuk ulama yang memastikan adanya pertemuan antar Al Hafidz As-Saaji dengan Abul Hasan Al-Asy’ari adalah dua orang imam: Ibnul Qoyyim dan Ibnu Katsir (lihat Ijtima’u Juyus Islamiyah hal 97, Al Bidayah Wan Nihayah 11/131 dan Ghoyatul Amani oleh Al Alusi 1/480)
Penulisan Kitab Al Ibanah Dan Pemastian Bahwa Kitab Itu Karya
Beliau Banyak sekali ulama yang memastikan bahwa kitab Al Ibanah merupakan karya terakhir Abu Hasan Al-Asy’ari, baik ulama terdahulu atau yang belakangan, yang paling dekat masa hidupnya dengan Abu Hasan adalah Ibnu Nadim, dalam kitabnya, al Fahrosat hal. 257, Ibnu Nadim menyebutkan biografi Abu Hasan dan karya–karyanya. Di antara karyanya adalah kitab At–Tabyiin an Ushulludin.
Setelah itu Ibnu Asakir, beliau membela Abu Hasan dan memastikan bahwa kitab Al-Ibanah adalah kitab karya Abu Hasan, lalu Ibnu Asakir menyebut–nyebut dari kitab Al Ibanah dalam kitabnya At Tabyiin untuk memuji akidah Abu Hasan Al-Asy’ari, Ibnu Asakir berkata: “Karya Abu Hasan Al-Asy’ari telah mashur di kalangan ulama, menurut ulama peneliti, kitab tersebut sangat baik dan benar, siapa yang meneliti Al Ibanah niscaya mengerti isinya yang sarat dengan ilmu dan ketaatan”. (Tabyiin Kadzabul Muftari, hal 28) disebutkan bahwa Imam Abu Utsman as-Shobuni tidak akan keluar ke majlis kecuali membawa kita Al Ibanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari, beliau sangat terkesan dengan kitab itu, hingga berujar: “apa–apa yang dingkarkan kepada saya tentang isi kitab ini maka akan terbongkarlah madzab orang tersebut” Lalu Ibnu Asakir berkomentar: “Ini adalah ucapan Imama Abu Utsman, sedang dia adalah tokoh ahli hadits di Khurosan” (Tabyiin Kadzbul Muftari, hal 389)
Berikutnya, Ibnu Darbas (wafat 659 H) mengarang sebuah kitab untuk membela Abu Hasan Al-Asy’ari dan memastikan bahwa kitab al Ibanah adalah karya Abu Hasan. Dia berkata: “Adapun sesudah itu, ketahuilah wahai saudara–saudara, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita menapaki dien yang lurus dan untuk meniti jalan lurus, sesungguhnya kitab Al Ibanah An Ushulid Diyanah buah karya imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari adalah kitab dimana akidah beliau tertancap mantap padanya.
Dan dengannya beliau beribadah kepada Allah setelah melepas paham I’tizal (Mu’tazilah) karena karunia Allah dan kelembutan-Nya, adapun perkataan yang muncul sekarang dan dinisbatkan kepada beliau namun menyelisihi akidahnya, beliau telah meninggalkannya dan beliau minta pembebasan kepada Allah dari perkataan tersebut. Bagaimana tidak, beliau telah menyatakan bahwa akidah tersebut adalah keyakinannya guna beribadah kepada Allah.
Dan dia telah meriwayatkan dan memastikan keyakinan sahabat, Tabi’in para imam ahlul hadits yang telah berlalu, dan ucapan Ahmad bin Hanbal– semoga Allah merohmati mereka semua. Tambahan lagi keyakinan itu telah ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Sunah Rarul-Nya. Apakah mungkin beliau kembali kepada kayakinan lain? Lalu kepada apa beliau kembali?
Mungkinkah beliau berpaling dari kitab dan Sunnah, menyelisihi pemahaman sahabat Tabi’in dan para imam hadits yang telah lalu? Padahal telah diketahui bahwa itulah madzab beliau dan beliau sendiri telah meriwiyatkan dari mereka (imam ahlul hadits, tabi’in dan sahabat).
Demi Allah, ini tidak patut dinisbatkan kepada orang awam apalagi kepada pemuka agama ini! Sekelompok imam dunia, para fuqoha Islam, imam ahli Qiro’at, ahli Hadits dan selain mereka telah menyebut kitab Al Ibanah ini, mereka jadikan pijakan dan pastikan bahwa kitab ini karya Abu Hasan Al-Asy’ari, mereka juga memujinya, membersihkanya dari bid’ah–bid’ah yang dinisbatkan kepada beliau. Dan menukil perkataan beliau dari Al Ibanah dalam tulisan–tulisan mereka”. (Risalatul Dzahabbi An Abil Hasan Al-Asy’ari, hal 107, peneliti Dr. Ali bin Nashir Al Fakihi).
Kemudian Ibnu Darbas Menyebutkan nama–nama mereka:
Imam ahli Qiro’at al Qur’an, Abu Ali Al Hasan bin Ali bin Ibroihim Al Farisi (wafat 446)
Al Hafidz Abu Utsman As Shobuni (wafat 449H)
Al Faqih Al Hafiz Aabu Bakr Al Baihaqi (wafat 458 H)
Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat 490H)
Al Faqih Abul Ma’ali Mujalli, penyusun kitab Ad Dzakhooir (wafat 550H)
Ulama lainnya yang tidak disebutkan Ibnu Darbas semisal:
Imam Ibnu Timiyah
Al Hafiz Ad Dzahabi, beliau berkata: “Kitab al Ibanah adalah termasuk karangan Abu Hasan yang termashur. Dipopulerkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dan dijadikan rujukan dan disalin oleh Imam Nawawi (Mukhtashor Al Uluw, hal 239)
Imam Ibnul Qoyyim
Al Hafidz Ibnu Katsir.
Al Allmah Ibnu Farhun Al Maliki (wafat 799)
dan masih banyak lagi
Kesimpulannya:
Abu Hasan Al-Asy’ari pada awal kehidupannya menganut faham Mu’tazilah kemudian berlepas diri. Setelah itu menganut faham Kullabiyah.
Masa inilah beliau menetapkan sebagian sifat (yang tujuh dan menta’wil sifat yang lain).
Akhirnya beliau Ruju’ (kembali) kepada faham salaf, membelanya dan berpendapat sesuai pendapat salaf beliau mengambil dari pada ahlu hadits pendapat ahlussunnah wal jama’ah, lalu mengarang kitab Al Ibanah dan meyakini apa yang ditulisnya.
Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya. (lihat bahasan ini dari hal 1 – 55)
PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH
Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah hal 17–19, beliau berkata;
“Apabila seseorang bertanya: “kamu mengingkari perkataan Mu’tazilah, Qodariyyah, Jahmiyyah, Harruriyyah, Rofidhoh dan Murji’ah, maka terangkan kepada kami pendapatmu dan keyakinanmu yang mengaku beribadah kepada Allah dengannya!
Jawablah:
“Pendapat dan keyakinan kami yang kami pegangi adalah perpegang teguh dengan kitab rabb kita azza wajalla, sunnah Nabi kita dan apa yang diriwayatkan dari para sahabat, Tabi’in dan para ahlul hadits. Kami berpegang teguh dengannya.
Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya, meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu–ragu. Semoga Allah merohmatinya’.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak dan istri, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5) Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif, seperti firman-Nya:
خَلَقْتُ بِيَدَيً
(QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ
(QS. Al Maidah: 64) Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14), siapa yang menyangka bahwa nama–nama Allah bukanlah Allah maka dia telah sesat, Allah mempunyai ilmu, firmanya (QS. An Nisa 166) firmannya:
وَمَاتَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلاَتَضْعُ إِلاَّ بِعِلْمِهِ
tidak ada seorang perempuan –perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. (QS. Al Fathir: 11)
Kita menetapkan bahwa Allah mendengar dan melihat, kita tidak menafikanya seperti dilakukan oleh Mu’tazilah, Jahmiyah dan Khowarij, kita juga menetapkan bahwa Allah mempunyai Quwwah (kekuatan), seperti firman-Nya :
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدّ مِنْهُمْ قُوَّةً
(QS. Fushilat: 15), kita katakan bahwa kalam Allah bukan makhluk, Allah tidak menciptakan sesuatupun kecuali akan mengatakan jadilah! Seperti firmannya
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَىءٍ إِذَاأَرِدْنَاهُ أَنْ نَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنَ
(QS. An Nahl: 40) Tidak ada satu kebaikan atau kejelekan pun di bumi ini kecuali telah dikehendaki oleh Allah, sebab sesuatu itu terjadi karena kehendak-Nya azza wajalla seseorang tidak mampu berbuat suatu perbuatanpun sebelum Allah menentukannya dan dia pasti butuh kepada Allah, tidak ada seorangpun yang mampu keluar dari ilmu Allah azza wa jalla sesungguhnya tidak ada pencipta kecuali Allah, amal perbuatan hamba itu diciptakan dan ditentukan oleh Allah, seperti firmannya:
وَ اللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَُعْمَلُوْنَ
(Qs.Ash Shofat: 96) seorang hamba tidak mampu menciptakan sesuatupun, bahwa mereka diciptakan, seperti firman-Nya:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ
(QS. Fathir: 3)
لاَيَخْلُقُوْنَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُوْنَ
(QS An Nahl: 20)
أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لاَيَخْلُقُ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ
(Qs. An Nahl; 17)
أَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَىءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ
(QS At Thur: 35) dan masih banyak lagi ayat yang lain dalam kitab Allah.”
Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau berkata:
“Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!”
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau menetapkan:
Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala, seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan, dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu, pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit dunia.
Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan malaikat berbaris )
Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau menetapkan adanya ijma’ (kesepakatan) salaf dalam masalah aqidah khususnya asma dan sifat yaitu;
Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan, sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di atas arsy.
Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)
Kemudian beliau menyebutkan beberap ijma’ lainnya, lalu menutup dengan ijma’ yang menyeluruh sebagai kaidah terpenting bagi salaf, katanya:
“para salaf telah bersepakat untuk menetapkan sifat–sifat bagi Allah sebagaimana Allah telah mensifati diri-Nya dengan sifat tersebut dan pensifatan oleh Nabi-Nya tanpa pemalingan dan tanpa ditakyif, iman kepada sifat–sifat tersebut adalah wajib, demikian pula tidak bolehnya takhif juga wajib” (hal 224)
Semakin jelas kiranya bahwa akidah imam Abu Hasan Al-Asy’ari dalam masalah asma’ dan sifat berdasarkan:
Kitab Allah ta’ala yaitu al Qur’an dimana Allah menetapkan di dalamnya sifat–sifat bagi diri-nya
Hadits – hadits Rasululah yang shohih yang menetapkan sifat
Perkatan salaf dan para imam hadits. Karena aqidah mereka adalah aqidah yang selamat dan motode mereka adalah lurus, yang menetapkan sifat-sifat yang baik bagi Allah, tanpa ditakyif, tanpa tamsil, tanpa tahrif, tanpa ta’thil, panutan dalam masalah ini adalah imam Ahmad bin Hambal
Berbeda dengan apa yng diyakini oleh sementara orang yang mengaku mengikuti beliau, dikenal dengan nama Asya’iroh, ternyata yang mereka klaim itu tidak benar sama sekali, sehingga terlihat nyata perbedaan antara imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Asy’iroh, dimana beliau menetapkan semua sifat bagi Allah yang tertera dalam al Qur’an sedangkan Asya’iroh hanya menetapkan dua puluh sifat saja, uraian ini sebenarnya sudah cukup membuktikan kesalahan mereka dan sebagai bantahan kepada mereka, karena beliau telah ruju’ (berlepas diri) dari faham Mu’tazilah dan faham Kullabiyah. Membuktikan bahwa faham tadi itu salah dan sesat, selain itu mereka telah berbuat lancang dzolim kepada imam Abu Hasan Al-Asy’ari, jika mereka mengaku ittiba’ kepada beliau seharusnya juga bertaubat dari keyakinan mereka dan ruju’ kepada faham salaf, ahlussunnah wal jama’ah yang hakiki, Allahu a’lam.
(Penyusun: Abu Syamiel A)