MagzNetwork

Sejarah yang banyak diceritakan kepada kita, bahwa Kerajaan Saudi yang membawa pemahaman 'Wahhabi'-lah yang memberontak kepada Turki.
Sejatinya, Kerajaan Saudi Arabia (KSA) di masa itu menguasai daerah Nejd yang sama sekali di luar area Turki. Kekuasaan keluarga Saud itu hanya di Riyadh dan sekitarnya. Bahkan di sana ada keluarga Rasyid juga yang memiliki kekuasaan di daerah Al Jawf dan Hail. Dua kekuasaan ini tidak berada di bawah Utsmani.
Wilayah Turki (untuk daerah yang menjadi KSA sekarang) itu hanya meliputi daerah Hijaz sampai pesisir laut Merah.
Kalau mau dikatakan memberontak kepada Turki Utsmani, maka yang lebih tepat dikatakan sebagai pemberontak adalah Syarif Husein -Allah yarhamuh- yang menjadi penguasa Hijaz. Bukan 'Wahhabi' dari keluarga Bani Saud.
Dan perlu anda ketahui, pemisahan Hijaz dari Turki Utsmani pun bukan dilakukan tanpa sebab. Di era pemisahan itu, pihak yang berkuasa secara defacto di Turki adalah kelompok sekuler yang disebut Gerakan Turki Muda. Sultan Abdul Hamid II rahimahullah mereka jadikan hanya sebagai simbol saja.
Syarif Husein rahimahullah sebagai penguasa tanah suci tentu tidak menginginkan dipimpin oleh kaum sekularis. Walaupun beliau sendiri berambisi untuk menjadi Raja Arab. Dia merasa punya alasan kuat untuk memberontak kepada Turki. Pemisahan Hijaz dari Turki ini terlaksana pada tahun 1916. Sejak itu Hijaz adalah wilayah tersendiri yang terpisah dari otoritas Turki.
Sampai di sini kita bisa simpulkan bahwa keluarga Saud tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemberontakan kepada Turki. Kalau mau dikatakan memberontak kepada Turki, maka vonis pemberontak harusnya disematkan kepada Syarif Husein rahimahullah.
KLAIM SEBAGAI RAJA SELURUH ARAB
Setelah melepaskan diri dari 'kekhilafahan' Turki Utsmani, Syarif Husein mengangkat diri beliau sebagai Raja seluruh Arab. Ini self-proclaimed saja. Karena secara defacto, dia tidak punya kekuatan yang cukup bisa dihandalkan untuk mewujudkan kekuasannya tersebut. Lepasnya dia dari Turki pun karena kerjasama dengan Inggris. Begitu Inggris melepas dukungannya, maka otomatis Syarif Husein pun tidak punya kekuatan yang bisa dihandalkan. Ini terbukti ketika dia berkonflik dengan keluarga Saud.
Merasa dirinya sebagai Raja Arab, Syarif Husein meminta agar keluarga Saud tunduk kepadanya. Tentu keluarga Saud menolak. Mereka sudah punya wilayah sendiri sejak zaman Utsmani. Sejak zaman Utsmani sudah independen, kok tiba-tiba harus berada di bawah Syarif Husein?
Konflik bersenjata antara pasukan Syarif dan Saudi muncul ketika Amiir (pemimpin) kawasan Al Khurmah, sebuah daerah subur di Timur Makkah, memilih untuk bergabung bersama Saudi. Al Khurmah ini perbatasan antara Hijaz dan Nejd. Maka Syarif Husein pun mengirimkan pasukan ke Al Khurmah. Meletuslah perang antara Saudi dan Syarif Husein.
Pasukan Syarif Husein yang didukung Inggris ketika itu menganggap remeh kekuatan militer Saudi yang didukung oleh gerakan Al Ikhwan. Gerakan al ikhwan ini tidak ada hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Al Ikhwan ini pasukan loyalis Saudi. Di luar dugaan, pasukan Syarif Husein mengalami kekalahan di Al Khurmah.
Sejak kekalahan Syarif di Khurmah, Saudi melihat kemungkinan besar untuk menaklukkan Hijaz, terutama dua tanah suci, Makkah dan Madinah. Tentu ini akan membawa prestise bagi keluarga Saud. Apalagi keluarga Saud memiliki keinginan untuk melakukan purifikasi Islam sebagaimana program yang dicanangkan oleh leluhur mereka bersama Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
Namun keinginan ini terhalang oleh Inggris yang masih memberikan perlindungan kepada Syarif Husein. Keluarga Saud lantas menahan diri dari ekspansi tersebut karena melihat kemudharatan yang besar akan muncul kalau berhadapan langsung dengan Inggris.
Sampai kemudian tahun 1924, Syarif Husein tidak cukup lagi dengan gelar Raja Arab. Dia mengangkat dirinya sebagai khalifah setelah Kamal Ataturk membubarkan 'kekhilafahan' Turki Utsmani. Syarif juga melarang jamaah haji dari Nejd untuk melakukan ibadah di Makkah.
Ini tentu menimbulkan kemarahan keluarga Saud. Begitu Inggris melepaskan dukungannya atas Syarif Husein, maka dengan waktu relatif cepat Saudi pun menguasai Hijaz. Syarif Husein rahimahullah pun kemudian lari ke Cyprus. Wilayah Dinasti Hasyimiyah yang beliau bangun hanya tersisa berupa kerajaan kecil yang bernama Yordania.
Keterangan foto:
- Peta Jazirah Arabiyah sebelum Syarif Husein memberontak kepada Turki
- Syarif Husein di masa tua beliau
- Pangeran Faisal, putra Syarif Husein berfoto dengan Jenderal Allenby, komandan Inggris di Timur Tengah.
- Pangeran Faisal dengan beberapa orang perwira militer, termasuk TE Lawrence yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia. Tokoh militer legendaris dari Inggris yang berhasil membujuk penguasa Arab untuk memberontak kepada Turki. Kapan-kapan kita bahas rojul yang satu ini biidznillah.

 

Suku yg disegani Masyaik Saudi

Diposting oleh Mastindi | 18.16 | | 0 komentar »

ASY-SYINQITHI: SUKU PADANG PASIR YANG DISEGANI MASYAIKH SAUDI

Pernahkah anda mendengar nama kaum Asy-Syinqithi?.Kaum Asy-Syinqthi ini merupakan kaum yg sangat di kenal dan di hormati terutama di Arab Saudi.Apakah yang membuat mereka begitu istimewa?.

Berasal dari benua Afrika atau lebih tepat lagi dari negara Mauritius,kaum Asy-Syinqithi mendiami kawasan pedalaman padang pasir dan menjalani kehidupan yang jauh dari arus kemodernan dan teknologi.

Kehebatan suku ini dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menjadikan suku ini sangat istimewa.Inilah faktor yg menyebabkan kaum ini begitu di hormati.Tambahan pula,sistem dan cara pembelajaran mereka berbeda sama sekali dengan sistem pembelajaran yg terdapat di dunia pada hari ini.

KECINTAAN KAUM ASY-SYINQITHI KEPADA ILMU

Secara adat dan kelaziman,jika ada kanak² berumur 7 tahun tetapi masih belum menghafal Al Quran,disana ini merupakan satu perkara yang aib dan memalukan kedua orang tuanya.

Mereka mulai di dengarkan dengan Al Qur’an bukan hanya sejak kecil,tapi bermula sejak dari bayi .Ketika ada seorang ibu hamil,dia tidak akan menghabiskan waktu hanya dgn tidur dan beristirahat semata.Sebaliknya,ibu tersebut akan sentiasa mengisi waktunya dengan muroja'ah hafalannya.

Kemudian,setelah bayi itu lahir,keseluruh ahli keluarga akan muroja’ah. Contohnya,seorang anak akan muroja’ah kepada bapa atau ibunya.Anak itu diwajibkan untuk muroja’ah di depan adiknya yang masih bayi .Pendek kata,Al Quran dengan kehidupan kaum ini ibarat isi dengan kuku.Hatta ketika si ibu sedang menggendong bayi pun,aktivitasnya muroja’ah ini tetap di buat.

*Muroja'ah=Aktiviti pembacaan Al-Quran secara bersama sama.Ia adalah kaedah mengulang dan menghafal Al-Qur'an*

Ketika mereka berusia 7 tahun dan ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama.Kelas atau bilik darjah mereka bukanlah seperti yg terdapat di negara kita sebaliknya hanyalah sebuah pondok yg terletak di tengah gurun pasir yang panas.Di situlah proses belajar dan mengajar dilakukan.

Mungkin dalam pemikiran kita,ini adalah satu perkara yg sedikit perih disebabkan faktor seperti cuaca yang panas membakar. Namun bagi mereka,itu adalah merupakan satu nikmat.Rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri mereka membuat sedikit ilmu yang di peroleh adalah berupa satu nikmat dan rezeki yang melimpah.Berbeda dengan diri kita yg menganggap rezeki dan nikmat itu adalah HARTA!!"...

SISTEM DAN CARA PEMBELAJARAN

Ketika Syaikh yang mengajar berkata "ISTAMI' (bererti 'dengar'),kesemua pelajar akan segera mendengarkan fokus.Mereka akan fokus dan memberi penuh perhatian kepada apa yg dikatakan oleh Syaikh tersebut.Tidak akan ada yang berani berperilaku sambil bercanda.

Setelah Syaikh selesai memberikan penerangan secara terperinci dan panjang lebar,barulah para pelajar akan mulai menulis kembali apa yg telah di ajarkan.Uniknya,mereka ini bukannya menulis diatas kertas tetapi di batu, daun,kulit pohon dan sebagainya yang di bawa dari rumah.

Mungkin kita tertanya²,kenapa tidak pakai kertas?.Bukankah ianya lebih mudah dan praktikal?...Jawabannya,kerana memang begitu sistem dan cara pembelajaran mereka. Penggunaan kertas memang di larang.Paling tidak pun,hanya sehelai saja kertas yang di bolehkan.

Setelah para pelajar selesai menulis,Syaikh akan mulai memeriksa dan menyimak penulisan pelajarnya.Jika terdapat kesalahan,maka akan dikembalikan untuk di perbetulkan,sehingga nantinya sama persis seperti apa yang telah di ajar dan diucapkan oleh Syaikh tadi.

Setelah mendapati kesemua dari pelajarnya telah menulis dengan betul,Syaikh akan menyuruh pelajar² ini 'menghapus' penulisan mereka tadi.Anda mungkin akan berasa heran kenapa tulisanya perlu di hapus?.

Di sinilah kehebatan dan keunikanya cara pembelajaran mereka.Kuncinya ialah ketika syaikh memeriksa kembali apa yg di tulis oleh pelajarnya tadi.Dari situ dapat menunjukkan para pelajar sudah faham,ingat dan menguasai sepenuhnya apa yg telah di ajarkan oleh syaikh .Jadi,tidak ada yg perlu di kuatirkan jika penulisan itu di hapus kerana isinya sudah 'melekat' dalam kepala para pelajar.

Syaikh kemudiannya akan meneruskan sesi pembelajaran yang seterusnya.Dan itu sama seperti sebelumnya...Penerangan lisan,pelajar menulis kembali apa yg di ajar, simak dan membetulkan penulisan pelajar jika terdapat kesalahan apa yg telah di tulis.Begitulah seterusnya sehingga tamat sesi pembelajaran pada hari itu.

Di rumah,barulah pelajar² ini akan menulis kembali apa yang telah di pelajari tadi.Sangat luar biasa,mereka mampu untuk mengingatnya walau pun baru saja mempelajarinya dalam waktu yang sangat singkat.

BERGELAR MUFTI PADA USIA 17 TAHUN

Lazimnya,pada usia 17 tahun mereka sudah pun khatam dan hafal kitab² seperti 'Kutubut Sittah','Bulughul Marram' dan juga kitab-kitab klasik lain.Umumnya mengetahui kitab² ini memang luar biasa ketebalannya.Jadi,bisa kita bayangkan berapa banyak jumlah hadits yg terdapat dalam kitab2 tersebut?.

Apa yg lebih menakjubkan adalah,mereka bukan hanya sekadar menghafal matan haditsnya sahaja.Tetapi kesemuanya termasuk rijalul hadits,biografi muhaddits, mengambil hadits dari siapa,dinyatakan tsiqah atau tidak oleh 'ulama dan sebagainya.

Tidak heranlah jika mereka ini boleh dan mampu menentukan sendiri sanad hadits tersebut shahih atau tidak dengan hanya mendengar sahaja sesuatu hadits itu.Semuanya 'melekat' di dalam isi kepala.

Tidak heran dalam usia yg sebegitu muda,mereka ini sudah layak bergelar mufti dan berkemampuan mengeluarkan fatwa.

Sebenarnya terdapat banyaknya ulama' yang berasal dari Mauritius.Tetapi mereka jarang menonjolkan diri lantaran sibuk dengan aktivitas belajar dan juga mengajar.Jika anda bertemu dengan nama yang berakhir dengan “ASY SYINQITHI”,mereka itu adalah golongan yang lahir dari sistem pembelajaran secara tradisional di Mauritius; menghafal dan mencatatnya diatas kayu (lahwah).


 Oleh : Dr. Slamet Muliono

Menarik untuk mengulas hasil diskusi yang digagas oleh Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya.
Acara yang digelar pada hari Kamis, 9 Juni 2016 itu menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ali Mufrodi, MA. Pakar Sejarah Islam dari Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dr. Ainul Haris, M.Ag., penulis disertasi dengan tema Pemikiran Muhammad Bin Abdul Wahhab tentang Kenabian.
Dalam diskusi itu banyak mengulas tentang akar dan genealogi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, sehingga tergambar dengan jelas bagaimana latar belakang dan sejarah perjuangan dakwah beliau hingga munculnya perlawanan atas dakwahnya.
Muhammad bin Abdul Wahhab, yang lahir tahun 1703 Masehi di Uyainah itu dan memiliki seorang ayah yang ahli dan menguasai fiqih madzhab Hambali (Ahmad bin Hanbal), sehingga basis pengetahuan tentang madzhab Hambali sangat kuat. Bahkan dia memperdalam agamanya dengan belajar langsung ke Mekkah dan Madinah serta Baghdad selama 23 tahun. Sejak itulah dia menyebarkan ajaran tauhid ke masyarakatnya di Uyainah hingga mengalami perlawanan.
Kondisi sosial politik dunia Islam saat itu sedang meredup, sehingga tidak memiliki kekuatan dan pengaruh bagi dunia Islam. Sementara kondisi keagamaan mengalami kebekuan, dan dari sisi aqidah, masyarakatnya banyak bertawassul (meminta) lewat tempat-tempat yang dianggap keramat atau memiliki kekuatan, seperti pohon atau kuburan.
Masyarakat pada saat itu mempercayai adanya kekuatan dari pohon kurma yang disebut al-Fahal (pejantan). Pohon itu dipercayai bisa mengabulkan keinginan para perempuan yang ingin punya keturunan, sehingga mereka meminta kepadanya agar dikaruniai seorang anak. Begitu pula, ada sebuah kuburan Zaid bin Khaththab (kakak Umar bin Khaththab) yang dikeramatkan, sehingga banyak masyarakat yang datang ke kuburan itu dan meminta berkah dan menyampaikan hajatnya. Kondisi sosial masyarakat yang demikian, membuat Muhammad bin Abdul Wahab tergerak untuk mendakwahi mereka secara santun.
Dakwah tauhid dengan memurnikan aqidah inilah yang kemudian menimbulkan reaksi dan perlawanan dari masyarakatnya, hingga dia sempat terusir dari tempat tinggalnya. Ketika terusir inilah, dia bertemu dengan Muhammad Ibnu Saud di daerah Dar’iyyah dekat Riyadh dan keduanya bersepakat untuk saling bantu di bidang agama dan politik. Muhammad bin Abdul Wahhab fokus di bidang agama dan Muhammad Ibnu Saud fokus di bidang politik. Dua orang ini bersepakat dan berjanji dan bekerjasama saling bantu untuk menegakkan agama dan politik secara bersama-sama. Bahkan Muhammad ibnu Saud mengawinkan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan adik perempuannya.
Dakwah Tauhid_✍
Yang membedakan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan juru dakwah yang lain adalah penekanan kepada pemurnian agama (tauhid). Hal inilah yang menjadikan gerakan dakwahnya mengalami hambatan besar. Namun karena dukungan politik dari Muhammad ibu Saud ini, maka gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab mengalami kemajuan dan perkembangan pesat.
Kalau ulama lain berdakwah mengajak kepada persatuan, mengajarkan akhlaq, fiqih atau syariah, tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab mengajak masyarakat untuk memurnikan aqidah mereka.
Apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dianggap mengganggu tatanan dan merusak perekonomian masyarakat. Ketika memiliki jalur kekuasaan dengan Muhammad Ibnu Saud, maka dia bisa menggerakkan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang dikeramatkan. Hal ini diyakini akan merusak keyakinan dan kepercayaan agamanya. Dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab inilah yang membuat masyarakat yang terbiasa dengan tradisi tawassul kepada benda dan tempat keramat marah dan memusuhinya.
Tidak sedikit tuduhan sesat, gila atau terkena sihir menimpanya. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Apa yang diajarkan Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berpengaruh dan melekat pada masyarakat Arab, khususnya di Mekkah dan Madinah dalam berpegang teguh kepada ajaran Nabinya. Salah satu contoh dari ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab yang melekat hingga kini adalah pentingnya dasar rujukan (dalil) dalam setiap melakukan amal kebaikan. Orang Saudi begitu mudah membangunkan masjid untuk anggota keluarganya yang meninggal. Hal ini berdasarkan hadits : Man banaa masjidan, banallahu lahu baitan fi al-jannati (Barangsiapa membangun masjid, maka Allah akan membangunkan rumah di surga)
Kerja keras dan dakwah yang gigih inilah, sangat tepat apabila para ulama memberi gelar kepada Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai tokoh pembaharu (Mujaddid). Hal ini diilhami oleh keberhasilannya dalam mengembalikan keyakinan masyarakat Islam kepada pemurnian ajaran agamanya. Dakwah tauhid telah berhasil mengembalikan kepercayaan agama masyarakatnya yang tercampur dengan tradisi lokal yang menyesatkan dari keyakinan yang lurus. Pengalihan dari pengkeramatan dan pensakralan kepada benda yang dianggap bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan, kepada penyucian dan pengagungan hanya kepada Allah merupakan contoh konkret pembaharuan yang dilakukannya.
Namun sepak terjang Muhammad bin Abdul Wahhab mengalami gelombang perlawanan yang luar biasa. Salah satu di antaranya dari musuh-musuh Islam yang menjulukinya sebagai tokoh kesesatan dan penghancuran situs-situs penting, serta tidak menghargai sejarah peradaban masa lalu.
Bahkan tuduhan itu menggunakan tokoh-tokoh Islam dengan menuduhnya sebagai akar muncul tindakan terorisme dan radikalisme. Padahal gerakan-gerakan terorisme dan radikalisme, yang muncul sebagai gerakan global ini, justru diciptakan oleh mereka yang memusuhi dakwah tauhid ini. Bahkan “dakwah tauhid” Muhammad bin Abdul Wahhab memberi inspirasi dan mengokohkan Arab Saudi dalam menghadapi para pembenci Islam.
Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya.

Musik Menyebabkan Runtuhnya Islam di Andalusia 🎸
🔸Kisah Nyata , Ketika Musik Merebak Dan Merajalela, Negara Kuat Itupun Runtuh🔸
🗣️ Berbicara tentang penyebab musibah yang menimpa umat Islam, sering kita dapati para pakar dan para ahli hanya berbicara dalam tataran teknis atau lingkup yang ditangkap panca indera saja, padahal ada faktor non teknis yang bisa jadi tidak tertangkap oleh indera manusia tapi itulah penyebab utamanya, yaitu dosa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa: 30)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah turun melainkan karena dosa. Dan musibah tersebut tidak hilang melainkan dengan taubat.” (al-Jawabul Kafi, Hal. 87).
Sama halnya dengan kehancuran sebuah negeri, para pengamat dan sejarawan hanya berbicara pada permasalah pemimpin yang lemah, ekonomi yang morat-marit, bencana alam, dll. padahal ada penyebab yang utama yang menimbulkan penyebab-penyebab di atas, yaitu dosa-dosa yang dilakukan oleh penduduk negeri tersebut.
Masyarakatnya adalah orang-orang yang berbuat kemaksiatan, bukan berdakwah dan melakukan perbaikan, mereka malah melupakan agama Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)
Hal itu pula yang terjadi di Andalusia, peradaban Islam yang berusia kurang lebih 800 tahun itu akhirnya hancur dengan runtuhnya Kerajaan Granada. Penduduk Andalusia kala itu melupakan Allah, jauh dari ketaatan kepada-Nya, dan sibuk dengan memperebutkan singgasana.
Lalu, apa yang menyebabkan mereka melupakan aturan Allah? Mungkin tidak ada yang menyangka penyebab lalainya penduduk Andalusia ini, karena penyebab ini begitu akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, penyebabnya ialah musik.
Ya, penduduk Andalusia disibukkan dengan mendengar musik. Musik telah mengalahkan bacaan Alquran mereka, mengalahkan bacaan hadis-hadis mereka, dan melupakan dari menadabburi ayat-ayat Allah Ta’ala.
Orang yang membawa musik ke tanah Andalusia adalah Abu al-Hasan Ali bin Nafi’ (789-857) atau yang lebih dikenal dengan Ziryab.
⁉️ Siapakah Ziryab?
Ziryab adalah seorang Persia atau Kurdi yang pada awalnya tinggal dan bekerja di Irak lalu tinggal di Andalusia selama 30 tahun. Ia seorang musisi, penggubah lagu, ahli kosmetik, kuliner, fesyen, dan juga menguasai beberapa cabang ilmu pasti. Orang-orang Eropa mengenal Ziryab sebagai bapak kebudayaan.
Kalau hari ini kita gambarkan Ziryab, maka ia layaknya seorang selebriti.
Orang-orang memperhatikannya dalam hal mode pakaian, gaya rambut, dan tren kuliner. Ia membuat tren warna dan model pakaian harus mengikuti musim-musim tertentu.
Hari ini kita lihat orang-orang meniru tren Ziryab dengan istilah pakaian musim dingin, musim panas, atau musim semi. Ziryab juga mengubah kebiasaan bagaimana sebuah makanan itu dihidangkan atau disantap.
Tidak ada seorang pun di Eropa atau di Andalusia secara khusus yang peduli tentang penyajian makanan, dahulu orang-orang menyajikan semua makanan dalam waktu yang sama. Ziryab membaginya menjadi tiga bagian dengan menu-menu yang menyesuaikan.
Hari ini kita kenal dengan istilah hidangan pembuka (appetizer), hidangan utama (main course), dan makanan penutup (dessert). Demikian juga dengan gaya rambut, ia membuat tren laki-laki tatanan rambutnya pendek dan rapi, sementara perempuan berambut lebih panjang dan berponi.
Sebagian dari kita mungkin menyangka tatanan modern dalam berpakaian, kuliner, dan gaya rambut masyarakat Eropa saat ini adalah budaya yang terlahir dari kebiasaan mereka sendiri. Kalau Anda menyangka demikian, maka itu adalah kekeliruan.
Kebiasaan tersebut terlahir dari seorang muslim yang berasal dari Baghdad, yaitu Ziryab. Bahkan Ziryab mengajarkan masyarakat Eropa menggunakan deodoran, pasta gigi, dan shampo.
🎷 Mengajarkan Musik 🎹
Setelah menyebutkan nilai-nilai peradaban yang Ziryab ajarkan kepada masyarakat Eropa, ada hal lain yang ia sebarkan di tengah peradaban muslim Eropa dan masyarakat benua biru itu secara umum, yaitu musik.
Ketika datang ke Spanyol, Ziryab mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Daulah Bani Umayyah II di sana. Lalu ia pun mendirikan sekolah musik di wilayah kerajaan tersebut. Ia sangat pandai memainkan alat-alat musik, baik alat musik tradisional Arab maupun tradisional daerah setempat.
Melihat sosok Ziryab yang mampu menghibur dengan musiknya, memiliki penampilan yang trendi, mengajarkan cara menikmati makanan yang lebih menyenangkan dll. membuat masyarakat saat itu kagum dan memiliki kecenderungan hati kepadanya. Jangankan orang-orang yang hidup saat itu, tatkala mendengar apa yang diajarkan Ziryab kepada masyarakat Eropa sehingga peradaban Eropa seperti sekarang ini,
mungkin di antara kita mulai mengaguminya, padahal apa yang diajarkan Ziryab bukanlah sesuatu yang sifatnya darurat, artinya peradaban manusia tidak punah jika tidak mengetahui apa yang Ziryab ajarkan.
Tidak sehebat apa yang ilmuan-ilmuan Islam lainnya ajarkan. Kekaguman tersebut membuat masyarakat mulai meninggalkan membaca Alquran atau berkurang dari biasanya, demikian juga membaca hadis, dan kisah-kisah para ulama yang shaleh. Mereka mulai sibuk dengan music tersebut.
Kebiasaan ini kemudian turun-temurun terwarisi hingga lemahlah umat Islam dan semakin tidak mengetahui ajaran agama mereka. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam sejarah Islam di Andaluisa; berpecah-pecahnya Daulah Umayyah II yang dahulu menjadi satu-satunya kerajaan Islam di Spanyol menjadi Negara-negara kecil atau tha-ifah.
Beberapa di antaranya kemudian dikuasai oleh Kerajaan Kristen Eropa. Puncaknya, musibah itu disempurnakan dengan runtuhnya Kerajaan Granada.
🎶 Apakah Mendengarkan Musik Berdosa?
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)
Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,
الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.
“Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali. (Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 20: 127)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik…” (HR. Bukhari)
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian.
Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah.
Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan.
Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي سَمَاعِهِ ضَرَرٌ دِينِيٌّ لَا يَنْدَفِعُ إلَّا بِالسَّدِّ
“Demi Allah, bahkan mendengarkan nyanyian (atau alat musik) adalah bahaya yang mengerikan pada agama seseorang, tidak ada cara lain selain dengan menutup jalan agar tidak mendengarnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11:567)
Tentu ada dosa-dosa lainnya yang menyebabkan runtuhnya Islam di Spanyol, namun musik memiliki peranan penting yang menjauhkan umat dari agamanya. Umat Islam tidak tahu mana tauhid dan mana syirik karena mereka tidak mempelajari agamanya. Tidak tahu tata cara ibadah yang benar, dll.
Apakah benar musik melalaikan dari mengingat Allah, Alquran, hadis, dan mempelajari agama? Silahkan kita jawab dengan amalan kita sehari-hari, manakah yang lebih banyak kita dengar atau hafal? Nyanyian, Alquran ataukah hadis?
Banyak orang tertawa, merinding, terenyuh, bahkan menangis ketika mendengar musik, tapi sedikit yang merasakan hal yang sama ketika mendengarkan Alquran.
Sekali engkau mendengar atau menyanyikannya, maka sebuah noktah telah kau torehkan pada hatimu.
Dan karena telah sekali engkau terlena, engkau pun cenderung melakukannya lagi sehingga makin sulit engkau berlepas diri dari musik dan nyanyian.
Dan ketika musik telah menjadi kebiasaan, sungguh dikhawatirkan ia akan menjadi kebiasaan hingga akhir hidup.
Betapa sering telinga ini mendengar kisah tentang orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan lantunan musik dan lagu.
Mereka tidak bisa mengucapkan syahadat Laailaha illallaah, meski dengan terbata-bata. Justru lantunan musik yang terdengar dari lisan mereka – Na’udzubillahi min dzalik.
Meski mungkin mereka pun menginginkan untuk mengucapkan kalimat syahadat, tetapi tenyata lisan mereka terasa ‘berat’ dan telah terlanjur terbiasa dengan musik.
Bagaimana solusinya ? solusinya yakni dengan mengganti kebiasaaan.
Musik membawa hati keras dan menumbukan kemunafikan, solusi dengan mendengarkan murottal dan kajian islam yang berlandaskan Al quran dan Assunnah pemahaman salafush shaleh banyak sekali kajian yang membahas masalah Akidah, Akhlak , muamalah dan lainnya...

 

Kisah Cinta Putri Rasulullah

Diposting oleh Mastindi | 18.33 | | 0 komentar »

Zainab, Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasulullah,

JIKA ditanya tentang kisah cinta paling inspiratif dalam Islam, semua orang pasti akan menjawab kisah cinta Yusuf dan Zulaikha, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan Khadijah, atau Fathimah dan Ali bin Abi Thalib. Kisah ketiga pasangan ini selalu disebut-sebut dalam banyak tulisan.

Zulaikha yang sangat mencintai Yusuf selama bertahun-tahun, Rasulullah yang tetap bersedia menikahi Khadijah meski jauh lebih tua darinya, dan Fathimah dan Ali yang diam-diam saling mencintai. Melihat bagaimana mereka akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan, mejadikan kita sadar betapa kuasa Allah membuat skenario indah untuk setiap hamba-Nya di muka di bumi ini.

Tapi tahukah, di antara 3 kisah tadi, masih ada satu kisah cinta lagi yang tidak kalah menariknya? Kisah yang mengabarkan pada kita, bahwa cinta itu bukan memaksakan kehendak. Kita tidak pernah dilarang untuk mencintai, namun saat tiba masanya untuk memilih antara cinta dan Allah, kita tidak akan punya jawaban lain selain tetap setia pada Allah. Muslim yang baik pasti akan menempatkan Allah di mahligai teratas dalam hatinya, hingga apabila seluruh manusia di muka bumi ini benci padanya, itu tidak akan jadi masalah selagi cinta Allah tetap mengucur deras untuknya.

Inilah inti kisah cinta kali ini, yaitu kisah cinta putri Rasulullah, Zainab, dan seorang pemuda Quraisy bernama Abil Ash bin Rabi. Inilah kisah cinta yang terjalin antara seorang Muslimah dan seorang Non Muslim. Kisah yang insyaAllah akan menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Abil Ash, Pemuda Quraisy yang Telah Mencuri Hati Zainab

Zainab dilahirkan saat Nabi berusia 30 tahun. Ketika mencapai usia perkawinan, Halah binti Khuwailid meminang Zainab untuk putranya, Abil Ash bin Rabi, seorang lelaki mulia dengan kekayaan yang melimpah. Halah binti Khuwailid sendiri adalah saudara perempuan Khadijah binti Khuwailid.

Khadijah juga telah yang mengasuh Abil Ash seperti anak kandung sendiri sehingga ia diijinkan keluar masuk rumah Rasulullah seperti rumah sendiri. Karena itu, sejak kecil ia bergaul dengan Zainab putri Rasulullah seperti saudara kandung sendiri. Zainab sangat senang mendengar cerita perjalanannya dan cerita lain yang menarik.

Karena itulah pinangan Abil Ash diterima Zainab dengan suka cita, juga Rasulullah dan Khadijah. Pernikahan akhirnya digelar. Seluruh penjuru Makkah berbahagia atas bersatunya pasangan yang serasi ini. Usai pesta pernikahan, Khadijah pergi menemui kedua suami istri yang saling mencintai itu dan mendoakan agar keduanya mendapatkan berkah. Kemudian dia melepas kalungnya dan menggantungkannya ke leher Zainab sebagai hadiah. Sejak itu Zainab tinggal di rumah suaminya.

Islam Menjadi Anugerah Sekaligus Ujian Bagi Zainab

Zainab dan Abil Ash memang selalu hidup dalam keharmonisan, namun perkawinan itu berlangsung sebelum turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika Islam datang, Zainab pun tanpa ragu langsung beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami istri itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan antara keduanya.

"Tidak akan tercapai tujuan di antara kita, wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku. Demi Tuhan, ayahmu bukanlah seorang yang tertuduh. Tetapi aku tidak ingin dikatakan bahwa aku meninggalkan kaumku, dan menjadi kafir mengingkari agama nenek moyangku hanya demi menyenangkan istri." Ucap Abil Ash saat baru saja pulang dari perniagaan.

Pasangan suami istri itu terdiam sebentar sambil merenung. Keduanya kaget tatkala mendengar sebuah bisikan, "Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama."

Zainab masih terus tinggal di Makkah bersama suaminya karena pada saat itu belum ada larangan pernikahan beda agama. Mereka baru berpisah setelah kepulangan Abil Ash (pasca menjadi tawanan perang Badr) karena telah turun QS Al-Mumtahanah 60:10 dan Al-Baqarah 2:221 yang melarang wanita muslimah hidup bersama sebagai suami istri dengan pria kafir.

Zainab dan Kalung untuk Menebus Sang Suami

Hari berganti, tibalah saatnya Rasulullah untuk hijrah ke Madinah. Betapa sedihnya Zainab karena ia tidak bisa mengikuti sang ayah berhijrah, karena sang suami maupun keluarganya tidak mengijinkan. Hingga perang Badr berkecamuk, Zainab adalah satu-satunya Muslimah yang tinggal bersama kafir Quraisy di Makkah.

Saat pasukan kafir Quraisy dan Muslim bertemu di lembah Badr, Abil Ash merupakan salah satu orang yang berada dalam barisan kafir Quraisy. Ia memerangi pasukan yang dipimpin oleh mertuanya sendiri. Hingga akhirnya sejarah mencatat, pasukan Muslim yang kalah jumlah itu berhasil memenangi peperangan.

Tidak sedikit dari kafir Quraisy yang kehilangan nyawa, sedangkan sisanya menjadi tawanan. Abil Ash masuk dalam daftar tawanan. Ia digiring menuju kota Madinah. Keluarga para tawanan di Makkah pun berbondong-bondong mengirimkan tebusan pada Rasulullah, salah satunya datang dari Zainab. Ia mengirimkan sebuah kalung pemberian sang Ibu untuk menebus suaminya.

Mengingat putrinya dan kalung itu, hati Rasulullah gerimis. Tiba-tiba wajah Khadijah hadir di depan matanya. Rasulullah tidak sampai hati. Beliau berkata, "Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan (Abil Ash) dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah." Mereka menjawab, "Baiklah, wahai Rasulullah."

Abil Ash pun dibebaskan. Saat itulah ia berjanji pada sang mertua untuk membebaskan Zainab dan mengembalikan kepada beliau di Madinah. Abil Ash pun pulang ke Makkah bersama kalung yang tadi dikirimkan sang istri. Kini ia tahu betapa cinta dan kesetiaan Zainab tidak pernah berkurang untuknya, meski agama menjadi tembok pemisahnya.

Jarak Makkah dan Madinah tidak Mampu Menghapus Cinta di Hati Keduany

Begitu sampai di rumah, Abil Ash mengucapkan terimakasih pada sang istri. Ia pun berkata, "Kembalilah kepada ayahmu, wahai Zainab." Ucapnya sambil berusaha berbesar hati. Pada hari yang telah ditetapkan, Zaid bin Haritsah bersama seorang lelaki Anshor diutus Rasulullah untuk menjemput Zainab di pinggiran dusun di luar kota Makkah.

Abil Ash tidak kuasa menahan tangisnya saat melepas kepergian sang istri. Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedang dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang pada agamanya. Yang membuatnya lebih sedih lagi, ia tidak bisa mengantarkan Zainab keluar kota Makkah karena keadaan pasca perang saat itu.

Abil Ash pun mengutus saudaranya, Kinanah bin Rabi, untuk mengantarkan Zainab. Ia berpesan, "Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukan Zainab dalam jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy yang menemaninya keluar kota Makkah, dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup membiarkannya berjalan sendirian. Maka temanilah dia menuju tepi dusun, di mana telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah lembut dalam perjalanan dan perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita-wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang penghabisan."

Rupanya perjalanan Kinanah membawa Zainab tidaklah berjalan mulus, karena kafir Quraisy selalu menghalangi. Ketika Zainab berada di punggung unta, Hubar bin Aswad Al-Asadi menusuk perut unta dengan lembing, hingga Zainab terlempar jatuh dan mengeluarkan darah. Janinnya telah gugur di atas gurun pasir. Tapi ketabahan dan kemantapan hatinya yang dilandasi iman serta Islam, membuat keberaniannya semakin membara, hingga tetap mantap hijrah ke Madinah. Setelah melewati beberapa hambatan, Kinanah berhasil membawa Zainab pada waktu malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya. Keduanya pergi mengantarkan Zainab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Berpisahlah Zainab dengan suami tercinta dan kedua buah hatinya. Cinta Abil Ash dan Zainab benar-benar diuji. Tidak ada lagi jalan untuk bertemu. Abil Ash tetap tinggal di Makkah. Ia selalu murung dan menyendiri karena sang belahan jiwa tidak lagi ada di sisinya. Zainab pun tinggal di Madinah bersama sang ayah. Ia jadi sering sakit-sakitan karena cinta dan kerinduan yang sangat dalam. Kalau saja bukan karena iman dan takwa yang menguatkan tekadnya, tentu ia akan tetap bersama Abil Ash hingga ajal yang memisahkan.

Selalu Ada Jalan Bagi Allah untuk Mempersatukan Dua Anak Manusia

Minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Suatu hari Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya menuju Syam. Saat perjalanan pulang dia berjumpa pasukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berhasil merampas hartanya, syukur mereka tidak membunuhnya. Kini Abil Ash tidak punya apa-apa lagi. Bukan hartanya saja yang ludes, melainkan juga harta yang dititipkan orang-orang padanya. Bagaimana ia bisa sanggup kembali ke Makkah?

Di tengah keputus asaan itu, Abil Ash teringat Zainab, wanita yang begitu mencintai dan setia padanya. Maka diputuskan pada suatu malam Abil Ash memasuki Madinah dengan sembunyi-sembunyi. Ia berhasil bertemu Zainab dan segera mengemukakan maksud kedatangannya, bahwa ia ingin meminta bantuan Zainab untuk melindunginya, dan jika bisa, ia juga berharap hartanya bisa dikembalikan. Cinta di hati Zainab masih tersimpan rapi untuk Abil Ash, karena itu pula ia bersedia melindungi lelaki tersebut. Ketika masyarakat Madinah mengetahui keberadaan Abil Ash di Masjid, mereka segera berkerumun dan berniat untuk menangkapnya. Tapi kemudian Zainab berseru, "Hai, orang-orang, aku telah melindungi Abil Ash bin Rabi. Dia dalam lindungan dan jaminanku."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang salat menyelesaikan salatnya, beliau segera menemui orang banyak dan bersabda: "Wahai, orang-orang, apakah kalian tidak mendengar apa yang aku dengar? Sesungguhnya serendah-rendah seorang Muslim, mereka tetap dapat memberi perlindungan." Kemudian beliau masuk menemui putrinya. Zainab berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash ini dianggap keluarga dekat, ia masih putra paman. Jika dianggap jauh, ia bapak dari anakku, dan aku telah melindunginya."

Rasulullah kemudian berpesan,"Wahai, putriku, muliakanlah tempatnya dan jangan sampai dia menyentuhmu, karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik." Meski begitu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap terkesan melihat kesetiaan putrinya kepada suami yang ditinggalkan. Singkat cerita berdasarkan permohonan secara halus oleh Rasulullah, harta Abil Ash bisa dikembalikan. Beberapa orang di antara para perampas berkata, "Hai, Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua ini milik orang-orang musyrik?"

Tahukah apa yang dijawab Abil Ash? Ia berkata, "Sungguh buruk awal Islamku, jika aku mengkhianati amanat yang dipercayakan padaku." Namun saat itu benih-benih iman sudah tumbuh subur di hatinya. Mereka pun tetap mengembalikan harta itu kepada Abil Ash demi kemuliaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang banyak yang telah diamanahkan padanya.

Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing, Abil Ash berdiri dan berkata, "Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta seseorang di antara kalian padaku?" Mereka menjawab, "Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur dan mulia."

Abil Ash berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Demi Allah, tiada yang menghalangi aku masuk Islam di hadapan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kecuali karena aku khawatir mereka menyangka aku ingin makan harta kalian. Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian dan aku selesai membagikannya, maka aku masuk Islam."

Akhirnya Allah menunjukkan skenarionya yang begitu indah untuk Zainab dan Abil Ash. Keluarga yang pernah berpisah selama 6 tahun itu akhirnya kembali bersatu dalam satu atap rumah tangga bersama anak-anak mereka. Mereka kini tinggal dalam satu atap, satu iman dan satu perjuangan dalam Islam. Sayang, suasana bahagia itu tidak berlangsung lama. Zainab meninggal mendahului suaminya, setahun setelah kembali berkumpul dalam satu atap rumah tangga dengan suaminya. Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah sangat sedih atas kepergiannya. Rasulallah sendiri turun ke dalam kuburan di saat pemakaman.

Zainab meninggal dunia setelah meninggalkan kenangan terbaik. Dia telah menjadi contoh terbaik dalam hal kesetiaan isteri, keikhlasan cinta dan kebenaran iman. Tidaklah mengherankan apabila suaminya berkata dalam suatu perjalanan ke Syam, "Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya." Rasulallah bersabda mengenai Zainab, "Sesungguhnya ia adalah sebaik baiknya anakku dalam menerima musibah."

Epilog

Begitulah sahabat Muslimah, betapa Maha Kuasanya Allah. Jika Dia sudah berkehendak, tidak ada satu hal pun yang bisa menghalangi. Cinta Zainab dan Abil Ash hendaknya bisa kita jadikan pembelajaran tentang bagaimana mencintai yang benar. Saat ini banyak sekali kita dengar Muslim yang menggadaikan imannya demi menikahi seseorang yang tidak seiman, atau ada juga yang memilih pernikahan dengan dalih Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

Harusnya kisah Zainab menjadi peringatakan keras bagi kita bahwa Islam melarang pernikahan beda keyakinan. Pernikahan seperti itu bernilai zina sepanjang waktu. Andai ayat Untukmu agamamu, dan untukku agamaku berlaku dalam pernikahan, tentu Zainab tidak pernah berpisah dengan Abil Ash hingga 6 tahun lamanya. Jangan biarkan kita menjadi budak cinta, karena sesungguhnya setan senang sekali memanfaatkan cinta di hati kita. Ingatlah cinta kepada manusia tidak ada yang abadi apabila tidak berlandaskan pada Allah, sementara cinta kepada Allah akan terus dibawa hingga di kehidupan kemudian.