MagzNetwork

Pernah baca sirah Umar bin abdul aziz , salah satu khalifah bani umayah.

Ketika dipilih sebagai khalifah  itulah doa yang pertama beliau baca..

“Ya Allah jadikan aku ridha terhadap keputusan-Mu
“dan berilah keberkahan dalam takdir-Mu.
“sehingga aku tidak mendahulukan apa yang Engkau akhirkan
“dan mengakhirkan apa yang Engkau dahulukan

Sebagai seorang mukmin beliau faham betul, KEKUASAAN BUKAN ANUGERAH NAMUN SEBUAH AMANAH, yakni di mana nasib semua rakyatnya terbeban di punggunnya, yang kelak akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah.

Beliau juga mohon keberkahan, yakni kemakmuran yang adil dan merata kepada semua masyarakatnya, sehingga pada masa beliaulah para petugas amil yang membagikan zakat di tolak karena setiap orang merasa cukup dan tidak berhak menerima .

Beliau tidak pernah menjanjikan yang muluk muluk kepada rakyatnya apalagi yang tidak realistik sehingga  terkesan mendahului takdir Allah.

Mungkin terlalu idealis , bila mengharap pemimpin seperti beliau di masa sekarang..
Karena sebagaimana kata Rasulullah “Bagaimana kamu , begitulah pemimpinmu..

Oleh karena itulah , jadilah masyarakat yang cerdas dalam memilih


Bila tidak ada yang terbaik,Carilah yang paling sedikit modharatnya

Falsafah Hamzah Washal

Diposting oleh Mastindi | 01.21 | | 0 komentar »
Bagi yang pernah belajar ilmu sharraf pasti mengenal hamzah washal

Washal dalam istilah bahasa secara umum berarti menyambung, adapun  fungsinya dalam sharraf untuk membantu menghidupkan kalimat yang huruf awalnya sukun atau mati , baik itu kata benda maupun kata kerja.

Pada awalnya ketika seseorang masih seperti  manusia pada umumnya  ibarat kata benda (isim) masih bermakna umum (Nakirah), namun ketika ia berniat meningkatkan status sosialnya, saat itulah ia ingin dirinya punya makna yang lain yang lebih khusus, seperti gelar misalnya yang akan menjadi atribut hingga ia bisa tampil berbeda dari manusia secara umum.

Dalam ilmu Nahwu & Sharraf salah satu yang umum di pakai untuk mengkhususkan (me-makrifat-kan) kata benda , ialah dengan memasukkan ‘AL (alif & lam) , namun yang mesti kita ketahui dari paket “AL tersebut,sebenarnya bukan ALIF & LAM (karena Alif tidak bisa berharkat) melainkan HAMZAH dan LAM , Hamzah itulah yang disebut Hamzah Washal, di mana posisi awal pada kalimat sebenarnya bukan pada Hamzah tapi pada LAM, yang dalam posisi sukun atau mati, adapun masuknya Hamzah , agar suatu kalimat dapat terbaca , dan endingnya dapat diberi makna.

Lalu apa korelasi dari perumpamaan di atas ?

Untuk para kandidat yang akan berkompetisi pada pilkades yang akan datang, Ingat !..  pada awalnya anda bukan siapa-siapa, anda seperti  orang kebanyakan , dan ketika anda berniat meningkatkan status sosial anda dengan sebuah atribut  , maka mutlak anda butuh orang lain, butuh konstituen yang akan membantu mewujudkan cita-cita dan idealisme anda, ibarat  isim Nakirah (umum) ketika ingin menjadi makrifat (khusus) butuh “AL, sebagaimana hamzah washal, terkadang  ia berharkat Katsrah sebagai Personifikasi dari kalangan bawah, terkadang Dhommah, sebagai Personifikasi dari kalangan menengah serta Fathah sebagai  Personifikasi dari kalangan atas.

Dan bila kelak anda terpilih jangan abaikan golongan hamzah washal itu, karena bila anda di eja , anda kembali bukan siapa-siapa.

 Adapun terhadap yang tidak memilihmu , jangan engkau dzalimi  haknya, karena mereka juga punya hak sama untuk disejahterakan, karena sebagai  pegawai pemerintah , engkau adalah kepanjangan tangan negara untuk  kemaslahatan rakyatnya.

Penduduk Jakarta secara konstitusi memang tidak punya hak untuk memilih, tapi secara genetika  kami tetap warga Giligenting  sebagai tanah leluhur , Rasul yang mulia saja ketika akan berhijrah ke Madinah sempat bersedih meninggalkan Mekkah sebagai tempat kelahirannya, apa lagi kami.


Jangan coba abaikan peran penduduk gili yang ada di perantauan, karena perputaran roda ekonomi di kampung,terjadi disebabkan suplay rupiah dari luar.

Rehat sejenak di ujung Ramadhan

Diposting oleh Mastindi | 16.58 | | 0 komentar »
Kitab Ramadhan hampir usai kita baca, dalam wujud amaliyah..

Rehatlah sejenak , refresh keimanan kita, apakah target membacanya sudah sampai di bab Taqwa

Ramadhan tamtsil sebuah kitab, untuk melatih diri menjadi mukmin yang muttaqin.

Melatih menjaga lisan, Hati, melatih berlaku jujur, Sabar ,Tadarrus, shalat Sunnah,menumbuhkan rasa empati, bahkan segala bentuk amal , hingga Allah janjikan dengan pahala berlipat ganda.

Tercapai atau tidak target shaum, terbukti bukan di bulan ini.

Namun setelahnya.

Di bulan Syawwal , yang artinya “peningkatan , apakah semakin meningkat amal kita

Di bulan Dzul Qa’idah , yang artinya, yang terikat , apakah masih terikat dan menjadi amaliyah rutin apa yang secara kontinu kita lakukan di bulan Ramadhan .

Semoga kita terpilih menjadi seperti apa yang di inginkan Rasulullah “KA WALADATHU UMMU , seperti bayi yang baru lahir , bersih tanpa dosa , karena di bakar oleh kobaran api Ramadhan.

Bukan hanya sekedar “IDUL FITRI atau kembali berbuka, di mana kita kembali bebas makan minum di siang hari, namun

“IDUL FITRAH, kembali suci

Karena Shaum kita juga di tutup dengan ZAKAT FITRAH, agar kata Rasulullah SAW, “jangan sampai ada di hari raya itu yang masih kelaparan.

Dan Zakat Fitrah merupakan simbol rasa empati atau keperdulian sosial, terhadap sesama.


Lengkap sudah Ramadhan sebagai sarana Training dalam membina, ‘Hablum minallah dan Hablum minan nasi

salurkan zakat melalui amil zakat.

Diposting oleh Mastindi | 09.18 | | 0 komentar »
Untuk Ikhwan & Akhwat yang hartanya sudah memenuhi nisab dan khaul, ada baiknya pertimbangkan saat akan menyalurkan zakat, di berikan sendiri agar tepat sasaran seperti keinginan kita, atau melalui amil , agar sesuai secara syar’e seperti yang Allah jelaskan dalam surat 9 ayat 60.

Menurut saya ada baiknya kita serahkan kepada Amil zakat yang ada di sekitar kita atau lembaga yang sudah profesional dalam pengelolaan zakat. ada beberapa hal mengapa kita di sunnahkan berzakat melalui amil zakat

Pertama . agar terhindar dari Riya

Kedua : agar mustahiq tidak merasa berhutang budi , karena ia tidak tahu siapa muzakkinya, padahal zakat itu memang merupakan haknya, yang Allah titipkan kepada para Muzakki.

Ke tiga :Dengan pengelolaan yang baik , (berbeda dengan zakat fitrah, yang harus di bagi habis karena bersifat konsumtif), zakat maal  bila dikelola secara profesional dan amanah bisa meningkatkan taraf hidup mustahiq (semacam memberi modal kerja) setidaknya mustahiq tahun ini dapat menjadi Muzakki tahun depan.

Artinya, mari jadikan lembaga amil zakat sebagai sarana atau wasilah atau mediator  , agar gap atau jurang perbedaan strata sosial antara Aghniya dan Fuqara wal masakin tidak semakin lebar.

Kelalaian saat kita memberi sendiri zakat maal kita ialah,  yakni terkadang kita memberikan kepada orang yang sebenarnya masih dalam tanggungan kita. Bukan 8 asnaf/golongan yang Allah maksudkan.

Selain itu ada sebagian para pedagang menjadikan bingkisan kepada pelanggan sebagai bahagian dari zakat, ini adalah anggapan yang keliru. padahal hal tersebut terjadi karena kaitan dengan kerja sama yang saling menguntungkan.



Islam, Iman & Taqwa

Diposting oleh Mastindi | 21.37 | | 0 komentar »
Taqwa ialah target atau tujuan dalam menjalankan ibadah puasa

Taqwa ialah status yang amat tinggi di sisi Allah “inna aqramakum, ‘endallahi atqakum “sesungguhnya yang paling mulia di sisiku di antara kalian, “ialah yang paling bertakwa.
Secara terminologi lughawi “taqwa berarti terpelihara, adapun secara istilah taqwa ialah ‘Imtistalul awamira , wajtinabun nawahiyah “ menjalankan perintah Allah & menjauhi larang-NYa.

Kesimpulan korelasi/hubungan dari dua hal tersebut ialah, orang bertakwa ialah orang yang mampu menjaga diri dari larangan Allah, dan menjanda diri agar senantiasa mampu menjalankan perintah Allah.

Para ulama membuat visual tentang jenjang Islam, Iman & taqwa dengan beberapa lingkaran, lingkaran pertama adalah Islam, di mana bila posisi kita dalam lingkaran pertama , kita belum menjadi seorang Mukmin , seperti yang Allah jelaskan dalam surat 49 ayat 14, ada pun ketika semakin baik ke Islaman kita masuklah kita ke dalam lingkaran Iman, selanjutnya semakin baik ke Imanan kita masuk;ah kita ke dalam lingkaran Taqwa. Intinya , saat kita berada dalam lingkaran taqwa , sekali gus kita berada dalam lingkaran Iman dan Islam, dan bila kita hanya ada pada lingkaran Iman maka kita hanya berada pada dua lingkaran yakni , Islam dan Iman itu sendiri (kitab Durratun nasihin)

Dalam surat al-Baqarah secara tersirat Allah menjelaskan siapa orang bertakwa itu ? ayat selanjutnya menjelaskan , yakni “orang-orang yang beriman.... (badal tafsir)

Begitu pun shaum yang kita lakukan , panggilan untuk kaum yang beriman dan targetnya mencapai derajat taqwa.