MagzNetwork

Senang menerima kebaikan orang lain..

Diposting oleh Mastindi | 00.57 | | 0 komentar »

Rukhsah, maknanya adalah dispensasi atau keringanan dalam menjalankan ibadah saat seorang mendapat udzur syar’e yang menghalangi kesempurnaan beribadah saat ditunaikannya

Dalam bulughul maram bab “shalatnya musafir dan orang sakit, pada salah satu haditsnya ada yang berbunyi “Allah senang seorang hamba menerima rukhsahNya sebagaimana ia senang hambanya membenci maksiat.

Rukhsah adalah adalah wujud lain dari kasih sayang Allah, dalam makna yang lain bisa di artikan Rukhsah adalah kebaikan Allah yang diberikan kepada hambaNya. Tapi posting ini bukan rukhsah dalam terminologi fiqih, tapi saya alihkan kepada..

Saat seseorang dengan keikhlasan hati menawarkan budi baiknya kepada kawan atau kerabatnya, yang semata-mata ikhlas demi mengharap ridha Allah, lalu kita mengabaikan kebaikannya, yang andai kata kita pedulikan, berapa banyak manfaat yang kita peroleh , bukan hanya terjalinnya harmonisasi hubungan sosial, dengan terjadinya silaturrachim, namun juga pahala yang kita peroleh karena menyambut kebaikan yang ditawarkan oleh orang lain merupakan ibadah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits “apabila kamu di undang dalam sebuah walimah maka datangilah..

Walimah, maknanya secara umum adalah pesta, tentunya yang dimaksud bukan pesta ma’siat.. saya ambil contoh saat kita diundang dalam iftar jama’e (buka bersama) syukuran atas sesuatu nikmat yang diperoleh.. atau yang semacamnya.

Betapa banyak alternatif saat kita mendapat jalan yang buntu untuk menjalin silaturrachim... namun sangat disayangkan,kita tak pernah jeli, kurang peka,mengapa sahabat kita atau saudara kita mesti menempuh jalan yang tidak biasa untuk menjaga tali silaturrachim agar tetap terjaga, rasa sensitivitas kita seakan berubah menjadi baal /kebal, saat silaturrachim ingin di jalin dalam suasana yang lain.

Fakir dan Kafir

Diposting oleh Mastindi | 00.52 | | 1 komentar »

KADHAL FAKRU AN YAKUNA KUFRAN (hampir saja kefakiran menjerumuskan kepada kekafiran)

Al-fakru meski secara kalimat ma’rifat (khusus) namun secara makna adalah umum, Fakir adalah “ketiadaan sesuatu, boleh jadi fakir ilmu, fakir pengalaman, fakir informasi, fakir etik atau fakir budaya dan fakir harta. Dan semua kefakiran tadi akan menjerumuskan pemiliknya kepada kekafiran baik kafir secara maknawi maupun kafir secara istilahi.

Orang yang fakir ilmu, ia akan berbicara dan berbuat cenderung di luar perhitungan logika sehat, yang pada akhirnya membuat akal sehatnya menjadi tertutup, tidak ada yang dapat dibanggakan dari dirinya, tidak ada nilai plus, tidak kreativitas yang bisa dihasilkannya.

Orang yang fakir informasi , akan merasa seolah tertutup dari dunia luar, berbeda dengan orang kaya informasi,. Meski berada dalam rumah terasa berada di dunia luar.

Orang yang fakir etika, ia akan merasa ucapan dan tingkah lakunya sudah benar, ia tidak sadar di dunia mana ia berada, yang dalam sebuah ungkapan di sebutkan “di mana bumi di pijak di sana langit dijunjung, ia mengingkari budaya atau etika sekitar.

Yang terakhir fakir harta, masalah ekonomi yang menghimpit kehidupan seseorang tidak jarang cenderung menjerumuskan diri orang tersebut kepada sesuatu sikap di mana ia terpaksa atau suka rela melakukan sesuatu yang bertentangan bahkan menutupi nuraninya, lebih fatal lagi menutupi keimanannya , itulah yang disebut kafir secara istilahi, adapun kafir secara maknawi, adalah menutupi.


Dalam ilmu fiqih kita mengenal beberapa hukum sesuatu baik berwujud amaliyah, maupun bendawiyah ‘hukum taklifi namanya, yang terbagi dalam lima kategori, yakni 1. Wajib atau rukun (dalam kajian yang lebih dalam wajib dan rukun berbeda), 2. Sunnah atau anjuran, 3. Mubah atau halal, 4. Makruh, 5. Haram.

Lalu bagaimana bila hukum tersebut di transformasikan kepada eksistensi atau keberadaan manusia ?

1. Manusia wajib , yakni seorang manusia yang keberadaannya sangat dibutuhkan yang dalam banyak hal, baik tenaga, pikiran, dana maupun waktunya bahkan yang lebih dari itu, begitu urgen keberadaannya yang andaikata jasanya bisa di beli, orang akan membayar berapa pun .

2. Manusia Sunnah, adalah manusia yang keberadaannya juga sangat dibutuhkan , namun masih bisa tergantikan oleh yang lain, atau absennya masih dapat dicari alternatif penggantinya.

3. Manusia mubah adalah manusia yang ada atau tidaknya tidak banyak membawa arti, karena ke tidak adaan manfaatkan dalam kehadirannya, atau seperti pepatah Arab “ WUJUDUHU KA ‘ADAMIHI (adanya seperti tidak adanya)

4. Manusia makruh adalah manusia yang keberadaannya tidak begitu disukai bahkan cenderung orang berharap agar dia tidak ada bersama sama mereka.

5. Manusia haram adalah manusia yang sama sekali orang tidak pernah berharap kehadirannya, baik pemikiran, tenaga maupun sumbangan morilnya.

Bagi seorang Muslim yang taat kepada Allah dan senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang-Nya, tidak perlu risau dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya, sebab situasi yang di mana kita seolah terproteksi berada pada salah satu yang lima tergantung siapa yang menciptakan kondisi tersebut, beruntunglah bila lingkungan tersebut sangat kondusif dengan keimanan kita, karena pengaruh positif dari orang-orang beriman yang tinggal di situ, namun bila lingkungan tidak kondusif dengan ke iman kita tentunya tidak harus membuat kita menjadi larut dalam lingkungan tersebut, dengan asumsi agar kita diterima dan menjadi bagian atau menjadi sesuatu yang berarti bagi lingkungan tersebut, jadilah diri kita tetap yang sebenarnya yakni seorang Mukmin meskipun kita menjadi manusia yang tidak dibutuhkan atau bahkan manusia haram, namun haram dikalangkan pelaku maksiat.

Sebagai seorang Mukmin, tunjukkan sikap istiqamah kita, dan bila mampu kita bukan menjadi bagian dari mereka tapi upayakan mereka atau sebagian mereka menjadi bagian dari kita, rubahlah !.. setidaknya warnailah..

Nabi bersabda “KHAIRUNNAS MAN ANFA’UN NAS (sebaik-baik manusia ada;lah yang bisa memberi manfaat bagi manusia yang lain)

Ilmu adalah amanah

Diposting oleh Mastindi | 00.56 | | 0 komentar »

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (QS 2; 159)

Membaca terjemah ayat di atas mengingatkan saya sewaktu mengikuti Training mengajar untuk kelas TPA dan tahassus, waktu itu rasanya tidak mungkin saya bisa mengajar dengan minimnya pengetahuan agama yang saya miliki, namun ternyata dengan mengajarlah beberapa hal yang dapat saya peroleh di antaranya bertambahnya ilmu yang saya miliki secara autodidak hal ini karena tantangan dalam mengajar menjadikan saya mau tidak mau harus belajar lebih dalam lagi, baik melalui guru atau ustad yang rutin 3 kali seminggu memberikan bimbingan masalah aqidah juga belajar mendalami bahasa Arab kurang lebih selama 5 tahun di sebuah pesantren dengan cara pulang pergi setiap hari kecuali hari Jum,at dan Minggu dari jam 1 siang s/d jam 5 sore.

Ilmu , bukan hanya sebuah kosakata, namun sebuah ungkapan dengan makna mengetahui, karena itulah seilmiyah dan sebagus apapun sebuah buku, tidak dapat disebut sebuah ilmu atau pengetahuan melainkan sekedar kumpulan huruf yang menjadi kata lalu di rangkai menjadi sebuah kalimat, yang setelah disusun sedemikian rupa oleh ahlinya maka menjadi sebuah buku yang punya nilai tinggi.

Bahkan al-Qur,an pun akan hanya tinggal tulisannya manakala tak ada kepedulian bagi ummat ini untuk mendalami isinya.

Nah .. baru dikatakan ilmu manakala sudah terhujam jauh ke dalam hati dalam bentuk pemahaman. Seperti doa kita

“RABBI ZIDNI ILMU WAR ZUQNI FAHMA (Ya Allah berikan kami ilmu dan pemahaman yang mudah)

Adapun Faham adalah modal untuk kita mengajar, dengan faham (setelah kita tahu) akan menjadikan lebih mudah dalam menyampaikan.

Ke seimbangan dalam hidup

Diposting oleh Mastindi | 00.52 | | 0 komentar »
Di suatu pagi saat pulang dari pasar, saya 2 kali saya harus berbalik arah, pasalnya jalan di proboden dengan bangku, intinya tidak boleh lewat, jalan ditutup karena sedang dimanfaatkan warga untuk sesuatu hal, bagi saya bukan lantaran jalan ditutup yang menjadi ibrah, tapi penyebabnya yakni yang pertama karena ada yang meninggal yang kedua karena ada yang hajatan .

2 peristiwa yang bertolak belakang suasananya, yang pertama sedang berduka cita, yang kedua sedang bersuka cita, bahagia dan derita itulah romantika hidup yang bisa menimpa siapa saja, apa dan bagaimanapun status sosialnya.

Beberapa waktu ini kita dihebohkan dengan berita tentang merajalelanya binatang sejenis kumbang yang dikenal sebagai “Tomket, hewan ini konon katanya bisanya lebih ganas dari ular berbisa, saya tidak paham bagaimana penjelasannya , tapi tidak mematikan, hewan ini sebenarnya kawan petani dan hidup di ladang maupun sawah, musuh atau pemangsa hewan ini adalah Tokek sejenis cecak besar sebesar kadal yang berwarna belang, tapi sekarang tokek sudah langka karena diburu manusia lantaran harga hewan ini baik daging maupun kulitnya melonjak mahal, lalu akibat pemangsanya musnah maka yang terjadi populasi tomket meledak tanpa kendali dan bertebaran hingga ke perkotaan.

Apa korelasi yang dapat kita petik dari cerita di atas ? tentang keseimbangan alam !, ada kelahiran , ada kematian , meski kelahiran tidak serta merta dapat menggantikan kehidupan yang telah tiada namun kehadirannya dapat menggantikan setidaknya secara kwantitas, mungkin dan mungkin kelak kehadiran manusia baru akan membawa manfaat yang lebih besar dari kematian beberapa tahun bahkan puluhan tahun sebelumnya.

Manusia tak pernah tahu apa hikmah dibalik sebuah peristiwa melainkan perjalanan waktu yang menjawab , atau bahkan mungkin tak dapat terjawab kecuali oleh orang yang arif dalam memandang kehidupan.

Namun sebagai Muslim kalaupun kita tak dapat menjawab hikmah di balik sesuatu peristiwa, dengan ke Imanan kepada Allah hati akan menjawab semua hal dengan keyakinan kita akan kitab sucinya.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3;191)

Wallahu a’lam bissawab.