MagzNetwork

Sajadah panjang

Diposting oleh Mastindi | 23.26 | | 0 komentar »

Ada, sajadah panjang terbentang.......

Begitulah sepotong bait lagu yang dinyanyikan oleh grup kasidah dari Bandung “Bimbo, lagu ini cukup tenar sejak pertama di luncurkan bahkan hingga kini tidak pernah bosan di dengarkan oleh para penggemarnya termasuk saya.

Pada mulanya saya bingung tidak paham, apa yang dimaksud dengan sajadah panjang,. ?
Lagu Qasidah atau juga Nasyid, sebagai sarana sosial untuk berdakwah menyampaikan sesuatu pesan liriknya sangat sarat dengan makna yang dikemas dalam bentuk kiasan dari situlah saya coba memahami maksudnya.
Sajadah merupakan kiasan dari sarana ibadah , adapun panjang terbentang sarana itu bisa menembus tembok kantor, pertokoan, pasar rumah dan segala hal , maknanya ibadah dapat kita lakukan di mana dan dalam kondisi apapun. Saat kita menjadi karyawan, buruh, penjaga toko atasan juga bawahan itu bisa kita jadikan sarana untuk beribadah.

Ibadah , adalah semua perbuatan baik yang diniatkan semata-mata mencari ridha Allah , itulah ta’rif atau definisi yang disepakati mayoritas ulama, karena ibadah adalah sebuah pengabdian yang tulus dari seorang hamba sebagai wujud pengakuan akan kelemahannya, maka segala gerak dan aksinya tak pernah lepas dari kepasrahan dan mengharap konpensasi dari penciptanya.

Sajadah panjang terhubung jauh ke setiap profesi, karena seorang muslim tak pernah membeda-bedakan aktivitas, selama itu baik, memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain, dan tak pernah ada larangan menerapkannya, maka semua bisa diolah menjadi sarana ibadah.

Sajadah panjang,. Sampai sejauh mana sajadah kita membentang, ataukah hanya baru sampai di masjid, lalu kita lipat dan membatasi hanya sekedar kepada ibadah ritual saja, sajadah tidak perlu ikut ke kantor karena kita kwartir tidak bisa memanipulasi data, tidak boleh ikut ke toko karena kita kwartir tidak bisa mengurangi takaran, timbangan dan ukuran, sajadah tak boleh membentang sampai ke proyek karena kwartir tidak bisa menggelembungkan biaya proyek..

Ah !..sajadah cukup engkau membentang dalam ruangan masjid saja...

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS 89;14)

Menyadari siapa musuh kita

Diposting oleh Mastindi | 07.22 | | 0 komentar »

Teman dan musuh merupakan sesuatu yang tak bisa lepas dari kehidupan kita, meskipun keduanya tak pernah kita cari, keduanya datang sendiri ,bahkan juga pergi sendiri, namun untuk keduanya sederhanalah dalam menyikapinya,karena boleh jadi orang yang sangat kita benci, karena menjadi musuh menjadi orang yang sangat kita suka saat islahnya, atau sebaliknya menyenangi teman secara berlebihan boleh jadi pada saat kontra menjadi orang yang kita benci.

Namun yang saya maksud bukan musuh yang di atas, yakni musuh yang Allah isyaratkan dalam sebuah ayatnya.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS 35;6)

Bila kita urai dan kita pahami melalui tata bahasanya

Inna adalah huruf Taukid yang berarti menguatkan atas menegaskan kalam atau pembicaraan yang akan datang.

Asysyaitana merupakan permulaan pembicaraan dalam bentuk khusus.(di tandai dengan AL)

Lakum, berarti Allah mengajukan sesuatu (Syetan) untuk kalian (manusia)

‘aduwwum merupakan berita (khabar) yang harus kita perhatikan

Fattakhiduhu , Selanjutnya Allah menegaskan agar kita menjadikan apa yang Dia ajukan sebagai musuh kita.

Setan dalam ayat tersebut di atas bukan setan sebagaimana yang digambarkan atau di visualisasikan oleh para Sutradara Film horor,. Mungkin tidak terlalu salah tapi banyak salahnya, karena setan yang di gambarkan hanya memberi efek takut pada penampilannya bukan pada bahaya godaannya, seperti pada posting yang lalu (klik disini)

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS 15;39)

Itulah inti dari janji setan sebagai wujud permusuhannya dengan manusia, maka oleh karena itulah berbagai cara dilakukan setan untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah, agar kelak menjadi temannya di dalam neraka.

Lalu setan dalam wujud apa yang harus kita jadikan musuh ?

Setan dalam bentuk, baik hakikat maupun majasinya yang intinya mengajak kita jauh dari koridor ketetapan Allah itulah yang harus kita jadikan musuh,karena setan secara istilahi berarti “yang jauh dari kebaikan, (ba’ada minal khair – terdapat dalam kitab assasul balaghah)
Itulah juga sebabnya Allah jelaskan pada surat Annas, bahwa setan bisa juga berasal dari bangsa manusia.

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
Dari (golongan) jin dan manusia. QS 114;5 & 6)

Nah !.. bila setan yang harus kita takuti baik dari golongan bangsa jin maupun manusia adalah godaannya , mengapa kita harus menjadikan mereka kawan, menjadikan kawan bagi mereka ialah, kita mengikuti kehendak dan kemauan mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai kendaraannya.
Masih menjadikan setan sebagai teman ? naudzu billah..




polemik penutupan BB

Diposting oleh Mastindi | 14.45 | | 0 komentar »

Barang siapa yang melihat sesuatu kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya.. begitulah potongan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang terdapat pada kitab Hadits arba’en An-nawawi pada hadits yang ke 34.

Sebagian ulama berpendapat , tangan yang di maksud adalah kiasan dari “kekuasaan,. Masih hangat , aktual terdengar di telinga kita tentang penutupan layanan BB (Black berry) , terlepas siapa itu bapak Titaful Sembiring, namun yang jelas beliau punya niat mulia sebagai seorang pemimpin (pembantu presiden) dalam bidang informasi dan telekomunikasi untuk menyelamatkan moral bangsanya dari pengaruh buruk yang sarananya ada pada BB ,meski juga terdapat pada HP biasa, di samping itu juga merupakan kewenangan beliau, dan sikap nasionalisnya karena BB tak tersentuh pajak , lantaran servernya bukan di Indonesia, padahal BB banyak mengeruk keuntungan dari penggunanya yang sekarang hampir 3 juta orang .

Sebagian masyarakat mengatakan “ masalah situs porno dikembalikan kepada pribadi masing-masing,. Sebagai seorang Muslim tentunya beliau faham betul tentang kaidah usul yang berbunyi “ lil wasaili hukmul maqasid, artinya , hukum dan sarana yang dituju itu sama, maksudnya bila hukum sesuatu itu wajib maka sarana untuk mencapai itu menjadi wajib, lebih mudahnya lagi agar kita memahami apa yang di maksud dalam hal ini ialah, bila sesuatu hal itu haram, maka sarana yang menunjang ke arah itu juga haram, Allah berfirman

tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS 5;2)

dalam sebuah kitab di jelaskan “ bahwa minuman keras, dari petani yang mengirimkan bahan baku, pekerja di pabrik minuman tsb, pemilik, agen penjual, warung sebagai ujung tombak penjualan masuk dalam lingkaran setan/haram, karena semua yang terlibat tolong-menolong bahu membahu dalam memproduksi dan menjual barang haram tersebut.

Lalu kenapa kita mengatakan “kembali kepada pribadi masing-masing ,. Bila sarananya ada tentunya seseorang akan penasaran untuk mencoba, apalagi lingkungan yang buruk seakan memaksa menggiring ke arah itu, karena penyedia situs porno, mereka penyedia layanan yang mendapatkan keuntungan manakala ada yang mengklik situsnya, itu berarti mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjajakan dagangannya, tapi manakala pintu ke arah itu ditutup tentunya kesempatan memasarkan jualannya semakin sempit.

Usaha beliau patut kita hargai, meskipun beliau sendiri mengakui di tutup 100 muncul 1000, namun hal itu jauh lebih baik dari pada membiarkan tanpa lepas liar tanpa kendali . apalagi payung hukumnya dalam masalah porno grafi dan porno aksi sudah ada, dan usaha itu bisa kita lihat sejak beliau menjabat bagi mereka yang suka membuka situs porno, dan bagi para pemilik warnet atau orang tua tak perlu repot lagi untuk memblokir situs tersebut karena sarananya diblokir.

Sebagai seorang Muslim tentunya kita faham akan firman Allah di bawah ini.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS 66;6)

Polemik itu akhirnya berakhir setlah pihak RIM bersedia memenuhi tuntutan pemrintah kita, kesimpulannya, berarti bisa, tapi mengapa mereka menunggu di gertak ?

Wallahu a’lam bissawab.

Takut Setan ..

Diposting oleh Mastindi | 18.06 | | 0 komentar »

Takut !.. perasaan ini merupakan fitrah setiap manusia normal tanpa kecuali, namun bagaimana kalau takut setan ?
Ada tiga hal yang menjadi latar belakang adanya rasa takut terhadap setan
Pertama : karena kemunculannya yang selalu tiba-tiba , andai saja setan muncul secara berlahan sedikit demi sedikit maka seiring itu pula kita akan beradaptasi dengan kemunculannya.

Kedua : karena bentuknya, sebenarnya bentuk setan yang sering kita lihat baik dalam tayangan maupun dalam penampakannya hanyalah tergantung visualisasinya (gambar)pada asumsi kita, bila kita asumsikan bentuk setan seperti pocongan maka ia akan muncul seperti itu, dalam hal inilah , Imam Syafi’e Rahimahumullah memberikan pendapatnya “barang siapa yang mengaku melihat setan maka ia telah murtad, (maksudnya dalam bentuk aslinya) ,adapun Rasulullah melihat dalam bentuk aslinya atas idzin Allah. kembali ke atas, sebenarnya seseram apapun bentuk setan kita tidak akan takut kalau kita terbiasa melihatnya, tambahan lagi padahal setan bisa saja dgn ilmu sihirnya (dikalangkan Setan/Jin ada juga yang mempelajari sihir sebagaimana manusia) menampakkan bentuk sesuai ke inginannya, sebagaimana yang di nyatakan Rasulullah, ia bisa berubah menjadi Anjing, kucing, ular kalajengking dll sesuai keinginannya, hanya menyamai Rasulullah sajalah yang ia tidak bisa, bahkan boleh jadi nyi Roro kidul yang kita kenal bukanlah seorang perempuan.

Ke tiga : pada saat kita iseng atau sendiri, karena rasa takut akan sedikit berkurang bahkan hilang manakala kita beramai-ramai, dalam sebuah pameo di jelaskan.. tiga orang penakut berkumpul , maka yang terjadi menjadi tiga orang pemberani (kalau takut juga kebangetan)
Lalu bagaimana sebenarnya kita meletakkan rasa takut pada porsi yang sebenarnya ? takut !. sebenarnya hanya kepada Allah, kita bisa membuat contoh,. Saat malam hari kita bangun untuk shalat Malam, manakah yang lebih anda utamakan, takut pada Allah lalu berusaha menembus kegelapan malam untuk mengambil air wudhu , atau memilih merapatkan selimut karena takut melihat hantu,. Jawabannya ada pada diri anda sendiri.

Adab seorang penuntut ilmu.

Diposting oleh Mastindi | 16.30 | | 0 komentar »

Belajar merupakan hal yang wajib bahkan kebutuhan bagi manusia khususnya seorang Muslim atau mukmin, hal ini tersurat pada wahyu pertama Allah turunkan pada baginda yang Mulia yang berbunyi “Iqra (bacalah) dan makna dari membaca bukan hanya mengucapkan rangkaian huruf yang menjadi kata lalu tersusun menjadi sebuah kalimat, namun membaca bisa juga melihat dan menelaah lingkungan dan pengalaman orang lain, karena hasil dari hal tersebut sama yakni tercapainya sebuah pemahaman tentang sesuatu hal yang kita sebut “ilmu.

Betapa mulianya Ilmu dalam Islam, sampai perjalanan dalam menuntut ilmu merupakan perjalanan yang penuh berkah, dan setiap langkahnya dalam naungan dan ridha Allah yang mana satu langkah kakinya menghapus dosa dan kaki lainnya meninggikan derajat bagi pelakunya.

Di kecualikan dari ilmu sihir atau yang sejenisnya, Islam tak pernah membeda-bedakan ilmu , karena ilmu yang dipelajari manusia merupakan kumpulan pengalaman baik melalui riset atau ke tidak sengajaan karena yang dipelajari merupakan ayat-ayat Allah yang bersifat Qauniah, maka logikanya bila menuntut ilmu duniawiyah saja harus , tentunya yang berhubungan langsung dengan ukhrawinya pastilah lebih wajib.

Namun terlepas dari itu ada 4 hal yang mesti dilakukan oleh seorang penuntut ilmu untuk mendapatkan keberkahan dari ilmunya.

· Meniatkan, dengan menuntut ilmu itu untuk melepaskan dirinya dari kebodohan karena kebodohan akan membuat dirinya tertinggal dalam banyak hal , baik pergaulan secara sosial maupun budaya masyarakat beradab, sampai Allah menyinggung dalam hal ini.
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(QS 39;9)

· Agar dengan ilmunya dia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, yakni membantu dengan keahliannya secara ikhlas sebagaimana yang di serukan oleh baginda yang mulia Rasulullah SAW. (sebaik-baik manusia , ialah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi manusia yang lain al-hadits)

· Menghidupkan budaya belajar dan ilmu, karena bila kita meninggalkan sesuatu ilmu maka ilmu itu akan hilang, terutama ilmu yang berkenaan dengan masalah ukhrawi, seperti tata bahasa Arab, Qaidah usul dll, Rasulullah bersabda “ pelajarilah sesuatu ilmu, sebelum diangkat ilmu itu, dan Allah mengangkat sesuatu ilmu ialah dengan mewafatkan ulama ahlinya al-Hadits)

· Terakhir dengan ilmu itu agar ia dapat beramal dengan ke imanannya, sebab Allah tidak akan menerima iman tanpa amal dan tidak akan menerima amal tanpa ilmu, ilmu bagai penerang dalam gelap seseorang bila tidak memahami sesuatu keahlian lalu ingin terlibat dalam hal itu ibarat berada dalam gelap, ia hanya mengira-ngira apa yang akan ia lakukan, karena ketidak tahuannya.
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. (QS 35;19)
dan dalam ayat yang lain Allah mendahukan mempelajari sesuatu ilmu daripada mengamalkannya Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS;17;26)

Sebagai penutup, janganlah sekali-kali menuntut ilmu hanya untuk kepentingan duniawiyah semata atau hanya ingin berdebat dengan ilmu yang dimilikinya, untuk menggapai sesuatu kebanggaan yang semu, padahal ilmu yang kita miliki ibarat mencelupkan satu jari ke dalam air laut, lalu kita angkat, nah yang menempel di jari itulah ilmu kita , adapun yang terbanyak di laut itulah ilmu Allah, “Subhanallah...