MagzNetwork

kesalahn dalam Qurban

Diposting oleh Mastindi | 06.12 | | 0 komentar »

Mendekati hari raya haji atau Qurban (‘idul adha) jadi teringat peristiwa beberapa tahun silam, waktu itu kebetulan ibu mertrua berkorban seekor kambing yang lumayan besar yg diserahkan kpd panitia qurban, berbarengan “kalau tidak salah , istriku ingin sekali sate kambing, maka malam harinya, melalui seorang ikhwan yg juga panitia, ibu mertua memesan paha belakang kambing dari Qurbannya utk istriku , dia bilang akan disampaikan kpd ustadz sebagai ketua panitia, esoknya sebagaimana disunnahkan pemilik menyaksikan, maka ibu menyuruhku untuk mewakilinya sambil meminta pesanannya.

sebagaimana biasa sebelum penyembelehan sang ustadz memberikan tausia kpd yg hadir berkenaan dgn qurban, saat itulah sang ustadz mengatakan bahwa yg berqurban dilarang meminta bagian dari hewan qurbannya meski hanya sekerat daging, dia berlogika , “karena hewan yang dikorbankan akan menjemput pemiliknya kelak pd hari Qiamat menuju padang masyar, maka kita dilarang mengambil bagian agar dijemput dgn hewan yg utuh, tidak buntung kakinya , atau kepalanya karena kita sebagai pemiliknya mengambil bagian di dunia, tak satupun dalil keluar baik dari al-Qur,an maupun hadits dlm masalah ini, yah !.. hanya dalil “aqli (logika)

dgn perasaan kecewa dan heran akhirnya aku pulang, namun sebelumnya dgn bercanda aku bilang kpd salah seorang teman yg juga menjadi panitia, “kalau hewan yg kita korbankan berupa kambing mungkin gak apa-apa kalau di naiki 1 orang tapi kalau sapi tega banget yah, yg korban kalau harus naik semua 7 orang,.. “hus !.. dia ustad yg dituakan disini, balas temenku, dgn perasaan yg agak dongkol (maklum darah muda he he) aku bilang “ belajar lagi deh tuh ustadz !..

Berkata sufyan atsauri dari Mansur bin Ibrahim tentang ayat (makanlah hewan Qurban sebagiannya QS 22;28) bersabda “ adalah org Musyrik mereka tidak makan dari sembelihan mereka, maka diringankan bagi muslimin, siapa yang ingin makan , makanlah, siapa yang tidak maka jangan makan, (HR Mujahid dan “atha) sayarah Tafsir Ibnu Katsir Jus 2 halaman 225 cet. Qairo

Para ahli tafsir menjelaskan, kalimat MIN bermakna sebagian (ba’dun) maka pemilik boleh membagi menjadi 2 sebagian

1 bagian untuk yg berqurban, 1 bagian lagi untuk fakir miskin.

Dalam pendapat yang lain dijelaskan menjadi 3 bagian.

1 bagian untuk yg berQurban, 1 bagian untuk fakir Miskin, 1 bagian utk hadiah (berarti boleh juga di berikan kepada yang mapu)

Bila anda bisa membaca kitab kuning silahkan dibuka dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir jus dua dari halaman 225 s/d beberapa halaman berikutnya , tepatnya surat al-Hajj dari ayat 28, atau juga bisa dilihat pada kitab Fiqhus sunnah sayyid Sabiq pada jus lima bab Qurban .

Bagaimana jika yg punya tidak doyan, atau ia ingin memberikan keseluruhan hewan Qurban karena ia sdh terbiasa menjadi makanannya, atau hewan tersebut dikirimkan ke tempat musibah ? hal ini dibolehkan oleh Jumhur ulama, karena yg tidak boleh bukan masalah makan atau tidaknya, tapi yg diinginkan rasulullah agar Qurban umatnya menyelisihi Qurban Musyrikin, berarti masalahnya pada I’tiqad dalam hati, apakah yg kita yakini seperti logika ustadz di atas, atau Karena alasan tersebut ?(tidak doyan dan ingin memberikan semuanya)
Akhirnya benarlah apa yang disampaikan Allah dalam al-Qur,an

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS 17;36)

Mohon maaf !..bukan hendak menggurui , tapi betapa banyak orang yg tidak brkompeten mengeluarkan pendapat dgn logika yg ia tidak tahu bahkan bertentangan dgn sumber aslinya, yaitu al-Qur,an, wallau a’lam.

jangan remehkan shalat

Diposting oleh Mastindi | 16.35 | | 0 komentar »

Saat mengisi majlis Taklim ibu ibu dalam bab shalat, dan sangsi bagi yang meninggalkannya, seorang jamaah curhat “

Ibu. Saya ingin sekali shalat, tapi moshalla di tpt kerja sangat sempit, mesti berdesakan di tambah lagi jam istirahat yg hanya 15 menit, kapan waktu makannya ? mukena juga gantian..

Saya. Bagaimana dgn tempat , maksud saya PT yang lain ? apa juga sama ?

Ibu . di PT tpt kerja temen yg agak jauhan enggak berdesakan, soalnya moshallanya agak besar dan ada marbootnya, lebih bersih dan mukenanya juga banyak, kata temen saya yg kerja di sana,.

Saya. Kok gak pindah aja kesana ?

Ibu. Yah ! di sana gajinya kecil jarang lemburannya.

Saya . jam berapa berangkat kerja,. Apa bapak tidak kerja ?

Ibu,. Jam 5 subuh, pulang jam 10 malam, bapak kerja ngojek..

Dialog di atas, dan apa yg dikeluhkan ibu tadi sebenarnya juga mewakili ibu ibu atau jamaah yang lain, sebenarnya, masalah mereka bisa di atasi dgn dialog, yang difasilitasi serikat kerja yang ada, toh para taipan itu (pemilik perusahaan) rata rata adalah orang asing, semestinya mereka tunduk pada aturan yg ada di negri ini, yaitu memberikan kesempatan ibadah dan tempat yg memadai utk karyawannya, menurut asumsi saya, ada dua hal yang menjadi pokok permasalah saya dalam hal ini,

Pertama : pemilik perusahaan yang rata-rata ateis atau paling tidak tidak se Aqidah dgn karyawannya, sehingga mereka bersikap masa bodoh.

Kedua ; para karyawan itu sendiri yang tidak begitu merasa perlu, menjalankan kewajiban agamanya termasuk shalat sehingga mereka mengabaikan hal trsebut. Hal ini disebabkan karena mereka bekerja seperti robot atau di porsil sedemikian rupa, atau karena tuntutan kebutuhan keluarga yang begitu besar.

Pindah tempat kerja, mungkin itulah solusinya, tapi gaji kecil menjadi pertimbangan, disinilah mungkin yang perlu diperjelas,. Sebab besar kecil itu relative, pertanyaannya !.kenapa yg kerja di tempat yang dianggap bergaji kecil itu juga bisa hidup, menafkahi keluarganya, bahkan mungkin bisa menabung,? jawabannya ,. Mungkin itulah yang disebut “Berkah, sebab rizeki yg tidak berkah bagaikan uap, mudah memuai tak jelas kemana arah perginya,mudah hilang hanya dgn tiupan angin, yang ada kurang dan kurang..

Dalam sebuah ayatNya Allah berfirman “

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS 4;97)

Andai saja kita menyadari betapa pentingnya pengabdian terhadap sang pencipta, mungkin kita tak akan sempat ke mana mana, ingin ibadah dan ibadah, meski ibadah bukan hanya shalat, kerja yg halal juga bernilai ibadah, bahkan kata rasulullah, “seorang yg mati disebabkan pekerjaan halalnya, maka matinya adalah syahid, (tentu tak setinggi shahid membela agama Allah di medan perang), tapi shalat adalah ibadah utama yang menjadi barometer bahkan menjadi sayarat diterimanya amal yang lain,. Intinya “bila shalat ditinggalkan maka semua amal yg lain dianggap batal/tidak ada, naudzu billa..

Misionaris di tempat kerja

Diposting oleh Mastindi | 07.34 | | 0 komentar »


Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiinsiapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah,hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS 2;62)

Ayat di atas mengingatkan saya pada peristiwa beberapa tahun yang lalu saat seorang akhwat, curhat tentang kristenisasi di perusahaan tempat ia bekerja, sebagai seorang aktivis da’wah yang sudah ditarbiyah ruhiyahnya, tentu ia tak dapat dgn mudah dipengaruhi sang misionaris meski misionaris itu adalah atasannya, namun yang membuat ia gundah misi itu juga dilancarkan kepada karyawan yang lain, karena tidak mustahil jabatan sang misionaris sebagai atasan akan mampu menggoyahkan ke imanan karyawan yang lain terlebih bagi yang tak punya pijakan dan dasar agama yang cukup, di tambah lagi kemampuan berkomunikasi sang misionaris yang mampu menohok keyakinan seorang muslim yg masih labil,.

Yang membuat sang akhwat gundah, karena sang misionaris menggunakan ayat al-qur,an di atas untuk melancarkan misinya, aneh memang, tapi begitulah kepintaran mereka dalam melakukan praktek kristenisasi , hal ini mereka anggap penting karena dgn menggunakan ayat al-qur,an keyakinan sorang muslim akan goyah, betapa tidak , kitab (al-Qur,an) yg mereka dan kita sucikan malah mendukung argumentasi sang misionaris , mereka mengatakan

“ untuk masuk surga tidak perlu harus menjadi seorang Muslim, karena itu hanya identitas yg bersifat duniawiyah saja, nama agama Cuma kulit, kita boleh jadi Yahudi, Nasrani, Shabi’in dan apa saja yang penting beriman kepada Allah, dan berbuat baik, maka semua akan di beri pahala dan balasan surga .

Logis memang apa yg mereka ucapkan, tapi ingat itu adalah langkah awal mereka untuk menanamkan keraguan akan ke imanan kita kepada Allah, lambat laun bila dlm hal ini mereka berhasil, sang korban akan menganggap semua agama adalah sama, inilah yang disebut teori Piramida , atau corong terbalik, atau seperti jari jari motor/sepeda walaupun banyak, namun menuju \satu titik yaitu As roda , itulah tuhan yang dalam pandangan Islam di sebut Allah, dalam Nasrani di sebut Yesus, dan dalam Yahudi di sebut Uzair, atau nama yg lain yg intinya adalah tuhan yg sama, atau dia dia juga.. menurut mereka.

Kristenisasi bukan isu, kecuali bagi yg tak pernah menerjuni atau berhadapan langsung dgn misionaris, bila kita kaji dan mengambil tafsir ayat ini (saya menjadikan kitab syarah Ibnu katsir sebagai rujukan) pada hal 105 jus 1 Ibnu katsir menjelaskan ‘

“ orang Yahudi yg di maksud adalah para pengikut nabi Musa AS. yang setia menjalankan syareat Taurat , sebelum di robah oleh tangan jahil manusia setelahnya dan juga setia menjalankan sunnah nabi Musa, begitupun Nasrani yg di maksud adalah pengikut Nabi Isa AS. Yang masih konsisten menjalankan syareat nabi Isa dan menjalankan sunnah sunnahnya sehingga datang nabi Muhammad SAW. Adapun orang shabiin , adalah suatu golongan diantara Majusi , Yahudi dan Nasrani bahkan diantara mereka tidak beragama, pendapat yg lain mengatakan mereka adalah firqah atau golongan dari ahli kitab yang membaca atau mengikuti Zabur (nabi Daud) untuk itulah Abu Hanifah dan abu Ishak membolehkan sembelihan mereka.

Lalu bagaimana dengan kitab samawi yang di bawa para nabiyallah, Injil, Taurat, Zabur dan suhub, rasulullah pernah bersabda, “untuk kitab kitab itu jangan mengingkari seluruhnya namun juga jangan mempercayai seluruhnya, yaitu imanilah sebagiannya saja, (al-hadits),. Sarjana teologi barat sendiri mengakui , bahwa injil 90 persennya sudah tidak otentik.

Ibnu Abi hatim meriwayatkan dari sa’id bin Jubair, ia mengatakan seperti apa yang di dapat dari abi Talhah “ bahwa setelah ayat di atas turun maka Allah menurunkan ayat lain yang menjelaskan puncak ke imanan mereka, ialah apabila telah datang nabi yg terakhir, seperti apa yg di janjikan baik dalam Zabur, Taurat dan Injil maka maka tidak ada pilihan bagi mereka kecuali mengikuti syareat nabi Muhammad , yang tentunya menjadi penyempurna dari syareat nabi mereka , maka bila mereka berpaling kpd ajaran nabi Muhammad aqidah dan amal mereka akan sia2 (al-hadits)

Adapun ayat setelahnya ialah terdapat dalam surat al-Imran ayat 85

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (QS 3;85)

Bila sang misionaris menggunakan ayat al-Qur,an sebagai bahan misi untuk mendukung argumentasinya, maka perlu kita perjelas maksud ayat tersebut, karena yakinlah “bahwa mereka sebenarnya hanya asal mencomot ayat ayat tertentu untuk menguatkan pendapat mereka, karena mereka faham, umat Islam sangat sedikit yang mengerti al-Qur,an, hanya saja yg perlu mereka waspadai umat islam punya sifat fanatisme yang kuat terhadap agamanya, inilah yg menjadi sasaran untuk dilunturkan oleh mereka. Wallau a’lam




musibah bangsa ini

Diposting oleh Mastindi | 01.56 | | 0 komentar »

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa".
Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. (QS 2:63/64)

Ayat di atas merupakan kisah dari umat nabi Musa AS yaitu bani Israel,. (syarah tafsir Ibnu Katsir jus 1 hal. 107 cet. Qairo Mesir) yang mendurhakai dakwah yg disampaikan nabi Musa.
Al-Qur,an dalam beberapa ayatnya mengususng kisah nabi terdahulu dan umatnya agar menjadi pelajaran bagi kita, karena yang namanya sejarah adalah cerita yg selalu berulang pada kehidupan setelahnya dgn pelaku yg berbeda namun dgn idiologi yang nyaris sama, dalam kisah tersebut Allah mengangkat gunung (menurut Ibnu Abbas) atau menurut pendapat yg lain Bukit Sinai di atas pemukiman bani Israel hingga besarnya mampu menaungi tempat tersebut (al-a’raf 171) sebagai peringatan bagi bani Israel , dalam tex ayatnya selanjutnya kita fahami “bahwa adzab yg ditimpakan kepada mereka adalah karena meninggalkan ajaran nabi Musa dalam hal ini adalah Taurat.

Lalu bagaimana dgn musibah yg menndera bangsa kita yg datang silih berganti, susul menyusul dan menimpa bukan hanya kpd mereka yg durhaka, tapi juga menimpa orang orang yg shaleh, inilah saatnya kita intropeksi boleh jadi pola dakwah para da’I sudah tidak sesuai dgn kondisi yg ada, karena sabda rasulullah “Khutubuhun bi qudari ‘uqulihim , artinya dakwai mereka sesuai dgn kemampuan mereka (al-hadits) atau bahkan para da’I sudah meninggalkan mereka para penduduk kaki gunung yg kurang peduli terhadap kwajiban agamanya, atau mungkin ini adalah teguran juga bagi para peminpin,. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana seorang Istri pejabat terkemuka di Jogja menentang RUU APP (Rancangan undang undang anti pornografi dan porno aksi) yang sekarang menjadi undang undang, pada saat itu ia bersama masyarakat Bali,. lebih dari itu, para pemimpin kita secara struktur birokrasi dari RT hingga presiden mayoritas Islam, tapi anehnya mengapa hukum Allah begitu sulit ditegakkan, yang ada para ulama yang brusaha istiqamah di jalan Allah malah di dzalimi.

Akhirnya, hanya kepada Allah kita memohon, bertaubat untuk slanjutnya kembali kepada jalanNya, karena hanya dengan rachmat dan pertolonganNya kita masih diberikan kesempatan untuk beramal yang shaleh sebagai bekal di kemudian hari, bukan sesuatu yang sulit bagiNya untuk menimpakan adzab yg lebih dasyat lagi bila Ia berkhendak karena kepadanya segala sesuatu itu tunmduk baik secara suka rela ataupun terpaksa.

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS 13;15)

Memahami Tauhid

Diposting oleh Mastindi | 01.14 | | 0 komentar »

Maha benar Allah yg telah menurunkan al-Qur,an dlm bahasa Arab, bhs tertua yg tetap exis dan mempunyai banyak makna .

Kalimat tauhid(lailaha illallahu)yg sering kita baca setiap hari dalam shalat , ternyata banyak mengandung pemahaman yang amat dalam bila kita pelajari dari jalur yg benar, yaitu dari gramatika bahasa arabnya, yang insya Allah benar benar menjadi kunci surga bagi kita,. Bila kita mau menelaah kekayaan kandungan maknanya.

1. Lafadz LA dlm lafadz tauhid, bukan bermakna Nahi (larangan) atau Nafi (peniadaan) namun bermakna Istigharul jinsi (peniadaan segala Jenis) yakni segala jenis Tuhan,
2. Sudah umum La ini masuk kepada kalimat Nakirah (kalimat bermakna umum atau banyak), dan menashabkan dgn Fathah dgn membuang Tanwin .
3. Dan La ini juga membuang atau menyembunyikan kalimat berita yg ada di belakang kata benda di depannya, (ILAHA)dan disinilah letak pengakuan dalam hati kita , apa yang ada dalam hati kita yang ada di belakang kata tuhan saat kita mengucapkan “Tidak ada Tuhan .......... selain Allah ? pilihlah , “ Tidak ada tuhan, yang wajib di sembah/yang wajib di taati/yang wajib di cintai,. Selain Allah, adakah 3 kalimat tersebut dalam hati kita, atau bahkan terganti dgn yang lain, atau tidak ada sama skali ?bila tidak ada yuk !.kita evaluasi lagi syahadat kita, karena syahadat adalah Ikrar , janji dan sumpah kita.

4. Lafadz ILLA merupakan Istisna (pengecualian) dari Tuhan tuhan yg ditiadakan, dalam hal ini kalimat ALLAH mayoritas ulama ilmu Nahwu membaca Fathah dgn pertimbangan sebagai pengecualian dari kalimat ILAHA (tuhan) juga badal (pengganti).

Pantas orang arab jahiliyah tdk dgn mudahnya membaca dua kalimat syahadat, karena mereka faham benar konsekwensinya , yakni harus meninggalkan sesembahan yg selain Allah, mereka kwartir akan dimusuhi kaumnya, karena logika melahirkan kenyataan seperti pepatah arab “tarkul ‘adah ‘adawah (meninggalkan adat (kebiasaan) akan menimbulkan permusuhan) tidak percaya ! di sekitar kita banyak kesyirikan yg timbul dari peraktek kejawen,. Cobalah larang, tentang, nasihati,. Bagaimana responsnya ?