MagzNetwork

ADAB BERMAJLIS

Diposting oleh Mastindi | 00.58 | | 0 komentar »
Risalah Islam bukanlah merupakan risalah setempat dan terbatas, yang khusus bagi
suatu generasi atau suku bangsa tertentu seperti risalah-risalah sebelumnya, tetapi Islam
adalah risalah yang universal dan sempurna, yang mencakup segala aspek kehidupan, baik
perseorangan maupun kolektif, mulai dari perkara ibadah, hukum, politik, ekonomi, pendidikan,
dan lain sebagainya. Kesempurnaan Islam ini tidak luput membahas tentang adab-adab dalam
bermajelis, dimana tidak sedikit dari kaum muslimin, terutama para aktivis muslim, bermajelis
dan bermusyaw arah dalam kesehariannya. Mengetahui adab-adab dalam majelis adalah suatu
keniscyaan dan keutamaan tersendiri sebagai pengejaw antahan firman Allah _ :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.”5 (QS Al Israa’ 17 : 36).

Dan sabda Nabi _ :

(“Menuntut ilmu wajib bagi tiap Muslim”.)

Maka adalah kewajiban bagi seorang muslim untuk mengetahui ilmunya terlebih dahulu
sebelum beramal, sebagaimana Imam Bukhari telah menjadikan bab العام قبل القول والعمل “Ilmu
sebelum berkata dan beramal”. Berikut ini adalah adab-adab dalam bermajelis 6 :

1. Mengucapkan salam kepada ahli majelis jika ia hendak masuk dan duduk pada majelis
tersebut, hendaknya ia mengikuti majelis tersebut hingga selesai. Jika ia hendak
meninggalkan majelis tersebut, ia harus meminta izin kepada ahli majelis lalu mengucapkan
salam.

2. Tidak menyuruh seseorang berdiri, pindah atau bergeser agar ia menempati tempat
duduknya, dan selayaknya bagi ahli majelis yang telah duduk dalam majelis
merenggangkan tempat duduknya, agar seseorang yang mendatangi majelis tadi
mendapatkan tempat duduk. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah :

“Janganlah kalian menyuruh temannya bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi
hendaklah kamu memperluasnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

3. Tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk agar ia dapat duduk di tengahtengahnya,
kecuali dengan seizinnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah _

“Tidak halal bagi seorang laki-laki duduk di antara dua orang dengan memisahkan mereka
kecuali dengan izinnya.” (HR Abu Daw ud dan Turmudzi, hadits Hasan)

4. Apabila seseorang bangkit dari tempat duduknya meninggalkan majelis kemudian kembali
lagi, maka ia lebih berhak duduk di tempat yang ditinggalkannya tadi. Sebagaimana dalam
sabda Nabi _ :

“Apabila seseorang bangkit dari duduknya lalu ia kembali, maka ia lebih berhaq duduk di
tempatnya tadi.” (HR Abu Daw ud dan Turmudzi, hadits Hasan)

5. Tidak duduk di tengah-tengah halaqoh/majelis, dalilnya :


“Rasulullah _ melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halaqoh.” (Abu Daw ud)7

6. Seseorang di dalam majelis hendaknya memperhatikan adab-adab sebagai ber ikut :

- Duduk dengan tenang dan sopan, tidak banyak bergerak dan duduk pada
tempatnya.

- Tidak menganyam jar i, mempermainkan jenggot atau cincinnya, banyak
menguap, memasukkan tangan ke hidung, dan sikap-sikap lainnya yang
menunjukkan ketidakhormatan kepada majelis.
- Tidak terlalu banyak berbicara, bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan
yang sia-sia.
- Tidak berbicara dua orang saja dengan berbisik-bisik tanpa melibatkan ahli
majelis lainnya.
- Mendengarkan orang lain berbicara hingga selesai dan tidak memotong
pembicaraannya.
- Bicara yang perlu dan penting saja, tanpa perlu berputar-putar dan berbasa-basi
ke sana ke mari.
- Tidak berbicara dengan meremehkan dan tidak menghormati ahli majelis lain,
tidak merasa paling benar (ujub) dan sombong ketika berbicara.
- Menjawab salam ketika seseorang masuk ke majelis atau meninggalkan majelis.
- Tidak memandang ajnabiyah (w anita bukan mahram), berbasa-basi dengannya,
ataupun melanggar batas hubungan lelaki dengan w anita muslimah bukan
mahram, baik kholwat (berdua-duaan antara laki-laki dan w anita bukan mahram)
maupun ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan bukan
mahram).
7. Disunnahkan membuka majelis dengan khutbatul hajah sebagaimana lafadhnya dalam
muqoddimah di aw al risalah ini, dimana Rasulullah _ senantiasa membacanya setiap akan
khuthbah, ceramah, baik pada pernikahan, muhadharah (ceramah) ataupun pertemuan,
dan sunnah inipun dilanjutkan oleh sahabat-sahabat lainnya dan para as-Salaf Ash-sholeh8.
8. Disunnahkan menutup majelis dengan do’a kafaratul majelis. Lafadhnya adalah sebagai

berikut :

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada
sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan
bertaubat kepada-Mu.” (HR. Turmudzi, Shahih).

Diriw ayatkan pula oleh Turmudzi, ketika
Nabi ditanya tentang do’a tersebut, beliau menjawab, untuk melunturkan dosa selama di
majelis.

ADAB DALAM MAJLIS

Diposting oleh Mastindi | 00.47 | | 0 komentar »
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS 58;11)
Tak dapat terbantahkan lagi, belajar atau menuntut ilmu di dalam islam merupakan sesuatu yang wajib, tidak mesti di sebuah lembaga formal, seperti sekolah atau kampus, dan tidak ada batasan usia di dalamnya karena intinya kita tidak boleh bodoh .
Islam tidak pernah membeda-bedakan sebuah ilmu , baik itu umum maupun agama (terkecuali sihir dan sejenisnya, karena sudah jelas keharamannya) karena ilmu itu adalah milik Allah, dalam banyak ayat dan hadits dijelaskan baik secara global maupun spesifik tentang hal itu.
Untuk mendapatkan ilmu ada yang dilakukan secara sendiri, baik melalui buku, internet maupun secara privat , dan dalam hal ini tidak banyak aturan yang perlu diterapkan, karena secara umum belajar seperti ini dilakukan secara pribadi, di rumah sendiri dan jauh dari melibatkan pihak ketiga, dengan demikian kita bebas menetapkan model belajar bagaimana yang kita inginkan. Namun bagaimana kalau kita belajar secara kolektif & melibatkan orang banyak, maka dalam hal ini perlu etika dan adab yang baku dalam sebuah KBM (kegiatan belajar mengajar), agar tujuan pembelajaran menjadi jelas targetnya, baik dalam segi waktu maupun kurikulumnya. Dan di antara hal itu adalah adab atau etika pada saat kita belajar, agar suasana belajar menjadi kondusif, tenang dan guru dapat menjelaskan isi materi secara detil dan para jamaah dapat menyimak uraian yang di sampaikan tanpa ada gangguan dari suasa yang tidak sepantasnya terjadi dalam sebuah majelis ilmu, apalagi majelis itu dilakukan dalam mosallah atau masjid.
Ayat di atas secara gamblang memaparkan adab dalam majelis, mulai dari perintah melapangkan waktu untuk bermajelis, sampai pada etika atau aturan majelis yang di simbolkan dengan perintah berdiri, kalau memang itu untuk kebaikan majelis juga derajat kemulyaan bagi orang yang senantiasa menghidupkan majelis.
Kunci atau penutup ayat di atas hendaklah juga menjadi renungan bagi kita dalam menciptakan suasana belajar yang baik, karena tidak mustahil di antara rekan kita ada yang memang datang dari jauh dengan niat untuk mendapatkan ilmu , namun pada saat masuk dalam majelis, tercipta suatu kondisi yang tidak semestinya dari jamah yang lain , yang mungkin merasa apa yang disampaikan guru sudah ia ketahui, atau ia merasa tidak perlu untuk mendengarnya, jelas hal seperti itu tidak sepantasnya terjadi dalam sebuah majelis .
Sebagai perluasan dari sedikit tausiah ini saya memaparkan adab dalam majelis , yang diterjemahkan dari kitab minhajul muslimin, pada postingan setelah ini.


MENGAPA KITA ISLAM ?

Diposting oleh Mastindi | 08.16 | | 0 komentar »

Suatu ketika saat pengajian mengadakan tausiah umum kepada semua santri, dari anak anak sampai usia remaja dewasa materinya cukup sederhana yaitu MENGAPA KITA BERAGAMA ISLAM ? sebelum taklim di mulai dilontarkanlah suatu pertanyaan (pertanyaan tersebut akan menjadi bahasan dalam tausiah), maka muncullah beberapa jawaban.
1. Karena Islam adalah agama yang paling benar (dijawab oleh santri dewasa)
2. Karena Islam adalah agama yang cocok dengan fitrah manusia (juga oleh santri dewasa)
3. Yah ! karena orang tua kita Islam Kak ! kalau bukan Islam kita belum tentu beragama Islam (juga oleh santri dewasa)
4. Menggelengkan kepala (ketika pertanyaan ini diberikan pada santri kecil, atau sekelas TPA)
Bila kita perhatikan jawaban tadi cukup sederhana, sesederhana pengetahuan mereka yang didapat dari pengajian, tentunya dengan guru (saya sendiri) yang pengetahuannya juga terbatas, namun jawaban tadi sebenarnya merupakan cerminan realita dari umat islam secara umum, seolah mewakili kenyataan yang ada.
Yang pertama mengatakan “Karena Islam adalah agama yang paling benar” mungkin ini karena didasari Sikap fanatik (dan itu sebetulnya wajib, jika tidak buat apa rasulullah sampai berperang ), buat apa Allah menurunkan surat al-kafirun kalau kita tidak disusuh fanatiq (dalam kamus bahasa Indonesia, kata FANATIK berarti KUAT KEYAKINANNYA TERHADAP SESUATU YANG DIYAKININYA), Namun akan jauh lebih arif kalau sikap fanatik itu dilandasi dengan ilmu, bila mungkin mempelajari berbandingan agama, tentunya dengan tetap perpegang teguh dengan aqidah Islam, jadi sikap kefanatikannya dapat dipertanggung jawabkan.
Yang kedua mengatakan “Karena Islam adalah agama yang cocok dengan fitrah manusia” jawaban ini adalah jawaban yang cerdas yang keluar dari seorang muslim yang faham akan makna Islam, yang mempunyai makna berserah diri, patuh, pasrah yang bila kita ingin melihat akan islam, lihatlah alam sekitar kita, semua berjalan sesuai dengan sunnahtullah/ketenuan Allah, lihatlah bagaimana tomat , anggur dan cabai yang ditanam dalam satu pot yang sama, disiram air yang sama dengan pupuk yang sama, tanah yang sama mengapa buah dan rasanya tidak pernah tertukar, mereka tumbuh secara alamiah yang dalam Islam disebut sunnnahtullah, jadi mereka pasrah, patuh dan tunduk pada ketentuan Allah, Subhanallah.. Meski terkadang pada pohon dan buah terjadi proses aneh, namun namun bila dipersentasi hanya beberapa persen dari yang tumbuh sesuai kodratnya, itupun menurut para ahlinya kemungkinan adanya senyawa kimia yang tak dapat dijelaskan bagi orang yang awam, namun intinya hal itu sebetulnya adalah peristiwa alamiah.
(Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.Qs 13/15)
Jawaban ketika “Intinya kita Islam lantaran kedua orang tua kita, jadi kesimpulannya kita Islam keturunan, itulalh realitas umat umat yang ada, dan cermin dari kenyataan yang terpampang dalam kehidupan sehari-hari, Islam hanya identitasnya, bahkan yang banyak kita jumpai, seseorang akan diketahui Islam karena 2 kondisi setelah mukhallaf/terbebani kewajiban syara .
1. Ketika nikah (saat itulah kita tahu orang itu Islam dari proses nikahnya)
2. Ketika mati (diketahui juga dengan prosesi acara pemakamamnya, dari dimandikan, dishalatkan lalu dikubur dipekuburan Islam)
Betapa banyak umat islam sadar atau tidak meninggalkan sesuatu yang rukun/mesti bagi agamanya, padahal bila kita mau sedikit faham tentang rukun Islam artinya yang wajib/mesti/harus bagi orang Islam, (bila kita belajar fardhu wudhu atau fardhu shalat tentunya kita faham apa konswekwensi bagi yang meninggalkan secara sengaja salah satu yang fardhu, tentunya wudhu atau shalat kita batal, lalu bagaimana dengan Islam, atau kita meninggalkan rukun Islam, dikecualikan zakat dan haji), inilah yang tidak banyak difahami umat islam secara umum, bahwa sebetulnya, islam kita bisa gugur batal, dalam istilah lain kita murtad secara tidak sadar, naudzu billah min dzalik.
Jawaban terakhir, adalah tidak tahu” ini juga ternyata banyak mewakili umat Islam secara umum, betapa banyak yang tidak tahu mengapa mereka Islam, bahkan lebih fatalnya adalah ketidakfahaman akan kewajibannya selaku muslim, bagi mereka hidup adalah hari ini, dan akherat adalah akan dating, hingga aktifitas /rotasi hidupnya , berjalan tanpa nilai disisi Allah, berangkat pagi lalu pulang sore, lalu mandi, makan tidur, bangun lagi mandi sarapan dan berangkat lagi kerja. Lalu dimana nilai Islam kita ? bukankah hal itu juga dilakukan oleh seekor ayam, wallahu a'lam bissawab

TAQLID

Diposting oleh Mastindi | 18.17 | | 0 komentar »
TAQLID kata ini sering kita dengan yang berarti(Menggantungkan amal secara membabi buta)

Bila ada seorang alim dari para ulama Islam saat ini yang menjadikan perkataannya sederajat dengan perkataan Allah dan Rasul berarti dia keluar dari agama Islam!
(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)
Asy-Sya'rani dalam kitab "al-Mizan" menyebutkan bahwa imam yang empat, semuanya mengatakan: "Bila ada hadits yang shahih, maka itulah madzhab kami".
Imamul A'zham Abu Hanifah radhiallahu'anhu berkata: "Tidak benar bagi seseorang untuk mengatakan pendapatku, sampai ia mengetahui dari mana kami mengatakannya."
Malik radhiallahu'anhu mengatakan: "Sesungguhnya saya adalah manusia biasa yang dapat berlaku salah dan dapat benar. Maka hendaklah kalian memeriksa pendapatku. Semua yang sesuai dengan Kitabullah dan sunnah, ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan keduanya tinggalkanlah.”
Diriwayatkan bahwa Syafi'i radhiallahu'anhu ditanya oleh seseorang, lalu Syafi'i mengatakan bahwa diriwayatkan Rasulullah saw. bersabda begini dan begini. Kemudian si penanya berkata: "Wahai Abu Abdillah, apakah anda mengatakan ini?" Syafi'i menjawab: "Apakah engkau lihat di badanku terdapat ikat pinggang? Apakah engkau pernah melihatku keluar dari gereja?" Dalam riwayat lain, disebutkan beliau terkejut dan marah, air mukanya berubah, dan mengatakan: "Bumi mana yang akan kupijak, dan langit mana yang akan menaungiku, bila aku meriwayatkan tentang Rasulullah saw. yang tidak beliau lakukan."
Abu Daud berkata: "Aku mendengar Ahmad bin Hambal radhiallahu'anhu mengatakan: "Yang dinamakan ittiba' (mengikuti) ialah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi saw."
Beliau juga pemah mengatakan: "Jangan mengikutiku, jangan mengikuti Malik, jangan mengikuti Syafi'i, jangan mengikuti Auza'i, jangan mengikuti Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka
mengambil pendapatnya." Maksudnya adalah al-Qur'anul Karim.
Ya Allah, sesungguhnya pena menuliskan ini disertai rasa takut kepada-Mu dan malu kepada Rasul saw. Apakah diperlukan penjelasan yang menyebutkan bahwa seseorang harus mendahulukan Kalamullah dan rasul-Nya dari selain keduanya? Atau apakah boleh seseorang menguatkan pendapat selain keduanya?
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'minah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab. 36)
Bila ada seorang alim dari para ulama Islam saat ini yang menjadikan perkataannya sederajat dengan perkataan Allah dan Rasul berarti dia bisa keluar dari agama Islam! Apatah lagi bila
perkataannya lebih didahulukan dari perkataan Allah dan rasul-Nya!!
Bagaimana bila salah satu imam madzhab yang mulia berdiri di hadapan Rasulullah saw., apakah ia akan menolak atau melanggarnya??
Tidak. Demi Allah!! Bahkan ia mungkin tak mampu memandang Rasulullah, karena kemuliaan dan kebesarannya. Para sahabat pernah menanti seseorang dari kaum Badui agar ia bertanya pada Rasulullah saw. kemudian mereka mengambil manfaat dari jawaban yang Rasul berikan kepadanya.
Sesungguhnya rasa malu terkadang telah menjadikan lidah mereka kaku di hadapan Rasulullah saw. untuk bertanya. Seolah-olah di atas kepala mereka ada burung-burung.
Sebagai penutup, saya paparkan kepada anda sebuah nasihat berharga dari Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang dinukil kitab-kitab Sunan:
"Suatu ketika, Rasulullah saw. menasihati kami dengan suatu nasihat yang membuat air mata menitik, dan hati bergetar. Kami lalu berkata kepadanya: "Wahai Rasulullah, ini sungguh-sungguh
seperti nasihat perpisahan, dengan apa kau wasiatkan kami ?"
Rasul menjawab, "Aku tinggalkan kalian dalam suasana terang benderang. Malamnya seperti siang. Tidak ada yang tergelincir setelahku kecuali orang yang celaka. Dan barang siapa di antara kalian yang masih hidup kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian melakukan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah khulafa'u rasyidin yang mendapat petunjuk.
"Hendaklah kalian taat, meskipun kepada seorang Habsyi. Gigitlah olehmu ketaatan itu dengan geraham. Sesungguhnya seorang mu'min laksana cucuk onta. Setiap kali diikat ia terikat. Dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru (dalam agama). Sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah itu adalah sesat."

PAGI YANG MENYENTUH PERASAAN

Diposting oleh Mastindi | 08.15 | | 0 komentar »
Seperti biasa pagi hari pergi mengantar anak dan berbelanja adalah kegiatan rutin setiap hari, namun pagi itu ada sesuatu yang benar-benar menyentuh perasaan, saat aku keluar dari sebuah gang sempit

, dgn laju motor 5 kg per jam lewat menyebrang seorang anak berusia kurang lebih 3 tahun, namun bukan itu membuat aku terenyuh, melainkan anak itu menyebrang dengan susah payah sambil menyeret mainan mobilannya, sejenak anak iu menengok dan sekilas kulihat lelahnya menyebrang, tahulah aku anak itu ternyata cacat pada sebelah kakinya, namun tak ada beban dimatanya, beban betapa menderitanya (sebetulnya) dia, saat usia yang sangat dini secara reflek teringat aku pada peristiwa belasan tahun yang lalu saat mendapat kecelakaan dan harus cacat seumur hidup, dan anak itu menderita hal sama denganku saat usia masih sangat dini, kupercepat laju motor, dan langsung masuk rumah, dikamar kutustaskan air mata terbayang sangat jelas saat pertama kali tongkat pesanan (sewaktu dalam perawatan di rumah sakit) tiba dikamarku dan aku pegang, ya Allah !!! tak pernah terbayang, dan terlintas dalam benak hamba harus hidup dalam kondisi pisik yang tak sempurna lagi, aku tak dapat lagi berlari dan berjalan jauh apalagi mengangkat beban berat, ya Allah !! seperti itulah yang kelak akan di alami anak itu. dalam merenung aku berdoa ya Allah tuntunlah anak itu pada jalanMU, pada jalan orang orang yang sukses, Engkau cabut salah satu nikmatMu, maka gantilah ya Allah dengan nikmat yang lebih baik lagi amin.