MagzNetwork

Maulid nabi Muhammad SAW.

Diposting oleh Mastindi | 23.45 | | 0 komentar »

Setiap tahun peringatan Maulid di adakan dari rumahkan, mosallah, masjid bahkan Istana negara, turut memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Dari yang ala kadarnya sampai yang dengan memakan biaya puluhan bahkan mungkin ratusan juta,.. masya Allah ,. Kalau yang mengadakan Istana negara dengan biaya yang besar tentulah ada sponsor, bagaimana dengan sebuah Ormas atau masjid kecil yang mengadakan dengan biaya begitu besar yang di dapat secara swadaya, ah... andai saja dana itu untuk membeli buku atau kitab sebagai tambahan koleksi perpustakaan , pasti !.“JIKA remajanya rajin membaca wawasan mereka akan bertambah luas .

Terlepas dari kontroversi tentang peringatan Maulid, tidak etis rasanya kalau yang mengadakan disebut sesat lantaran dianggap Bid,ah,. . toh mereka sedang mengekspresikan kecintaannya kepada baginda nabi dalam wujud mengenang hari lahirnya, meski para sahabat tabiet dan tabien tidak pernah melakukannya, tentu mereka punya lasan sendiri, jangan benci mereka , apalagi menghalangi mereka dalam mewujudkan rasa cintanya, bila ingin benci, bencilah Ahmadiyah, bencilah para pendukungnya, mereka NYATA, JELAS menentang nabi.

Dan tidak bagus juga memusuhi saudara kita yang tidak melaksanakan Maulid, karena mereka juga punya argumentasi sendiri, punya cara sendiri dalam mewujudkan rasa cintanya kepada Rasulullah, mereka tak ingin menambah aturan baru dalam agama ini, karena memang Islam sudah sempurna,. Intinya apapun yang kita lakukan harus jelas sumber argumentasinya.

Sepintas tentang sejarah Maulid ,: mungkin kita sama-sama tahu bahwa Maulid pertama kali diadakan pasa masa pemerintahan Bani Abbas (sebuah sumber mengatakan sebelum itu) kira-kira pada abad ke lima Hijriyah, pada waktu itu, wilayah yang dikuasai kaum muslimin banyak yang jatuh ke tangan tentara Salib, dan yang paling menyakitkan adalah jatuhnya Baitul Maqdis ke tangan tentara Salib, sementara ghirah juang Umat Islam semakin menipis,. Maka tersebutlah pada masa itu seorang yang bernama Salahuddin al-Ayyubi ber inisiatip mengadakan acara yang tujuannya membangkitkan kembali heroisme tentara Muslim dalam berperang di medan Jihad, dengan menjadikan hari kelahiran baginda nabi SAW. Sebagai momennya,. Setelah meminta pertimbangan dari berbagai pihak, karena konon katanya mayoritas Ulama menentang acara itu lantaran tidak pernah dilaksanakan baik itu oleh para sahabat, tabiet dan tabien, tapi arena niat yang tulus dan argumentasi yang mendukung jadilah acara tersebut dengan dibarengi sebuah sayembara menyusun sejarah nabi dalam bentuk bahasa yang sangat indah, baik dalam segi balaghah , maani dan bayan, dan keluar sebagai pemenangnya seorang ahli bahasa Arab yang bernama “Al-Bazanji, yang (namanya sekaligus menjadi nama kitabnya)

Alhasil acara itu betul-betul membangkitkan secara cepat ghirah juang para tentara Muslim, dan dengan Gemilang dapat merebut Baitul Maqdis dari tangan tentara Salib.. adakah pelaksanaan Maulid yang kita adakan setiap tahun membawa hasil gemilang untuk perbaikan Umat ? sebagaimana dulu Salahuddin Al-Ayyubi,. Semoga saja ada, agar dana besar yang menjadi amanah Ummat dapat dipertanggung jawabkan dalam bentuk ada sesuatu yang berubah menjadi lebih baik dari sebelum diadakannya Maulid.

Gimana bila yang pro dan kontra kita kesampingkan sekarang kita bahas bagaimana semestinya akhlak seorang Muslim kepada baginda nabi SAW.

1. . Memanggil atau menyebut Rasulullah dengan panggilan yang hormat atau sopan, para sahabat selalu memanggil nabi Muhammad dengan panggilan “ Ya Rasulullah, hal ini sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam surat an-Nur ayat 73

Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

2. . Allah mewajibkan atas seorang Mukmin untuk mengikuti dan mencintai Rasulullah, seperti yang Allah sebutkan dalam surat al- Hasyar ayat 7

Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

Juga pada ayat 31 pada surat al- Imran

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. . Menjadikan Rasulullah sebagai hakim atau imam (contoh) sebagaimana firman Allah dalam surat An-nisa ayat 65

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

4. . Mencintai Rasulullah no 2 setelah mencintai Allah sbagaimana yang Rasulullah tuntuk pada seorang Mukmin. Sebagaimana hadits yang diriwatkan oleh Buhari Muslim .

Rasulullah bersabda “ demi yang jiwaku di tangannya “tidak dikatakan beriman seorang Mukmin sehingga ia mencintaiku melebihi dari anak dan orang tuanya.

5. . Membaca salawat saat namanya di sebut, sebagaimana sabdanya “ tahukah kalian orang yang bakhil, para sahabat menjawab, Allah dan rasulnya yang lebih tahu, nabi bersabda, yaitu orang yang disebut namaku namun dia tidak bersalawat kepadaku.

6. . Menghidupkan dan mentradisikan sunnahnya.

Uraian tadi sebenarnya sangat ringkas , dan mungkin menurut hemat saya momen maulid ini bisa kita jadikan sebagai titik awal kita memulai wujud cinta kita kepada Allah.

Wallahu a’lam bissawab.

Menganggap sial

Diposting oleh Mastindi | 23.33 | | 0 komentar »

تطير

Tathayyur (menganggap sial)

Seorang santri bertanya , pertanyaannya “ benarkan ada hari baik dan hari buruk dalam Islam ?

Apa yang ditanyakan santri ini, dalam istilah al-Qur,an disebut dengan “tathayyur artinya menganggap sial. Kata atau kalimat (dalam bahasa Arab) تطير , maknanya adalah burung yang diterbangkan, saat admin tinggal berdekatan dengan TAPEKONG (tempat ibadah umat Budha) banyak saudara kita yang datang ke sana dengan tujuan untuk melepaskan kesialannya dengan cara membeli burung yang sudah di beri mantra lalu dilepaskan, begitu pula yang dilakukan umumnya masyarakat Arab semasa Rasulullah. Selain itu ada juga metode lain yang mereka lakukan bila hendak bepergian, mereka menggunakan anak panah yang telah diberi mantra lalu dibidikkan secara tegak lurus, lalu ke mana arah anak panah itu jatuh dijadikannya sebagai petunjuk ke arah mana mereka memulai sesuatu perjalanan.

Dalam tradisi pagan nenek moyang kita dengan kepercayaan terhadap Animismenya, mereka mempunyai sesuatu keyakinan, bahwa setiap benda, tempat ataupun orang mempunyai hari naas atau sial yang dikaitkan dengan hari lahirnya, dan kepercayaan itu ternyata masih tetap mengakar kuat dan mentradisi bahkan bercampur dengan ajaran Islam sebagai konsekuensi dari sinkretisme atau pembauran yang diterapkan oleh sunan kali jaga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kita sering mendengar bahkan mengalaminya sendiri saat akan melakukan sesuatu hal yang besar, seperti Menikah, buka Usaha, pulang dari dan ke kampung halaman, pindah rumah dll. selalu bertanya tentang peruntungan yang dikaitkan dengan hari baik, dan biasanya hari sial bagi seseorang ialah jatuh pada hari ketiga setelah hari lahirnya, bahkan lebih detail lagi yang pernah saya lihat bukan hanya hari yang mereka rekomendasikan tapi juga jam memulai sesuatu pekerjaan, berikut ke mana kita menghadap.

Ada dua referensi yang digunakan oleh seorang dukun yang berkedok ustad sebagai bahan rujukan dalam menyampaikan argumentasinya. pertama dengan ilmu nujum atau perbintangan, kedua yang pernah saya lihat adalah dengan menggunakan kitab “TAJUL MULUK, dan MUJARABAT.

Sebagai manusia sempurna yang oleh Allah dianugerahi akal, tentunya hal seperti ini sangat di luar logika sehat, karena memang tak ada hubungannya peruntungan seseorang dengan hari, karena semua hari adalah baik, bahkan dalam meraih sesuatu lebih cepat lebih baik, dengan motto “kerjakan secepat mungkin dari detik ini, ini mungkin karena ketatnya persaingan terutama dalam hal usaha.

Boleh-boleh saja kita membuat sesuatu kalkulasi yang berkenaan dengan hari, seperti hari baik untuk jalan-jalan adalah hari libur, hari baik untuk mengundang walimah adalah hari Sabtu Malam senin atau kalkulasi-kalkulasi yang lain, yang intinya ada alasan logis yang tidak berkaitan dengan sesuatu yang merusak aqidah kita.

Dan bila kita kembalikan kepada Islam tentang Tatayyur ini jelas sangat bertentangan dengan Aqidah kita, karena menganggap sial atau menetapkan sesuatu hari adalah baik atau buruk berarti sudah melangkahi wewenang Allah dalam hal Takdir-Nya, tak ada kaitannya nasib seorang hamba Allah dengan bintang di langit, bila saja hari ini dianggap hari sial, kenapa Allah mengeluarkan seorang hamba yang baru dari rahim sang ibundanya, bukankah secara tersirat kita telah menuduh Allah itu Dzalim ? naudzu billah.

Imam Achmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar RA. Bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda “ barang sipa yang mengurungkan niatnya karena “Tiyarah (menganggap sial) maka ia telah syirik.

Dalam sebuah ayat-Nya Allah berfirman, yang intinya tidak akan terjadi sesuatu hal melainkan dengan idzin Allah.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS 64;11)

Selanjutnya, marilah kita kembali kepada ajaran Islam yang sangat sempurna ini, jangan kita campurkan yang hak dengan yang batil, lalu kita menyembunyikan yang hak itu padahal kita mengetahuinya.

Wallahu a’lam...