MagzNetwork

Khusyuk dalam Shalat.

Diposting oleh Mastindi | 20.42 | | 0 komentar »

Khusyu mempunyai dua makna ;

1. Yang bersifat syar’e , ini dua macam :
pertama khusyuk secara lahiriah yakni menjaga anggota badannya agar tumaninah (tenang/fokus atau konsentrasi).dari yang melalaikan baik dari luar tubuh kita karena gangguan serangga dan semacamnya maupun dari tubuh kita sendiri baik karena rasa gatal atau shalat sambil menahan rasa kantuk mulas dsb.

Dua : khusyu secara batiniyah , yakni terjaga hatinya dari hal-hal melalaikan yang saat shalat, baik yang datang dari penglihatan pendengaran maupun pikiran.

2. Khusyuk dalam segi adanya artikulasi/implementasi dalam kehidupan sehari-hari, yakni shalatnya membawa pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari seperti yang diinginkan oleh Allah, sebagai orang yang berhasil dalam menjalankan shalat.

“dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 29;45)
Dalam “Ibanatul Ahkam maupun Subulus Salam sebagai sharah bulughul maram, secara rinci di jelaskan dalam bab “Khusyu dalam Shalat, yang intinya kita dilarang (dimakruhan) shalat sambil mengusap debu di kening, bertolak pinggang seperti shalatnya orang Yahudi, mendahulukan makan bila telah terhidang sebelum shalat (bila waktu shalat masih panjang), menoleh baik ke samping maupun ke belakang, meludah , bila harus hindari arah kiblat dan kanan, melainkan ke arah kiri atau kaki, menghindari shalat menghadap ke tempat yang melalaikan seperti bergambar, mengangkat pandangan ke langit, menguap bila mampu sebisa mungkin di tahan namun bila tidak hendaklah ditutup.

Hadits yang menjadi penutup pada bab “khusyuk dalam shalat , barang kali bisa mewakili tentang pentingnya menjaga anggota badan dan hati agar fokus atau tuma’ninah dalam shalat.

عن عائشة رضى الله عنها قالت : سمعت رسو ل الله صلى الله عليه وسلم قال : لا صلاة بحضرة الطعام , ولا وهو يدافعه الأخبثان

Dari Aisyah RA. Berkata “ tidak ada shalat bila makanan telah terhidang, dan tidak pula saat sedang menahan dari dua lubang (maksudnya shalat sambil menahan buang air besar atau kecil)
Masih ada lagi yang bisa membantu agar kita bisa shalat dengan khusyuk, yakni memahami makna bacaan-bacaan dalam shalat, dan menerapkan “Ikhsan dalam Shalat, yakni seolah-olah melihat Allah. Bila tidak bisa menanamkan keyakinan dalam hati “bahwa Allah senantiasa mengawasi kita.

Walaupun bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan, namun khusyuk bukan berarti tidak bisa dilakukan sama sekali, kita banyak mendengar dalam sirah atau sejarah bagaimana orang-orang terdahulu bahkan tidak mustahil masa kini yang mereka mampu shalat dengan khusyuk dalam makna yang sebenar-benarnya, padahal mereka juga sama dengan kita, intinya bila Allah memerintah mustahil kita tidak bisa, karena Allah pasti sudah mengukur kemampuan hamba-Nya. Wallau a’lam.

Bid,ah

Diposting oleh Mastindi | 16.15 | | 0 komentar »

Sebagian kita, atau bahkan kita, alergi, tersinggung,fobi, anti dengan kata/kalimat Bid,ah terlebih kepada orang yang berusaha menjelaskannya, hal ini boleh jadi karena ke tidak tahuan kita, atau bahkan jangan-jangan kita mengambil keuntungan dari praktek Bid,ah tersebut, padahal bila kita mau legowo mempelajarinya pasti ada hikmah paling tidak akan menambah wawasan kita dalam khasanah pengetahuan Islam, bahkan boleh jadi sesuatu amal yang kita curigai adalah Bid,ah ternyata pernah dilakukan setidaknya oleh para Tabi,et tabi,en.

Tidak jarang orang yang dianggap menjadi pentausiah dalam masalah Bid,ah menjadi bahan tertawaan bahkan ejekan dan cemoohan dengan kata-kata yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang berpengetahuan, contohnya : mobil kan Bid,ah !. kenapa kamu tidak naik onta !. Hp, televisi, kulkas, motor, yang kamu pakai kan juga Bid,ah ! dan banyak lagi dan disebutkan yang tidak ada pada masa nabi

Sebenarnya Bid,ah yang terjadi khususnya di Indonesia, tak lepas dari metode penyebaran Islam yang dilakukan oleh wali Songo, khususnya aliran Abangan yang di ketuai oleh Sunan Kali Jaga dengan system “Sinkretizm (terdapat dlm buku “sejarah kebudayaan Islam) yakni pembauran (pencampuran) ajaran Islam, Hindu dan Bhuda dan menghasilkan kepercayaan “Kejawen (berasal dari Kata Jawa) karena penyebaran Budha dan Hindu pada saat Islam masuk sedang pesat-pesatnya di Jawa dengan dukungan penuh penguasa kerajaan Majapahit, yang dipengaruhi para pelajar Hindu dan Budha dari India hal ini diperkuat dengan bentuk bangunan candi yang ada di Indonesia sama dengan yang ada di India.

Menyalahkan Wali songo dalam metode penyebaran Islam bukan hal yang benar, karena kepercayaan masyarakat Jawa yang kuat terhadap Animisme dan Dinamisme (kepercayaan kepada benda bertuah dan mampu memberikan perlindungan) yang ditambah dengan masuknya kepercayaan baru Hindu dan Budha yang mempunyai kepercayaan yang nyaris sama, bukanlah hal yang mudah, maka cara yang mereka lakukan adalah dengan cara halus, yakni dari dalam alias hanya memberi warna Islam pada kepercayaan masyarakat Jawa, justeru tugas kitalah untuk meluruskannya.

Bid,ah : adalah sebuah ungkapan yang harus di batasi maknanya, tentunya setelah kita mengetahui ta’rif nya baik secara Etimologi (terminologi bahasa) maupun Istilah dalam Syara (islam), tak cukup hanya itu agar tidak menimbulkan fitnah harus bisa di bedakan juga antara Bid,ah , Khilafiah,Khurafat dan Tahayyul. Utamanya antara Bid,ah dan Khilafiah.
Bila kita mampu membatasi Bid,ah pada Ta’rif yang benar, maka tentunya tidak pada tempatnya lagi kita mempermasalahkan sesuatu hal yang bersifat Khilafiah, karena Bid,ah hanya terbatas pada masalah Agama bukan masalah Dunia, adapun Khilafiah adalah persoalan perbedaan dalam memahami sesuatu hukum, dan memahami kerajihan/shahihan suatu hadits baik dipandang dalam hal Matan, Rawi, maupun status hadits.

Bid,ah akan lebih mudah di pahami bila kita memahaminya melalui antonimnya /lawan katanya yaitu sunnah, dan lebih bijaksana lagi bila kita ambil sebuah logika sederhana, walaupun memahami Bid,ah bukan hal yang sederhana.

Bila berbuatan itu dianggap baik, kenapa tak diperintahkan oleh Rasulullah, tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi’et dan Tabi’en, padahal mereka adalah generasi terbaik yang di wariskan Rasulullah, dan mereka tentunya lebih tahu dari kita tentang Islam.
Bukankah Islam sudah sempurna, mengapa perlu ditambah lagi.

Bila karena kepandaiannya seorang syekh , boleh membuat tata cara baru dalam Ibadah, lalu bagaimana Islam ke depannya, bukankah nanti akan banyak lagi Syekh yang pintar, dan tentunya makin banyak lagi tata cara baru dalam ibadah, dan lama kelamaan , kemurnian ajaran Islam akan hilang tertimbun tata cara baru tersebut.
mungkin Qaidah Syara berikut ini bisa kita jadikan acuan.
الاصل فى العبادة البطلان حتى يقوم دليل على امرة
(pangkal suatu ibadah adalah kebatalan,(tidak boleh dilaksanakan) hingga ada dalil yang memrintahkan)

Dan banyak pertanyaan lagi, yang intinya bila Bid,ah terus berkembang maka Islam tidak beda dengan agama Nasrani.

Bid,ah bagaikan benalu dalam sebuah pohon, bagi yang jeli dan mengerti struktur pohon dia akan tahu bahwa ia (benalu) bukan bagian dari pohon itu, namun bagi yang awam ia akan menganggap bahwa benalu itu adalah bagian sari pohon tersebut. Wallahu a’lam.

Memahami makna syahadat.

Diposting oleh Mastindi | 08.06 | | 0 komentar »


Seorang akhwat curhat tentang kesulitannya menjawab pertanyaan seorang misionaris Kristen tentang Syahadat sang misionaris bertanya “ saat anda bersyahadat kepada siapa anda bersaksi ? bukankah anda tidak melihat Allah.

Pertama-tama saya mohon maaf, karena pasti jawaban saya tidak memuaskan karena kemampuan ilmu yang saya miliki sangatlah sedikit, mungkin yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah seorang ulama yang dalam ke ilmuwannya tentang masalah Aqidah, atau paling tidak orang yang memahami masalah Kristologi, namun ini bagi saya adalah tantangan untuk belajar lebih giat dan tentunya jawaban ini disesuaikan dengan wawasan dan pemahaman yang saya miliki.

Selanjutnya yang juga harus kita ketahui ialah seorang misionaris, adalah pendeta yang sudah terlatih untuk memberikan pertanyaan yang jawabannya sangat sulit dan bahkan di luar kemampuan kita karena boleh jadi jawabannya tidak mudah atau bahkan tidak terdapat di dalam al-Qur,an sebagai dasar argumentasi kita, melainkan melalui logika yang tentunya tidak boleh melenceng dari batasan-batasan al-Qur,an kalaupun kita bisa menjawab mereka telah mempersiapkan pertanyaan selanjutnya, terus dan terus hingga dia bisa memastikan kita tidak mampu lagi menjawab.

Bila hal itu yang terjadi boleh jadi dampaknya akan menumbuhkan keraguan terhadap Islam kita, itu dampak negatifnya yang mereka inginkan, namun bagi yang tinggi loyalitasnya akan menjadikan sebagai tantangan untuk belajar lebih dalam lagi tentang Islam.

Yang ditanyakan misionaris tadi adalah persoalan Aqidah atau ke Imanan namun terkait sebenarnya dengan masalah pemahaman kita tentang penguasaan bahasa Arab, yang misionaris tadi kurang paham hingga menyulitkan kita untuk menjelaskannya.

Pertama شهدة (syahadatan) berasal dari kata شهد (Syahida) yang maknanya bersaksi , bersaksi melebihi dari mendengar atau sekedar melihat, karena tuntutan dalam bersaksi ialah اعلاما كماترى (i’laman kama tara) mengilmui seperi melihat langsung, pertanyaannya mengapa ilmu ? ilmu dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat mulia dan tinggi, dalam beramal harus di landasi dengan ilmu bahkan kita di larang beramal tanpa ilmu.


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS 17;36)

Juga tak terkecuali masalah Aqidah, Allah tidak mau hamba-Nya memahaminya secara buta.

Maka ketahuilah (ilmuilah !), bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah (QS 47,19)

Oleh karena itulah syahadat bagi seorang Muslim bukan hanya pengakuan di bibir melainkan menuntut adalah interaksi dengan perbuatan kita, karena Syahadat adalah Ikrar, sumpah tentang kesediaan kita beraqidah atau beriman kepada objek sumpah kita seperti yang di nyatakan Rasulullah.

الايمان تصديق بالقلب وقول باللسان وعمل بالاركان

Iman ialah , membenarkan di hati di akui di lisan diwujudkan dalam bentuk perbuatan.

Hal itu dapat kita pahami manakala kita melihat sejarah pada masa diturunkannya Rasulullah adalah pada masa-masa gemilangnya bangsa Arab dalam hal syair atau sastra jadi mereka paham benar apa yang disampaikan rasulullah dalam haditsnya yang berbunyi.

من قال لااله الا الله دخل الجنة

(barang siapa yang mengucapkan “lailaha illlalhu, ia akan masuk syurga)

Kalimat قال bukan seperti yang kita pahami dengan makna berkata, namun mempunyai makna yang cukup luas, yang menuntut adanya konsekuensi , ini artinya mereka harus meninggalkan sesembahan mereka atau paganisme mereka, beda dengan kita tanpa iming-iming syurga saja kita mau mengucapkan kalimat tadi (la ilaha illallahu), karena keawaman kita dalam makna sebuah kalimat .

Mungkin yang saya sampaikan melenceng dari pertanyaan semula, tapi bila anda bisa menjelaskan tuntutan dari makna menyaksikan, maka akan bisa di tarik kesimpulan bahwa “

Kita bersaksi kepada Allah yang walaupun kita tidak melihatnya, tapi kita mengilmui akan keberadaan-Nya, itulah puncak dari keberhasilan penghambaan kepada Allah yang kita kenal dengan ikhsan.

ان تعبد الله كانك ترآه فان لم تكن ترآه فانه يرآ

(kamu beribadah kepada Allah, seolah kamu melihat-Nya bila kamu tidak melihat-Nya maka ia yang melihatmu)

Tapi sayangnya hal ini amat susah kita jelaskan pada misionaris, karena yang mereka inginan adalah yang logis menurut asumsi mereka,padahal doktrin keimanan mereka beda dengan kita maka tentunya hal itu tidak dapat dipaksakan.tapi sebenarnya hal ini bisa kita imbangi manakala kita juga diberi kesempatan bertanya ulang tentang doktrin ketuhanan mereka seperti contoh “

Benarkah Yesus sebagai Tuhan , jika benar tolong tunjukkan beberapa dalilnya (bukan cuman satu)dalam Injil yg tanpa catatan kaki ? atau benarkah Injil disebut kitab suci ? padahal di dalamnya ayat-ayat yang menceriterakan persundulan/perzinahan antara ayah dan anak,. Lalu mengapa yesus saat sekarat di tiang salip memanggil nama tuhan-Nya agar jangan meninggalkannya dalam saat seperti itu, dan banyak lagi.

Sekian jawaban kk ,kk senang kalau kalau keny merasa kurang puas, itu berarti keny kritis, tidak cukup puas hanya dari satu sumber, carilah sumber yang lain agar bisa saling melengkapi.



Sajadah panjang

Diposting oleh Mastindi | 23.26 | | 0 komentar »

Ada, sajadah panjang terbentang.......

Begitulah sepotong bait lagu yang dinyanyikan oleh grup kasidah dari Bandung “Bimbo, lagu ini cukup tenar sejak pertama di luncurkan bahkan hingga kini tidak pernah bosan di dengarkan oleh para penggemarnya termasuk saya.

Pada mulanya saya bingung tidak paham, apa yang dimaksud dengan sajadah panjang,. ?
Lagu Qasidah atau juga Nasyid, sebagai sarana sosial untuk berdakwah menyampaikan sesuatu pesan liriknya sangat sarat dengan makna yang dikemas dalam bentuk kiasan dari situlah saya coba memahami maksudnya.
Sajadah merupakan kiasan dari sarana ibadah , adapun panjang terbentang sarana itu bisa menembus tembok kantor, pertokoan, pasar rumah dan segala hal , maknanya ibadah dapat kita lakukan di mana dan dalam kondisi apapun. Saat kita menjadi karyawan, buruh, penjaga toko atasan juga bawahan itu bisa kita jadikan sarana untuk beribadah.

Ibadah , adalah semua perbuatan baik yang diniatkan semata-mata mencari ridha Allah , itulah ta’rif atau definisi yang disepakati mayoritas ulama, karena ibadah adalah sebuah pengabdian yang tulus dari seorang hamba sebagai wujud pengakuan akan kelemahannya, maka segala gerak dan aksinya tak pernah lepas dari kepasrahan dan mengharap konpensasi dari penciptanya.

Sajadah panjang terhubung jauh ke setiap profesi, karena seorang muslim tak pernah membeda-bedakan aktivitas, selama itu baik, memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain, dan tak pernah ada larangan menerapkannya, maka semua bisa diolah menjadi sarana ibadah.

Sajadah panjang,. Sampai sejauh mana sajadah kita membentang, ataukah hanya baru sampai di masjid, lalu kita lipat dan membatasi hanya sekedar kepada ibadah ritual saja, sajadah tidak perlu ikut ke kantor karena kita kwartir tidak bisa memanipulasi data, tidak boleh ikut ke toko karena kita kwartir tidak bisa mengurangi takaran, timbangan dan ukuran, sajadah tak boleh membentang sampai ke proyek karena kwartir tidak bisa menggelembungkan biaya proyek..

Ah !..sajadah cukup engkau membentang dalam ruangan masjid saja...

sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS 89;14)

Menyadari siapa musuh kita

Diposting oleh Mastindi | 07.22 | | 0 komentar »

Teman dan musuh merupakan sesuatu yang tak bisa lepas dari kehidupan kita, meskipun keduanya tak pernah kita cari, keduanya datang sendiri ,bahkan juga pergi sendiri, namun untuk keduanya sederhanalah dalam menyikapinya,karena boleh jadi orang yang sangat kita benci, karena menjadi musuh menjadi orang yang sangat kita suka saat islahnya, atau sebaliknya menyenangi teman secara berlebihan boleh jadi pada saat kontra menjadi orang yang kita benci.

Namun yang saya maksud bukan musuh yang di atas, yakni musuh yang Allah isyaratkan dalam sebuah ayatnya.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS 35;6)

Bila kita urai dan kita pahami melalui tata bahasanya

Inna adalah huruf Taukid yang berarti menguatkan atas menegaskan kalam atau pembicaraan yang akan datang.

Asysyaitana merupakan permulaan pembicaraan dalam bentuk khusus.(di tandai dengan AL)

Lakum, berarti Allah mengajukan sesuatu (Syetan) untuk kalian (manusia)

‘aduwwum merupakan berita (khabar) yang harus kita perhatikan

Fattakhiduhu , Selanjutnya Allah menegaskan agar kita menjadikan apa yang Dia ajukan sebagai musuh kita.

Setan dalam ayat tersebut di atas bukan setan sebagaimana yang digambarkan atau di visualisasikan oleh para Sutradara Film horor,. Mungkin tidak terlalu salah tapi banyak salahnya, karena setan yang di gambarkan hanya memberi efek takut pada penampilannya bukan pada bahaya godaannya, seperti pada posting yang lalu (klik disini)

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS 15;39)

Itulah inti dari janji setan sebagai wujud permusuhannya dengan manusia, maka oleh karena itulah berbagai cara dilakukan setan untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah, agar kelak menjadi temannya di dalam neraka.

Lalu setan dalam wujud apa yang harus kita jadikan musuh ?

Setan dalam bentuk, baik hakikat maupun majasinya yang intinya mengajak kita jauh dari koridor ketetapan Allah itulah yang harus kita jadikan musuh,karena setan secara istilahi berarti “yang jauh dari kebaikan, (ba’ada minal khair – terdapat dalam kitab assasul balaghah)
Itulah juga sebabnya Allah jelaskan pada surat Annas, bahwa setan bisa juga berasal dari bangsa manusia.

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
Dari (golongan) jin dan manusia. QS 114;5 & 6)

Nah !.. bila setan yang harus kita takuti baik dari golongan bangsa jin maupun manusia adalah godaannya , mengapa kita harus menjadikan mereka kawan, menjadikan kawan bagi mereka ialah, kita mengikuti kehendak dan kemauan mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai kendaraannya.
Masih menjadikan setan sebagai teman ? naudzu billah..




polemik penutupan BB

Diposting oleh Mastindi | 14.45 | | 0 komentar »

Barang siapa yang melihat sesuatu kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya.. begitulah potongan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang terdapat pada kitab Hadits arba’en An-nawawi pada hadits yang ke 34.

Sebagian ulama berpendapat , tangan yang di maksud adalah kiasan dari “kekuasaan,. Masih hangat , aktual terdengar di telinga kita tentang penutupan layanan BB (Black berry) , terlepas siapa itu bapak Titaful Sembiring, namun yang jelas beliau punya niat mulia sebagai seorang pemimpin (pembantu presiden) dalam bidang informasi dan telekomunikasi untuk menyelamatkan moral bangsanya dari pengaruh buruk yang sarananya ada pada BB ,meski juga terdapat pada HP biasa, di samping itu juga merupakan kewenangan beliau, dan sikap nasionalisnya karena BB tak tersentuh pajak , lantaran servernya bukan di Indonesia, padahal BB banyak mengeruk keuntungan dari penggunanya yang sekarang hampir 3 juta orang .

Sebagian masyarakat mengatakan “ masalah situs porno dikembalikan kepada pribadi masing-masing,. Sebagai seorang Muslim tentunya beliau faham betul tentang kaidah usul yang berbunyi “ lil wasaili hukmul maqasid, artinya , hukum dan sarana yang dituju itu sama, maksudnya bila hukum sesuatu itu wajib maka sarana untuk mencapai itu menjadi wajib, lebih mudahnya lagi agar kita memahami apa yang di maksud dalam hal ini ialah, bila sesuatu hal itu haram, maka sarana yang menunjang ke arah itu juga haram, Allah berfirman

tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS 5;2)

dalam sebuah kitab di jelaskan “ bahwa minuman keras, dari petani yang mengirimkan bahan baku, pekerja di pabrik minuman tsb, pemilik, agen penjual, warung sebagai ujung tombak penjualan masuk dalam lingkaran setan/haram, karena semua yang terlibat tolong-menolong bahu membahu dalam memproduksi dan menjual barang haram tersebut.

Lalu kenapa kita mengatakan “kembali kepada pribadi masing-masing ,. Bila sarananya ada tentunya seseorang akan penasaran untuk mencoba, apalagi lingkungan yang buruk seakan memaksa menggiring ke arah itu, karena penyedia situs porno, mereka penyedia layanan yang mendapatkan keuntungan manakala ada yang mengklik situsnya, itu berarti mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjajakan dagangannya, tapi manakala pintu ke arah itu ditutup tentunya kesempatan memasarkan jualannya semakin sempit.

Usaha beliau patut kita hargai, meskipun beliau sendiri mengakui di tutup 100 muncul 1000, namun hal itu jauh lebih baik dari pada membiarkan tanpa lepas liar tanpa kendali . apalagi payung hukumnya dalam masalah porno grafi dan porno aksi sudah ada, dan usaha itu bisa kita lihat sejak beliau menjabat bagi mereka yang suka membuka situs porno, dan bagi para pemilik warnet atau orang tua tak perlu repot lagi untuk memblokir situs tersebut karena sarananya diblokir.

Sebagai seorang Muslim tentunya kita faham akan firman Allah di bawah ini.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS 66;6)

Polemik itu akhirnya berakhir setlah pihak RIM bersedia memenuhi tuntutan pemrintah kita, kesimpulannya, berarti bisa, tapi mengapa mereka menunggu di gertak ?

Wallahu a’lam bissawab.

Takut Setan ..

Diposting oleh Mastindi | 18.06 | | 0 komentar »

Takut !.. perasaan ini merupakan fitrah setiap manusia normal tanpa kecuali, namun bagaimana kalau takut setan ?
Ada tiga hal yang menjadi latar belakang adanya rasa takut terhadap setan
Pertama : karena kemunculannya yang selalu tiba-tiba , andai saja setan muncul secara berlahan sedikit demi sedikit maka seiring itu pula kita akan beradaptasi dengan kemunculannya.

Kedua : karena bentuknya, sebenarnya bentuk setan yang sering kita lihat baik dalam tayangan maupun dalam penampakannya hanyalah tergantung visualisasinya (gambar)pada asumsi kita, bila kita asumsikan bentuk setan seperti pocongan maka ia akan muncul seperti itu, dalam hal inilah , Imam Syafi’e Rahimahumullah memberikan pendapatnya “barang siapa yang mengaku melihat setan maka ia telah murtad, (maksudnya dalam bentuk aslinya) ,adapun Rasulullah melihat dalam bentuk aslinya atas idzin Allah. kembali ke atas, sebenarnya seseram apapun bentuk setan kita tidak akan takut kalau kita terbiasa melihatnya, tambahan lagi padahal setan bisa saja dgn ilmu sihirnya (dikalangkan Setan/Jin ada juga yang mempelajari sihir sebagaimana manusia) menampakkan bentuk sesuai ke inginannya, sebagaimana yang di nyatakan Rasulullah, ia bisa berubah menjadi Anjing, kucing, ular kalajengking dll sesuai keinginannya, hanya menyamai Rasulullah sajalah yang ia tidak bisa, bahkan boleh jadi nyi Roro kidul yang kita kenal bukanlah seorang perempuan.

Ke tiga : pada saat kita iseng atau sendiri, karena rasa takut akan sedikit berkurang bahkan hilang manakala kita beramai-ramai, dalam sebuah pameo di jelaskan.. tiga orang penakut berkumpul , maka yang terjadi menjadi tiga orang pemberani (kalau takut juga kebangetan)
Lalu bagaimana sebenarnya kita meletakkan rasa takut pada porsi yang sebenarnya ? takut !. sebenarnya hanya kepada Allah, kita bisa membuat contoh,. Saat malam hari kita bangun untuk shalat Malam, manakah yang lebih anda utamakan, takut pada Allah lalu berusaha menembus kegelapan malam untuk mengambil air wudhu , atau memilih merapatkan selimut karena takut melihat hantu,. Jawabannya ada pada diri anda sendiri.

Adab seorang penuntut ilmu.

Diposting oleh Mastindi | 16.30 | | 0 komentar »

Belajar merupakan hal yang wajib bahkan kebutuhan bagi manusia khususnya seorang Muslim atau mukmin, hal ini tersurat pada wahyu pertama Allah turunkan pada baginda yang Mulia yang berbunyi “Iqra (bacalah) dan makna dari membaca bukan hanya mengucapkan rangkaian huruf yang menjadi kata lalu tersusun menjadi sebuah kalimat, namun membaca bisa juga melihat dan menelaah lingkungan dan pengalaman orang lain, karena hasil dari hal tersebut sama yakni tercapainya sebuah pemahaman tentang sesuatu hal yang kita sebut “ilmu.

Betapa mulianya Ilmu dalam Islam, sampai perjalanan dalam menuntut ilmu merupakan perjalanan yang penuh berkah, dan setiap langkahnya dalam naungan dan ridha Allah yang mana satu langkah kakinya menghapus dosa dan kaki lainnya meninggikan derajat bagi pelakunya.

Di kecualikan dari ilmu sihir atau yang sejenisnya, Islam tak pernah membeda-bedakan ilmu , karena ilmu yang dipelajari manusia merupakan kumpulan pengalaman baik melalui riset atau ke tidak sengajaan karena yang dipelajari merupakan ayat-ayat Allah yang bersifat Qauniah, maka logikanya bila menuntut ilmu duniawiyah saja harus , tentunya yang berhubungan langsung dengan ukhrawinya pastilah lebih wajib.

Namun terlepas dari itu ada 4 hal yang mesti dilakukan oleh seorang penuntut ilmu untuk mendapatkan keberkahan dari ilmunya.

· Meniatkan, dengan menuntut ilmu itu untuk melepaskan dirinya dari kebodohan karena kebodohan akan membuat dirinya tertinggal dalam banyak hal , baik pergaulan secara sosial maupun budaya masyarakat beradab, sampai Allah menyinggung dalam hal ini.
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(QS 39;9)

· Agar dengan ilmunya dia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, yakni membantu dengan keahliannya secara ikhlas sebagaimana yang di serukan oleh baginda yang mulia Rasulullah SAW. (sebaik-baik manusia , ialah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi manusia yang lain al-hadits)

· Menghidupkan budaya belajar dan ilmu, karena bila kita meninggalkan sesuatu ilmu maka ilmu itu akan hilang, terutama ilmu yang berkenaan dengan masalah ukhrawi, seperti tata bahasa Arab, Qaidah usul dll, Rasulullah bersabda “ pelajarilah sesuatu ilmu, sebelum diangkat ilmu itu, dan Allah mengangkat sesuatu ilmu ialah dengan mewafatkan ulama ahlinya al-Hadits)

· Terakhir dengan ilmu itu agar ia dapat beramal dengan ke imanannya, sebab Allah tidak akan menerima iman tanpa amal dan tidak akan menerima amal tanpa ilmu, ilmu bagai penerang dalam gelap seseorang bila tidak memahami sesuatu keahlian lalu ingin terlibat dalam hal itu ibarat berada dalam gelap, ia hanya mengira-ngira apa yang akan ia lakukan, karena ketidak tahuannya.
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. (QS 35;19)
dan dalam ayat yang lain Allah mendahukan mempelajari sesuatu ilmu daripada mengamalkannya Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS;17;26)

Sebagai penutup, janganlah sekali-kali menuntut ilmu hanya untuk kepentingan duniawiyah semata atau hanya ingin berdebat dengan ilmu yang dimilikinya, untuk menggapai sesuatu kebanggaan yang semu, padahal ilmu yang kita miliki ibarat mencelupkan satu jari ke dalam air laut, lalu kita angkat, nah yang menempel di jari itulah ilmu kita , adapun yang terbanyak di laut itulah ilmu Allah, “Subhanallah...